SlideShare ist ein Scribd-Unternehmen logo
1 von 8
INTEGRITAS MORAL SISWA
SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH
Oleh : Adi Hasan Basri
A. Pendahuluan

Dalam rangka menciptakan manusia pembangunan yang berpotensi dan berkepribadian
baik, guna menumbuhkan sikap dan tekad kemandirian, maka diperlukan suatu pendidikan.
Menurut Ahmad D. Marimba : “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh
si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama”[1]
Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan
pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia
(SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari
keluarga, sekolah dan masyarakat.
Salah satu SDM dalam pembangunan nasional adalah generasi muda. Generasi muda
adalah suatu generasi estafet pembaharu yang merupakan kader pembangunan yang sifatnya
masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui
lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi penting pendidikan sekolah antara lain untuk : 1)
pengembangan pribadi dan dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi kultural, 3) integrasi
sosial, 4) inovasi dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja. Tugas pendidikan dalam hal ini
adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat
dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di
atas maka beberapa alasan perlunya pendidikan moral di sekolah antara lain : 1) Perlunya
karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran
yang kuat, hati dan kemauan yang berkualiatas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian,
disiplin, diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekeja dengan rasa cinta
sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif
untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3) Pendidikan moral sangat esensial untuk
mengembangkan SDM yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral.
Saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami patologi sosial yang cukup kronis. Sebagian
pelajar dan masyarakat telah tercerabut dari peradaban ketimurannya yang beradab, santun dan
religius. Hal ini salah satu dari akibat dari pengabdopsian pengaruh peradaban barat tanpa seleksi
yang matang. Di samping itu sistem pendidikan di Indonesia lebih berorientasi pada pengisian
kognisi dalam arti lebih mengutamakan peningkatan intelegence quetiont (IQ), kurang
memperhatikan perkembangan emotional quetont (EQ). Bahkan warisan terbaik bangsa kita
berupa tradisi spritualitas berupa spritual quetion (SQ) yang tinggi, juga mulai tergeser. Akibat
dari rendahnya EQ da SQ pada siswa dan masyarakat memunculkan beberapa masalah sosial dan
moral di Indonesia antara lain : 1) meningkatnya pemberontakan remaja sebagai tanda dekadensi
etika serta sopan santun pelajar, 2) meningkatnya ketidakjujuran, seperti suka membolos,
menyontek, tawuran, bahkan mencuri, 3) berkurangnya rasa homat terhadap orang tua, guru,
orang yang lebih tua dan sosok yang berwenang, 4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang
kejam dan bengis, 5) munculnya sikap fanatik dan penuh kebencian, 6) berbahasa tidak sopan,
7) merosotnya etika kerja, meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya
rasa tanggung jawab sebagai warga negara, timbulnya perilaku yang merusak diri, misalnya
penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan bunuh diri, 10) timbulnya ketidaktahuan sopan santun
termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan
untuk memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan diri
sendiri dan orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah.
B. Pembahasan
Dari sudut pandang orang dewasa siswa sekolah dasar dan menengah umumnya dinilai
sebagai anak yang berkemampuan moral sebagai berikut : [2]
Pertama : kurang disiplin, dalam arti kurang tepat waktu, kurang sunguh-sungguh dalam
belajar dan mengjar cita-cita, kurang santun dan taat pada perintah agama atau adat istiadat yang
di junjung tinggi masyarakat.
Kedua, bebas, protes, kreatif, dan realistis. Orang dewasa menilai mereka sebagai anak
yang bebas, berai membantah, mudah berubah dan putus asa. Apalagi anak yang datang dari
keluarga kaya dan manja. Tetapi diakui bahwa anak zaman sekarang lebih berani dan penuh
kreatifitas. Mereka memiliki cara tersendiri untuk rasa cinta dan hormat kepada orang yana lebih
tua.
Ketiga, solidaritas konco dan main keroyokan. Orang dewasa menilai siswa SD dan
SLTP nudah sekali tersulut dalam baku hantam di antara mereka sendiri. Suka mencoret-coret
dinding dengan kata-kata yang asing yang menunjukan dirinya sebagai pahlawan. Namun
demikian mereka menunjukan solidaritas yang sangat tinggi dengan sering membela dan
melindungi antar sesama teman, saling tukar pakaian, saling menolong, mentraktir jajan,
meminjamkan kendaraan, sera buku-buku pelajaran.
1. Nilai dan Moral
Nilai adalah harga, hal-hal yang berguna bagi manusia[3]. Menurut I Wayan Koyan
(2000 :12), nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Menurutnya ada dua nilai yaitu nilai ideal
dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai-nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai
aktual

