Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.

Telaah kurikulum kimia

2.493 Aufrufe

Veröffentlicht am

Telaah kurikulum kimia

Veröffentlicht in: Bildung
  • Als Erste(r) kommentieren

  • Gehören Sie zu den Ersten, denen das gefällt!

Telaah kurikulum kimia

  1. 1. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 1 KEGIATAN BELAJAR 1 PENGERTIAN, FUNGSI, DAN KOMPONEN KURIKULUM A. PENGERTIAN KURIKULUM Ada banyak pengertian kurikulum tergantung dari sisi mana memandangnya. Namun, istilah kurikulum (curriculum) pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh mendali atau penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pembelajaran untuk mempeoleh ijazah. Dari rumusan pengertian kurikulum tersebut terkandung dua hal pokok, yaitu (1) adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa (2) tujuan utamanya, yaitu untuk memperoleh ijazah. Implikasi pengertian tersebutterhadap praktik pengajaran adalah bahwa untuk memperoleh ijazah atau sertifikat setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat penting dan menentukan. Keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa jauh mata pelajaran tersebut dikuasai dan biasanya disimbolkan dengan skor yang diperoleh setelah mengikuti suatu tes atau ujian. Pengertian kurikulum tersebut dianggap pengertian yang sempit atau sederhana. Jika Anda mempelajari buku-buku atau literatur lainnya tentang kurikulum yang berkembang saat ini, terutama yang berkembang di negara-negara maju maka Anda menemukan banyak pengertian yang lebih luas dan beragam. Kurikulum tidak terbatas hanya pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Bahkan Haroid B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa dibawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the school). Kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas saja, tetapi mencakup juga kegiatan-kegiatab yang dilakukan oleh siswa di luar kelas. Pendapat yang senada dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah,
  2. 2. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 2 maupun di luar sekolah (the curiculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the classroom, on the playground, or out of school). Banyak alhi pendidikan yang mmiliki pandangan atau tafsiran yang beragam, bahkan ada di antaranya yang sangat kontradiktif sehingga hal ini menyebabkan sulitnya mengambil suatu pengertian yang mewakili pandangan-pandangan tersebut. Selain itu, pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Sementara ini, untuk mengatasi masalah tersebut, ada usaha-usaha yang dilakukan dengan jalan mengklasifikasikan konsep- konsep kurikulum ke dalam beberapa segi atau dimensi. Misalnya, ada yang mengklasifikasiannya berdasarkan pandangan lama dan pandangan kemudian. Pandangan lama menganggap kurikulum sebagai kumpulan dari mata pelajaran atau bahan ajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari siswa, sedangkan pandangan yang kemudian lebih menekankan pada pengalaman belajar. Selain itu ada yang mengklasifikasikan konsep-konsep kurikulum berdasarkan pandangan tradisional dan pandangan modern. Pandangan tradisional menganggap kurikulum tidak lebih dari sekedar rencana pembelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran apa saja yang harus ditempuh siswa di suatu sekolah, itulah kurikulum, sedangkan pandangan modern menganggap kurikulum sekedar rencana pelajaran. Kurikulum dianggap sebagai sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Dengan beragamnya pendapat mengenai pengertian kurikulum tersebut maka secara teoretis kita agak sulit menentukan satu pengertian yang dapat merangkum semua pendapat. Menurut Hamid Hasan (988), sebenarnya kurikulum bukanlah merupakan sesuatu yang tunggal. Istilah kurikulum menunjukkan berbagai dimensi pengertian. Ia menunjukkan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, di mana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut adalah sebagai berikut. 1. Kurikulum sebagai suatu ide 2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide 3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis
  3. 3. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 3 4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan. Apabila Anda ingin lebih mudah memahami keterkaitan keempat dimensi pengertian kurikulum tersebut, perhatikan Gambar 1.1 berikut. Gambar 1.1 Dimensi kurikulum Pandangan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan atau persekolahan di negara kita, kurikulum adalah suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum yang tertera dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar”. Rencana atau pengaturan tersebut dituangkan dalam kurikulum tertulis yang disebut Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP). GBPP tersebut memuat komponen-komponen minimal yang mencakup tujuan yang ingin dicapai, konten atau materi yang akan disampaikan, strategi pembelajaran yang dapat dilakukan, dan evaluasi, bahkan tercakup pula distribusi materi dalam setiap semester atau caturwulan, media pembelajaran, dan sumber-sumber rujukannya. IDE RENCANA TERTULIS IMPLEMENTASI HASIL Ideal/Potensial Curriculum Hindden Curriculum Actual/Real Curriculum PBM
