SlideShare ist ein Scribd-Unternehmen logo
1 von 7
Definisi al-Qardh
Secara umum pinjaman merupakan pengalihan hak milik harta atas harta.[1] dimana pengalihan
tersebut merupakan kaidah dari Qardh.
Pengertian Pinjaman Menurut Bahasa Arab
Qardh secara bahasa, bermakna Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang disodorkan kepada
orang yang berhutang disebut Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang
memberikan hutang.[2] Kemudian kata itu digunakan sebagai bahasa kiasan dalam keseharian yang
berarti pinjam meminjam antar sesama. Salah seorang penyair berkata,
“Sesungguhnya orang kaya bersaudara dengan orang kaya, kemudian mereka saling meminjamkan,
sedangkan orang miskin tidak memiliki saudara”[3]
Pengertian Pinjaman Menurut Hukum Syara’
Secara syar’i para ahli fiqh mendefinisikan Qardh[4]
1. Menurut pengikut Madzhab Hanafi , Ibn Abidin mengatakan bahwa suatu pinjaman adalah apa
yang dimiliki satu orang lalu diberikan kepada yang lain kemudian dikembalikan dalam
kepunyaannya dalam baik hati.
2. Menurut Madzhab Maliki mengatakan Qardh adalah Pembayaran dari sesuatu yang berharga
untuk pembayaran kembali tidak berbeda atau setimpal.
3. Menurut Madzhab Hanbali Qardh adalah pembayaran uang ke seseorang siapa yang akan
memperoleh manfaat dengan itu dan kembalian sesuai dengan padanannya.
4. Menurut Madzhab Syafi’i Qardh adalah Memindahkan kepemilikan sesuatu kepada seseorang,
disajikan ia perlu membayar kembali kepadanya.
Aspek Syariah Al-Qardh
Al-Qur’an
. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya
di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda
yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan.
(Al-Baqarah : 245)
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
(Al-Maidah : 2)
As-Sunnah
Dari Anas ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :[5]
“Pada malam peristiwa Isra’ aku melihat di pintu surga tertulis ‘shadaqoh (akan diganti) dengan 10
kali lipat, sedangkan Qardh dengan 18 kali lipat, aku berkata : “Wahai jibril, mengapa Qardh lebih
utama dari shadaqoh?’ ia menjawab “karena ketika meminta, peminta tersebut memiliki sesuatu,
sementara ketika berutang, orang tersebut tidak berutang kecuali karena kebutuhan”.
(HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abas bin Malik ra, Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan hadits
serupa dari Abu Umamah ra).
Ijma’
Secara ijma’ juga dinyatakan bahwa Qardh diperbolehkan.
Qardh bersifat mandub (dianjurkan) bagi muqridh (orang yang mengutangi) dan mubah bagi
muqtaridh (orang yang berutang)
Hal yang diperbolehkan pada Qardh
Madzhab Hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki kesepadanan, yaitu harta
yang perbedaan nilainya tidak meyolok, seperti barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian
yang memiliki ukuran serupa seperti kelapa, telur. Tidak diperbolehkan melakukan qardh atas harta
yang tidak memiliki kesepadanan, baik yang bernilai seperti binatang, kayu dan agrarian, dan harta
biji-bijian yang memiliki perbedaan menyolok, karena tidak mungkin mengembalikan dengan
semisalnya.[6]
Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, diperbolehkan melakukan qardh atas semua
harta yang bisa diperjualbelikan objek salam, baik ditakar, atau ditimbang, seperti emas, perak dan
makanan atau dari harta yang bernilai, seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya,
seperti harta-harta, biji-bijian.
Hukum Qardh
Hak kepemilikan dalam Qardh menurut Abu Hanifah dan Muhammad – berlaku melalui Qabdh
(penyerahan).
Jika seseorang berhutang satu mud gandum dan sudah terjadi qabdh, maka ia berhak menggunakan
dan mengembalikan dengan semisalnya meskipun muqridh meminta pengembalian gandum itu
sendiri, karena gandum itu bukan lagi miliki muqridh. Yang menjadi tanggung jawab muqtaridh
adalah gandum yang semisalnya dan bukan gandum yang telah diutangnya, meskipun Qardh itu
berlangsung.
Abu yusuf berkata : muqtaridh tidak memiliki harta yang menjadi objek Qardh selama Qardh itu
berlangsung.
Pinjaman yang baik[7]
Dilihat dari definisi diatas, maka pinjaman dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pinjaman seorang
hamba untuk Tuhan-Nya dan pinjaman seorang muslim untuk saudaranya.
a. Pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya
Yaitu apa yang diberikan oleh seorang muslim untuk membantu saudaranya tanpa mengharap
kembalinya barang tersebut karena semata-mata untuk mengharapkan balasan di akhirat nanti. Hal
ini mencakup infaq untuk berjihad, infaq untuk anak-anak yatim, infaq untuk orang-orang jompo,
dan infaq untuk orang-orang miskin. Jenis ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan kata ‘al-
qardh’, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT
“Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S Al-Baqarah : 244)
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya
di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda
yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan.”
(Q.S Al-Baqarah : 245)
Sebagaimana yang kita lihat ayat diatas, jelaslah bahwa pinjaman yang dimaksud disini berbeda
dengan apa yang sering kita lihat didalam kehidupan bermasyarakat, yang mana seseorang
meminjam dari temannya karena didorong oleh adanya suatu kebutuhan. Karena pinjaman yang
dimaksud dalam ayat ini sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT
b. Pinjaman seorang hamba untuk saudaranya
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan masalah ini.
Madzhab Abu Hanifah berkata, “Pinjaman yang diperbolehkan adalah sesuatu yang mempunyai
persamaan yang mungkin dapat digantikan dengan sesuatu yang seruoa, akan tetapi menyangkut
barang-barang bernilai seperti hewan, property, kayu bakar dan segala sesuatu yang tidak mungkin
ditemukan barang yang serupa dan persis dengannya waktu pengembalian barang pinjaman
tersebut, maka tidak boleh dipinjamkan. Karena menurut golongan ini, bahwa pinjam meminjam
dengan sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan yang serupa tidak diperbolehkan.
Madzhab Imam Malik menambahkan definisi ini dengan beberapa point berikut :
1. Hendaklah barang yang dipinjamkan mempunyai nilai jual, dengan begitu tidak dibenarkan
meminjamkan sepotong api.