adalah

nilai

yang

diekspresikan

dalam

kehidupan

sehari-hari.

Kohlberg

mengklasifikasikan nilai menjadi dua, yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. Nilai obyektif
atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat intrinsik, yakni nilai hakiki yang berlaku sepanjang
masa secara universal. Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran,
keindahan dan keadilan. Adapun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna, isi dan
corak tertentu sesuai dengan waktu, tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu.
Pendidikan nilai dapat disampaikan dengan metode langsung atau tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi
berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran tersebut
melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tidak
langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan tetapi dengan menciptakan
situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di
sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik bagi anak didik
Strategi tunggal dalam pendidikan nilai sudah tidak cocok lagi apalagi yang bernuansa
indoktrinasi. Pemberian teladan atau contoh juga kurang efektif diterapkan, karena sulitnya
menentukan siapa yang paling tepat untuk dijadikan teladan. Istilah komprehensif yang
digunakan dalam pendidikan nilai mencakup berbagai aspek.Pertama, pendidikan nilai harus
komprehensif meliputi semua permasalahan yang berkaitan dengan nilai, mulai dari pilihan nilainilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan mengenai etika secara umum.Kedua,
metode yang digunakan dalam pendidikan nilai juga harus komprehensif. Termasuk didalamnya
inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda agar dapat
mandiri dengan mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan keputusan moral secara
bertanggungjawab dan keterampilan-keterampilan hidup yang lain.
2. Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melakukan pendidikan hendaknya jelas tujuan dari pada pendidikan tersubut.
Adapun tujuan melakukan pendidikan bagi anak usia dini diharapkan mampu tertanam jiawa
atau akhlak yang baik. Tentu saja kita semua menginginkan kepribadian siswa yang baik
sehingga prestasi juga akan menjadi baik .Menurut Zakiah Daradjat kepribadian yang baik
adalah : “ Tingkah laku atau sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji”. [4]
Pembinaan kepribadian siswa merupakan proses yang panjang dan berkesinambungan
dari sebelum sekolah, Sekolah SD, SLTP, SMU, bahkan sampai kuliah nanti. Usaha
pembinaan ini melalui pendidikan tersebut sangatlah menentukan.
Usaha ini dengan pembiasaan-pembiasaan dan latihan yang teratur dan terus-menerus
sehingga lambat laun kepribadian anak bertambah kuat dan akhirnya menyatu dengan jiwanya.
Sebagaimana pendapat Zakiah Daradjat ; ” Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut
ibadah seperti sholat, doa, membaca Al Qur’an yang dibiasakan sejak kecil sehingga lamakelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut”[5]
Atas dasar
uraian tersebut di atas maka pembinaan kepribadian siswa yang diadakan kerjasama antara
orang tua dengan guru Pendidikan Agama Islam, hendaklah menjadi salah satu program yang
penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, karena anak-anak tersebut sebagai generasi
penerus,maka hendaklah sedini mungkin jika kita ingin merubah keadaan sekarang ini agar
menjadi yanglebih baik, Firman Allah SWT :

Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar Raad : 11)[6]
Dari ayat tersebut diatas dapat kita ambil pengertian bahwa., Allah SWT tidak akan
merubah nasib suatu kaum atau keadaan seseorang kalau mereka sendiri tidak mau untuk
merubahnya. Jadi guru Pendidikan Agama Islam dan orang tua dalam bekerjasama haruslah
dalam usaha untuk merubah keadaan anak didik supaya keadaan kepribadiannya menjadi lebih
baik. Usaha tersebut tentu saja dengan melalui dengan pendidikan agama, nasehat-nasehat
sehingga dapat mengarahkan kepribadian anak kearah perkembangan kepribadian yang baik
sehingga anak akan menjadi anak yang sholeh dan sholekhah sesuai dengan harapan orang tua,
guru Pendidikan Agama Islam dan guru lainnya serta masyarakat.
Dalam UU No. 23 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa
pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak
lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14).
Pendidikan untuk anak usia dini (0-8 tahun) merupakan pendidikan yang memiliki
karakteristik berbeda dengan anak usia lain, sehingga pendidikannya pun perlu dipandang
sebagai sesuatu yang dikhususkan. Pendidikan anak usia dini di negara-negara maju mendapat
perhatian yang luar biasa. Karena pada dasarnya pengembangan manusia akan lebih mudah
dilakukan pada usia dini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa usia dini merupakan usia emas
(golden age) yang hanya terjadi sekali selama kehidupan seorang manusia.
Apabila usia dini tidak dimanfaatkan dengan menerapkan pendidikan dan penanaman
nilai serta sikap yang baik tentunya kelak ketika ia dewasa nilai-nilai moral yang berkembang
juga nilai-nilai moral yang kurang baik. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah
investasi yang sangat mahal harganya bagi keluarga dan juga bangsa.Anak-anak merupakan
generasi penerus keluarga sekaligus generasi penerus yang akan meneruskan estafet perjuangan
para pendahulu kita. Betapa bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya ”berhasil”, baik
dalam pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam berkarya untuk bangsa.
3. Pendekatan dan Metode Dalam Penanaman Nilai moral Kepada Anak Usia Dini
Metode dan pendekatan seringkali digunakan secara bergantian, bahkan keduanya
seringkali dikaburkan atau disamakan dalam penggunaannya. Keduanya sebenarnya memiliki
sedikit perbedaan yang bisa dijadikan untuk memberikan penegasan bahwa kedua istilah tersebut
memang berbeda.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta edisi III
pendekatan memiliki arti hal (perbuatan, usaha) mendekati atau mendekatkan.[7] Dari pengertian
tersebut dapat dipahami bahwa pendekatan setidaknya mengandung unsur sebagai suatu kegiatan
yang meliputi: proses perjalanan waktu, upaya untuk mencapai sesuatu, dan dapat pula memiliki
ciri sebagai sebuah jalan untuk melakukan sesuatu.
Terkait dengan hal tersebut di atas, tepat kiranya sebagai pendidik ataupun orang tua
memahami bahwa untuk menyampaikan sesuatu pesan pendidikan diperlukan pemahaman
tentang bagaimana agar pesan itu dapat sampai dengan baik dan diterima dengan sempurna oleh
anak didik. Untuk mencapai ketersampaian pesan kepada anak didik tentunya seorang pendidik
atau orang tua harus memiliki atau pun memilih keterampilan untuk menggunakan pendekatan
yang sesuai dengan pola pikir dan perkembangan psikologi anak.

[1] Ahmad D.Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam. (Bandung : PT.
Al Ma’arif, 1981), h.19
[2] Prof DR. Mastuhu, M.Ed, Memberdayaka sistem pendidikan Islam, Jakarta : PT
Logos Wacana Ilmu, 1999, h 137
[3] P W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai
Pustaka, 1976, h. 492
[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970),
h.59
[5] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h.63
[6] Departemen AgamaRI , Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT Intermasa,
1993), h.370
[7] W.J.S. Poerwadarminta Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi III (Jakarta, Balai
Pustaka, 1976), h. 45

Weitere ähnliche Inhalte

Was ist angesagt?

PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK
PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAKPENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK
PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK wahabsultan
 
Proposal skripsi q
Proposal skripsi qProposal skripsi q
Proposal skripsi qQim Luqman
 
Pendidikan karakter
Pendidikan karakterPendidikan karakter
Pendidikan karaktergusipung
 
Pendidikan karakter nas 123
Pendidikan karakter nas 123Pendidikan karakter nas 123
Pendidikan karakter nas 123Binsar Samosir
 
Managemen lembaga penddikan (new)
Managemen lembaga penddikan (new)Managemen lembaga penddikan (new)
Managemen lembaga penddikan (new)Edwarn Abazel
 
Profesion perguruan dari perspektif islam
Profesion perguruan dari perspektif islamProfesion perguruan dari perspektif islam
Profesion perguruan dari perspektif islamNoor Aini Samsusah
 
57053045 peranan-guru-pendidikan-islam
57053045 peranan-guru-pendidikan-islam57053045 peranan-guru-pendidikan-islam
57053045 peranan-guru-pendidikan-islamPersigatra FC
 
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSAHUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSAAprilia putri
 
Makalah character building
Makalah character buildingMakalah character building
Makalah character buildingrodo ezra
 
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAMDASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAMMuhammad Wisnu D R
 
peranan guru pendidikan islam
peranan guru pendidikan islam  peranan guru pendidikan islam
peranan guru pendidikan islam Mohd Kamal Jusoh
 
5. materi mpls pendidikan karakter
5. materi mpls pendidikan karakter5. materi mpls pendidikan karakter
5. materi mpls pendidikan karakterTeukuMahawira
 

Was ist angesagt? (17)

PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK
PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAKPENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK
PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK
 
Sp moral kbsm
Sp moral kbsmSp moral kbsm
Sp moral kbsm
 
Proposal skripsi q
Proposal skripsi qProposal skripsi q
Proposal skripsi q
 
Pendidikan karakter
Pendidikan karakterPendidikan karakter
Pendidikan karakter
 
Pendidikan karakter nas 123
Pendidikan karakter nas 123Pendidikan karakter nas 123
Pendidikan karakter nas 123
 
Managemen lembaga penddikan (new)
Managemen lembaga penddikan (new)Managemen lembaga penddikan (new)
Managemen lembaga penddikan (new)
 
Jurnal nur habibullah
Jurnal nur habibullahJurnal nur habibullah
Jurnal nur habibullah
 
Profesion perguruan dari perspektif islam
Profesion perguruan dari perspektif islamProfesion perguruan dari perspektif islam
Profesion perguruan dari perspektif islam
 
57053045 peranan-guru-pendidikan-islam
57053045 peranan-guru-pendidikan-islam57053045 peranan-guru-pendidikan-islam
57053045 peranan-guru-pendidikan-islam
 
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSAHUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA
HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER BANGSA
 
Ilmu pendidikan islam
Ilmu pendidikan islamIlmu pendidikan islam
Ilmu pendidikan islam
 
Makalah character building
Makalah character buildingMakalah character building
Makalah character building
 
Isbd
IsbdIsbd
Isbd
 
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAMDASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM
 
peranan guru pendidikan islam
peranan guru pendidikan islam  peranan guru pendidikan islam
peranan guru pendidikan islam
 
Jurnal stai. AFI PARNAWI, M.Pd
Jurnal stai. AFI PARNAWI, M.PdJurnal stai. AFI PARNAWI, M.Pd
Jurnal stai. AFI PARNAWI, M.Pd
 
5. materi mpls pendidikan karakter
5. materi mpls pendidikan karakter5. materi mpls pendidikan karakter
5. materi mpls pendidikan karakter
 

Ähnlich wie Integritas moral siswa

Pramuka dan pendidikan berkarakter
Pramuka  dan pendidikan berkarakterPramuka  dan pendidikan berkarakter
Pramuka dan pendidikan berkarakterSunarti Narti
 
