Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×

Jurnal Konsep Manusia sebagai Makhluk Bertuhan [PAI]

Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 12 Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Diashows für Sie (20)

Anzeige

Weitere von Lydia Nurkumalawati (20)

Aktuellste (20)

Anzeige

Jurnal Konsep Manusia sebagai Makhluk Bertuhan [PAI]

  1. 1. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Available online at TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society Website: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/tarbiya TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, x (x), xxxx, x-x KONSEP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERTUHAN Suci Nurpratiwia, Achmad Jaelania, Amario Faustaa, Hani Harjayantia, Lydia Nurkumalawatia aUniversitas Negeri Jakarta E-mail : *91.lydianur@gmail.com , *sucinurpratiwi@unj.ac.id. No. Tlp/WA: 089539393549 Abstract God created humans with special completeness and not given to other creatures, in the form of reason. With the mind, humans have the highest degree on His side. Humans from birth by nature already have a sense of wanting to believe in God through the spirit bestowed by Allah. Spirit as the potential to form a commendable character from his spiritual. The spiritual concept lies in the heart, spirit, and spiritual power of humans so that they wish to draw closer to Him, by way of thinking, feeling, worshiping, praying, and working. Spiritual is the basis of one's faith. A person's faith is formed because of the role of God and humans. The role of God is the gift of reason and spirit, while humans in the form of learning, habituation, and experience from oneself and others. The research method used is descriptive method, this research with library or library research. The research paradigm is in the form of qualitative research. By analyzing the contents of the meaning of speech in context, text, and situations. In Reflective Logic and Comparative Analysis in a systematic, precise, valid, sharp, and profound way. So that it can produce human concepts that have the ability to explain and present the results of the study conceptually and empirically related to the essence and urgency of faith, and spirituality, as well as the character of the morality of mercy.Keywords: Spiritual, God, human, reason. Abstrak Tuhan menciptakan manusia dengan kelengkapan yang istimewa dan tidak diberikan kepada makhluk lain, berupa akal pikiran. Dengan akal pikiran, manusia memiliki derajat tertinggi di sisi-Nya. Manusia sejak lahir secara fitrah sudah memiliki rasa ingin bertuhan melalui ruh yang dianugerahkan oleh Allah swt. Ruh sebagai potensi untuk membentuk karakter yang terpuji dari spiritualnya. Konsep spiritual terletak di dalam qalbu, ruh, dan kekuatan rohani manusia sehingga berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara berpikir, merasakan, beribadah, berdoa, dan berkarya. Spiritual menjadi dasar keimanan seseorang. Iman seseorang terbentuk karena peran Tuhan dan manusia. Peran tuhan yaitu karunia berupa akal dan ruh, sedangkan manusia berupa proses pembelajaran, pembiasaan, dan pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, penelitian ini dengan kepustakaan atau Library Reseach. Paradigma penelitian berupa penelitian kualitatif. Dengan menganalisis isi makna tuturan dalam konteks, teks, dan situasi. Secara Logika Reflektif dan Analisis Komparasi secara sistematis, tepat, valid, tajam, dan mendalam. Sehingga dapat menghasilkan konsep manusia yang memiliki kemampuan menjelaskan dan menyajikan hasil penelaahan secara konseptual dan secara empiris terkait esensi dan urgensi keimanan, dan spiritual, serta karakter akhlakul karimah. Kata Kunci : Spiritual, Tuhan, manusia, akal. How to Cite : Nurpratiwi, Sa , Jaelani, Aa , Fausta, A a , Harjayanti H a , Nurkumalawati, La . 2020 a Universitas Negeri Jakarta Permalink/DOI: xxx
  2. 2. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Pendahuluan. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah dianugerahi dengan sempurna yaitu sejumlah kelengkapan fisik dan psikis yang memiliki kecenderungan untuk dibentuk ke arah yang baik atau buruk. Kelengkapan tersebut adalah akal, kemampuan, dan pikiran dalam menen- tukan kebebasan serta melaksanakan suatu perbuatan yang bermanfaat atau merugikan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dengan akal pikiran, manusia memiliki derajat tertinggi di sisi-Nya. Manusia sejak lahir secara fitrah sudah memiliki rasa ingin bertuhan melalui ruh yang dianugerahkan oleh Allah swt. Ruh sebagai potensi untuk membentuk karakter yang terpuji. Manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak harus dilakukan, dan kita bisa memilih perbuatan mana yang baik atau positif dan yang buruk atau negatif. Manusia memiliki kedudukan sesuai dengan kodrat, harkat, martabat, hak, dan kewajiban. Kodrat manusia adalah sifat sah keseluruhan, kemampuan atau bakat alami yang melekat pada manusia, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial dan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Secara kodratnya, kedudukan manusia secara pribadi mencerminkan sesuai dengan sifat-sifat asli, kemampuan, dan bakat-bakat alami yang melekat padanya. Harkat manusia artinya derajat manusia. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang taqwa, menjadi manusia beriman, islam, dan ihsan. Martabat manusia artinya harga diri manusia. Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang terhormat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal budi sehingga manusia mendapat tempat yang lebih tinggi dibanding makhluk yang lain. Ditinjau dari martabat, kedudukan manusia itu lebih tinggi dan lebih terhormat dibandingkan dengan makhluk lain. Manusia untuk berpikir yang baik, Manusia dengan hewan sama-sama memiliki otak, tetapi otak yang dimiliki oleh manusia diberikan akal yang dapat digunakan untuk berpikir secara baik serta dapat berbahasa yang dapat saling dimengerti. Allah menciptakan manusia di dunia ini dengan berbagai ragam dan kekurangan dan kelebihannya. Sekurang-kurang kemampuan seseorang, dibaliknya itu terdapat kelebihan yang tersembunyi yang mungkin tidak semua orang dapat mengetahuinya. Allah berfirman di dalam Q.S. Ar- Rahman : ِ‫ن‬ٰ‫ب‬ِ‫ذ‬َ‫ك‬ُ‫ت‬ ‫ا‬َ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ب‬َ‫ر‬ ِ‫ء‬ۤ َ‫َل‬ٰ‫ا‬ ِ‫ي‬َ‫ا‬ِ‫ب‬َ‫ف‬ “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Di dalam Q.S. Ar-Rahman, firman-Nya diulang sebanyak 33 kali, memberi makna manusia memiliki sifat untuk ingkar dan sering mendustakan kebesaran-Nya dalam sikap dan perbuatan. Menyembunyikan Kebenaran itu sangat manusiawi, sehingga mereka jadikan kewajaran. Dari kutipan qur’an tersebut, sudah selayaknya kita sebagai manusia yang memiliki keistimewaan dan tanggung jawab (Sebagai makhluk bertuhan) harus pandai- pandai mensyukuri atas segala nikmat dan karunia Allah SWT. Dan berusaha menghilangkan sifat ingkar dalam bentuk kesyukuran. Dalam Q.S. Ibrahim ayat 7. َ‫ذ‬َ‫ع‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ر‬َ‫ف‬َ‫ك‬ ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫ل‬ َ‫و‬ ۖ ْ‫م‬ُ‫ك‬َّ‫ن‬َ‫د‬‫ي‬ ِ‫ز‬َ َ‫َل‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ر‬َ‫ك‬َ‫ش‬ ‫ن‬ِ‫ئ‬َ‫ل‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ُّ‫ب‬َ‫ر‬ َ‫ن‬َّ‫ذ‬َ‫أ‬َ‫ت‬ ْ‫ذ‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ِ‫ب‬‫ا‬ ٌ‫د‬‫ي‬ِ‫د‬َ‫ش‬َ‫ل‬ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Salah satu usaha untuk membimbing manusia yang pandai bersyukur melalui penanaman agama yang baik dengan pengajaran dan penanaman aqidah, akhlaq, dan budi pekerti di lingkungan keluarga, masyarakat, dan madrasah untuk membentengi dirinya dari pengaruh- pengaruh yang tidak baik dari luar. Salah satu cara dalam membimbing manusia tersebut ialah dengan ditempuh melalui proses pendidikan dan pengajaran khususnya
  3. 3. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman pada nilai-nilai spiritual, keimanan, dan pembentukan pribadi yang berkarakter akhlakul karimah. Pembahasan. Q.S. Ar-Rum : 30. َ‫ر‬َ‫ط‬َ‫ف‬ ِ‫ت‬َّ‫ل‬‫ٱ‬ ِ َّ‫ٱَّلل‬ َ‫ت‬َ‫ر‬ْ‫ط‬ِ‫ف‬ ۚ ‫ا‬ً‫ف‬‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ح‬ ِ‫ين‬ِ‫لد‬ِ‫ل‬ َ‫ك‬َ‫ه‬ْ‫ج‬ َ‫و‬ ْ‫م‬ِ‫ق‬َ‫أ‬َ‫ف‬ََ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ٱل‬ ْ‫ك‬َ‫أ‬ َّ‫ن‬ِ‫ك‬َٰ‫ل‬ َ‫و‬ ُ‫م‬ِ‫ي‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ ُ‫ين‬ِ‫ٱلد‬ َ‫ك‬ِ‫ل‬َٰ‫ذ‬ ۚ ِ َّ‫ٱَّلل‬ ِ‫ق‬ْ‫ل‬َ‫خ‬ِ‫ل‬ َ‫ل‬‫ي‬ِ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ت‬ َ‫َل‬ ۚ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬َِ ‫ا‬َّ‫ن‬‫ٱل‬ َ‫ر‬َ‫َث‬ َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫.َل‬ “Hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tataplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu.” Semua manusia terlahir dalam keadaan fitrah (tauhid), sehingga kedua orangtua yang menjadikan Islam, Nasrani, dan Yahudi. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara fitrah sejak lahir sudah memiliki sifat ingin bertuhan dan menghamba kepada-Nya sebagai bentuk keyakinan dan keimanannya terhadap Allah swt. Al-Qur’an dengan terang dan indah menjelaskan bahwa semua makhluk di dunia ini merasa ingin bertuhan dengan penghambaan tidak terbatas melalui ibadah. Q.S. Al-Insyirah ayat 44, Allah swt berfirman : ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ۚ َّ‫ن‬ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ُ‫ض‬ ْ‫ر‬َ ْ‫ٱَل‬ َ‫و‬ ُ‫ع‬ْ‫ب‬َّ‫س‬‫ٱل‬ ُ‫ت‬ َٰ‫و‬ َٰ‫م‬َّ‫س‬‫ٱل‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ ُ‫ح‬ِ‫ب‬َ‫س‬ُ‫ت‬ ٍ‫ء‬ْ َ‫ش‬ َ‫ق‬ْ‫ف‬َ‫ت‬ َّ‫َل‬ ‫ن‬ِ‫ك‬َٰ‫ل‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫د‬ْ‫م‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ُ‫ح‬ِ‫ب‬َ‫س‬ُ‫ي‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬َ‫ان‬َ‫ك‬ ‫ۥ‬ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ۗ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ح‬‫ي‬ِ‫ب‬ْ‫س‬َ‫ت‬ َ‫ون‬ُ‫ه‬‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ح‬ ‫ا‬ً‫ور‬ُ‫ف‬َ‫غ‬ “Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya dan tidak ada suatupun di antara semua makhluk melainkan bertasbih dan memuji kepada-Nya tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka (karena) hal ini dilakukan bukan dengan bahasa kalian, sesungguhnya Dia maha penyantun lagi maha pengampun”. Manusia sebagai khalifah di muka bumi selain dibekali pikiran yang kuat juga dibekali dengan hati untuk merasakan hal yang ada disekitarnya. Manusia dapat berbuat baik melalui hatinya, dan berfikir dengan menggunakan pikirannya masing masing. Untuk menjadi manusia sebagai makhluk bertuhan memerlukan spiritualitas. Menurut Carl Gustav Jung, manusia modern mengalami keterasingan diri dari diri sendiri dan lingkungan sosial bahkan jauh dari Tuhan. Dan kegagalan memaknai hidup mengakibatkan jauh dari rasa aman, damai, dan tenteram. Agar manusia memiliki kekuatan spiritual perlu dilakukan pelatihan jiwa secara sistematis, dramatis, dan berkesinambungan dengan memadukan antara pola pikir (tafakkur wa ta’amul), olah rasa (tadzawwuq), olah jiwa (riyadhah), dan olahraga (rihlah wa jihad). Menurut Syahrin Harahao, jika manusia memiliki kesadaran dan kecerdasan spiritual, maka rohaninya akan kuat karena bimbingan maksimal dari hati nurani tersebut yang menjadikannya lebih dinamis, kreatis, etos kerja tinggi, dan lain-lain. Manusia memiliki Hawa nafsu yang memungkinkan manusia berbuat hal yang tidak baik dan atau bersifat egois. Hawa nafsu tentunya harus ada dalam diri manusia untuk menjalankan kekhalifahan di bumi. Jika manusia melampaui hawa nafsu yang telah ditentukan maka manusia akan melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka, perlu kecerdasan dalam kehidupan manusia yang dikenal sebagai tiga jenis kecerdasan. Manusia sebagai mahluk bertuhan memiliki tiga jenis kecerdasan yang telah kita pelajari dari awal jenjang Pendidikan, yaitu IQ (Intelegent Qoutient), EQ (Emosional Qoutient), SQ (Spiritual Qoutient). IQ digunakan untuk mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. EQ merupakan jenis kecerdasan buatan yang digunakan untuk mengatur emosi dalam seseorang, sedangkan SQ adalah jenis kecerdasan yang memungkinkan seseorang dapat mengendalikan kegiatan spiritualnya. Konsep spiritual manusia sebagai makhluk bertuhan jadi kesadaran manusia
  4. 4. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman terletak pada hati, jika ingin mendekatkan diri kepada Allah swt harus memiliki hati yang suci sehingga jiwa mendapat sinar pancaran rahmat dari-Nya, sehingga jika dikaitkan dengan jenis kecerdasan erat hubugannya dengan SQ, EQ, dan IQ karena butuh pemikiran terbuka, pengendalian emosi yang baik, dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Secara etimologis, spiritual diartikan pembentukan jiwa atau penjiwaan. Menurut doe (dalam muntohar, 2010:36) mengartikan bahwa spiritual adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai nilai moral dan rasa saling memiliki. Spiritual membuat kita merasakan ada kekuatan nonfisik besar yaitu Tuhan dan spiritual membuat kita merasa dapat berhubungan langsung dengan tuhan. Dalam sudut pandang islam “spirit” dapat digambarkan sebagai jiwa halus yang telah ditiup kepada manusia. Jiwa halus ini sering disebut dengan roh. Roh pada diri manusia memang ditiupkan oleh Tuhan untuk membuat manusia melakukan tindakan terpuji karena roh dapat menunjukan arah kebenaran sejati. Roh juga membuat manusia mampu berhubungan dengan tuhan. Dengan ditiupkannya roh, manusia mampu meyakini adanya tuhan dari setiap fenomena Alam yang terjadi disekitar kita. enarnya manusia memiliki fitrah sebagai manusia yang bertuhan. Roh manusia menurut Islam adalah suci, karena ia adalah karunia Ilahi yang dipancarkan dari Zat Tuhan. Roh bersemayam di dalam hati (qalb) sehingga dari hati terpancar kecerdasan, keinginan, kemampuan, dan perasaan. Ketika hati ditempati roh, maka hati menjadi bersinar dan memancarkan cahaya kebaikan Tuhan. Hati yang terpancari oleh kebaikan Tuhan disebut dengan hati nurani (hati yang tercahayai). Pengaruh roh dalam hati manusia tidak selamanya maksimal. Pada saat-saat tertentu cahaya roh meredup sehingga