4. I. Obat Antihipertensi
• Hipertensi: Penyakit kompleks yang ditandai dengan
adanya kenaikan tekanan darah diatas normal (>140/90
mmHg).
• Ada 2 :
1. Hipertensi primer: penyebab belum diketahui pasti,
diduga karena faktor bertambahnya usia, stress, psikologis,
hereditas, prevalensi ±90%.
2. Hipertensi sekunder: akibat penyakit lain sep: gang.
Pembuluh darah ginjal, hipertiroid, gang. Kel. Adrenal
(hiperaldosteron), prevalensi ±10%.
6. Faktor yg mempengaruhi tekanan darah
Tekanan darah dipengaruhi: aktivitas jantung (curah jantung/CO) dan
resistensi/tahanan pembuluh darah perifer, dipengaruhi oleh elastisitas dan
diameter pembuluh darah.
7. Renin Angiotensin Aldosteron System
• Salah satu mekanisme fisiologis tubuh untuk memelihara
tekanan darah adalah merilis protein renin dari sel
juxtaglomerular di ginjal.
• Sistem ini diaktivasi terutama sebagai respon baroreseptor
akibat tekanan darah yang terlalu rendah (hipotensi) sehingga
perfusi darah ke ginjal menurun.
• Kondisi yg mengakibatkan aktivasi RASS:
a. Tekanan darah rendah
b. Stress simpatetik
c. Volume darah menurun dehidrasi
9. Prinsip kerja obat antihipertensi
Semua obat antihipertensi bekerja pada satu
atau lebih empat tempat kontrol anatomis
untuk mempengaruhi regulasi tekanan darah
normal.
12. ACEI (Angiotensin Converting Enzym Inhibitor) dan ARB
(Angiotensin Receptor Blockers)
ACEI
• MK: menghambat kerja ACE sehingga AT-I tidak diubah
menjadi AT-II tidak terbentuk Angiotensin II.
ARB
• MK: memblok reseptor AT-II shgga tidak dapat berinteraksi dengan
reseptornya (tidak menimbylkan efek biologis).
Karena keduanya bekerja pada system RAAS, sehgga efek yg
ditimbulkan sama yaitu:
• Vasodilatasi
• Penurunan aktivitas saraf simpatetik
• Menghambat sekresi aldosteron
14. Golongan Obat ACEI ARB
Indikasi Hipertensi, gagal
jantung
Hipertensi, gagal
jantung dan Infark
miokard
Kontraindikasi Hipersensitifitas, hamil, penyakit renovaskuler
Efek samping Batuk kering, pusing,
hiperkalemia
Pusing, hipotensi,
lidah-mulut-wajah
bengkak (jarang),
hiperkalemia
Cara Pemberian Tablet, perut kosong Tidak dipengaruhi
makanan
17. Alfa-1 bloker
• MK: memblok kompetitif terhadap adrenoseptor α-1
relaksasi otot polos arteri dan vena tahanan vaskuler
perifer menurun TD menurun.
• Aktivasi reseptor alfa-1 di pembuluh darah (arteri dan
vena) vasokonstriksi peningkatan tekanan darah.
• ES: refleks takikardia (karena pelepasan norepinefrin yg
terjadi dapat menstimulasi reseptor β jantung selanjutnya;
hipotensi berat dapat terjadi setelah dosis pertama.
• Prazosin dan doxazosin dapat meredakan gejala
hyperplasia prostat sehingga diindikasikan pada pasien
hipertensi dengan kondisi tersebut.
18. Contoh Obat dan dosis alfa bloker
Doxazosin memiliki efek takikardia yg lebih ringan dibanding prazosin
19. Alfa-2 Agonis
• MK: aktivasi reseptor alfa-2 di medulla oblongata
penurunan outflow simpatetik dan mengurangi jumlah NE di
sinaps perifer secara signifikan ke system cardiovascular
tahanan perifer menurun TD turun.
• ES yang paling umum: sedasi dan drowsiness.
• Tidak digunakan sebagai terapi lini pertama sebagian besar
karena efek samping yang terkait dengan tindakan mereka di
dalam otak.
• Contoh obat: Klonidin dan metildopa
• Metildopa : suatu prodrug yg berkhasiat sebagai
antihipertensi melalui metabolit aktifnya alfa-
metilnorepinefrin melalui stimulasi reseptor alfa 2.
20. Calcium Channel Blocker (CCB)
• MK: memblok kanal ion Ca2+ pada otot polos vaskuler influx
Ca2+ menurun vasodilatasi arteri coroner dan perifer tekanan
darah turun.
• Indikasi: hipertensi, angina dan aritmia.
• Efek samping: hipotensi, pusing, ruam, edema.
CCB non-dihidropiridin bradikardia yang berlebihan, gangguan
konduksi listrik (misalnya, blok nodus atrioventrikular), dan penurunan
kontraktilitas. Oleh karena itu, pasien yang mengalami bradikardia,
defek konduksi, atau gagal jantung yang disebabkan oleh disfungsi
sistolik tidak boleh diberikan CCB, terutama CCB non-dihidropiridin.
25. Beta Bloker
• MK: memblok reseptor β yang dapat menyebabkan
penurunan TD melalui penurunan curah jantung (Cardiac
Output).
• Indikasi: hipertensi, angina pectoris, aritmia
supraventrikuler, takikardia dan gagal jantung.
• KI: hipersensitifitas, syok kardiogenik, asma dan
COPD.
• Efek samping: mual, tangan dan kaki dingin,
hipoglikemia, gangguan tidur dengan mimpi buruk.
• Terdapat dua golongan: beta bloker selektif dan non-
selektif.
35. Diuretik
• MK (secara umum): meningkatkan
pengeluaran cairan dari dalam tubuh volume
intravaskuler turun tekanan darah turun.
• Indikasi: hipertensi, udem (CHF, renal atau
hepatic disease).
• KI: hipersensitivitas, gangguan elektrolit.
41. Definisi Gagal Jantung
• Keadaan dimana terjadi pengurangan kontraktilitas otot
jantung yang menimbulkan bendungan sirkulasi sehingga
jantung gagal mengalirkan darah ke jaringan dan kebutuhan
oksigen jaringan tidak terpenuhi.
• Penyebab:
a. Aritmia
b. Emboli paru
c. Hipertensi
d. Penyakit tiroid
e. Penyakit katup jantung
f. Unstable angina pectoris
g. Gagal ginjal
Preload
meningkat
Kompensasi
Gagal
Kompensasi
Jantung
Kompensasi
Gagal
Gagal
Jantung
44. Prinsip pengobatan
Menghilangkan bendungan sirkulasi
1. Mengurangi beban jantung, misal: menurunkan berat badan,
istirahat cukup, pembatasan asupan garam dan menghilangkan
penyebab.
2. Meningkatkan kontraktilitas otot jantung dengan obat
inotropik positif, misalnya glikosida jantung.