Pendidikan Karakter (New Style)
Pendidikan Karakter (New Style)Pendidikan Karakter (New Style)
Pendidikan Karakter (New Style)Christian Lokas
 
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...Fandy Neta
 
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnya
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnyaPendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnya
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnyaYanuar Hadi Saputro
 
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsa
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsaPendidikan modal utama membangun karakter bangsa
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsaHilman Latief
 
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptx
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptxPENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptx
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptxwongjowo30
 
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesia
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesiaPendidikan moral dan mutu pendidikan indonesia
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesiaAndy Nostalgither's
 
peranan sekolah bagi fpk
peranan sekolah bagi fpkperanan sekolah bagi fpk
peranan sekolah bagi fpkMusaDiq YaaCob
 
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikan
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikanPemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikan
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikanwt_19_88
 
Makalah Pendidikan Karakter
Makalah Pendidikan KarakterMakalah Pendidikan Karakter
Makalah Pendidikan KarakterMutiaraJelita1
 
Resensi resti purnama sari
Resensi resti purnama sariResensi resti purnama sari
Resensi resti purnama sariPamilaNovitasari
 

Ähnlich wie Integritas moral siswa (20)

Tugas makalah
Tugas makalahTugas makalah
Tugas makalah
 
Pramuka dan pendidikan berkarakter
Pramuka  dan pendidikan berkarakterPramuka  dan pendidikan berkarakter
Pramuka dan pendidikan berkarakter
 
Pendidikan Karakter (New Style)
Pendidikan Karakter (New Style)Pendidikan Karakter (New Style)
Pendidikan Karakter (New Style)
 
Makalah pembentukan karakter
Makalah pembentukan karakterMakalah pembentukan karakter
Makalah pembentukan karakter
 
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...
Pentingnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini , dan peran guru dal...
 
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnya
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnyaPendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnya
Pendidikan moral upaya mendidik generasi seutuhnya
 
Agama kelompok 2
Agama kelompok 2Agama kelompok 2
Agama kelompok 2
 
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsa
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsaPendidikan modal utama membangun karakter bangsa
Pendidikan modal utama membangun karakter bangsa
 
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptx
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptxPENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptx
PENDIDIKAN-KARAKTER-1.pptx
 
Makalah pendidikan karakter
Makalah pendidikan karakterMakalah pendidikan karakter
Makalah pendidikan karakter
 
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesia
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesiaPendidikan moral dan mutu pendidikan indonesia
Pendidikan moral dan mutu pendidikan indonesia
 
Pendidikan moral
Pendidikan moralPendidikan moral
Pendidikan moral
 
peranan sekolah bagi fpk
peranan sekolah bagi fpkperanan sekolah bagi fpk
peranan sekolah bagi fpk
 
Pendidikan akhlak pada anak
Pendidikan akhlak pada anakPendidikan akhlak pada anak
Pendidikan akhlak pada anak
 
Makalah pendidikan pancasila
Makalah pendidikan pancasilaMakalah pendidikan pancasila
Makalah pendidikan pancasila
 
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikan
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikanPemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikan
Pemikiran ki hajar dewantara tentang pendidikan
 
Urgensi pendidikan karakter
Urgensi pendidikan karakterUrgensi pendidikan karakter
Urgensi pendidikan karakter
 
Makalah Pendidikan Karakter
Makalah Pendidikan KarakterMakalah Pendidikan Karakter
Makalah Pendidikan Karakter
 
Pendidikan karakter
Pendidikan karakterPendidikan karakter
Pendidikan karakter
 
Resensi resti purnama sari
Resensi resti purnama sariResensi resti purnama sari
Resensi resti purnama sari
 

Mehr von Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) (9)

Konsep akad dalam kajian fiqh muamalah
Konsep akad dalam kajian fiqh muamalahKonsep akad dalam kajian fiqh muamalah
Konsep akad dalam kajian fiqh muamalah
 
