Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Nächste SlideShare
Ma'rifatul insan
Ma'rifatul insan
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 8 Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Diashows für Sie (20)

Andere mochten auch (20)

Anzeige

Ähnlich wie Marifatul insan bag-1 (20)

Aktuellste (20)

Anzeige

Marifatul insan bag-1

  1. 1. KAJIAN RUTIN IBU-IBU MUSLIMAH WARGA DUKHAN, QATAR (MAR’ATUS SHOLEHAH) RABU, 02-MAY-2012 “MA’RIFATUL INSAN”
  2. 2. MA’RIFATUL INSAN A. PRINSIP PENCIPTAAN MANUSIA Allah SWT berfirman: “Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut”. (QS. 76:1). “Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”. (QS. 19:67). Kedua ayat di atas dimulai dengan kalimat istifham, yang menuntut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan itu, ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini sesuai dengan fungsi dan tujuan penciptaannya. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Pada mulanya ia bukanlah apa-apa, tidak ada, tidak berwujud dan tidak berbentuk. Kemudian atas kehendak-Nya, ia diciptakan. Ihwal penciptaan manusia ini, menunjukkan KeMaha Kuasaan Allah. Hal ini harusnya menjadi renungan manusia, betapa tanpa kekuasaan-Nya, dirinya bukanlah apa-apa. B. PROSES PENCIPTAAN MANUSIA Dalam penciptaan manusia, terdapat dua proses, yaitu: (1) Proses azali, dan (2) Proses alami. 1. Proses azali Proses azali adalah proses dimana peran ke Maha Kun fayakunan Allah terjadi, tidak ada sedikitpun campur tangan manusia. Seperti dalam penciptaan Adam yang diciptakan dari tanah liat yang dibentuk. Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dan Isa Al Masih yang diciptakan tanpa seorang ayah. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut: )26(ٍ ُ٘ ْ‫ََ َذْ ََقْ َب اىْ ِّْ َب َ ِِْ َيْصَب ٍ ِِْ َ َ ٍ ٍَغ‬ ُ ْ ‫ٗىق خي ْ ئ غ ُ ٍ ص ه ٍ حَئ‬ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering yang diberi bentuk”. (QS.15:26). ‫ٝ أٖٝ ْ ط رق سثنٌ ىز خيقن ٍ ّ ْظ ٗ حذح ٗخيق ٍ ٖ ص خٖ ٗثّث ٍ َٖ سخ ى مث ش ٗ غ ء‬ ً ‫َبَُ َب اى َب ُ اَ ُ٘ا ََ ُ ُ اَ ِٛ ََ َ ٌُْ ِِْ َف ٍ َا ِ َ ٍ َ ََ َ ِ ْ َب َْٗ َ َب َ َ َ ِ ْ ُ َب ِ َبًب َ ِٞ ًا َِّ َب‬ )1(‫َاَ ُ٘ا اىَ َ اَ ِٛ رَ َب َُ٘ َ ِ ِ َاىْ َسْ َب َ ِ َ اىَ َ َب َ ََْٞ ٌُْ سَ ِٞ ًب‬ ‫ٗ رق ئ ىز غ ءى ُ ثٔ ٗ ؤ ح ً إُ ئ م ُ عي ن ق ج‬
  3. 3. “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu ”. (QS.4:1). )59(ُ ُ٘ َٞ ُِْ ُ َ َ ‫ِ َ َث َ ِٞ َٚ ِ ْ َ اىَ ِ َ َث ِ َا َ َ ََ َ ُ ِِْ ُ َا ٍ ُ َ قَب‬ ُ ‫إُ ٍ َو ع غ ع ذ ئ مَ َو ء دً خيقٔ ٍ رش ة ثٌ ه ىٔ م ف َن‬ “Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptaklan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman: “Jadilah”, maka jadilah dia”. (QS.3:59). 2. Proses Alami Proses alami adalah proses kejadian manusia setelah Adam dan Hawa terkecuali Isa as. yaitu harus adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan, bertemunya sel sperma dan indung telur di dalam rahim perempuan. Dalam rahim seorang ibu ia dibentuk dengan melalui beberapa tahapan dan dalam waktu yang telah ditetapkan. Kemudian setelah sempurna kejadiannya, ia dilahirkan ke atas dunia sebagai seorang bayi, lalu Allah tumbuhkan ia menjadi dewasa dan menjadi tua, kemudian Allah wafatkan. Sebagaimana firman Allah di bawah ini: ‫ثٌ خي ْ ْ ف عي خ‬ ً َ‫ََ َذْ ََقْ َب اىْ ِّْ َب َ ِِْ َُبَ ٍ ِِْ ِٞ ٍ( 21) ُ َ َ َيْ َب ُ ُطْ َخً ِٜ ق َا ٍ َ ِٞ ٍ( 31) ُ َ ََقْ َب اىُطْ َخَ ََق‬ ِ ‫ثٌ خع ْ ٓ ّ ف ف َش س ٍن‬ ِ ‫ٗىق خي ْ ئ غ ُ ٍ عي ىخ ٍ ط‬ ِ‫فخي ْ عيقخ ٍ غ فخي ْ َ غخ عظ ٍ ف غ ّ عظ ً