2. Orang yang meminjam harus mengembalikan barang pinjamannya.
3. Pengembalian pinjaman hendaklah diberikan sesudah menerima pinjamannya.
4. Hendaklah orang yang memberikan pinjaman tersebut berniat untuk memberikan manfaat
kepada orang yang meminjam saja, dan tidak berniat untuk mendapatkan keuntungan pribadi
maupun untuk mendapatkan keuntungan bersama.
5. Tidak boleh meminjamkan alat fital seorang sahaya perempuan kepada seseorang untuk
dimanfaatkan
6. Hendaklah orang yang meminjam sesuatu harus menjamin bahwa ia akan mengembalikan
pinjamannya, sehingga dalam hal ini masjid dan madrasah tidak bisa dipinjamkan.
Setelah kita memberikan pinjaman kepada seseorang (saudaranya), hendaklah pinjaman tersebut
mengandung unsur kebaikan, begitu juga apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo.
Ber-ihsan dalam menagih hutang (Qardh), adakalanya dilakukan dengan menganggapnya lunas,
semua maupun sebagiannya, atau dengan mengundurkan waktu pembayaran tersebut yang telah
jatuh tempo, ataupun dengan mengurangi pelbagai persyaratan pembayaran yang telah
memberatkan. [8] Semua itu sangat dianjurkan, Sebagaimana dalam Sabda Nabi SAW :
“Rahmat Allah tercurah atas siapa-siapa yang’mudah’ dalam membeli, ‘mudah’ dalam menjual,
‘mudah dalam membayar dan ‘mudah’ dalam menagih”[9]
Rasulullah SAW, juga pernah menyebutkan tentang seorang laki-laki yang masa lalunya penuh
dengan perbuatan dosa, yang ketika dihisab, ternyata tidak memiliki cacatan amal kebaikan yang
pernah ia lakukan.
Maka ditanyakan kepadanya, “Apakah anda tidak pernah melakukan kebaikan apapun ? “Tidak,
“jawabnya. “Tetapi saya dahulu adalah seorang pemberi hutang, dan senantiasa mengingatkan
kepada para pegawai saya : ‘Perlakukanlah yang mampu diantara para penghutang dengan
perlakuan yang baik, dan undurkanlah waktu pembayaran bagi yang dalam kesusahan’. (Dalam versi
lain : ‘….dan maafkanlah (yakni anggaplah hutangnya lunas) bagi yang dalam kesusahan’). Lalu Allah
SWT pun menghapus dosa-dosanya dan mengampuninya.[10]
Seandainya semua masyarakat mengetahui hal demikian, tidak akan terjadi hal-hal yang dapat
mengakibatkan seseorang (pemilik harta) berbuat zhalim kepada orang yang membutuhkan
bantuan. Apalagi ditengah kondisi krisis sekarang ini. Dimana, kita sebagai orang yang memiliki
kelebihan harta hendaklah menolong saudara-saudara kita yang telah dilanda kesusahan dengan
memberikan bantuan berupa pinjaman yang ihsan, bahkan tidak sekadar itu dapat memberikan
Qardhul Hasan (menginfakkan, mensedeqahkan sebagaian hartanya tanpa mengaharapkan imbalan
seperserpun tetapi hanya mengharap ridha Allah SWT). Tetapi kalau hanya memikirkan kehidupan
duniawi manusia takluput akan kerakusan harta, yang diingat hanyalah berapa besar kelebihan dari
kembalian harta yang telah dipinjamkan.
Pinjaman Berbunga
Bahwa pinjaman yang berbunga adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’. Keharaman itu
meliputi segala macam bunga yang dijadikan syarat oleh orang yang memberi pinjaman kepada si
peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya.
Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. Oleh sebab itu, pinjaman semacam itu
diserupakan dengan bantuan keuangan. Seolah-olah orang yang meminjamkan uang itu, mengambil
kembali uang tersebut. Namun, yang diambil kembali bukan uang yang dipinjamkan, tetapi senilai
dengan uang tersebut. Berarti derajatnya sama dengan orang yang meminjami fasilitas uangnya
kemudian mengambil kembali uangnya.[11] Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang
diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir dimasa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik didunia maupun
diakhirat dari Allah SWT.
Jenis-jenis pinjaman yang mengandung riba[12]
1. Pinjaman Konsumtif
Pinjaman-pinjaman semacam ini dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan untuk
memenuhi kebutuhan pribadinya. Pinjaman jenis ini amat biasa di kalangan orang-orang miskin dan
menengah, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, seperti terjadi di Indonesia sejak
dilanda krisis multidimensi salah satu diantara krisis moneter, dimana terjadi kenaikan pada semua
harga barang, akibatnya masyarakat kesusahan untuk membutuhkan barang tersebut karena nilai
mata uang yang menurun disamping itu juga pendapatan masyarakat yang cenderung tidak
meningkat. Sebagian besar orang mengambil pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Oleh karena itu, sebagian besar dari pendapatan mereka diambil alih oleh pemilik modal dalam
bentuk bunga. Jutaan manusia di negara-negara yang sedang berkembang menggunakan seluruh
hidupnya untuk membayar utang yang diwariskan kepada mereka. Upah dan gaji mereka sangat
rendah sehingga setelah membayar bunga, sangat sedikit yang tersisa untuk menjadikan mereka
mampu mendapatkan satu dua piring makanan setiap hari.
Pembayaran angsuran bunga yang berat secara terus menerus ini telah merendahkan standard
kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka. Disamping itu, kecemasan yang terus menerus
rupanya mempengaruhi efisiensi kerja mereka yang pada akhirnya akan memperlemah
perekenomian negara mereka.
Selanjutnya, pembayaran bunga telah mengurangi (menurunkan) daya beli di kalangan mereka. Oleh
karena itu, industri yang memenuhi permintaan golongan miskin dan menengah akan memperoleh
kesan akan rendahnya permintaan pada kalangan tersebut. Dan secara berangsur-angsur tetapi
dengan pasti, hal ini akan menurunkan pembangunan industri serta menghambat kemajuan
masyarakat.
1. Pinjaman Produktif
Pinjaman ini dilakukan oleh para pedagang, industrialis dan para petani untuk tujuan-tujuan yang
produktif termasuk dalam kategori peminjam jenis ini. Kapitalis, dengan malapraktek mereka, telah
menimbulkan banyak kesengsaraan dengan memungut bunga dari para peminjam, begitu juga
terhadap masyarakat. Beberapa pengaruh buruk akibat sifat tamak mereka dinyatakan sebagai
berikut :
i. Sebagian besat modal masyarakat dibiarkan mandul dan tidak digunakan hanya karena dipegang
kalangan kapitalis yang mengharapkan kenaikan tingkat bunga. Bahkan meskipun banyak usaha-
usaha yang bermanfaat dan permintaan akan modal tinggi, dipasaran, kapitalis tidak akan