Pemikiran ekonomi Abul Jafar ad Dimasyqi
Pemikiran ekonomi Abul Jafar ad DimasyqiPemikiran ekonomi Abul Jafar ad Dimasyqi
Pemikiran ekonomi Abul Jafar ad Dimasyqi
 
Hukum dan kontrak
Hukum dan kontrakHukum dan kontrak
Hukum dan kontrak
 
Bab iii hukum organisasi perusahaan
Bab iii hukum organisasi perusahaanBab iii hukum organisasi perusahaan
Bab iii hukum organisasi perusahaan
 
penanaman modal
penanaman modalpenanaman modal
penanaman modal
 
Analisis konsep bunga abul a'la al maududi
Analisis konsep bunga abul a'la al maududiAnalisis konsep bunga abul a'la al maududi
Analisis konsep bunga abul a'la al maududi
 
Hukum pajak
Hukum pajakHukum pajak
Hukum pajak
 
Presentasi+wadiah
Presentasi+wadiahPresentasi+wadiah
Presentasi+wadiah
 
Makalah al yakin la yuzalu bi syak
Makalah al yakin la yuzalu bi syakMakalah al yakin la yuzalu bi syak
Makalah al yakin la yuzalu bi syak
 

Integritas moral siswa

  • 1. INTEGRITAS MORAL SISWA SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH Oleh : Adi Hasan Basri A. Pendahuluan Dalam rangka menciptakan manusia pembangunan yang berpotensi dan berkepribadian baik, guna menumbuhkan sikap dan tekad kemandirian, maka diperlukan suatu pendidikan. Menurut Ahmad D. Marimba : “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”[1] Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Salah satu SDM dalam pembangunan nasional adalah generasi muda. Generasi muda adalah suatu generasi estafet pembaharu yang merupakan kader pembangunan yang sifatnya
  • 2. masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi penting pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) pengembangan pribadi dan dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi kultural, 3) integrasi sosial, 4) inovasi dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja. Tugas pendidikan dalam hal ini adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas maka beberapa alasan perlunya pendidikan moral di sekolah antara lain : 1) Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualiatas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin, diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekeja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3) Pendidikan moral sangat esensial untuk mengembangkan SDM yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral. Saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami patologi sosial yang cukup kronis. Sebagian pelajar dan masyarakat telah tercerabut dari peradaban ketimurannya yang beradab, santun dan religius. Hal ini salah satu dari akibat dari pengabdopsian pengaruh peradaban barat tanpa seleksi yang matang. Di samping itu sistem pendidikan di Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi dalam arti lebih mengutamakan peningkatan intelegence quetiont (IQ), kurang memperhatikan perkembangan emotional quetont (EQ). Bahkan warisan terbaik bangsa kita berupa tradisi spritualitas berupa spritual quetion (SQ) yang tinggi, juga mulai tergeser. Akibat dari rendahnya EQ da SQ pada siswa dan masyarakat memunculkan beberapa masalah sosial dan moral di Indonesia antara lain : 1) meningkatnya pemberontakan remaja sebagai tanda dekadensi etika serta sopan santun pelajar, 2) meningkatnya ketidakjujuran, seperti suka membolos,
  • 3. menyontek, tawuran, bahkan mencuri, 3) berkurangnya rasa homat terhadap orang tua, guru, orang yang lebih tua dan sosok yang berwenang, 4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang kejam dan bengis, 5) munculnya sikap fanatik dan penuh kebencian, 6) berbahasa tidak sopan, 7) merosotnya etika kerja, meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara, timbulnya perilaku yang merusak diri, misalnya penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan bunuh diri, 10) timbulnya ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan untuk memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah. B. Pembahasan Dari sudut pandang orang dewasa siswa sekolah dasar dan menengah umumnya dinilai sebagai anak yang berkemampuan moral sebagai berikut : [2] Pertama : kurang disiplin, dalam arti kurang tepat waktu, kurang sunguh-sungguh dalam