hati sulit untuk menangkap kebenaran yang terpapar di alam semesta ini. Hati yang mengalami keredupan cahaya roh disebut dengan hati yang gelap (qalb zhulmānī). Ketika manusia memiliki hati yang gelap, ia menjadi sulit untuk tetap terhubung dengan kebenaran sejati yang universal. Akibatnya, manusia menjadi mudah untuk berbuat maksiat dan keburukan. Nilai spiritual dan keimanan seseorang diuji dalam perbuatan dan tingkah laku. Untuk menjadi seorang manusia yang beriman, dapat ditanamkan melalui madrasah atau pendidikan. Setiap pendidikan dan pembelajaran mempunyai tujuan yaitu menjadikan manusia menuju ketakwaan dan keihsanan. Demikian juga pada Pendidikan Nasional memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan, dan akhlak, serta budi pekerti yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu pula tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak yang bertujuan memberikan kemampuan dasar kepada manusia tentang aqidah Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlaq mulia, sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Maka untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran manusia memiliki pembagian kecerdasan. Ada tiga jenis kecerdasan pada manusia, diantaranya kecerdasan SQ yang merupakan kependekan dari spiritual Qoutient. Setiap orang memiliki SQ yang berbeda beda, semakin tinggi nilai kualitatif dari SQ tersebut, maka orang itu akan semakin bagus dalam berspiritual. Tidak semua orang memilki SQ yang tinggi. Ada orang yang mengidap penyakit spiritual. Sebaliknya, ada juga orang yang memiliki kesahatan spiritual dan akan membantu pekerjaan pada hidupnya karena dapat membuat hidup lebih tenang (Abid Al-Jabiri : 2000). Peradaban modern telah dibangun dengan perkembangan, khususnya teknologi dan budaya modern. Realitas simbolik dan metafisik seperti Tuhan dianggap sebagai realitas semu sebagai hasil dari evolusi realitas materi. Sehingga spiritualitas dapat berkurang pada era modern ini. Hal ini dapat meyebabkan penyakit spiritual.
  5. 5. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia karena tidak ada spiritualitas yang terlibat didalamnya. Karena spiritual, niat baik manusia akan tumbuh dan menjadikan segala sesuatu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sayyed hossein nasr melihat fenomena hilangnya spiritualitas sebagai ketercabutan manusia dari akar tradisi sehinga manusia hidup diluar eksistansi. Apabila manusia hidup diluar eksistansi. Maka, manusia akan mengalami disorientasi tujuan hidup. Tetapi kehampaan spiritual dapat diobati dengan cara tasawuf. Melalui tasawuf manusia dilatih untuk mengedepankan makna dan visi spiritual dan diterapkan pada kehidupan sehari hari. Apabila manusia memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi maka ilmu pengetahuan dan teknologi modern akan dianggap manusia sebagai anugerah dari Tuhan untuk membantu manusia menjalankan kekhalifahannya di bumi (Ahmad Sidqi : 2015). Manusia memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang berbeda beda. Tetapi sebagai orang yang beragama islam, harus meyakini hubungan dengan sang pencipta yaitu Allah SWT. Apabila sudah meyakini adanya hubungan yang erat dengan Allah SWT. Maka, pekerjaan manusia akan terasa lebih berguna dan bermanfaat. Salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan spiritual adalah meyakini adanya rukun iman. Iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalam rukun iman. Karena iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari keimanan yang lain, maka keimanan kepada Allah SWT harus tertanam dengan benar kepada diri seseorang. Q.S. An-Nisa Ayat 136, disebutkan : َ‫ل‬َّ‫َز‬‫ن‬ ‫ى‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ٱ‬ ِ‫ب‬َٰ‫ت‬ِ‫ك‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ ِ َّ‫ٱَّلل‬ِ‫ب‬ ۟‫وا‬ُ‫ن‬ِ‫ام‬َ‫ء‬ ۟‫ا‬ َٰٓ‫و‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ء‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ٱ‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ََٰٰٓ‫ي‬ ْ‫ك‬َ‫ي‬ ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ۚ ُ‫ل‬ْ‫ب‬َ‫ق‬ ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ل‬َ‫نز‬َ‫أ‬ َٰٓ‫ى‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ٱ‬ ِ‫ب‬َٰ‫ت‬ِ‫ك‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ ٰ َ‫ل‬َ‫ع‬ِ َّ‫ٱَّلل‬ِ‫ب‬ ْ‫ر‬ُ‫ف‬ ‫ًا‬‫د‬‫ي‬ِ‫ع‬َ‫ب‬ ‫ا‬ً‫ًل‬َٰ‫ل‬َ‫ض‬ َّ‫ل‬َ‫ض‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫ر‬ ِ‫اخ‬َ‫ء‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ ِ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ْ‫ل‬‫ٱ‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ل‬ُ‫س‬ ُ‫ر‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ُ‫ت‬ُ‫ك‬ َ‫و‬ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫ك‬ِ‫ئ‬ ََٰٰٓ‫ل‬َ‫م‬ َ‫و‬ “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul- Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. Nilai keimanan seseorang menjadi tolok ukur dalam sikap dan perbuatannya. Untuk menjadi manusia yang takwa tercermin pada keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika tidak tertanam dengan benar, maka ketidakbenaran ini akan berlanjut kepada keimanan yang lain, seperti iman kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kiamat, serta qadha-qadar-Nya. Dan pada akhirnya akan merusak ibadah seseorang secara keseluruhan. Di masyarakat tidak jarang kita jumpai cara-cara beribadah seorang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, padahal orang tersebut mengaku beragama Islam. Manusia sebagai makhluk bertuhan meyakini dan mengimani Allah swt. Keyakinan dimaknai sebagai pembenaran terhadap suatu konsep (tentang Tuhan) sehingga ia menjadi aturan dalam hati yang menunjukkan hukum sebab-akibat, identitas diri, dan mempengaruhi penilaian terhadap segala sesuatu, serta dijalankan dengan penuh komitmen. Keimanan tercermin dari sikap dan perilaku yang dilakukan manusia. Keimanan manusia memiliki pasang- surut. Iman terbentuk karena peran Tuhan dan manusia. Peran tuhan seperti karunia berupa akal dan ruh, sedangkan manusia berupa proses pembelajaran, pembiasaan, dan pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain. Jadi, proses pembentukan iman identik dengan pembentukan karakter, dengan kata lain “Orang yang beriman adalah orang yang berkarakter”. Karakteristik manusia sebagai mahluk Bertuhan, antara lain : a. Mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan yang diwujudkan dengan berbagai cara. b. Menyadari bahwa dunia serta isinya adalah ciptaan Tuhan. c. Manusia dianugerahi akal dan budi yang dapat dikembangkan secara maksimal. d. Manusia memiliki kelebihan dan keterbatasan yang kadang sukar dijelaskan.
  6. 6. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Manusia sebagai makhluk bertuhan memiliki keyakinan akan adanya Tuhan, yang selanjutnya membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu: a. Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan. b. Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan. c. Mampu memanfaatkan anugerah Allah swt yang tidak ternilai tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana serta mempertanggungjawabkannya di dunia maupun di akhirat-Nya. Psikologi Konversi Agama Terjadinya perubahan atau perpindahan keagamaan seseorang disebabkan oleh kondisi ragawi, kondisi kejiwaan dan lingkungannya merupakan sebagai penentu utama seseorang dalam berperilaku dan tingkah laku dalam hidupnya. Sehingga perubahan yang dialami seseorang itu sebagai karakteristik sikap individu sesudah peristiwa konversi agama. Hal ini dapat dilihat dan diamati dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk lebih mudah memahami pengertian konversi agama, perlu dijelaskan pengertian konversi agama secara etimologis dan terminologis. 1. Konversi agama menurut etimologi. Konversi agama terdiri dari kata konversi dan kata agama. Menurut Jalaluddin kata konversi secara etimologi berasal dari kata “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, berubah (agama). Selanjutnya, kata tersebut dipakai dalam kata Inggris “Conversion” yang mengandung pengertian; berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from onee religion, to another). Dalam bahasa sangsekerta kata agama terdiri dari kata “a“ berarti tidak, kata “gama” berarti berjalan, maka agama berarti tidak berjalan atau tetap ditempat. Harun Nasution menegaskan bahwa intisarinya (agama) adalah ikatan. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, makna dari kata konversi agama diatas dapat difahami bahwa konversi agama berarti; bertobat, berubah agama, atau berbalik pendirian dari kepercayaan dar agama yang dianut sebelumnya, dan masuk ke dalam agama lain. Dengan kata lain, konversi agama menunjukkan terjadinya perubahan keyakinan yang berlawanan arah dari keyakinannya semula (pertama), atau berubah/pindah dari faham-faham keagamaan lama, pindah kepada fham- faham keagaman yang baru. 2. Konversi Agama menurut terminologi. Dalam hal ini, Jalaluddin mengutip pendapat William James bahwa konversi agama adalah: to be converted, to be regenerated, to recieve, to eperiene religion, to gain an assurance, are so many pharases whichdenotes to the process, gratdual or sudden by which a self hother devide, and consciously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities. Max Heirich konversi religius adalah suatu tindakan dengan nama seseorang atau kolompok masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan arah degan kepercayaan sebelumnya.