3. Menurunkan preload dan afterload, misalnya dengan
pemberian vasodilator dan diuretik.
4. Obat-obat antiaritmia untuk memperbaiki frekuensi dan
kelainan irama jantung.
45. Klasifikasi Obat Gagal Jantung
1. Diuretik
2. Vasodilator (dilatasi vena dan arteri)
3. Cardiostimulatory atau obat ionotropik (meningkatkan
kontraktilitas)
4. Cardioinhibitory
46. 1. Diuretik
Gagal jantung menyebabkan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, yang
menyebabkan peningkatan retensi natrium dan air oleh ginjal meningkatkan
volume darah (preload) peningkatan tekanan vena menyebabkan
edema paru dan sistemik.
MK diuretik pada gagal jantung: menurunkan volume darah dan vena
(melalui keseimbangan natrium dan air) menurunkan preload mengurangi
kongesti dan edema paru dan/atau sistemik, dan gejala klinis terkait (misalnya,
sesak napas - dispnea).
51. Direct Vasodilator
• MK : mengurangi afterload meningkatkan stroke
volume dan fraksi ejeksi. Biasanya diberikan bersama
dengan diuretik dan sering dengan nitrodilator.
• Efek samping: sakit kepala, kemerahan dan takikardia.
Beberapa pasien (~10%) mengalami sindrom lupus.
• Intoleransi ACEI/ARB: kombinasi hidralazin + ISDN
(KI: hipotensi, lupus dan gagal ginjal berat).
• Contoh obat: Hidralazin.
52. Nitrodilator
• Indikasi: hipertensi, gagal jantung, angina dan infark
miokard.
• MK (pada jantung) : menurunkan preload dan afterload
(mengurangi edema dan meningkatkan SV serta fraksi
ejeksi); mengurangi kebutuhan oksigen miokard.
• Efek samping: sakit kepala (disebabkan oleh vasodilatasi
serebral), kulit memerah, hipotensi postural dan refleks
takikardia.
55. 3. Cardiostimulatory (Inotropik positif)
• Indikasi: gagal jantung dan syok (kardiogenik, hipovolemik dan
sepsis).
• MK: Obat kardiostimulator (juga disebut "obat kardiotonik")
meningkatkan fungsi jantung dengan meningkatkan denyut jantung
(kronotropi) dan kontraktilitas miokard (inotropi), yang
meningkatkan curah jantung dan tekanan arteri.
• Obat kardiostimulator dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan
mekanisme kerjanya:
1. Beta agonis
2. Senyawa digitalis
3. Phospodiesterase inhibitor
56. a. Beta Agonis
• MK: meningkatkan denyut jantung (kronotropik positif), kontraktilitas
(ionotropik positif), kecepatan konduksi, dan laju relaksasi.
• Efek samping: aritmia jantung (karena obat ini meningkatkan kebutuhan
oksigen miokard dapat memicu angina pada pasien dengan penyakit
arteri koroner), sakit kepala dan tremor.
• Efek lain beta agonis:
a. Efek pada vaskular: relaksasi otot polos (vasodilatasi) melalui
aktivasi β2-adrenoreseptor.
b. Efek lain: bronkodilatasi, glikogenolisis hati dan pelepasan
glukagon pancreas meningkatkan konsentrasi glukosa plasma
(aktivasi β2), pelepasan renin yang merangsang produksi
angiotensin II dan pelepasan aldosteron selanjutnya oleh korteks
adrenal (aktivasi β1).
58. b. Digitalis
• Glikosida jantung : senyawa yang berasal dari tanaman foxglove
(Digitalis purpurea).
• MK: meningkatkan kontraktilitas (inotropik positif), menurunkan
denyut jantung (kronotropik negatif) dan mengurangi kecepatan
konduksi impuls listrik melalui nodus atrioventrikular (dromotropi
negatif).
• Efek samping: aritmia jantung (terutama takikardia atrium dan blok
antrioventrikular).
• KI: hipokalemia, blok antrioventrikular, sindrom Wolff-Parkinson-
White (WPW), gangguan fungsi ginjal, pasien lansia yang kurus.
61. c. Phospodiesterase inhibitor
• MK: meningkatkan kontraktilitas (inotropic positif) dan denyut
jantung (kronotropik positif).
• Indikasi: gagal jantung akut.
• Uji klinis telah menunjukkan bahwa terapi jangka panjang dengan
inhibitor PDE3 meningkatkan mortalitas pada pasien gagal jantung;
oleh karena itu, obat ini tidak digunakan untuk terapi jangka panjang
dan kronis.
• Tidak digunakan sebagai monoterapi, digunakan bersama dengan
pengobatan lain seperti diuretik, ACE inhibitor, beta-blocker atau
digitalis.
• Efek samping: aritmia ventrikel, pusing dan hipotensi.
• Contoh obat: milrinone, inamrinon dan cilostazol.
63. 4. Cardioinhibitory ( Beta bloker)
MK kardioinhibitori: menekan fungsi jantung dengan menurunkan denyut
jantung (kronotropi), kontraktilitas miokard (inotropi), atau keduanya, yang
menurunkan curah jantung dan tekanan arteri. Perubahan jantung ini
mengurangi kerja jantung dan kebutuhan oksigen miokard.
Beta bloker : menurunkan denyut jantung (efek kronotropik negatif)
kebutuhan oksigen miokard menurun.
• Efek samping: bradikardia, penurunan kapasitas latihan, gagal jantung,
hipotensi, dan blok konduksi nodus atrioventikular (AV) (KI: sinus
bradikardia sinus dan blok AV parsial). Bronkokonstriksi (β-bloker non
selektif) (KI: asma dan COPD) dan hipoglikemia (hati-hati pada pasien
diabetes).
• Hanya carvedilol dan metoprolol yang telah disetujui oleh FDA untuk
indikasi gagal jantung.
66. ANGINA
• Angina: disebut juga angina pectoris, adalah nyeri dada
yang disebabkan oleh aliran darah koroner yang tidak
memadai ke miokardium.
• Merupakan gejala utama dari penyakit jantung koroner.
• Nyeri akan hilang dengan obat-obatan anti angina.
68. Prinsip pengobatan angina
1. Meningkatkan deliveri oksigen vasodilator koronaria
dan obat anti-trombotik.
2. Mengurangi kebutuhan oksigen miokard vasodilator
(mengurangi preload dan afterload) dan depresan cardiac.
69. Kelas Obat anti-angina:
1. Vasodilator (dilatasi vena dan arteri) : CCB dihidropiridin dan
nitrodilator.
2. Obat cardioinhibitory (mengurangi denyut jantung dan
kontraktilitas): beta bloker dan CCB non dihidropiridin.
3. Obat antitrombotik (mencegah pembentukan thrombus):
antikoagulan dan antiplatelet.
70. Nitrat Organik
● Meningkatkan aliran darah coroner
(meningkatkan suplai O2) dgn
menghambat vasospasme.