melepaskan modalnya begitu saja untuk memperoleh bunga yang lebih tinggi lagi.
ii. Sikap tamak untuk menaikkan bunga yang lebih tinggi yang menyebabkan tidak mengalirnya
modal ke tangan pedagang dan industri sesuai dengan sifat dan permintaan yang sesungguhnya.
Kaum kapitalis telah menarik dana meraka dari pasar modal dengan mengenakan bunga sesuai
dengan yang mereka inginkan.
iii. Malapraktek ini menambahkan jesan lebih buruj terhadap perputaran perdagangan yang sering
terjadi secara periodic di kalangan masyarakat kapitalis modern dan sangat mempengaruhi
kehancuran ekonomi.
iv. Modal tidak diinvestasikan pada berbagai usaha-usaha yang penting dan bermanfaat bagi
masyarakat tetap digunakan untuk usaha-usaha yang begitu menguntungkan masyarakat.
v. Pada umumnya kaum kapitalis memberikan pinjaman berjangka panjang untuk perdagangan dan
industri karena semakin tinggi keuntungan pada bisnis spekulatif dan mengaharpakan meningginya
bunga dimasa yang akan datang. Perilaku kapitalis semacam ini, yang diakibatkan dari adanya bunga,
merupakan hambatan dalam pembangunan industri, khususnya di negara-negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia.
Selain itu, bunga tetap untuk jangka panjang itu sendiri merupakan kejahatan besar yang kadang-
kadang, jika keuntungan usaha rendah, menghancurkan perusahaan yang bekerja dan berkembang
maju.
1. Pinjaman Pemerintah
Pinjaman pemerintah ada dua macam. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri dan pinjaman
yang diperoleh dari luar negeri itu sendiri.
i. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri. Pinjaman ini tidak seproduktif pinjaman untuk
mendirikan usaha-usaha seperti membangun seluruh air, jalan kereta api, membangun listrik tenaga
air dan sebagainya.
Dalam pinjaman tidak produktif, yang digunakan untuk keperliuan-keperluan mendesak, dan
keadaan-keadaan lain, seperti kelaparan, gempa bumi dan sebagainya, kedudukannya kurang lebih
sama dengan pinjaman perorangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sesungguhnya kedudukan
kapitalis dalam pinjaman semacam ini lebih buruk daripada memberikan pinjaman perorangan.
Kaum kapitalis seperti halnya orang yang tidak tahu bersyukur dan mementingkan dirinya sendiri
sehingga ia memungut bunga dari pemerintah, yang telah memberikan perlindungan kepadanya,
dan memberikan kesempatan kepadanya kedudukan yang mereka nikmati. Apabila moral tidak
digunakan untuk usaha-usaha yang dapat mendatangkan keuntungan tetapi digunakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat, maka ini sama halnya berguna bagi kaum kapitalis itu sendiri,
sehingga dasar untuk menarik bunga tidak dapat dianggap adil.
Keadaan akan menjadi lebih buruk dan tidak dapat dimaafkan apabila negara itu sedang berjuang
untuk mensejahterakan rakyatnya dan berjuang dalam memerangi musuhnya yang mengancam
kehidupan dan hak milik negara itu. Seluruh masyarkat mengorbankan harta dan hidupnya untuk
mempertahankan keberadaan bangsa, sebaliknya kaum kapitalis yang mementingkan individu
memungut uang berupa bunga, dari pinjaman. Mereka tidak bersedia memberikan sedikitpun dari
uang pungutan bunganya, sedangkan anggota masyarakat yang lain memberikan (mempertaruhkan)
kehidupan anak-anaknya, saudaranya, bahkan seluruh anggota keluarganya demi untuk melindungi
kehormatan dan negaranya.
Bagaimana dikatakan adil dan bijaksana dengan memberikan suapan kepada kaum kapitalis berupa
bunga, sedangkan masyarakat yang lainnya dalam keadaan menderita, sampai sekarang belum
terjawab oleh para pelopor teori ini. karena dari praktik bunga mendatangkan kejahatan diantaranya
; pertama, keberadaan suku bunga yang tinggi dapat menghancurkan dorongan untuk melakukan
investasi. [13] Karena itu tingkat investasi akan menurun dan pada gilirannya tingkat lapangan
pekerjaan dan national income (pendapatan nasional) akan mengalami penurunan. Akibat
menurunnya jumlah pendapatan keseluruhan maka akan berdampak terhadap konsumsi, dan
kemungkinan juga mengalami penurunan.
Kedua, sesungguhnya konsep bunga beroperasi dengan suatu cara yang lebih kompleks sehingga
dapat mengacaukan kondisi perekonomian.[14] Bagi orang yang memiliki uang akan
menginvestasikan atau mendepositokan uang tersebut, baik dideposito di bank-bank, investasi
dipasar modal dan lain sebagainya. Orientasi deposito dan investasi tersebut bersifat spekulatif
artinya hanya mengharapkan keuntungan belaka tanpa adanya risiko yang akan ditanggung sehingga
mendapatkan return (tambahan) yang tinggi karena hal ini bersifat mutlak dan pasti akan terjadi.
Semua beban bunga bunga baik itu pinjaman produktif maupun yang tidak produktif (konsumtif)
akan ditanggap oleh golongan pembayar pajak yang miskin baik itu melalui pembayaran pajak secara
langsung maupun tidak langsung. Terdapat jutaan rakyat yang menderita kemiskinan yang tidak
mampu untuk memenuhi bahkan kehidupan pokok hidupnya tetapi harus membayar beban bunga
kepada kaum kapitalis.
ii. Pinjaman Pemerintah dari luar. Pinjaman ini mempunyai keburukan baik yang dimiliki pada
keburukan pinjaman perorangan maupun pinjaman nasional, baik pinjaman ini digunakan untuk
usaha-usaha yang produktif maupun usaha yang tidak produktif atau konsumtif.
Disamping itu, pinjaman ini mempunyai aspek lain yang penting dan berbahaya. Pinjaman ini dapat
menghancurkan perekonomian dalam negeri dan juga dapat menimbulkan pertikaian dunia
internasional. Beban utang yang amat berat tidak jarang bukan saja benih kebencian dan rasa
dendam antar bangsa yang sering kali berakibat peperangan.
Utang luar negeri juga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan bangsa yang baru saja
merdeka, yang belum cukup kuat secara financial dan politis untuk berdiri diatas kaki sendiri. karena
adanya konsep bunga yang diterapkan sehingga dapat menghancurkan kekayaan nasional. Hal ini
sering di alami negara-negara kapitalis dimana para produsen harus memusnahkan barang-barang
yang sudah jadi dalam jumlah yang besar untuk menyelamatkan harga agar tidak jatuh di bawah
harga produksi marginal.[15] Ini jelas merupakan kerugian nasional, dimana jutaan orang
kekeurangan makanan dan keperluan-keperluan lainnya disebabkan kekurangan daya beli,
sebenarnya hal itu dapat dihindari dengan penghapusan bunga.