  7. 7. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Walter Houston dalam bukunya “The Psychology of Religon” memberikan definisi konversi agama sebagai berikut, bahwa: Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap agama dan tindak agama. Lebih lanjut ditegasnya bahwa, konversi agama menunjukkan perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah secara mendada, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur- angsur. Dengan demikian. konversi agama merupakan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang menyatakan sikapnya yang berlawanan arah dengan kepecayaan sebelumnya. Dengan kata lain, konversi agama adalah pernyataan seseorang yang pindah dari agama yang lama, kemudian masuk / pindah ke agama yang baru atau perubahan sikap individu dalam masalah-masalah keagamaan yang ada dalam agamanya, sehingga perubahan sikap itu berlawanan arah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan sebelumnya. Karakteristik konversi agama pada individu memiliki beberapa ciri utama, yaitu : 1. Terjadinya perubahan arah dan pandangan hidup atau keyakinan seseorang terhadap agama yang diyakininya, sehingga ia merobah pandangan hidupnya dengan cara pindah / masuk agama yang baru. 2. Terjadinya perubahan/pandangan atau faham-faham keagamaan dalam agama yang dianutnya. 3. Terjadinya perubahan arah atau pandangan hidup itu secara mendadak atau secara berproses. 4. Perubahan yang terjadi pada indivdu dipengaruhi oleh kondisi badaniah, kejiwaan dan lingkungannya atau disebabkan petunjuk Ilahi. Secara psikologis terjadinya konversi agama pada seseorang disebabkan adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai dan merobah kebiasaan individu. Sebagaimana dibuktikan William James pada hasil penelitian terhadap pengalaman agama berbagai tokoh yang melakukan konversi agama dengan kesimpulan sebagai berikut : 1. Konversi agama terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap. 2. Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa sutu proses). Tipologi Konversi Agama. Konversi agama yang terjadi dalam masyarakat terdiri dari dua bentuk, yaitu : 1. Tipe Volitional (perubahan bertahap). Konversi agama tipe ini terjadi melalui proses, dimana individu berusaha merubah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya secara berangsur-angsur. Jalaluddin menulis pendapat Starbuck bahwa konversi agama tipe ini terjadi secara proses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi aspek dari kebiasaan kerohanian yang baru. Perubahan secara bertahap ini biasanya terjadi secara lambat, orang harus menempuh perjuangan batin secara mendalam untuk menjauhkan dirinya dari dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan dalam hidupnya. Konversi agama tipe ini melalui proses, berapa lamanya proses yang dilalui oleh orang- orang yang melakukan konversi agama tidaklah sama, tergantung kepada kepribadian, pendidikan dan lingkungan
  8. 8. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman seseorang, namun proses ini harus mereka jalani. Untuk merobah sistem kepercayaan seseorang agak sukar karena termasuk kedalam pranata primer. 2. Tipe Self Surrender (perubahan drastis). Konversi agama tipe ini terjadi secara tiba-tiba, biasanya perubahan sikap keagamaan tipe self surrender tidak melalui proses yang lama atau panjang, bisa terjadi dengan seketika baik proses perubahan sikap individu terhadap agama orang lain maupun perubahan sikap individu terhadap masalah-masalah yang terdapat dalam agamanya. Dalam hal ini Jalaluddin setuju dengan pendapat William James yang mengatakan bahwa adanya pengaruh petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang, sehingga ia menerima konversi yang baru dengan pengaruh terhadap jiwa sepenuhnya. Jadi ada semacam petunjuk (Hidayah) dari Tuhan. Mengimplementasikan rasa bertuhan dalam mengembangkan pribadi mulia. a. Implementasi rasa bertuhan. Bagi seorang hamba yang memiliki iman yang baik, maka akan memancarkan tingkah laku atau tabia’at yang baik pula. Yaitu perangai atau tingkah laku yang memberikan manfaat bagi diri dan lingkungannya. akhlak mulia itu bisa lahir dalam bentuk, diantaranya : - Tawadhu’ Tawadhu’ memeliki pengertian sifat rendah hati. Yaitu sifat yang tidak mau membanggakan diri atas kelebihan dan keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya. Seorang yang tawadhu’ menyadari bahwa apapun yan ia miliki; ilmu, kekayaan, jabatan, pangkat dan lain- lain, merupakan anugerah dan amanah dari Allah. Itu semua justru dijadikan sebagai media dalam rangka menyadari betapa maha besarnya dan maha kuasanya Allah. - Wara’. Yaitu sikap yang selalu waspada terhadap hal-hal yang dapat merendahkan martabat sebagai hamba Allah. Seorang yang memiliki sifat wara’ selalu berusaha menghindarkan diri dari hal yang bersifat subhat, sebab itu akan menjadikan hijab bagi dirinya terhadap kebesaran Allah yang Maha Mulia. - Ikhlas. Ikhlas merupakan perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan oleh seorang hamba hanya diperuntukkan bagai Allah semata. Apapun katifitas kehidupannya dalam rangka mengarungi lautan kehidupan, dimaknai sebagai ibadah kepada Allah Swt. - Sabar. Merupakan sikap yang tangguh dalam menghadapi problematika kehidupan. Orang yang sabar tidak mudah putus asa serta yakin akan rahmat Allah dalam setiap peritiwa kehidupan yang dialami, apapun itu bentuknya. Firman Allah Q.S. 94 : 5-6. ‫۝‬ۙ‫ا‬ً‫ر‬ْ‫س‬ُ‫ي‬ ِ‫ر‬ْ‫س‬ُ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ع‬َ‫م‬ َّ‫ِن‬‫ا‬َ‫ف‬‫۝‬ۗ‫ا‬ً‫ر‬ْ‫س‬ُ‫ي‬ ِ‫ر‬ْ‫س‬ُ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ع‬َ‫م‬ َّ‫ِن‬‫ا‬ “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