● Vasodilatasi vena menurunkan
kebutuhan oksigen miokard.
● Dilatasi arteri coroner epicardial.
● Mengurangi resistensi vascular
sistemik dan tekanan artei
mengurangi kebutuhan O2 miokard.
● Nitrogliserin, umumnya digunakan
dalam pengobatan angina karena
bekerja sangat cepat (dalam 2 sampai 5
menit) bila diberikan secara sublingual.
● Nitrogliserin intravena digunakan di
rumah sakit untuk angina tidak stabil
dan gagal jantung akut.
MK sebagai anti-angina
72. CCB (Calsium Channel Blockers)
Efek anti-angina vasodilator dan kardiodepresannya.
MK pada anti-angina:
1. Vasodilatasi sistemik mengurangi tekanan arteri mengurangi afterload
ventrikel (tekanan dinding) sehingga menurunkan kebutuhan oksigen.
2. CCB kardioselektif (verapamil dan diltiazem) menurunkan denyut
jantung dan kontraktilitas penurunan kebutuhan oksigen miokard.
3. Melebarkan arteri koroner dan mencegah atau membalikkan vasospasme
koroner (seperti yang terjadi pada angina varian Printzmetal), sehingga
meningkatkan suplai oksigen ke miokardium.
Efek samping: CCB dihidropiridin kemerahan, sakit kepala, hipotensi
berlebihan, edema, dan refleks takikardia. CCB non-dihidropiridin
bradikardia yang berlebihan, gangguan konduksi listrik (misalnya, blok nodus
atrioventrikular), dan penurunan kontraktilitas.
CCB non-dihidropiridin, tidak boleh diberikan kepada pasien yang diobati
dengan beta-blocker karena beta-blocker juga menekan aktivitas listrik dan
mekanik jantung.
74. Beta Bloker
• Efek antiangina dari beta-blocker kardiodepresan dan hipotensinya.
• MK: mengurangi denyut jantung (kronotropik negatif), kontraktilitas
(inotropik negatif), dan tekanan arteri mengurangi kerja jantung dan
kebutuhan oksigen jantung meningkatkan rasio suplai/permintaan oksigen,
yang dapat meringankan pasien dari nyeri angina yang disebabkan oleh
penurunan rasio suplai/permintaan oksigen karena penyakit arteri koroner.
• Efek samping: bradikardia, penurunan kapasitas latihan, gagal jantung,
hipotensi, dan blok konduksi nodus atrioventikular (AV) (KI: sinus
bradikardia sinus dan blok AV parsial). Bronkokonstriksi (β-bloker non
selektif) (KI: asma dan COPD) dan hipoglikemia (hati-hati pada pasien
diabetes).
77. Aritmia
• Aritmia adalah abnormalitas irama jantung.
• Abnormalitas pada proses pembentukan dan konduksi impuls akan
menimbulkan aritmia.
• Pada kondisi normal, kontraksi jantung timbul akibat aliran impuls yang
berasal dari nodus sinoatrial (SA). Penjalaran impuls melalui konduksi antar
sel dimulai dari nodus SA lalu menjalar ke seluruh serabut otot atrium.
Selanjutnya impuls mencapai nodus atrioventrikular (AV) yang terletak di
bagian belakang katup trikuspid tepatnya di dinding infero posterior septum
interatrial. Impuls lalu menyebar di sepanjang berkas AV lalu menyebar ke
ventrikel kanan dan kiri melalui serabut purkinje.
79. Perubahan kecepatan
• Denyut jantung istirahat normal adalah antara 60 dan 100 bpm.
• Denyut jantung lebih rendah dari 60 bpm disebut bradikardia dan
denyut jantung yang lebih besar dari 100 bpm disebut takikardia.
• Sub kategori dari perubahan kecepatan denyut jantung dibagi mejadi:
• Sinus takikardia atau bradikardia (laju ditentukan oleh SA node).
• Takikardia atau bradikardia atrium (kecepatan diatur oleh situs alat
pacu jantung atrium)
• Takikardia supraventricular dan takikardia ventrikel (ritme yang
berasal dari dalam ventrikel).
• Takikardia atrium dengan kecepatan 250-350 bpm (>200 bpm di
ventrikel) disebut flutter, dan dapat berasal dari atrium atau
ventrikel.
• Fibrilasi (di atrium atau ventrikel) bila frekuensinya sangat tinggi
dan tidak teratur sehingga lajunya tidak dapat ditentukan.
80. Denyut jantung prematur
• Detak jantung prematur terjadi ketika sinyal yang
mengkoordinasikan jantung untuk berdetak terjadi lebih awal,
sehingga dapat terasa seperti jantung yang berhenti berdetak.
81. Perubahan konduksi
• Keterlambatan konduksi impuls listrik di dalam jantung menghasilkan aktivasi listrik
abnormal jantung yang disebut abnormalitas konduksi.
• Blok jantung adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan
konduksi di nodus AV. Di EKG, kondisi ini tergambar sebagai PR interval yang
memanjang.
• PR interval ialah waktu yang dibutuhkan oleh impuls listrik untuk menjalar dari atrium
ke nodus AV dan His bundle serta cabang-cabangnya sampai ke ventrikel. Interval PR
normal berkisar antara 0,12-0,20 detik.
Berdasarkan hasil EKG blok AV dibagi 3 yaitu:
1. Blok AV tingkat 1: Pada blok AV tingkat I interval PR memanjang lebih dari 0.20
detik.
2. Blok AV tingkat II: Terjadi kegagalan impuls dari atrium untuk mencapai
ventrikel secara intermiten, sehingga denyut ventrikel berkurang.
3. Blok AV tingkat III: (complete heart block): Terjadi blok total di nodus AV sehingga
impuls dari atrium sama sekali tidak dapat sampai ke ventrikel, sehingga vetrikel
berdenyut sendiri karena stimulasi impuls yang berasal dari ventrikel sendiri.
82. Penyebab aritmia
Etiologi aritmia meliputi infark miokard akut (yang tersering), penyakit jantung struktural,
abnormalitas elektrolit, dan akibat obat.
1. Kelainan struktural misalnya: Fibrosis (penyakit jantung rematik), penyakit jantung
kongenital dan gagal jantung.
2. Abnormalitas elektrolit seperti: Kalium, natrium, kalsium dan magnesium.
3. Obat seperti : Antiaritmia, amfetamines, epinefrin, alcohol, caffeine.
4. Obat yang dapat memperpanjang interval QT :
1. Antipsikotik
2. Antidepresan golongan SSRI
3. Antidepresan trisiklik
4. Antihistamin
5. Makrolid
84. Kelas obat anti aritmia
• Class I - Sodium-channel blockers
• Class II - Beta-blockers
• Class III - Potassium-channel blockers
• Class IV - Calcium-channel blockers
Peringatan. Efek inotropik negatif obat-obat antiaritmia cenderung
saling memperkuat. Oleh karena itu perlu perhatian khusus bila obat
yang digunakan dua atau lebih, terutama bila fungsi miokard terganggu.