  4. 4. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 4 B. PERANAN DAN FUNGSI KURIKULUM Pada bagian pendahuluan modul ini sudah diungkapkan bahwa peranan kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah sangatlah strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkan kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Apabila dirinci secara lebih mendetail peranan kurikulum sangat penting dalam mencapai tujuan- tujuan pendidikan, paling tidak terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif (Hamalik, 1990). 1. Peranan Konservatif Peranan konservatif menaekankan bahwa kurikulum dapat di jadikan sebagai sarana untuk mentransmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam hal ini para siswa. Dengan demikian, peranan konservatif ini pada hakikatnya menempatka kurikulum yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosial. Salah satu tugas pendidikan, yaitu mempengaruhi dan membina pelaku siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial yang hidup di lingkungan masyarakatnya. 2. Peranan Kreatif Perkembangan ilmu pengetahuan dan aspek-aspek lainnya senantiasa terjadi setiap saat. Peranan kreatif menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setia siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan- kemampuan baru, serta cara berfikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya. 3. Peranan Kritis dan Evaluatif Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalan masyarakat senantiasa mengalami perubahan sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan
  5. 5. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 5 dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru yang terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam kontrol atau filter sosial. Nilai- nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan-penyempurnaan. Ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang menyebabkan peranan kurikulum pendidikan menjadi tidak optimal. Menyelaraskan ketiga peranan kurikulum tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan, diantaranya pihak guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat. Dengan demikian, pihak-pihak yang terkait tersebut idealnya dapat memahami betul apa yang menjadi tujuan dan isi dari kurikulum yang diterapkan sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Sebelum diuraikan lebih jauh, coba Anda pikirkan atau diskusikan apa sebenarnya fungsi kurikulum bagi guru, siswa, kepala sekolah/pengawas, orang tua, dan masyarakat. Jika sudah, perhatikan uraian berikut, kemusian diskusikan dan kembangkan lagi fungsi-fungsi kurikulum tersebut, terutama bagaimana cara untuk mengimplementasikannya di sekolah. Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Bagi kepala sekolah dan pengawas, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan suvpervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa sendiri, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa, dalam literatur lain, Alexsander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan fungsi kurikulum sebagai berikut.
  6. 6. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 6 1. Fungsi penyesuaian (the adjustive or adaptive function) 2. Fungsi integritas (the integrating function) 3. Funsi deferensiasi (the differentiating function) 4. Fungsi persiapan (the propaedeutic function) 5. Fungsi pemilihan (the selective function) 6. Fungsi diagnostik (the diagnostic function) Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mempu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted, yaitu mempu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkunganf isik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalamiperubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri denagn perubahan yang terjadi di lingkungannya Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkaan pribadi-pribadu yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk mendapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya. Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membarikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis, yang harus dihargai dan dilayani dengan baik. Fungsi persiapan mengandung makan bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapakan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya ia kearena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikaan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan
  7. 7. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 7 kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel (luwes/lentur). Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan- kelemahan yang ada pada dirinya maka diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi/kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya. Keenam fungsi yang sudah dikemukakan harus dimiliki oleh suatu kurikulum lembaga pendidikan secara menyeluruh (komprehensif). Dengan demikian kurikulum dapat memberikan pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. C. KOMPONEN KURIKULUM Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan maka ini berarti ada bagian-bagian terpenting dalam kurikulum agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Bagian terpenting ini disebut komponen. Dari berbagai literatur dikatakan kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi kearah tercapainya tujuan pendidikan. Komponen pokok dari kurikulum meliputi : 1) tujuan, 2) materi/isi, 3) strategi pembelajaran, dan 4) evaluasi. Sedangkan yang termasuk komponen penunjang kurikulum adalah system administrasi dan supervise, sistem bimbingan dan penyuluhan, dan sistem evaluasi. 1. Tujuan Ivor K. Davies (Hasan, 1990) mengemukakan bahwa tujuan dalam suatu kurikulum akan menggambarkan kualitas manusia yang diharapkan terbina suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, suatu tujuan memberikan petunjuk mengenai arah perubahan perilaku yang dicita-citakan dari suatu kurikulum yang sifatnya harus merupakan sesuatu yang final. Perhatikan juga pendapat berikut. a. Tujuan memberikan pegangan mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan merupakan patokan untuk mengetahui hingga mana tujuan itu telah dicapai (Nasution, 1987).