Weitere ähnliche Inhalte

Was ist angesagt?

Was ist angesagt? (20)

Fiqh Muamalah - Pinjam Meminjam ('Ariyah)
Fiqh Muamalah - Pinjam Meminjam ('Ariyah)Fiqh Muamalah - Pinjam Meminjam ('Ariyah)
Fiqh Muamalah - Pinjam Meminjam ('Ariyah)
 
Akad Wadhiah dan Ariyah
Akad Wadhiah dan Ariyah Akad Wadhiah dan Ariyah
Akad Wadhiah dan Ariyah
 
Ar rahn
Ar rahnAr rahn
Ar rahn
 
Fiqh - Muamalah
Fiqh - MuamalahFiqh - Muamalah
Fiqh - Muamalah
 
Hutang Piutang fiqh muamalah
Hutang Piutang fiqh muamalahHutang Piutang fiqh muamalah
Hutang Piutang fiqh muamalah
 
Utang Piutang
Utang PiutangUtang Piutang
Utang Piutang
 
Ekonomi syariah tentang riba
Ekonomi syariah tentang ribaEkonomi syariah tentang riba
Ekonomi syariah tentang riba
 
simpan pinjam dalam Islam (Ariyah)
simpan pinjam dalam Islam (Ariyah)simpan pinjam dalam Islam (Ariyah)
simpan pinjam dalam Islam (Ariyah)
 
Makalah tentang ar rahn
Makalah tentang ar rahnMakalah tentang ar rahn
Makalah tentang ar rahn
 
Kafalah , rahn, wakalah
Kafalah , rahn, wakalahKafalah , rahn, wakalah
Kafalah , rahn, wakalah
 
Fiqh Muamalah Akad kafalah
Fiqh Muamalah Akad kafalahFiqh Muamalah Akad kafalah
Fiqh Muamalah Akad kafalah
 
Hukum Utang (ad-Dain) dan Pinjaman (al-Qardh) .PPT
Hukum Utang (ad-Dain) dan Pinjaman (al-Qardh) .PPTHukum Utang (ad-Dain) dan Pinjaman (al-Qardh) .PPT
Hukum Utang (ad-Dain) dan Pinjaman (al-Qardh) .PPT
 
Kel.9 al wakalah
Kel.9 al wakalahKel.9 al wakalah
Kel.9 al wakalah
 
Kel.10 al kafalah
Kel.10 al  kafalahKel.10 al  kafalah
Kel.10 al kafalah
 
Fikih kelas x semester ii
Fikih kelas x semester iiFikih kelas x semester ii
Fikih kelas x semester ii
 
MAKALAH KAFALAH
MAKALAH KAFALAHMAKALAH KAFALAH
MAKALAH KAFALAH
 
Rangkuman Fiqh Muamalah
Rangkuman Fiqh MuamalahRangkuman Fiqh Muamalah
Rangkuman Fiqh Muamalah
 