Sebagian besar atau semua obat yang efektif dalam mengatasi aritmia
dapat juga membuat aritmia semakin memburuk pada beberapa kondisi
tertentu; selain itu, hipokalemia meningkatkan efek aritmogenik
beberapa obat.
85. Class I-Sodium-channel blockers
● Obat antiaritmia golongan I merupakan
kelompok obat sodium-channel
blockers, yang bertugas untuk
memperlambat konduksi listrik di
jantung. Gangguan kelistrikan di
jantung menjadi salah satu penyebab
aritmia karena bisa memperlambat,
mempercepat, bahkan menambahkan
jumlah denyut jantung.
● Sodium-channel blockade:
IC > IA > IB
Increasing the ERP:
IA > IC > IB (decreases)
Mekanisme Kerja
87. Efek samping dan kontraindikasi
Efek samping: IA kebanyakan menyebabkan efek antikolinergik (takikardia,
mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur dan sembelit); Diare, mual,
sakit kepala dan pusing juga merupakan efek samping yang umum dari
banyak obat Kelas I.
Quinidine meningkatkan toksisitas digitalis, terutama jika ada hipokalemia.
Disopyramide dikontraindikasikan untuk pasien dengan gagal jantung yang
tidak terkompensasi karena efek inotropik negatifnya.
Senyawa IC dapat menyebabkan peningkatan risiko kematian mendadak
pada pasien dengan riwayat infark miokard atau aritmia ventrikel
berkelanjutan.
88. Class II- Beta bloker
MK: menghalangi stimulasi sistem saraf simpatik ke jantung, sehingga
mengurangi pengiriman impuls ke jantung.
Selain itu, obat ini juga dapat mengurangi tekanan darah yang menghalangi
efek hormon epinefrin (adrenalin), sehingga denyut jantung tidak terlalu
cepat melebihi angka normal.
90. Class III-Potassium-Channel Blockers
• MK: mengikat dan menghambat saluran kalium memperpanjang
repolarisasi membran sel.
• Repolarisasi yakni kondisi membran sel beristirahat atau tidak menerima
rangsangan. Dengan memblokir saluran kalium, kinerja sinoatrial dan
atrioventrikular tidak terganggu.
• ES dan KI: peningkatan durasi potensial aksi dapat menghasilkan torsades de
pointes (sejenis takikardia ventrikel), terutama pada pasien dengan sindrom
long-QT. Amiodaron, dapat menyebabkan bradikardia dan blok
atrioventrikular, dan oleh karena itu dikontraindikasikan pada pasien dengan
blok jantung, atau disfungsi nodus sinoatrial.
92. Class IV- Calcium-Channel Blockers (CCBs) Verapamil
• MK: menghambat saluran kalsium sehingga mengurangi pergerakan
ion kalsium dalam sel selama potensi aksi menurunkan kecepatan
konduksi dan memperpanjang repolarisasi, terutama pada nodus
atrioventrikular.
• Klasifikasi terakhir ini (klasifikasi Vaughan Williams) kurang
dimanfaatkan dalam praktek klinik.
93. PENGOBATAN NON-FARMAKOLOGI
● Menghindari merokok dan konsumsi alcohol
● Menjaga tekanan darah agar tetap stabil
● Mengatur pola hidup
● Hindari stimulan yang digunakan pada obat batuk dan pilek. Beberapa obat tersebut
berisi bahan2 yang memicu aritmia.
● Pace Maker: suatu alat yang berfungsi sebagai impuls listrik dan memberikan
rangsangan listrik ke jantung. Alat pacu jantung permanen dapat ditempatkan melalui
torakotomi atau transvenously. Pacemaker terutama mencegah jantung berdetak terlalu
lambat.
● ICD ( implantable cardioverter defibrillato): suatu alat canggih yang digunakan
terutama untuk terapi ventricular tachycardia dan ventricular fibrilasi, dua irama
jantung yang mengancam jiwa.
● Pembedahan Jantung, mungkin diperlukan untuk menyembuhkan penyakit jantung
yang dapatmenyebabkan aritmia.
95. Kolesterol (Lipid)
• Molekul lemak yang tidak larut sehingga tidak berada
dalam bentuk bebas dalam plasma melainkan berikatan
dengan lipoprotein.
• Lipoprotein : bentuk makromolekul kompleks pembawa
lipid yaitu kolesterol dan trigliserida di dalam darah.
• TG: Penyimpanan lemak dan berpengaruh dalam
pembentukan lipoprotein kaya kolesterol.
96. Lipoprotein terdiri dari:
1. Kilomikron : membawa TG (lemak) dari usus ke hati , ke otot rangka, dan
ke jaringan adiposa.
2. Very Low Density Lipoprotein (VLDL): membawa TG (baru disisntesis)
dari hati ke jaringan adiposa.
3. Intermediate Density Lipoprotein (IDL): lipoprotein menengah diantara
VLDL dan LDL, biasanya tidak terdeteksi di dalam darah.
4. Low Density Lipoprotein (LDL): membawa kolesterol dari hati ke sel-sel
tubuh.
5. High Density Lipoprotein (HDL): mengumpulkan kolesterol dari jaringan
tubuh dan membawanya kembali ke hati.
97. Fungsi kolesterol
• Sintesis membran sel, hormon steroid, hormon
dan sintesis vitamin D.
• Sintesis asam empedu untuk mengemulsi lemak.
99. Hiperlipidemia
“peningkatan salah satu atau lebih kolesterol, kolesterol ester, fosfolipid atau
trigliserida”.
• Hiperkolesterolemia: kolesterol total dan LDL meningkat.
• Hipertrigliserida: trigliserida meningkat.
• Hiperlipidemia campuran: kolesterol dan TG meningkat.
103. Obat-obat yang menurunkan kadar lipoprotein
serum
A. Niasin ( Asam nikotinat )
B. Fibrat-klofibrat dan gemfibrozil
C. Resin pengikat asam empedu : kolestiramin dan kolestipol
D. Probukol
E. Inhibitor HMG-CoA reduktase : lovastatin, pravastatin,
simvastatin dan fluvastatin
104. A.NIASIN(ASAMNIKOTINAT)
● Niasin adalah suatu penghambat kuat pada sistem lipase
intraseluler dari jaringan adiposa, yang diduga dapat
menurunkan produksi VLDL (Very Low Density Lipoprotein)
dengan menurunkan aliran asam lemak bebas ke hati.
106. NIASIN ( ASAM NIKOTINAT )
Penggunaan dalam terapi :
1. Merendahkan kadar plasma kolesterol dan
triasilgliserol.
2. Hiperlipoproteinemia tipe IIb dan IV.
3. Hiperkolesterolemia.
4. Hiperlipidemia paling poten untuk
meningkatkan kadar HDL plasma
108. B. FIBRAT – KLOFIBRAT DAN
GEMFIBROZIL
● Merupakan Derivat Asam fibrat.