ى َ ثٌ أ ش ّ ٓ خ ق ء خ فزج سك ئ أ غ‬ ُ َ ْ‫َ ََقْ َب اىْ ََ َ َ ُضْ َخً َ ََقْ َب اىْ ُضْ َ َ ِ َب ًب َنَ َْ٘ َب اىْ ِ َب َ َحْ ًب ُ َ َّْ َؤْ َب ُ َيْ ًب َا َشَ َ َ َب َ َ اىَ ُ َح‬ )16(َ ُ٘ َ ْ ُ ِ َ ‫ا ْ َبِ ِٞ َ(41) ُ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ َِ َ َ َ ِ ُ٘ َ(51) ُ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ ا ْ ِ َب‬ ُ ‫ثٌ إّنٌ ًٝ٘ ىقٞ ٍخ رجعث‬ ُ ‫ثٌ إّنٌ ثعذ رىل ىَٞز‬ ِ ‫ىخ ىق‬ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian saripati itu Kami jadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu bener-benar akan mati. Kemudian kamu akan dibangkitkan di hari kiamat”. (QS.23:12-16). C. BAHAN DASAR (BENTUK DAN ISI) PENCIPTAAN MANUSIA. 1. Bentuk Dasar. Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagaimana diterangkan dalam ayat di bawah ini: )8(ٍ ِٞ َ ٍ ‫ُ َ َع َ َّغَْ ُ ِِْ َُبَ ٍ ِِْ َب‬ ِ ٍٖ ‫ثٌ خ َو ئ ٍ عي ىخ ٍ ٍ ء‬ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”. (QS.32:7-8). Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan dan cantik rupawan hanyalah berbahan dasar tanah liat/tanah tembikar yang merupakan bahan terendah yang kurang berharga. Bila manusia suka memperhatikan asal kejadiannya ini, maka ia tidak akan suka menyombongkan diri menentang dan mendurhakai Allah penciptanya. Akan tetapi ia akan tunduk merendahkan dirinya kepada Allah, karena hanya atas karunia-Nyalah ia menjadi ada.
  4. 4. 2. Isi Dasar Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut di atas, kemudian Allah mengisinya den gan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh-Nya. Sebagaiamana firman-Nya: )9(َ ُٗ ُ ْ‫ُ َ َ َا ُ َ َ َخَ ِٞ ِ ِِْ ُٗ ِ ِ َ َع َ َ ُ ُ اى ََْ َ َاىْ َثْ َب َ َاىْؤَفْ ِ َحَ قًِٞب َب رَش‬ ُ ‫ثٌ ع٘ ٓ ّٗف ف ٔ ٍ س حٔ ٗخ َو ىنٌ غ ع ٗ ؤ ص س ٗ ئذ َي ي ٍ نش‬ "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya ruh ciptaan-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS.32:9). Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia diberi ruh-Nya. Dari dua asal yang sangat berbeda ini menunjukkan adanya dua hal yang berbeda. Jasad manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah maka ia memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada tanah, yaitu: “Zuyyina linnas hubbus shahawaati minan nisa wal baniina wal qonathiri muqonthoroti nimadz-dzahabi wal fidhoti wal khoilil musawwamati wal an'ami wal harts .... (QS.3:14). Sedangkan ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah yaitu addien, jalan menuju taqwa: Qul aunabbiukum bikhoirim min dzalikum, lilladzinat taqowu .. (QS.3:15). D. POTENSI DASAR MANUSIA Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi external (yaitu potensi disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia harus diolah dan didaya-gunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat memunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna. 1. Potensi Internal Potensi internal ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri: a. Potensi Fitriyah. Manusia diberikan oleh Allah potensi fitriyah. Makna fitrah ialah al-Islam. Sebagaimana yang kita pahami dalam ayat dan hadits di bawah ini: ‫ف ق ٗ ٖل ى ذ ِ حْ ف ف شح ئ ىز فطش ْ ط عي ٖ ى ر ذ و ىخ ق ي رىل ذ ِ قٌٞ ٗىنِ أ ثش‬ َ َ ْ‫َؤَ ٌِْ َخْ َ َ ِي ِٝ ِ َ ِٞ ًب ِطْ َ َ اىَ ِ اَ ِٜ َ َ َ اى َب َ ََْٞ َب َب َجْ ِٝ َ ِ َيْ ِ اىَِٔ َِ َ اى ِٝ ُ اىْ َ ِ ُ ََ ِ َ َم‬ )30(َ ُ٘ َْ‫اى َب ِ َب َع‬ ُ َ‫ْ ط ى ٝ ي‬ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang lurus; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.30:30).