  9. 9. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman - Syukur Yaitu penggunaan seluruh nikmat Allah oleh seorang hamba –baik dalam bentuk pendengaran, penglihatan, hati, maupun yang lainnya- sesuai dengan tujuan penciptaanya Semua anugerah yang diberikan Allah kepada manusia, terutama nikmat panca indera diberikan oleh Allah memiliki tujuan. Pendengaran Allah berikan bertuajuan agar manusia dapat mendengarkan pengajaran, perkatan yang baik. Begitu juga dengan nuikmat yang lain. - Tawakkal. Tawakkal adalah bersandar kepada Allah dalam segala hal. Allahlah sebagai penyebab segala sesuatu. Artinya, manusia sebagai seoarang hamba menayadari betapa didalamnya dirinya tidak ada kekuatan. Sungguh pemilik kekuatan dan daya hanya Allah. Takwa merupakan sikap hidup yang mampu menghantarkan seseorang kepada ketenangan hidup. b. Cara manusia meyakini dan mengimani Allah SWT. Iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalam rukun iman. Karena iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari keimanan yang lain, maka keimanan kepada Allah SWT harus tertanam dengan benar kepada diri seseorang. Sebab jika iman kepada Allah SWT tidak tertanam dengan benar, maka ketidak-benaran ini akan berlanjut kepada keimanan yang lain, seperti iman kepada malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, rasul-rasul Nya, hari kiamat, serta qadha dan qadar Nya. Dan pada akhirnya akan merusak ibadah seseorang secara keseluruhan. Di masyarakat tidak jarang kita jumpai cara-cara beribadah seorang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, padahal orang tersebut mengaku beragama Islam. Islam memberikan tawaran berupa konsep menghadapai berbagai persoalan kehidupan, baik secara pribadi maupun kehidupan kolektif. Islam tidak saja menyangkut aspek ritual, tetapi adalah merupakan petunjuk tentang kehidupan secara menyeluruh, baik menyangkut urusan pribadi maupun sosial. Pemahaman tentang Islam selama ini pada umumnya hanya pada aspek tertentu, ialah lebih banyak pada aspek ritualnya. Pemahaman seperti itu tidak akan melahirkan pribadi unggul dan atau tangguh. Sebagai manusia muslim dituntut untuk memahami kitab suci dan sejarah kenabian itu hingga meraih kesempurnaan. Al-Qur'an mengajarkan agar siapapun memahami ilmu seluas-luasnya. Ilmu yang luas itu juga berasal dari sumber yang sempurna. Dalam hazanah Islam dikenal ada dua sumber ilmu, yaitu ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat qawniyah. Ayat qawliyah adalah berupa al Qur'an dan hadits nabi. Melalui dua sumber ajaran Islam itu, seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan yang tidak akan mungkin diperoleh dari sumber lainnya. Pengetahuan tentang sejarah kejadian manusia, penciptaan
  10. 10. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman berbagai makluk, hal-hal yang bersifat ghaib, dan semacamnya adalah hanya bisa diketahui dari kitab suci itu. Selain memahami ayat-ayat qawliyah, umat Islam juga dianjurkan agar mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kajian terhadap ayat-ayat kawniyah, yaitu berupa alam semesta ini. Kegiatan itu dilakukan melalui observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis. Berbekalkan kedua summer pengetahuan itu, maka kelima misi Islam sebagaimana dikemukakan di muka akan bisa diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam dengan demikian akan memiliki pribadi unggul, yaitu kokoh secara jasmani maupun rohaninya. Pada umumnya seseorang merasa telah beragama Islam secara sempurna manakala sudah menjalankan rukun Islam, memenuhi rukun Iman, dan ikhsan. Kegiatan yang bernuansa Islam hanya dipahami ketika berada di masjid atau mushalla, memberikan sedekah yang kadang jumlahnya terbatas, puasa di bulan ramadhan, dan menjalankan ibadah haji. Beberapa kegiatan ritual itu seharusnya melahirkan kedamaian dan ketenteraman, tetapi seringkali justru sebaliknya, yaitu perdebatan yang kemudian membuahkan perpecahan yang tidak mudah diselesaikan. Ditinjau dari segi yang umum dan yang khusus ada dua cara beriman kepada Allah SWT : - Bersifat Ijmali Cara beriman kepada Allah SWT yang bersifat ijmali maksudnya adalah, bahwa kita mepercayai Allah SWT secara umum atau secara garis besar. Al-Qur’an sebagai suber ajaran pokok Islam telah memberikan pedoman kepada kita dalam mengenal Allah SWT. Diterangkan, bahwa Allah adalah dzat yang Maha Esa, Maha Suci. Dia Maha Pencipta, Maha Mendengar, Maha Kuasa, dan Maha Sempurna. - Bersifat Tafshili Cara beriman kepada Allah SWT yang bersifat tafsili, maksudnya adalah mempercayai Allah secara rinci. Kita wajib percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan sifat-sifat makhluk Nya. Sebagai bukti adalah adanya “Asmaul Husna” yang kita dianjurkan untuk berdoa dengan Asmaul Husna serta menghafal dan juga meresapi dalam hati dengan menghayati makna yang terkandung di dalamnya. 