● Mempunyai mekanisme kerja yang sama.
109. Mekanisme Kerja :
Empat mekanisme kunci obat golongan fibrat:
1. Meningkatkan lipolysis.
2. Meningkatkan asupan asam lemak hati dan
menurunkan produksi trigliserida hati.
3. Meningkatkan asupan LDL oleh reseptor LDL.
4. Menstimulasi transport kolesterol balik
sehingga meningkatkan HDL.
110. FILBRAT – KLOFIBRAT DAN GEMFIBROZIL
Penggunaan dalam terapi :
1. Pengobatan Hipergliseridemia
2. Pengobatan Hiperlipidemia Tipe III
3. Pengobatan Hipertrigliseridemia
112. C.RESINPENGIKATASAMEMPEDU(KOLESTIRAMIN
DANKOLESTIPOL)
● Obat yang bekerja pada saluran pencernaan
● Bekerja dengan cara mengikat asam empedu di usus dan
meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah
● Kolestipol dan Kolestiramin hanya bermanfaat pada
hiperlipoproteinemia yang melibatkan peningkatkan LDL saja.
113. Mekanisme Kerja
afinitas tinggi
terhadap asam
empedu.
Asam empedu akan
diikat oleh resin
membentuk
senyawa yang tidak
larut dan tak dapat
direabsorbsi
diekskresi melalui
feses
Asam empedu
menurun
Sintesis Asam
Empedu dari
kolesterol di LDL
kadar LDL plasma
menurun.
114. RESIN PENGIKAT ASAM EMPEDU
( KOLESTIRAMIN DAN KOLESTIPOL )
Penggunaan dalam terapi :
1. Anti hiperlipidemia tipe IIa dan IIb
2. Meringankan pruritus akibat akumulasi asam empedu
pada pasien dengan obstruksi bilier.
115. Efek Samping :
1. Efek gastrointestinal : gangguan pencernaan seperti konstipasi, mual dan
flatus
2. Gangguan absorbsi : terganggunya absorbsi vitamin larut lemak A,D,E,K
karena dosis resin yang tinggi, berkurangnya absorbsi asam folat dan
asam askorbat.
3. interaksi obat: Kolestiramin dan Kolestipol mengganggu absorbs
beberapa obat dalam usus, misalnya
tetrasiklin,fenobarbital,digoxin,warfarin, pravastatin,fluvastatin,aspirin dan
diuretik tiazid.
118. Mekanisme kerja:
1. Inhibisi HMG-CoA reduktase
Afinitas dengan enzim kuat sehingga efektif
dalam menghambat HMG-CoA reduktase
sehingga HMG-CoA tidak sampai menjadi
asam mevalonat dalam tahapan sintesis
kolesterol.
Penghambatan ini akan menyebabkan
pengurangan simpanan kolesterol
intraseluler.
120. 2. Peningkatan reseptor LDL
Terjadi kenaikan HDL dan penurunan triasilgliserol
Penghapusan kolesterol intraseluler
Sel meningkatkan RESEPTOR LDL
Penurunan kolesterol plasma dan
peningkatan katabolisme LDL
124. TerapiObatKombinasi
● Pemberian dua antihiperlipidemia untuk mendapatkan
penurunan kadar lipid plasma yang signifikan.
● Contoh:
○ Kombinasi niasin dengan pengikat asam empedu,
kolestiramin pada hiperlipidemia tipe II.
○ Kombinasi inhibitor HMG-CoA reduktase dengan pengikat
asam empedu menunjukkan manfaat dalam menurunkan
kolesterol LDL.
126. Kuis
Isilah titik dibawah ini dengan benar dan tepat!
1. Obat yang bekerja dengan memblok reseptor AT-II shgga tidak dapat berinteraksi
dengan reseptornya (tidak menimbulkan efek biologis) adalah golongan….
2. Batuk kering adalah efek samping dari obat…
3. Obat gagal jantung yang bekerja superior yaitu sebagai inotropik positif dan
kronotropik negatif adalah…
4. Beta bloker yang telah disetujui oleh FDA untuk indikasi gagal jantung adalah..
5. Obat anti angina yang bekerja sebagai vasodilator (dilatasi vena dan arteri) adalah
golongan..
6. Bronkokonstriksi adalah efek samping dari obat golongan…., sehingga
dikontraindikasika pada pasien asma dan COPD.
7. Abnormalitas irama jantung disebut..
8. Obat anti aritmia yang bekerja menghambat kanal natrium sehingga memperlambat
konduksi listrik di jantung adalah anti aritmia kelas…. golongan…..
9. Contoh obat antihiperlipidema yang bekerja sebagai resin pengikat asam empedu
adalah..
10. Rabdomiolisis adalah efek samping dari obat golongan…
127. 1. Antihistamin generasi baru yang tidak mempunyai efek muskarinik, tidak
menembus SDO, jarang menyebabkan kantuk (efek rendah) adalah
2. Contoh Long acting selektif β2 agonis (LABA) adalah…
3. Obat asma yang bekerja menghambat aktivitas enzim fosfodiesterase
sehingga kadar cAMP tetap terpelihara adalah golongan..
4. Obat batuk yang aman digunakan pada ibu hamil adalah..
5. Contoh antitusif yang bekerja sentral dan termasuk golongan narkotik
adalah..
6. Contoh obat antidiare yang termasuk golongan senyawa intralumen
adalah..
7. Terapi diare pada anak adalah diberikan..
8. Obat yang bisa menyebabkan terjadinya konstipasi adalah
9. Obat yang mempengaruhi asam lambung dengan menghambat pompa
proton di sel parietal lambung adalah golongan…..contohnya….
10. Pilihan terapi antimual pada ibu hamil yang aman adalah…
Hinweis der Redaktion
CO: total volume darah yang dipompa oleh ventrikel per menit.
Aktivitas jantung diukur dari CO. jika aktivitas jantung berlebihan maka akan meningkatkan TD.
Salah satu system yg berperan dlm regulasi tekanan darah adalah system RAAS. Sistem ini pada dasarnya mengatur keseimbangan garam dan air dan merupakan pengatur TD terpenting dlm tubuh kita.
Ginjal memproduksi renin sebagai respon penurunan tekanan darah yaitu < 90 mmHg sistolik di glomerular.
Ketika trjdi penurunan TD baroreseptor aktif stimulsi saraf simpatetik melalui stimulasi reseptor beta 1 di jantung dan reseptor alfa 1 di pembuluh darah aktivitas jantung meningkat dan vasokonstriksi TD meningkat. Penurunan TD mnyebabkan aliran darah ke ginjal menurun baroreseptor aktif stimulasi saraf simpatetik melalui reseptor beta 1 di juxtaglomerular ginjal seksresi renin produksi AT II dan aldosterone TD meningkat.
