Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×

PPT-Irfani.pptx

Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 14 Anzeige
Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Aktuellste (20)

Anzeige

PPT-Irfani.pptx

  1. 1. EPISTEMOLOGI ILMU DALAM ISLAM IRFANI Wilda Nur Solihat 2220090040
  2. 2. Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme yang memiliki arti pengetahuan. Secara Terminologi, epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari sumber atau asal mula, stuktur, metode dan keabsahan tentang suatu pengetahuan (Makiah, 2015). Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa epistemologi ini merupakan cabang dari filsafat yang membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, karena dalam pembahasannya berkenaan dengan tata cara untuk pengetahuan yang benar serta mengetahui cara yang benar dalam memperoleh pengetahuan, maka epistemologi menempati posisi yang sangat strategis (Sutrisno, 2019). Epistemologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam,di samping bayani dan burhani.Epistemologi ini dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi, berbeda dengan epistemology burhani yang dikembangkan oleh para filosof dan epistemology bayani yang dikembangkan dan digunakan dalam keilmuan-keilmuan Islam pada umumnya.‘Irfani yang dalam konsepnya menekankan bahwa pengetahuan bersumber atau diperoleh langsung dari Tuhan lewat olah rohani, dan Burhani yang menekankan bahwa pengetahuan diperoleh oleh akal manusia sendiri yang merupakan potensi bawaan manusia dari Tuhan (Kulsum,2022). Pengertian Epistemologi Irfani
  3. 3. Istilah irfani sendiri berasal dari kata dasar bahasa Arab arafa, semakna dengan makrifat, yang berarti pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu ("ilm), Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan (kasyf) lewat olah ruhani (riyadhlah) yang dilakukan atas dasar (hub) cinta atau idadah (kemauan yang kuat), sedangkan ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql). Dalam perspektif Mehdi Hairi Yazdi, pengetahuan irfan inilah yang disebut sebagai "pengetahuan yang dihadirkan" (ilm hudluri) yang berbeda dengan pengetahuan rasional yang disebut sebagai "pengetahuan yang dicari" (ilm muktasab); atau dalam perspektif Henri Bergson, pengetahuan irfaân ini diistilahkan sebagai "pengetahuan tentang" (knowledge of) sebuah pengetahuan intuitif yang diperoleh secara langsung, yang berbeda dengan (knowledge about) sebuah pengetahuan diskursif yang diperoleh lewat perantara, indra ataupun rasio.
  4. 4. Menurut Muthahhari (1920-1979 M), irfan terdiri atas 2 aspek:yaitu praktis dan teoretis.Aspek praktis adalah bagian yang mendiskusikan hubungan antara manusia dengan alam dan hubungan antara manusia dan Tuhan.Dalam hal ini, irfan praktis menjelaskan berbagai kewajiban yang muncul sebagai konsekuensi logis dari adanya hubungan-hubungan tersebut yang harus dilakukan manusia. Misalnya, orang yang ingin "mengenal" Tuhan harus menempuh perjalanan spiritual lewat tahapan-tahapan tertentu (maqam) dan kondisi-kondisi batin tertentu (hål). Kajian irfan praktis yang mendiskusikan tentang kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seseorang mirip dengan ilmu etika.Namun, kedua bidang ilmu ini berbeda. Pertama, irfan tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, dan dunia, tetapi juga berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan etika tidak berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, kecuali etika yang berasal dari agama Sementara itu, aspek teoretis irfan mendiskusikan hakikat semesta, manusia dan Tuhan, sehingga irfan teoretis mempunyai kesamaan dengan filsafat yang juga mendiskusikan tentang hakikat semesta.Meski demikian,irfan tetap tidak sama dengan filsafat.Pertama,filsafat mendasarkan argumentasinya pada postulat- postulat atau aksioma-aksioma,sedang irfan mendasarkan argumen-argumennya pada pada visi dan intuisi Irfan Etika dan Filsafat
  5. 5. Ketiga, fase pertumbuhan,terjadi abad 3-4 H.Sejak awal abad ke-3 H, para tokoh irfan mulai menaruh perhatian terhadap hal- hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku sehingga irfan menjadi ilmu moral keagamaan (akhlaq). Perkembangan Irfani Pertama, fase pembibitan,terjadi pada abad pertama hijriyah.Pada masa ini, apa yang disebut irfan baru ada dalam bentuk laku zuhud (askestisme). Kedua,fase kelahiran,terjadi pada abad kedua Hijriah Keempat, fase puncak,terjadi pada abad ke-5 H.Pada periode ini irfan mencapai masa gemilang. Kelima,fase spesifikasi, terjadi abad ke-6 & 7 H.Berkat pengaruh pribadi Al-Ghazali yang besar, irfan menjadi semakin dikenal dan berkembang dalam masyarakat Islam Keenam, fase kemunduran, terjadi sejak abad ke-8 H 1 2 3 4 5 6
  6. 6. Metode Epistemologi Irfani  Metode irfani disebut juga metode kasyfi (berasal dari bahasa kasyaf,yangberarti penyingkapan)yaitu cara memperoleh pengetahuan melalui jalan mistik atau tasawuf.  Dalam tradisi mistisesme Islam,kasyf terdiri dari dua macam yaitu:yang diperoleh dengan bebagai usaha dan latihan dan kasyf yang diperoleh tanpa usaha,yaitu penyingkapan yang datang begitu saja dari Allah kepada siapa pun yang dikehendaki- Nya.Kasyaf yang akan diuraikan dalam konteks epistemologi irfani adalah kasyaf yang diperoleh melalui usaha dan latihan-latihan.