  5. 5. Berkenaan ayat ini Rasulullah SAW bersabda: َْٗ ِ ِ ‫ : " َب ِِ َُْ٘٘ ٍ إ َ َُ٘ ُ ََٚ اى ِطْ َ ِ . َ َ َ َا ُ َ ُ ِ َا ِ ِ َْٗ ُ َ ِ َا‬ ٜ‫. قبه اىْج‬ ‫عِ أثٚ ٕشٝشح‬ ‫ٍ ٍ ٍ ى د ِّال ٝ ىذ عي ف شح فؤث٘ ٓ ٖٝ٘د ّٔ أ ْٝصش ّٔ أ‬ :  َ ‫ُ َ ِ َب ِ ِ . َ َب ُ ْ َ ُ اى َ ِْٞ َ ُ َ ِٞ َ ً ََْ َب ِ. ٕوْ ُحِ ُُ٘ ِٞ َب ِِ َذْ َبء ؟". ث ّ ٝق٘ ُ أث٘ ٕشٝش‬ ‫ح‬ ‫ٌ ه‬ َ ‫َٝدغ ّٔ مَ ر زح جٖ َخ ثٖ َخ خ ع ء َ ر غ ف ٖ ٍ خ ع‬ ٔٞ‫ِطْ َ َ ا ِ اَ ِٚ َ َ َ اى َب َ َََْٖٞب َ َجْ ِٝ َ ِ َيْ ِ اهلل ، رَِ َ اى ِٝ ُ اى َ ِ ُ . ٍزفق عي‬ ٌٞ‫ف شح هلل ىز فطش ْ ط عي ّال ر ذ و ىخ ق ِ اىل ذ ِ ق‬ “Dari Abu Hurairah RA. Bersabda Rasulullah SAW: “Tiada bayi yang dilahirkan kecuali lahir dalam keadaan fitrah. Maka ayah bundanyalah yang menjadikannya Yahudi. Nasrani atau Majusi. Sebagai lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya?. Kemudian Abu Hurairah RA membaca: ”Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus”. (HR. Mutafaqun ‘alaih, Lu’lu’ Wal Marjan). Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dienullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan) (QS.7:172). b. Potensi Ruhiyah Potensi ruhiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Allah berfirman: )8(‫َ َف ٍ َ َب َ َا َب(7) َ َىْ َ َ َب ُ ُ٘ َ َب َ َقْ َا َب‬ ٕ ٘ ‫فؤ َٖٖ فد سٕ ٗر‬ ٕ ٘‫ّٗ ْظ ٍٗ ع‬ “Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan”. (QS.91:7-8). Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Dari kemampuan ini, Nabi pernah bersabda: ‫ٗعِ ٗاثصخ ثِ ٍعجذ س.ض قبه : َ َْٞ ُ سع٘ه اهلل صيٚ اىّٔ عيٞٔ ٗعٌّ فقبه: ِئْ َ رَغْؤ ُ َ ِ اى ِ ِ؟‬ ‫خ ذ َه عِ جش‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫أر ذ‬ ‫ق ذ ّع ف ه ز ق جل جش ٍ َؤّ إى ٔ ْ ْظ ٗ َؤُ إى ٔ ق ت ٗ ْإل ٌ ٍ ح ف ْ ْظ‬ ِ ‫ُيْ ُ: َ ٌَْ، َقَب َ: اعْ َفْذِ َيْ َ َ ، اى ِ ُ َباطْ َ َ َذْ َِْٞ ِ اىَف ِ َاطْ َ َ َ َِْٞ ِ اىْ َيْ ُ. َا ِثْ ُ َب َبكَ ِٜ اىَف‬ ٍٚ‫َ َ َ َدَ ِٜ اى َذْ ِ، َُِْ أَفْ َب َ اىََط َأَفْ َب َ. سٗآ احَذ ٗاىذاس‬ ‫ٗرشد ف ص س ٗإ ز ك ْب ٗ ز ك‬ “Wabishah bin Ma’bab RA berkata: Saya datang kepada Nabi SAW untuk bertanya tentag bakti (al-birri). Maka sebelum saya bertanya, Nabi bertanya: “Kau datang untuk bertanya tentang bakti? Jawabku: Ya. Bersabda Nabi SAW: “Tanyakan pada hatimu. Bakti itu ialah semua perbuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa, itu semua perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mendapat fatwa dari orangt-orang”. (HR. Ahmad dan Darimi). Hadits ini menunjukkan bahwa potensi inilah yang menentukan arah kehidupan manusia.