Resistensi perifer (tahanan di pembuluh darah)
Sistem saraf simpatik adalah sistem saraf otonom yang bekerja di luar kesadaran tubuh (tidak sadar) dan berpangkal pada sumsum tulang belakang. Selain itu, sistem saraf simpatik mengatur kerja otot polos pada bronkus.
Sistem saraf simpatis adrenergik memainkan peran utama dalam pengaturan tekanan arteri. Aktivasi saraf-saraf ini ke jantung meningkatkan denyut jantung (kronotropi positif), kontraktilitas (inotropi positif) dan kecepatan konduksi impuls listrik (dromotropi positif). Saraf adrenergik simpatis yang melepaskan norepinefrin yang mempersarafi jantung dan pembuluh darah adalah saraf eferen postganglionik yang badan selnya berasal dari ganglia simpatis prevertebral dan paraveterbral.
otot polos vaskular memiliki dua jenis alpha-adrenoceptors: alpha1 (α1) dan alpha2 (α2). Adrenoseptor 1 adalah reseptor dominan yang terletak di otot polos pembuluh darah. Reseptor ini terkait dengan protein Gq yang mengaktifkan kontraksi otot polos melalui jalur transduksi sinyal IP3. Tergantung pada jaringan dan jenis pembuluh darah, ada juga 2-adrenoseptor yang ditemukan pada otot polos. Reseptor ini terkait dengan protein Gi, dan pengikatan agonis alfa ke reseptor ini menurunkan cAMP intraseluler, yang menyebabkan kontraksi otot polos. Ada juga 2-adrenoseptor yang terletak di terminal saraf simpatis yang menghambat pelepasan norepinefrin dan karena itu bertindak sebagai mekanisme umpan balik untuk memodulasi pelepasan norepinefrin.
Simpatolitik yang bekerja secara sentral memblokir aktivitas simpatis dengan mengikat dan mengaktifkan alfa2 (α2)-adrenoseptor. Hal ini mengurangi aliran simpatis ke jantung sehingga menurunkan curah jantung dengan menurunkan denyut jantung dan kontraktilitas. Penurunan output simpatis ke pembuluh darah menurunkan tonus pembuluh darah simpatis, yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan resistensi pembuluh darah sistemik, yang menurunkan tekanan arteri.
Mereka biasanya diberikan dalam kombinasi dengan diuretik untuk mencegah akumulasi cairan, yang meningkatkan volume darah dan mengurangi efek obat penurun tekanan darah. Akumulasi cairan juga dapat menyebabkan edema. Agonis 2-adrenoseptor yang bekerja sentral efektif pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal karena tidak mengganggu fungsi ginjal.
vasodilatasi berlebihan dapat menyebabkan tekanan darah rendah, sakit kepala, pusing, dan wajah memerah. Demikian pula, dihidropiridin kerja pendek dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, yang dapat menyebabkan aktivasi sistem saraf simpatis, yang menyebabkan refleks takikardia (peningkatan denyut jantung). Pada gilirannya, ini dapat menyebabkan palpitasi (sensasi tidak nyaman dari jantung berdebar di dalam dada). Efek samping umum lainnya adalah pembengkakan pergelangan kaki, yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kebocoran cairan dari pembuluh darah. Akhirnya, hiperplasia gingiva (pembesaran gusi) adalah efek samping langka yang dapat dilihat dengan dihidropiridin tertentu, seperti nifedipin.
Stimulasi reseptor b1 di juxtaglomerular ginjal pelepasan renin TD naik.
Stimulasi reseptor b2 relaksasi otot polos bronkus dan meningkatkan glikogenolisis (glikogen hati dan otot jadi glukosa) hiperglikemia; uterus relaksasi; peningkatan kadar glukosa.
Stimulasi b3 mnginduksi lipolysis (berdmpak pada pengontrolan BB).
Beta-blocker mengikat beta-adrenoseptor yang terletak di jaringan nodal jantung, sistem konduksi, dan miosit yang berkontraksi. Jantung memiliki adrenoseptor 1 dan 2, meskipun jenis reseptor yang dominan dalam jumlah dan fungsinya adalah 1. Reseptor ini terutama mengikat norepinefrin yang dilepaskan dari saraf adrenergik simpatis. Selain itu, mereka mengikat norepinefrin dan epinefrin yang beredar dalam darah. Beta-blocker mencegah ligan normal (norepinefrin atau epinefrin) dari mengikat beta-adrenoseptor dengan bersaing untuk situs pengikatan.
Beta-blocker mengikat beta-adrenoseptor yang terletak di jaringan nodal jantung, sistem konduksi, dan miosit yang berkontraksi. Jantung memiliki adrenoseptor 1 dan 2, meskipun jenis reseptor yang dominan dalam jumlah dan fungsinya adalah 1. Reseptor ini terutama mengikat norepinefrin yang dilepaskan dari saraf adrenergik simpatis. Selain itu, mereka mengikat norepinefrin dan epinefrin yang beredar dalam darah. Beta-blocker mencegah ligan normal (norepinefrin atau epinefrin) dari mengikat beta-adrenoseptor dengan bersaing untuk situs pengikatan.
Beta-adrenoseptor digabungkan ke protein Gs, yang mengaktifkan adenilat siklase untuk membentuk cAMP dari ATP. Peningkatan cAMP mengaktifkan cAMP-dependent protein kinase (PK-A) yang memfosforilasi saluran kalsium tipe-L, yang menyebabkan peningkatan masuknya kalsium ke dalam sel. Peningkatan pemasukan kalsium selama potensial aksi menyebabkan peningkatan pelepasan kalsium oleh retikulum sarkoplasma di jantung; tindakan ini meningkatkan inotropi (kontraktilitas). Aktivasi protein Gs juga meningkatkan denyut jantung (kronotropi). PK-A juga memfosforilasi situs pada retikulum sarkoplasma, yang mengarah pada peningkatan pelepasan kalsium melalui reseptor ryanodine (saluran pelepasan kalsium yang sensitif terhadap ryanodine) yang terkait dengan retikulum sarkoplasma. Ini memberikan lebih banyak kalsium untuk mengikat troponin-C, yang meningkatkan inotropi. Akhirnya, PK-A dapat memfosforilasi rantai ringan miosin, yang dapat berkontribusi pada efek inotropik positif dari stimulasi beta-adrenoseptor.
Dalam beberapa situasi, tujuan beta bloker mencegah stimulasi simpatetik, beta bloker non selektif lebih dipilih.
Hipertensi pada beberapa pasien disebabkan oleh stres emosional, yang menyebabkan peningkatan aktivitas simpatis. Beta-blocker bisa sangat efektif pada pasien ini.
Diuretik: menghambat reabsorpsi natrium pada segmen yang berbeda dari sistem tubulus ginjal. Kadang-kadang kombinasi dua diuretik diberikan karena ini dapat secara signifikan lebih efektif daripada salah satu senyawa saja (efek sinergis).