belajar dan mengjar cita-cita, kurang santun dan taat pada perintah agama atau adat istiadat yang di junjung tinggi masyarakat. Kedua, bebas, protes, kreatif, dan realistis. Orang dewasa menilai mereka sebagai anak yang bebas, berai membantah, mudah berubah dan putus asa. Apalagi anak yang datang dari keluarga kaya dan manja. Tetapi diakui bahwa anak zaman sekarang lebih berani dan penuh kreatifitas. Mereka memiliki cara tersendiri untuk rasa cinta dan hormat kepada orang yana lebih tua. Ketiga, solidaritas konco dan main keroyokan. Orang dewasa menilai siswa SD dan SLTP nudah sekali tersulut dalam baku hantam di antara mereka sendiri. Suka mencoret-coret dinding dengan kata-kata yang asing yang menunjukan dirinya sebagai pahlawan. Namun
  • 4. demikian mereka menunjukan solidaritas yang sangat tinggi dengan sering membela dan melindungi antar sesama teman, saling tukar pakaian, saling menolong, mentraktir jajan, meminjamkan kendaraan, sera buku-buku pelajaran. 1. Nilai dan Moral Nilai adalah harga, hal-hal yang berguna bagi manusia[3]. Menurut I Wayan Koyan (2000 :12), nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Menurutnya ada dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai-nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Kohlberg mengklasifikasikan nilai menjadi dua, yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. Nilai obyektif atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat intrinsik, yakni nilai hakiki yang berlaku sepanjang masa secara universal. Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran, keindahan dan keadilan. Adapun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna, isi dan corak tertentu sesuai dengan waktu, tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu. Pendidikan nilai dapat disampaikan dengan metode langsung atau tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran tersebut melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik bagi anak didik Strategi tunggal dalam pendidikan nilai sudah tidak cocok lagi apalagi yang bernuansa indoktrinasi. Pemberian teladan atau contoh juga kurang efektif diterapkan, karena sulitnya menentukan siapa yang paling tepat untuk dijadikan teladan. Istilah komprehensif yang
  • 5. digunakan dalam pendidikan nilai mencakup berbagai aspek.Pertama, pendidikan nilai harus komprehensif meliputi semua permasalahan yang berkaitan dengan nilai, mulai dari pilihan nilainilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan mengenai etika secara umum.Kedua, metode yang digunakan dalam pendidikan nilai juga harus komprehensif. Termasuk didalamnya inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda agar dapat mandiri dengan mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan keputusan moral secara bertanggungjawab dan keterampilan-keterampilan hidup yang lain. 2. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam melakukan pendidikan hendaknya jelas tujuan dari pada pendidikan tersubut. Adapun tujuan melakukan pendidikan bagi anak usia dini diharapkan mampu tertanam jiawa atau akhlak yang baik. Tentu saja kita semua menginginkan kepribadian siswa yang baik sehingga prestasi juga akan menjadi baik .Menurut Zakiah Daradjat kepribadian yang baik adalah : “ Tingkah laku atau sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji”. [4] Pembinaan kepribadian siswa merupakan proses yang panjang dan berkesinambungan dari sebelum sekolah, Sekolah SD, SLTP, SMU, bahkan sampai kuliah nanti. Usaha pembinaan ini melalui pendidikan tersebut sangatlah menentukan. Usaha ini dengan pembiasaan-pembiasaan dan latihan yang teratur dan terus-menerus sehingga lambat laun kepribadian anak bertambah kuat dan akhirnya menyatu dengan jiwanya. Sebagaimana pendapat Zakiah Daradjat ; ” Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sholat, doa, membaca Al Qur’an yang dibiasakan sejak kecil sehingga lamakelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut”[5]