Skema kafalah
Skema kafalahSkema kafalah
Skema kafalah
 
fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)
fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)
fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)
 
06.2 HUKUM UTANG & PINJAMAN
06.2 HUKUM UTANG & PINJAMAN06.2 HUKUM UTANG & PINJAMAN
06.2 HUKUM UTANG & PINJAMAN
 

Ähnlich wie Qardh dalam islam

Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)aldibadul
 
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)Bima Ridwan
 
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)Agung Anggoro
 
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptx
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptxRIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptx
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptxMikaMee
 
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdf
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdfAAD Fiqh Utang (2) SS.pdf
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdfDjula1
 
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptx
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptxMAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptx
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptxRAYENSENJA
 
Wakalah, Sulhu, Daman, Kafalah
Wakalah, Sulhu, Daman, KafalahWakalah, Sulhu, Daman, Kafalah
Wakalah, Sulhu, Daman, Kafalahvinaidamatusilmi
 
ppt fmuamalah.pdf
ppt fmuamalah.pdfppt fmuamalah.pdf
ppt fmuamalah.pdfEkisUnu
 
Kel.13 ar rahn
Kel.13 ar rahnKel.13 ar rahn
Kel.13 ar rahnMulyanah
 
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAH
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAHTEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAH
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAHabdou hamadah
 

Ähnlich wie Qardh dalam islam (20)

Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)
 
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)
Makalah Pinjam Meminjam (Qiradh)
 
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)
Islam dalam mengatur transaksi utang piutang dan angsuran (kredit)
 
Makalah pegadaian
Makalah pegadaianMakalah pegadaian
Makalah pegadaian
 
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptx
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptxRIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptx
RIBA DAN HUTANG PIUTAN.pptx
 
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdf
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdfAAD Fiqh Utang (2) SS.pdf
AAD Fiqh Utang (2) SS.pdf
 
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptx
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptxMAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptx
MAKALAH FIQIH MUAMALAH.pptx
 
Makalah pegadaian
Makalah pegadaianMakalah pegadaian
Makalah pegadaian
 
A
AA
A
 
Wakalah, Sulhu, Daman, Kafalah
Wakalah, Sulhu, Daman, KafalahWakalah, Sulhu, Daman, Kafalah
Wakalah, Sulhu, Daman, Kafalah
 
Materi bab 9
Materi bab 9Materi bab 9
Materi bab 9
 
ppt fmuamalah.pdf
ppt fmuamalah.pdfppt fmuamalah.pdf
ppt fmuamalah.pdf
 
RAHN (Pegadaian Syariah)
RAHN (Pegadaian Syariah)RAHN (Pegadaian Syariah)
RAHN (Pegadaian Syariah)
 
Makalah
MakalahMakalah
Makalah
 
Kel.13 ar rahn
Kel.13 ar rahnKel.13 ar rahn
Kel.13 ar rahn
 
Praktik ekonomi dalam islam
Praktik ekonomi dalam islamPraktik ekonomi dalam islam
Praktik ekonomi dalam islam
 
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAH
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAHTEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAH
TEORI RIBA DAN PERMASALAHANNYA DALAM FIQIH MUAMALAH
 
94262893 makalah-fiqih-muamalat
94262893 makalah-fiqih-muamalat94262893 makalah-fiqih-muamalat
94262893 makalah-fiqih-muamalat
 
94262893 makalah-fiqih-muamalat
94262893 makalah-fiqih-muamalat94262893 makalah-fiqih-muamalat
94262893 makalah-fiqih-muamalat
 