Aritmia: mengakibatkan irama jantung yg tidak regular missal: pada atrial fibrilasi, akan mengakibatkan penumpukan darah pada jantung volume darah di jantung meningkat preload meningkat. Dikatakan preload meningkat kalua volume di ventrikel itu meningkat.
Emboli paru: trjdi sumbatan pada pemb. Darah yg menuju ke paru yg brsal dari jantung shgga trjdi penumpukan darah dijantung karena macet.
HT: menyebkan volume di jantung itu tggi.
Hipertiroid: menyebabkan kontraksi jantung meningkat. Kontraksi yg cepat ini malah akan menyebabkan jantung butuh banyak energi nah Ketika energi yg menuju ke jntung itu tdk terpenuhi (dlm hal ini energi brsala dri o2 dan nutrisi yg dialirkan arteri koronaria) iskemik (ketidakseimbangan kebutuhan dan suplai), hipertiroid kan kontraksi cepat shgga butuh byk energi, nah kalo suplainyatdk terpenuhi akan mengakibatkan nekrosis denyut jantung melemah/melambat.
Katub jantung (mis pda stenosis) krn jntung hrus bekerja lebih keras.
UAP: krn adanya iskemik, biasanya krn adanya plak pda arteri koronaria shgga nutrisi menuju ke jantung trhmbt.
Gagal gnjal trjdi retensi cairan dan elektrolit HT gagal jantung.
Preload volume yg masuk ke ventrikel
Iskemik: keridakseimbangan antara demand dan suplai
Tugas utama jantung adalah memastikan agar Cardiac Output (CO) dalam jumlah yang cukup. Cardiac Output diartikan sebagai volume darah yang diejeksikan dari ventrikel kiri per menitnya. Pada orang normal, Cardiac Output dan total kebutuhan metabolik tubuh dalam rasio seimbang.
Cardiac Output sebanding dengan jumlah Stroke Volume (SV, volume darah yang diejeksikan per kontraksi) dikalikan Heart Rate (HR, frekuensi nadi).
CO = SV x HR
Sedangkan Stroke Volume ditentukan oleh 3 hal utama: kontraktilitas otot jantung, preload, afterload. Kontraktilitas (inotropik) adalah kemampuan otot jantung untuk meningkatkan kekuatan kontraksi terlepas dari preload dan afterload. Preload merupakan keadaan tekanan ventrikel pada akhir diastol atau keadaan ventrikel sebelum berkontraksi dan biasa dipresentasikan dengan end diastolic volume atau pressure. Afterload yaitu tekanan ventrikel selama kontraksi atau systolic ventricular pressure.
Maka, kerja jantung secara berkesinambungan mempertahankan Cardiac Output dalam jumlah cukup. Namun ketika terjadi perubahan abnormal dari kompenen diatas akan berakibat pada perubahan Cardiac Output. Perubahan abnormal bisa terjadi pada preload, afterload, kontraktilitas maupun frekuensi nadi.
kompensasi-kompensasi ini pada awalnya dapat dilakukan dengan baik oleh tubuh. Indikatornya adalalah dimana orang dengan kompensasi ini tidak merasakan adanya gejala dari kelainan jantung yang ia derita. Ia masih dapat beraktivitas ringan hingga berat tanpa mengeluhkan keletihan ataupun sesak nafas.
Namun dalam periode berikutnya jantung akan mencapai keadaan dimana jantung menyerah dengan kerja paksa kompensasi yang diregulasi oleh tubuh. Jantung mulai kehilangan momen untuk tetap mempertahankan Cardiac Output yang seimbang dengan kebutuhan metabolit tubuh. Kondisi dimana terjadi peningkatan kebutuhan metabolit yang berlebihan melebih kapasitas jantung yang sudah mulai rusak sehingga muncul gejala-gejala sesak nafas, keterbatasan aktivitas, detak jantung yang cepat. Pada kondisi inilah seseorang tersebut mulai menderita penyakit jantung.
Stimulasi reseptor beta-1 menginduksi aktivitas kerja jantung,:
Kronotropik positif (frekuensi denyut jantung meningkat)
Ionotropik positif (kontraksi miokardium meningkat)
Dromotropik postif (meningkatkan kecepatan konduksi jantung pada nodus atrioventrikuler)
Semakin tggi TD, smkin tggi usaha ventrikel utk memompa darah keluar dri jantung, jd klo kita menurunkan TD maka beban kerja miokard dpt diturunkan.
Kronotropik : mempengaruhi frekuensi dari miokard berikan kronotropik negative dgn mengurangi frekuensi dari miokard.
HF bisa trjdi takikardia Ketika trjdi pngkatan frekuensi tsb maka kebutuhan o2 mngkat maka kita kurangi frekuensi tsbt dgn mengurangi kbtuhan o2 krn bsa fatal nanti bisa trjdi iskemik heart disease.
Inotropik postif: mngktakan kontraktilitas shgga fgsi pompa jtg akan lebih baik.
Stimulasi reseptor beta-1 menginduksi aktivitas kerja jantung,:
Kronotropik positif (frekuensi denyut jantung meningkat)
Ionotropik positif (kontraksi miokardium meningkat)
Dromotropik postif (meningkatkan kecepatan konduksi jantung pada nodus atrioventrikuler)
Lansia penurunan fungsi ginjal dan massa otot yang berkurang meningkatkan kadar digoxin plasma pada dosis tertentu karena otot Na+/K+-ATPase bertindak sebagai reservoir pengikat besar untuk digitalis.
Obat ini menghambat Na+/K+-ATPase sarkolema jantung, yang menyebabkan peningkatan kalsium intraseluler melalui penukar Na+-Ca++. Peningkatan kalsium intraseluler merangsang peningkatan pelepasan kalsium oleh retikulum sarkoplasma dan dengan demikian membuat lebih banyak kalsium tersedia untuk mengikat troponin-C, yang meningkatkan kontraktilitas.
Inhibitor PDE3 juga menurunkan agregasi platelet dengan meningkatkan cAMP platelet. Namun, hanya cilostazol (lihat di bawah) yang digunakan untuk tujuan ini dalam pengobatan klaudikasio intermiten (nyeri kaki iskemik yang terkait dengan gerakan kaki).
Konsentrasi cAMP intraseluler memainkan peran penting dalam mengatur kontraksi otot jantung. Aktivasi sistem saraf simpatis melepaskan neurotransmitter norepinefrin dan meningkatkan katekolamin yang bersirkulasi (epinefrin dan norepinefrin). Katekolamin ini berikatan terutama dengan beta1-adrenoseptor di jantung yang digabungkan dengan protein Gs mengaktifkan adenilat siklase untuk membentuk cAMP dari ATP. Peningkatan cAMP, melalui penggabungannya dengan pembawa pesan intraseluler lainnya, meningkatkan kontraktilitas (inotropi), denyut jantung (kronotropi) dan kecepatan konduksi (dromotropi). Cyclic-AMP dipecah oleh enzim yang disebut cAMP-dependent phosphodiesterase (PDE).