  6. 6. c. Potensi Aqliyah. Potensi aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a, basar, fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah, tentang “kekuasaan” Allah. Serta dengan potensi ini, ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang bermanfaat baginya yang tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya dan tentu harus dihindarkan. Allah berfirman: ٌُْ ََ َ َ َ ِ ْ‫َاىَ ُ َخْ َ َ ٌُْ ِِْ ُ ُ٘ ِ ُ َ َب ِ ٌُْ َب َعَْ ُ٘ َ َْٞ ًب َ َع َ َ ُ ُ اى ََْع َاىْ َثْ َب َ َاىْؤَف‬ ‫ٗ ئ أ شخن ٍ ثط ُ أٍٖ رن ى ر يَ ُ ش ئ ٗخ َو ىنٌ غ َ ٗ ؤ ص س ٗ ئذح ىعين‬ )78(َ ُٗ ُ ْ‫رَش‬ ُ ‫نش‬ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS.16:78). Potensi inilah yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. Dalam hal ini Allah berfirman: )36(‫ََب َقْ ُ َب َٞ َ َ َ ِ ِ ِيْ ٌ ِ َ اى ََْ َ َاىْ َ َ َ َاىْ ُ َا َ م ُ َُٗ ِ َ َب َ َ ْ ُ ٍَغْ ًُ٘ب‬ ‫ٗى ر ف ٍ ى ْظ ىل ثٔ ع ٌ إُ غ ع ٗ جصش ٗ فؤ د ُو أ ىئل م ُ ع ٔ ئ ى‬ “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban”. (QS.17:36). Manusia yang tidak mempergunakan potensi ini, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan kelelebihan dan keutamaan yang Allah berikan, sehingga ia tidak pantas mendapat fadhal disisi Allah, tetapi ia sama dengan makhluk yang terendah yaitu binatang ternak, bahkan lebih hina lagi. Allah berfirman: ُ ‫ٗىق رس ّ ى ٌَْٖ مث ش ٍِ دِ ٗ ئ ْظ ىٖ قي ة ى ٝ قٖ ُ ثٖ ٗىٖ أ ِٞ ى ٝ صش ُ ثٖ ٗىٖ ء ر‬ ٌ ‫ََ َذْ َ َأْ َب ِد ََ َ َ ِٞ ًا ِ َ اىْ ِ ِ َاىْ ِّ ِ َ ٌُْ ُُ٘ ٌ َب َفْ َ ُ٘ َ ِ َب ََ ٌُْ َعْ ُ ٌ َب ُجْ ِ ُٗ َ ِ َب ََ ٌُْ َا َا‬ )179(َ ُِ٘ ‫َب َٝغْ َ ُ٘ َ ِ َب َُٗ ِ َ َبىْ َّْ َب ِ ثوْ ٌُْ َض ُ َُٗ ِ َ ُ ُ اىْ َب‬ ُ ‫ى َع ُ ثٖ أ ىئل م ؤ ع ً َ ٕ أ َو أ ىئل ٌٕ غ في‬ “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari Jin dan Manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Aallah, mereak mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS.7:179). d. Potensi Jasmaniyah. Potensi jasmaniyah yaitu kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaiman firman-Nya:
  7. 7. )4(ٍ ِٝ ْ‫َ َذْ ََقْ َب اىْ ِّْ َبَُ ِٜ َحْ َ ِ َق‬ ٌ ٘ ‫ىق خي ْ ئ غ ف أ غِ ر‬ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan”. (QS.94:5). )3(ُ ِٞ َ ْ‫َ َ َ َ ٌُْ َ َحْ َ َ ُ َ َ ٌُْ ََِْٞ ِ اى‬ ‫ٗص٘سم فؤ غِ ص٘سم ٗإى ٔ َص ش‬ “Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembalimu”. (QS.64:3). Potensi jasmaniyah ini adalah merupakan basthoh fil khalqi (fil jism). Sebagai modal utama untuk melaksanakan tugasnya. 2. Potensi Eksternal Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusai. Allah juga sertakan potensi external sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi external ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. a. Potensi Huda Yaitu petunjuk Allah yang mempertagas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman: )3(‫َِب َ َْٝ َب ُ اى َ ِٞ َ ِ َب َب ِ ًا َِ َب َ ُ٘ ًا‬ ‫إّ ٕذ ْ ٓ غج و إٍ ش مش ٗإٍ مف س‬ “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS.76:3). )38(َ ُ٘ َ ْ‫َ ِ َب َؤْ ِ ََ ٌُْ ِِٜ ُ ًٙ َ َِْ َ ِ َ ُ َاَٛ ََب َْ٘ ٌ ََْٞ ٌِْ ََب ٌُْ َح‬ ُ ّ‫فئٍ ٝ رْٞن ٍْ ٕذ فَ رجع ٕذ في خ ف عي ٖ ٗى ٕ ٝ ض‬ “....Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati”. (QS.2:38). b. Potensi Alam Alam semesta adalah merupakan potensi external kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran. Allah berfirman:
  8. 8. ٔ‫ىز ِ مش ُ ي‬ َ َ‫ِ َ ِٜ َيْ ِ اى َ َ َا ِ َا َسْ ِ َاخْ َِب ِ اىَٞ ِ َاىَ َب ِ َآ َب ٍ ُِِٜٗ اىْ َىْ َب ِ( 091)اَ ِٝ َ َٝزْ ُ ُٗ َ اى‬ ‫إُ ف خ ق غَ٘ د ٗ ّْال ض ٗ زي ف ي ْو ٗ ْٖ س ى ٝ د ىؤ ى ؤ ج ة‬ ‫ِ َب ًب َٗ ُ ُ٘ ًا َ ََٚ ُ ُ٘ ِ ٌِْ َ َ َ َ َ َُُٗ ِٜ َيْ ِ اى َ َ َا ِ َاىْ َسْض َ َ َب َب ََقْ َ َ َا َب ًِب ُجْ َبَّلَ َ ِ َب‬ ْ‫قٞ ٍ قع د ٗعي خْ ثٖ ٗٝزفنش ف خ ق غَ٘ د ٗ ؤ ِ سثْ ٍ خي ذ ٕز ث طي ع ح فق‬ )191(ِ ‫َ َا َ اىَب‬ ‫عز ة ْ س‬ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi ulul Albab. Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring; dan mereka memikirkan tentapenciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tidalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia”. (QS.3:190-191). ‫َبَُ َب اى َب ُ اعْ ُ ُٗا ََ ُ ُ اَ ِٛ ََ َ ٌُْ َاَ ِٝ َ ِِْ َجِْ ٌُْ َ ََ ٌُْ ََ ُُ٘( 12)اَ ِٛ َع َ َ ُ ُ اىْ َسْضَ ِ َا ًب‬ ‫فش ش‬ ‫ىز خ َو ىنٌ ؤ‬ َ ‫ٝ أٖٝ ْ ط جذ سثنٌ ىز خيقن ٗ ىز ِ ٍ ق ين ىعين رزق‬ ٌُْ ََّْ ‫َاى َ َب َ ِ َب ً ََّْض َ ِ َ اى َ َب ِ َبءً َ َخْ َ َ ِ ِ ِ َ اىَ َ َا ِ ِصْ ًب ى ٌُْ ََب َدْ َُ٘ا َِ ِ َّْ َا ًا‬ ‫ٗ غَ ء ثْ ء ٗأ َه ٍِ غَ ء ٍ فؤ شج ثٔ ٍِ ثَش د س ق َن في ر عي ىئ أ ذ د ٗأ ز‬ )22(َ ُ٘ َْ‫َع‬ ُ َ‫ر ي‬ “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS.2:21-22).

×