Ppt muamalah
Ppt muamalah Ppt muamalah
Ppt muamalah
 

Qardh dalam islam

  • 1. Definisi al-Qardh Secara umum pinjaman merupakan pengalihan hak milik harta atas harta.[1] dimana pengalihan tersebut merupakan kaidah dari Qardh. Pengertian Pinjaman Menurut Bahasa Arab Qardh secara bahasa, bermakna Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang disodorkan kepada orang yang berhutang disebut Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang.[2] Kemudian kata itu digunakan sebagai bahasa kiasan dalam keseharian yang berarti pinjam meminjam antar sesama. Salah seorang penyair berkata, “Sesungguhnya orang kaya bersaudara dengan orang kaya, kemudian mereka saling meminjamkan, sedangkan orang miskin tidak memiliki saudara”[3] Pengertian Pinjaman Menurut Hukum Syara’ Secara syar’i para ahli fiqh mendefinisikan Qardh[4] 1. Menurut pengikut Madzhab Hanafi , Ibn Abidin mengatakan bahwa suatu pinjaman adalah apa yang dimiliki satu orang lalu diberikan kepada yang lain kemudian dikembalikan dalam kepunyaannya dalam baik hati. 2. Menurut Madzhab Maliki mengatakan Qardh adalah Pembayaran dari sesuatu yang berharga untuk pembayaran kembali tidak berbeda atau setimpal. 3. Menurut Madzhab Hanbali Qardh adalah pembayaran uang ke seseorang siapa yang akan memperoleh manfaat dengan itu dan kembalian sesuai dengan padanannya. 4. Menurut Madzhab Syafi’i Qardh adalah Memindahkan kepemilikan sesuatu kepada seseorang, disajikan ia perlu membayar kembali kepadanya. Aspek Syariah Al-Qardh Al-Qur’an . Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Al-Baqarah : 245) Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al-Maidah : 2) As-Sunnah
  • 2. Dari Anas ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :[5] “Pada malam peristiwa Isra’ aku melihat di pintu surga tertulis ‘shadaqoh (akan diganti) dengan 10 kali lipat, sedangkan Qardh dengan 18 kali lipat, aku berkata : “Wahai jibril, mengapa Qardh lebih utama dari shadaqoh?’ ia menjawab “karena ketika meminta, peminta tersebut memiliki sesuatu, sementara ketika berutang, orang tersebut tidak berutang kecuali karena kebutuhan”. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abas bin Malik ra, Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan hadits serupa dari Abu Umamah ra). Ijma’ Secara ijma’ juga dinyatakan bahwa Qardh diperbolehkan. Qardh bersifat mandub (dianjurkan) bagi muqridh (orang yang mengutangi) dan mubah bagi muqtaridh (orang yang berutang) Hal yang diperbolehkan pada Qardh Madzhab Hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki kesepadanan, yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak meyolok, seperti barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian yang memiliki ukuran serupa seperti kelapa, telur. Tidak diperbolehkan melakukan qardh atas harta yang tidak memiliki kesepadanan, baik yang bernilai seperti binatang, kayu dan agrarian, dan harta biji-bijian yang memiliki perbedaan menyolok, karena tidak mungkin mengembalikan dengan semisalnya.[6] Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, diperbolehkan melakukan qardh atas semua harta yang bisa diperjualbelikan objek salam, baik ditakar, atau ditimbang, seperti emas, perak dan makanan atau dari harta yang bernilai, seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya, seperti harta-harta, biji-bijian. Hukum Qardh Hak kepemilikan dalam Qardh menurut Abu Hanifah dan Muhammad – berlaku melalui Qabdh (penyerahan). Jika seseorang berhutang satu mud gandum dan sudah terjadi qabdh, maka ia berhak menggunakan dan mengembalikan dengan semisalnya meskipun muqridh meminta pengembalian gandum itu sendiri, karena gandum itu bukan lagi miliki muqridh. Yang menjadi tanggung jawab muqtaridh adalah gandum yang semisalnya dan bukan gandum yang telah diutangnya, meskipun Qardh itu berlangsung. Abu yusuf berkata : muqtaridh tidak memiliki harta yang menjadi objek Qardh selama Qardh itu berlangsung. Pinjaman yang baik[7] Dilihat dari definisi diatas, maka pinjaman dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya dan pinjaman seorang muslim untuk saudaranya.
  • 3. a. Pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya Yaitu apa yang diberikan oleh seorang muslim untuk membantu saudaranya tanpa mengharap kembalinya barang tersebut karena semata-mata untuk mengharapkan balasan di akhirat nanti. Hal ini mencakup infaq untuk berjihad, infaq untuk anak-anak yatim, infaq untuk orang-orang jompo, dan infaq untuk orang-orang miskin. Jenis ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan kata ‘al- qardh’, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT “Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah : 244) “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Q.S Al-Baqarah : 245) Sebagaimana yang kita lihat ayat diatas, jelaslah bahwa pinjaman yang dimaksud disini berbeda dengan apa yang sering kita lihat didalam kehidupan bermasyarakat, yang mana seseorang meminjam dari temannya karena didorong oleh adanya suatu kebutuhan. Karena pinjaman yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT b. Pinjaman seorang hamba untuk saudaranya Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan masalah ini. Madzhab Abu Hanifah berkata, “Pinjaman yang diperbolehkan adalah sesuatu yang mempunyai persamaan yang mungkin dapat digantikan dengan sesuatu yang seruoa, akan tetapi menyangkut barang-barang bernilai seperti hewan, property, kayu bakar dan segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan barang yang serupa dan persis dengannya waktu pengembalian barang pinjaman tersebut, maka tidak boleh dipinjamkan. Karena menurut golongan ini, bahwa pinjam meminjam dengan sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan yang serupa tidak diperbolehkan. Madzhab Imam Malik menambahkan definisi ini dengan beberapa point berikut : 1. Hendaklah barang yang dipinjamkan mempunyai nilai jual, dengan begitu tidak dibenarkan meminjamkan sepotong api. 2. Orang yang meminjam harus mengembalikan barang pinjamannya. 3. Pengembalian pinjaman hendaklah diberikan sesudah menerima pinjamannya. 4. Hendaklah orang yang memberikan pinjaman tersebut berniat untuk memberikan manfaat kepada orang yang meminjam saja, dan tidak berniat untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun untuk mendapatkan keuntungan bersama.