1. Keyakinan dirinya kepada Tuhan. 2. Ucapan yang mengikuti keyakinannya. 3. Melakukan berbagai kegiatan hidup. Esensi dan urgensi visi ilahi untuk membangun dunia yang damai Manusia tidak akan mampu membangun relasi yang harmoni dengan tuhan apabila hidupnya lebih didominasi oleh kepentingan ragawi dan bendawi. Oleh karena itu, sisi spritualis harus memainkan peran utama dalam kehidupan manusia sehingga mampu merasakan kehadiran tuhan dalam setiap gerak dan sikapnya. Apabila kita mampu mengasah sprtualitasnya sehingga ia dapat merasakan kehadiran tuhan maka ia akan dapat melihat segala sesuatu dengan visituhan ( ilahi). Visi ilahi inilah yang sangat dibutuhkan oleh ummat manusia
  11. 11. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman sehingga setiaptindak tanduk dan sikap perilaku manusia didasari dengsn demngat kecintaan kepada tuhan sebagai manifestasi kebenaran universal dan pengabdian serta pelayanan kepada sesama ciptaan tuhan dengan begitu akan terciptanya dunia yang damai. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau Library Reseach sehingga paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma penelitian kualitatif. Peneliti berusaha menemukan gambaran lengkap tentang konsep makna manusia sebagai makhluk bertuhan serta maksud dari sumber materi yang dikaji. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Dalam menganalisis permasalahan, penelitian dilakukan melalui tiga cara yaitu : a. Content Analysis atau analisis isi, yaitu bahwa analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks dan situasi. b. Analisis Logika Reflektif yaitu analisis data yang berpedoman pada cara berfikir reflektif, cara berfikir proses mondar- mandir secara cepat antara induksi dan deduksi. c. Analisis Komparasi yaitu metode untuk membandingkan beberapa segi yang meliputi data, situasi, dan konsep filosofis. Secara sistematis, tepat, valid, tajam, dan mendalam. Kesimpulan. Dari artikel tentang konsep manusia sebagai makhluk bertuhan, dapatlah disimpulkan bahwa : Manusia secara fitrah sejak lahir sudah suci dan dianugerahi dalam roh atau jiwa halus oleh Allah swt sebagai bekal keimanan dan keinginan menghamba kepada Allah swt. Semua manusia terlahir dalam keadaan fitrah (tauhid), sehingga kedua orangtua yang menjadikan Islam, Nasrani, dan Yahudi. Namun seiring waktu manusia dapat mencari kebenaran hakiki melalui akal, pikiran, dan perasaan sampai menemukan nilai-nilai spiritual sampai memperoleh kebenaran dan keimanan yang benar-benar sesuai yang diperintahkan sehingga menjadi manusia berkepribadian akhlakul karimah. Kesadaran dan kecerdasan spiritual menjadikan rohani yang kuat melalui bimbingan maksimal dan kontinu pada hati nurani tersebut, agar menjadi lebih dinamis, kreatif dan inovatif, serta memiliki etos kerja tinggi yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Konsep spiritual manusia sebagai makhluk bertuhan terletak pada ruh dan kekuatan rohani atau spiritual sehingga menjadikan manusia ingin mendekatkan diri kepada-Nya, yang diwujudkannya dalam cara berpikir, merasakan, berdoa, dan berkarya secara baik dan benar dengan memanfaatkan potensi, bakat yang telah diberikan oleh Allah SWT secara bijak, cerdas, dan sesuai kaidah-kaidah agama Islam. Nilai spritual dapat dilatih dari sejak kecil di lingkungan keluarga, masyarakat, dan madrasah secara terus menerus dan konsisten sampai memperoleh keimanan yang baik dan mantap sehingga tidak mudah terpengaruh akan ajaran agama lain. Namun keimanan seseorang mengalami pasang surut maka harus selalu dijaga agar akal dan qalbunya terus menerus terbimbing oleh siraman rohani sehingga spiritual terus optimal untuk memperoleh pencerahan dan kekuatan dalam menjaga nilai keimanan dan ketakwaan. Keimanan seseorang dapat dibentuk secara umum yaitu ijmali dan khusus secara tafshili. Kemudian akhlakul karimah dapat diterapkan melalui sikap dan perilaku yang tawadhu’, wara’, ikhlas, sabar, syukur, dan tawakkal. Sehingga manusia mampu memanfaatkan anugerah Allah SWT yang tidak ternilai tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana serta mempertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat-Nya.
  12. 12. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, Vol 3 (No. 1), Halaman Daftar Pustaka. Syahidin, dkk. 2019. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Makassar : UNM. Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. (Bandung : Alfabeta, 2014). Departemen Agama RI. 2008. Al-Qur'an dan terjemahannya. Bandung: Diponegoro. Hadits riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud no. 829. Bagir, Haidar, 2005. Buku Saku Filsafat Islam. Bandung: Arasy. Abid Al-Jabiri, Muh. 2000. Binyah al-Aql al- Araby. Tanpa kota: Markaz Dirasat al- Wahdah al-arbiyah. Ahmad sidqi, Wajah tasawauf di era modern : antara tantangan dan jawaban (2015)

×