  • 6. Atas dasar uraian tersebut di atas maka pembinaan kepribadian siswa yang diadakan kerjasama antara orang tua dengan guru Pendidikan Agama Islam, hendaklah menjadi salah satu program yang penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, karena anak-anak tersebut sebagai generasi penerus,maka hendaklah sedini mungkin jika kita ingin merubah keadaan sekarang ini agar menjadi yanglebih baik, Firman Allah SWT : Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar Raad : 11)[6] Dari ayat tersebut diatas dapat kita ambil pengertian bahwa., Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum atau keadaan seseorang kalau mereka sendiri tidak mau untuk merubahnya. Jadi guru Pendidikan Agama Islam dan orang tua dalam bekerjasama haruslah dalam usaha untuk merubah keadaan anak didik supaya keadaan kepribadiannya menjadi lebih baik. Usaha tersebut tentu saja dengan melalui dengan pendidikan agama, nasehat-nasehat sehingga dapat mengarahkan kepribadian anak kearah perkembangan kepribadian yang baik
  • 7. sehingga anak akan menjadi anak yang sholeh dan sholekhah sesuai dengan harapan orang tua, guru Pendidikan Agama Islam dan guru lainnya serta masyarakat. Dalam UU No. 23 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). Pendidikan untuk anak usia dini (0-8 tahun) merupakan pendidikan yang memiliki karakteristik berbeda dengan anak usia lain, sehingga pendidikannya pun perlu dipandang sebagai sesuatu yang dikhususkan. Pendidikan anak usia dini di negara-negara maju mendapat perhatian yang luar biasa. Karena pada dasarnya pengembangan manusia akan lebih mudah dilakukan pada usia dini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa usia dini merupakan usia emas (golden age) yang hanya terjadi sekali selama kehidupan seorang manusia. Apabila usia dini tidak dimanfaatkan dengan menerapkan pendidikan dan penanaman nilai serta sikap yang baik tentunya kelak ketika ia dewasa nilai-nilai moral yang berkembang juga nilai-nilai moral yang kurang baik. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah investasi yang sangat mahal harganya bagi keluarga dan juga bangsa.Anak-anak merupakan generasi penerus keluarga sekaligus generasi penerus yang akan meneruskan estafet perjuangan para pendahulu kita. Betapa bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya ”berhasil”, baik dalam pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam berkarya untuk bangsa. 3. Pendekatan dan Metode Dalam Penanaman Nilai moral Kepada Anak Usia Dini Metode dan pendekatan seringkali digunakan secara bergantian, bahkan keduanya seringkali dikaburkan atau disamakan dalam penggunaannya. Keduanya sebenarnya memiliki
  • 8. sedikit perbedaan yang bisa dijadikan untuk memberikan penegasan bahwa kedua istilah tersebut memang berbeda. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta edisi III pendekatan memiliki arti hal (perbuatan, usaha) mendekati atau mendekatkan.[7] Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pendekatan setidaknya mengandung unsur sebagai suatu kegiatan yang meliputi: proses perjalanan waktu, upaya untuk mencapai sesuatu, dan dapat pula memiliki ciri sebagai sebuah jalan untuk melakukan sesuatu. Terkait dengan hal tersebut di atas, tepat kiranya sebagai pendidik ataupun orang tua memahami bahwa untuk menyampaikan sesuatu pesan pendidikan diperlukan pemahaman tentang bagaimana agar pesan itu dapat sampai dengan baik dan diterima dengan sempurna oleh anak didik. Untuk mencapai ketersampaian pesan kepada anak didik tentunya seorang pendidik atau orang tua harus memiliki atau pun memilih keterampilan untuk menggunakan pendekatan yang sesuai dengan pola pikir dan perkembangan psikologi anak. [1] Ahmad D.Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam. (Bandung : PT. Al Ma’arif, 1981), h.19 [2] Prof DR. Mastuhu, M.Ed, Memberdayaka sistem pendidikan Islam, Jakarta : PT Logos Wacana Ilmu, 1999, h 137 [3] P W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1976, h. 492 [4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h.59 [5] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h.63 [6] Departemen AgamaRI , Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT Intermasa, 1993), h.370 [7] W.J.S. Poerwadarminta Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi III (Jakarta, Balai Pustaka, 1976), h. 45