  • 4. 5. Tidak boleh meminjamkan alat fital seorang sahaya perempuan kepada seseorang untuk dimanfaatkan 6. Hendaklah orang yang meminjam sesuatu harus menjamin bahwa ia akan mengembalikan pinjamannya, sehingga dalam hal ini masjid dan madrasah tidak bisa dipinjamkan. Setelah kita memberikan pinjaman kepada seseorang (saudaranya), hendaklah pinjaman tersebut mengandung unsur kebaikan, begitu juga apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo. Ber-ihsan dalam menagih hutang (Qardh), adakalanya dilakukan dengan menganggapnya lunas, semua maupun sebagiannya, atau dengan mengundurkan waktu pembayaran tersebut yang telah jatuh tempo, ataupun dengan mengurangi pelbagai persyaratan pembayaran yang telah memberatkan. [8] Semua itu sangat dianjurkan, Sebagaimana dalam Sabda Nabi SAW : “Rahmat Allah tercurah atas siapa-siapa yang’mudah’ dalam membeli, ‘mudah’ dalam menjual, ‘mudah dalam membayar dan ‘mudah’ dalam menagih”[9] Rasulullah SAW, juga pernah menyebutkan tentang seorang laki-laki yang masa lalunya penuh dengan perbuatan dosa, yang ketika dihisab, ternyata tidak memiliki cacatan amal kebaikan yang pernah ia lakukan. Maka ditanyakan kepadanya, “Apakah anda tidak pernah melakukan kebaikan apapun ? “Tidak, “jawabnya. “Tetapi saya dahulu adalah seorang pemberi hutang, dan senantiasa mengingatkan kepada para pegawai saya : ‘Perlakukanlah yang mampu diantara para penghutang dengan perlakuan yang baik, dan undurkanlah waktu pembayaran bagi yang dalam kesusahan’. (Dalam versi lain : ‘….dan maafkanlah (yakni anggaplah hutangnya lunas) bagi yang dalam kesusahan’). Lalu Allah SWT pun menghapus dosa-dosanya dan mengampuninya.[10] Seandainya semua masyarakat mengetahui hal demikian, tidak akan terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan seseorang (pemilik harta) berbuat zhalim kepada orang yang membutuhkan bantuan. Apalagi ditengah kondisi krisis sekarang ini. Dimana, kita sebagai orang yang memiliki kelebihan harta hendaklah menolong saudara-saudara kita yang telah dilanda kesusahan dengan memberikan bantuan berupa pinjaman yang ihsan, bahkan tidak sekadar itu dapat memberikan Qardhul Hasan (menginfakkan, mensedeqahkan sebagaian hartanya tanpa mengaharapkan imbalan seperserpun tetapi hanya mengharap ridha Allah SWT). Tetapi kalau hanya memikirkan kehidupan duniawi manusia takluput akan kerakusan harta, yang diingat hanyalah berapa besar kelebihan dari kembalian harta yang telah dipinjamkan. Pinjaman Berbunga Bahwa pinjaman yang berbunga adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’. Keharaman itu meliputi segala macam bunga yang dijadikan syarat oleh orang yang memberi pinjaman kepada si peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. Oleh sebab itu, pinjaman semacam itu diserupakan dengan bantuan keuangan. Seolah-olah orang yang meminjamkan uang itu, mengambil kembali uang tersebut. Namun, yang diambil kembali bukan uang yang dipinjamkan, tetapi senilai dengan uang tersebut. Berarti derajatnya sama dengan orang yang meminjami fasilitas uangnya kemudian mengambil kembali uangnya.[11] Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang
  • 5. diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir dimasa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik didunia maupun diakhirat dari Allah SWT. Jenis-jenis pinjaman yang mengandung riba[12] 1. Pinjaman Konsumtif Pinjaman-pinjaman semacam ini dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Pinjaman jenis ini amat biasa di kalangan orang-orang miskin dan menengah, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, seperti terjadi di Indonesia sejak dilanda krisis multidimensi salah satu diantara krisis moneter, dimana terjadi kenaikan pada semua harga barang, akibatnya masyarakat kesusahan untuk membutuhkan barang tersebut karena nilai mata uang yang menurun disamping itu juga pendapatan masyarakat yang cenderung tidak meningkat. Sebagian besar orang mengambil pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagian besar dari pendapatan mereka diambil alih oleh pemilik modal dalam bentuk bunga. Jutaan manusia di negara-negara yang sedang berkembang menggunakan seluruh hidupnya untuk membayar utang yang diwariskan kepada mereka. Upah dan gaji mereka sangat rendah sehingga setelah membayar bunga, sangat sedikit yang tersisa untuk menjadikan mereka mampu mendapatkan satu dua piring makanan setiap hari. Pembayaran angsuran bunga yang berat secara terus menerus ini telah merendahkan standard kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka. Disamping itu, kecemasan yang terus menerus rupanya mempengaruhi efisiensi kerja mereka yang pada akhirnya akan memperlemah perekenomian negara mereka. Selanjutnya, pembayaran bunga telah mengurangi (menurunkan) daya beli di kalangan mereka. Oleh karena itu, industri yang memenuhi permintaan golongan miskin dan menengah akan memperoleh kesan akan rendahnya permintaan pada kalangan tersebut. Dan secara berangsur-angsur tetapi dengan pasti, hal ini akan menurunkan pembangunan industri serta menghambat kemajuan masyarakat. 1. Pinjaman Produktif Pinjaman ini dilakukan oleh para pedagang, industrialis dan para petani untuk tujuan-tujuan yang produktif termasuk dalam kategori peminjam jenis ini. Kapitalis, dengan malapraktek mereka, telah menimbulkan banyak kesengsaraan dengan memungut bunga dari para peminjam, begitu juga terhadap masyarakat. Beberapa pengaruh buruk akibat sifat tamak mereka dinyatakan sebagai berikut : i. Sebagian besat modal masyarakat dibiarkan mandul dan tidak digunakan hanya karena dipegang kalangan kapitalis yang mengharapkan kenaikan tingkat bunga. Bahkan meskipun banyak usaha- usaha yang bermanfaat dan permintaan akan modal tinggi, dipasaran, kapitalis tidak akan melepaskan modalnya begitu saja untuk memperoleh bunga yang lebih tinggi lagi. ii. Sikap tamak untuk menaikkan bunga yang lebih tinggi yang menyebabkan tidak mengalirnya modal ke tangan pedagang dan industri sesuai dengan sifat dan permintaan yang sesungguhnya.