  7. 7. Tahapan Pemperoleh Pengetahuan Irfani 1. Takhalli berarti mengosongkan diri dari ketergantungan terhadap kelezatan dalam kehidupan duniawi,pada tahapan awal,usaha yang harus dilakukan dalam takhalli adalah mengosongkan diri dari akhlak dan perbuatan tercela. 2. Tahalli berarti mengisi dan menghiasi diri,mengisi dalam konteks ini dengan sifat- sifat terpuji.Jika manusia mampu menghiasi hatinya dengan perbuatan-perbuatan terpuji,ia akan menjadi cerah sehingga tidak ada halangan atas limpahan cahaya pengetahuan dari ilahi. 3. Tajalli berarti penampakan atau keterungkapan.Tajalli dalam konteks epistemologi irfani adalah tajalli syuhudi,yaitu limpahan dari Allah berupa kenyataan aktual dan citra-citra empiris.Dengan demikian.tajalli berarti penampakan pengetahuan atau terungkapnya suatu pengetahuan yang sebelumnya tersembunyi.
  8. 8. Sumber Pengetahuan Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, juga tidak aras kekuatan rasional seperti burhani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan.Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisis teks atau keruntutan logika,tetapi berdasarkan atas terlimpahnya pengetahuan secara langsung dari Tuhan, ketika hati sebagai sarana pencapaian pengetahuan irfan siap untuk menerimanya. Untuk itu,diperlukan persiapan- persiapan tertentu sebelum seseorang mampu menerima limpahan pengetahuan secara langsung tersebut. Persiapan yang dimaksud, seperti disinggung di atas, adalah bahwa seseorang harus menempuh perjalanan spiritual lewat tahapan- tahapan tertentu (maqām) dan mengalami kondisi-kondisi batin tertentu Tentang jumlah tahapan dalam maqam sendiri ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Abu Nasr Sarraj Al-Thusi (w. 988 M), salah seorang tokoh sufi periode awal, mencatat ada tujuh tingkatan diantaranya:taubat,wara,juhud,faqir,sabar,tawakal,rida.
  9. 9. 1 Pertama,taubat,yaitu meninggalkan segala perbuatan yang kurang baik disertai penyesalan yang mendalam untuk kemudian menggantinya dengan perbuatan- perbuatan baru yang terpuji 2 Kedua,wara,yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak jelas statusnya (syubhat).Dalam tasawuf,wara' ini terdiri atas dua tingkatan,lahir dan batin.Wara lahir berarti tidak melakukan sesuatu kecuali untuk beribadah kepada Tuhan,sedang wara' batin adalah tidak memasukkan sesuatu apapun dalam hati kecuali Tuhan 3 Ketiga,zuhud,tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia 4 Keempat,faqir, mengosongkan seluruh fikiran dan harapan dari kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, dan tidak menghendaki sesuatu apapun kecuali Tuhan swt,sehingga ia tidak terikat dengan apa pun dan hati tidak menginginkan sesuatupun
  10. 10. 5 6 7 Kelima,sabar yakni menerima segala cobaan atau bencana dengan rela, tanpa menunjukkan rasa kesal atau marah.Menurut Al-Junaidi Al-Baghdadi (830-910 M),sabar berarti rela menanggung beban, kesulitan, kesempitan, dan sejenisnya semata-mata demi untuk mendapat rida Allah Swt.hingga saat-saat sulit tersebut berlalu Keenam, tawakal, percaya atas segala apa yang ditentukan Tuhan.Tahap awal dari tawakal adalah menyerahkan diri pada Tuhan Ketujuh rida,hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita terhadap segala apa yang diberikan dan ditentukan Tuhan kepadanya.
  11. 11. Setelah mencapai tingkat tertentu dalam spiritual,seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara iluminatif atau noetic yang diistilahkan dengan kasyaf sehingga dia akan dapat mencapai musyahadah dan akhirnya ittihad.Menurut Al- Qusyairi, kasyf adalah kesadaran hati akan sifat-sifat kebenaran,musyahadah adalah penyaksian hati atas realitas kebenaran,sedang ittihad adalah penyatuan hati (diri) dengan realitas kebenaran itu sendiri.
  12. 12. Metode Pengungkapan Ketika seseorang telah mencapai tingkatan spiritual tertentu,ia akan mengalami kesadaran diri (kasyf) sedemikian rupa sehingga mampu melihat dan memahami realitas diri dan hakikat yang ada sedemikian jelas dan gamblang.Ini adalah puncak kesadaran dan limpahan pengetahuan yang didapat dari proses panjang epistemologi irfan. beberapa pengkaji masalah irfani membagi pengetahuan ini dalam tingkatan- tingkatan yaitu pengetahuan tak terkatakan dan pengetahuan yang terkatakan. Pengetahuan yang terkatakan terbagi dalam tiga bagian, yaitu: 1. Pengetahuan irfan yang disampaikan oleh pelaku sendiri, 2. Pengetahuan irfan yang disampaikan oleh orang ketiga tetapi masih dalam satu tradisi dengan yang bersangkutan (orang Islam menjelaskan pengalaman dan pengetahuan irfan orang Islam yang lain), d 3. Pengetahuan irfan yang disampaikan orang ketiga tapi dari tradisi yang berbeda (orang Islam menyampaikan pengalaman dan pengetahuan irfan dari tokoh non-Muslim atau sebaliknya).
  13. 13. TERIMA KASIH!

×