Kronotropik : mempengaruhi frekuensi dari miokard berikan kronotropik negative dgn mengurangi frekuensi dari miokard.
HF bisa trjdi takikardia Ketika trjdi pngkatan frekuensi tsb maka kebutuhan o2 mngkat maka kita kurangi frekuensi tsbt dgn mengurangi kbtuhan o2 krn bsa fatal nanti bisa trjdi iskemik heart disease.
Ketika aliran darah koroner tidak dapat memberikan oksigen yang cukup untuk mendukung metabolisme oksidatif jantung (berkurangnya rasio suplai/permintaan oksigen), miokardium menjadi hipoksia. Ini memicu reseptor nyeri di dalam jantung, yang mengarah pada presentasi klasik nyeri dada dan sensasi berat atau tekanan substernal.
Seperti dijelaskan di bawah dan pada gambar di atas, aliran darah koroner dapat dikurangi dengan 1) penyempitan sementara arteri koroner (yaitu, vasospasme), 2) penyempitan kronis arteri koroner (yaitu, stenosis tetap) yang disebabkan oleh aterosklerosis, atau 3 ) pembentukan bekuan darah di dalam lumen pembuluh (yaitu, trombosis koroner). Angina juga dapat dipicu oleh peningkatan konsumsi oksigen, terutama jika aliran darah koroner sudah terganggu. Peningkatan denyut jantung, kontraktilitas (inotropi), afterload (misalnya, peningkatan tekanan arteri, stenosis katup aorta, dilatasi ventrikel), dan preload, yang terakhir merangsang mekanisme Frank-Starling untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung. Penurunan aliran koroner atau peningkatan kebutuhan oksigen, atau kombinasi keduanya, akan menurunkan rasio suplai/permintaan oksigen dan menyebabkan hipoksia miokard dan stimulasi reseptor nyeri di dalam miokardium.
Nitric oxide (NO), sebuah molekul yang diproduksi oleh banyak sel dalam tubuh, dan memiliki beberapa aksi penting (klik di sini untuk detailnya). Dalam sistem kardiovaskular, NO terutama diproduksi oleh sel-sel endotel vaskular. NO yang berasal dari endotel ini memiliki beberapa fungsi penting termasuk relaksasi otot polos pembuluh darah (vasodilatasi), menghambat agregasi trombosit (antitrombotik), dan menghambat interaksi leukosit-endotel (antiinflamasi). Tindakan ini melibatkan pembentukan cGMP yang distimulasi NO. Nitrodilator adalah obat yang meniru aksi NO endogen dengan melepaskan NO atau membentuk NO di dalam jaringan. Obat ini bekerja langsung pada otot polos pembuluh darah untuk menyebabkan relaksasi dan karena itu berfungsi sebagai vasodilator yang tidak bergantung pada endotel.
Nitro sublingual Efeknya biasanya hilang dalam waktu 30 menit. Oleh karena itu, nitrogliserin sangat berguna untuk mencegah atau menghentikan serangan angina akut. Sediaan nitrogliserin yang bekerja lebih lama (misalnya, patch transdermal) memiliki onset kerja yang lebih lama (30 hingga 60 menit), tetapi efektif selama 12 hingga 24 jam.
Dihydropyridines long-acting (misalnya, nifedipine rilis diperpanjang, amlodipine) telah terbukti menjadi obat anti-hipertensi yang lebih aman, sebagian, karena respon refleks berkurang. Karakteristik ini juga membuat mereka lebih cocok untuk angina daripada dihidropiridin kerja pendek. CCB non-dihidropiridin selektif jantung dapat menyebabkan bradikardia yang berlebihan, gangguan konduksi listrik (misalnya, blok nodus atrioventrikular), dan penurunan kontraktilitas. Oleh karena itu, pasien yang telah mengalami bradikardia, defek konduksi, atau gagal jantung yang disebabkan oleh disfungsi sistolik tidak boleh diberikan CCB, terutama selektif jantung, non-dihidropiridin. CCB, terutama non-dihidropiridin, tidak boleh diberikan kepada pasien yang diobati dengan beta-blocker karena beta-blocker juga menekan aktivitas listrik dan mekanik jantung dan oleh karena itu penambahan CCB menambah efek beta-blokade.
Bronkokonstriksi dapat terjadi, terutama ketika beta-blocker non-selektif diberikan pada pasien asma. Oleh karena itu, beta-blocker non-selektif dikontraindikasikan pada pasien dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik. Bronkokonstriksi terjadi karena saraf simpatis yang menginervasi bronkiolus biasanya mengaktifkan 2-adrenoseptor yang mendorong bronkodilatasi. Beta-blocker juga dapat menutupi takikardia yang berfungsi sebagai tanda peringatan untuk hipoglikemia yang diinduksi insulin pada pasien diabetes; oleh karena itu, beta-blocker harus digunakan dengan hati-hati pada penderita diabetes.
Kadar elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium, dan magnesium dapat mengganggu impuls listrik jantung, sehingga mengakibatkan aritmia.
Kafein dan nikotin menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dari normal, sehingga mengakibatkan aritmia.
Konsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan dapat mempengaruhi impuls listrik jantung, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aritmia.
Saraf simpatis meningkatkan otomatisitas nodus sinoatrial dengan meningkatkan arus alat pacu jantung, yang meningkatkan frekuensi sinus. Aktivasi simpatis juga meningkatkan kecepatan konduksi (terutama pada nodus atrioventrikular), dan merangsang aktivitas alat pacu jantung yang menyimpang (fokus ektopik). Pengaruh simpatik ini dimediasi terutama melalui 1-adrenoseptor.
Sinoatrial yang dikenal juga dengan node sinus adalah sekumpulan sel di bagian atas kanan jantung. Sel ini berfungsi mengirim sinyal listrik sehingga otot jantung dapat berkontraksi secara teratur. Sementara atrioventrikular adalah simpul yang terletak di antara atrium dan ventrikel yang mengatur aktivitas kelistrikan di jantung.
Reentry terjadi ketika potensial aksi muncul kembali ke dalam jaringan normal ketika jaringan tersebut tidak lagi refrakter. Ketika ini terjadi, potensial aksi baru dihasilkan sebelum waktunya (sebelum aktivasi normal) dan pola aktivasi awal yang berulang dan melingkar dapat berkembang, yang mengarah ke takikardia. Jika ERP jaringan normal diperpanjang, maka potensial aksi yang muncul kembali dapat membuat jaringan normal menjadi refrakter dan aktivasi prematur tidak akan terjadi.
Cetirizin
Salmeterol dan formoterol
Metil xanthin
Bromheksin
Kodein
Attapulgit, kaolin pectin
Oralit dan zink
Kodein dan Fe
PPI omeprazole
Piridoksin