  • 6. Kaum kapitalis telah menarik dana meraka dari pasar modal dengan mengenakan bunga sesuai dengan yang mereka inginkan. iii. Malapraktek ini menambahkan jesan lebih buruj terhadap perputaran perdagangan yang sering terjadi secara periodic di kalangan masyarakat kapitalis modern dan sangat mempengaruhi kehancuran ekonomi. iv. Modal tidak diinvestasikan pada berbagai usaha-usaha yang penting dan bermanfaat bagi masyarakat tetap digunakan untuk usaha-usaha yang begitu menguntungkan masyarakat. v. Pada umumnya kaum kapitalis memberikan pinjaman berjangka panjang untuk perdagangan dan industri karena semakin tinggi keuntungan pada bisnis spekulatif dan mengaharpakan meningginya bunga dimasa yang akan datang. Perilaku kapitalis semacam ini, yang diakibatkan dari adanya bunga, merupakan hambatan dalam pembangunan industri, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Selain itu, bunga tetap untuk jangka panjang itu sendiri merupakan kejahatan besar yang kadang- kadang, jika keuntungan usaha rendah, menghancurkan perusahaan yang bekerja dan berkembang maju. 1. Pinjaman Pemerintah Pinjaman pemerintah ada dua macam. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri dan pinjaman yang diperoleh dari luar negeri itu sendiri. i. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri. Pinjaman ini tidak seproduktif pinjaman untuk mendirikan usaha-usaha seperti membangun seluruh air, jalan kereta api, membangun listrik tenaga air dan sebagainya. Dalam pinjaman tidak produktif, yang digunakan untuk keperliuan-keperluan mendesak, dan keadaan-keadaan lain, seperti kelaparan, gempa bumi dan sebagainya, kedudukannya kurang lebih sama dengan pinjaman perorangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sesungguhnya kedudukan kapitalis dalam pinjaman semacam ini lebih buruk daripada memberikan pinjaman perorangan. Kaum kapitalis seperti halnya orang yang tidak tahu bersyukur dan mementingkan dirinya sendiri sehingga ia memungut bunga dari pemerintah, yang telah memberikan perlindungan kepadanya, dan memberikan kesempatan kepadanya kedudukan yang mereka nikmati. Apabila moral tidak digunakan untuk usaha-usaha yang dapat mendatangkan keuntungan tetapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, maka ini sama halnya berguna bagi kaum kapitalis itu sendiri, sehingga dasar untuk menarik bunga tidak dapat dianggap adil. Keadaan akan menjadi lebih buruk dan tidak dapat dimaafkan apabila negara itu sedang berjuang untuk mensejahterakan rakyatnya dan berjuang dalam memerangi musuhnya yang mengancam kehidupan dan hak milik negara itu. Seluruh masyarkat mengorbankan harta dan hidupnya untuk mempertahankan keberadaan bangsa, sebaliknya kaum kapitalis yang mementingkan individu memungut uang berupa bunga, dari pinjaman. Mereka tidak bersedia memberikan sedikitpun dari uang pungutan bunganya, sedangkan anggota masyarakat yang lain memberikan (mempertaruhkan)
  • 7. kehidupan anak-anaknya, saudaranya, bahkan seluruh anggota keluarganya demi untuk melindungi kehormatan dan negaranya. Bagaimana dikatakan adil dan bijaksana dengan memberikan suapan kepada kaum kapitalis berupa bunga, sedangkan masyarakat yang lainnya dalam keadaan menderita, sampai sekarang belum terjawab oleh para pelopor teori ini. karena dari praktik bunga mendatangkan kejahatan diantaranya ; pertama, keberadaan suku bunga yang tinggi dapat menghancurkan dorongan untuk melakukan investasi. [13] Karena itu tingkat investasi akan menurun dan pada gilirannya tingkat lapangan pekerjaan dan national income (pendapatan nasional) akan mengalami penurunan. Akibat menurunnya jumlah pendapatan keseluruhan maka akan berdampak terhadap konsumsi, dan kemungkinan juga mengalami penurunan. Kedua, sesungguhnya konsep bunga beroperasi dengan suatu cara yang lebih kompleks sehingga dapat mengacaukan kondisi perekonomian.[14] Bagi orang yang memiliki uang akan menginvestasikan atau mendepositokan uang tersebut, baik dideposito di bank-bank, investasi dipasar modal dan lain sebagainya. Orientasi deposito dan investasi tersebut bersifat spekulatif artinya hanya mengharapkan keuntungan belaka tanpa adanya risiko yang akan ditanggung sehingga mendapatkan return (tambahan) yang tinggi karena hal ini bersifat mutlak dan pasti akan terjadi. Semua beban bunga bunga baik itu pinjaman produktif maupun yang tidak produktif (konsumtif) akan ditanggap oleh golongan pembayar pajak yang miskin baik itu melalui pembayaran pajak secara langsung maupun tidak langsung. Terdapat jutaan rakyat yang menderita kemiskinan yang tidak mampu untuk memenuhi bahkan kehidupan pokok hidupnya tetapi harus membayar beban bunga kepada kaum kapitalis. ii. Pinjaman Pemerintah dari luar. Pinjaman ini mempunyai keburukan baik yang dimiliki pada keburukan pinjaman perorangan maupun pinjaman nasional, baik pinjaman ini digunakan untuk usaha-usaha yang produktif maupun usaha yang tidak produktif atau konsumtif. Disamping itu, pinjaman ini mempunyai aspek lain yang penting dan berbahaya. Pinjaman ini dapat menghancurkan perekonomian dalam negeri dan juga dapat menimbulkan pertikaian dunia internasional. Beban utang yang amat berat tidak jarang bukan saja benih kebencian dan rasa dendam antar bangsa yang sering kali berakibat peperangan. Utang luar negeri juga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan bangsa yang baru saja merdeka, yang belum cukup kuat secara financial dan politis untuk berdiri diatas kaki sendiri. karena adanya konsep bunga yang diterapkan sehingga dapat menghancurkan kekayaan nasional. Hal ini sering di alami negara-negara kapitalis dimana para produsen harus memusnahkan barang-barang yang sudah jadi dalam jumlah yang besar untuk menyelamatkan harga agar tidak jatuh di bawah harga produksi marginal.[15] Ini jelas merupakan kerugian nasional, dimana jutaan orang kekeurangan makanan dan keperluan-keperluan lainnya disebabkan kekurangan daya beli, sebenarnya hal itu dapat dihindari dengan penghapusan bunga.