  8. 8. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 8 b. Tujuan memegang peranan sangat penting, akan mewarnai komponen- komponen lainnya dan akan mengarahkan semua kegiatan mengajar (Syaodih, 1988) c. Tujuan krikulum yang dirumuskan menggambarkan pandangan para pengembang kurikulum mengenai pengetahuan, kemampuan serta sikap yang ingin dikembangkan (Hasan, 1990). Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan isi/bahan ajar, strategi, media pembelajaran, dan evaluasi. Bahkan, dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan ini dianggap sebagai dasar, arah, dan patokan dalam menentukan komponen-komponen lainnya. Ada ahli kurikulum yang memandang tujuan sebagai proses (process), seperti Bruner dan Fenton (Hasan, 1990). Namun, kebanyakan para ahli memandang tujuan sebagai hasil (product). Gagne dan Briggs (1974) menyatakan bahwa tujuan merupakan suatu kapasitas yang dapat dilakukan dalam waktu tidak lama setelah suatu kegiatan pendidikan berlangsung, bukan merupakan apa yang dialami siswa selama proses pendidikan. R.F. Mager dan K.M. Beach Jr. (1967) mengemukakan bahwa tujuan itu harus menggambarkan produk atau hasil, bukan prosesnya. Terlepas dari masalah apakah sebagai proses ataupun hasil, tujuan kurikulum tidak dapat melepaskan diri dari tuntunan dan kebutuhan masyarakat, serta didasari oleh falsafah dan ideologi suatu Negara. Hal ini dapat dimengerti sebab upaya pendidikan itu sendiri merupakan subsistem dalam system masyarakat dan Negara sehingga kekuatan-kekuatan sosial, politik, budaya, ekonomi sangat berperan dalam menentukan tujuan kurikulum atau tujuan pendidikan, terutama tujuan yang sifatnya umum (nasional). Di Indonesia, tujuan umum pendidikan atau tujuan pendidikan nasional ditetapkan dalam keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dimuat dalam GBHN dan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan umum tersebut dapat dicapai dalam tujuan-tujuan yang ada di bawahnya yang berfungsi sebagai tujuan perantara (intermedia). Tujuan-tujuan tersebut membentuk suatu hieraki yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Hieraki tujuan tersebut selengkapnya digambarkan sebagai berikut.
  9. 9. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 9 Gambar 1.2 Hierarki Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang ingin dicapai secara nasional yang dilandasi oleh falsafah suatu Negara. Sifat tujuan ini ideal, komprehensif, utuh, dan menjadi induk bagi tujuan-tujuan yang ada di bawahnya. Tujuan Institusional adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh suatu lembaga pendidkan, misalnya tujuan pada tingkat SD, SLTP, SMU, SMK dan sebagainya. Tujuan Kurikuler adalah penjabaran dari tujuan institusional yang berisi program- program pendidikan yang menjadi sasaran suatu bidang studi atau mata kuliah, misalnya, tujuan mata pelajaran Matematika, Agama, Bahasa Indonesia dan sebagainya. Tujuan Instruksional merupakan tujuan tingkat bawah yang harus dicapai setelah suatu proses pembelajaran. Tujuan ini dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Rumusan tujuan instruksional umum biasanya sudah tercantum dalam GBPP, sedangkan tujuan instruksional khusus harus dirumuskan oleh guru sebagai penjabaran TIU. Istilah tujuan, dalam literatur asing dikenal dengan nama purpose, aims, goals, objectives, means, dan endz. Zais (1976) dalam hubungannya dengan masalah kurikulum, mengemukakan tiga istilah tujuan, yaitu curriculum aims, curriculum goals, dan curriculum objectives. Pernyataan-pernyataan dalam Tujuan Umum Pendidikan (Tujuan Pendidikan Nasional) Tujuan Institusional (Tujuan Lembaga/Satuan Pendidikan) Tujuan Pengajaran/Kurikuler (Tujuan Mata Pelajaran) Tujuan Instruksional (Tujuan Pembelajaran)
  10. 10. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 10 curriculum aims lebih menggambarkan tujuan-tujuan hidup/kehidupan yang diharapkan, yang didasarkan pada nilai filsafat dan tidak langsung berhubungan dengan sekolah. Zais memberi contoh tujuan seperti self realization, ethical character, dan civic responsibility. Jika diperhatikan, tampaknya tujuan ini sinonim dengan tujuan umum pendidikan atau tujuan pendidikan nasional. Curriculum goals lebih diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan sekolah atau lembaga pendidikan atau system pengajaran, seperti mengembangkan kesanggupan berpikir, penghayatan/apresiasi sastra, pengetahuan warisan budaya, minat terhadap masalah sosial. Tujuan ini hampir sama dengan tujuan institusional kurikuler. Curriculum objectives dimaksudkan sebagai tujuan-tujuan khusus pengajaran kelas. Tujuan ini hampir sama dengan tujuan instruksional. Selain istilah yang digunakan oleh Zais di atas, Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) mengungkapkan tujuan kurikulum dengan menggunakan istilah purposes, general goals, subgoals, objectives, dan specific objectives. Tujuan pada level pengajaran (instruksional) dirumuskan secara khusus/spesifik dan menekankan pada perilaku siswa. Gagne dan Briggs mengklasifikasikan tujuan- tujuan tersebut ke dalam lima kategori atau domain, yaitu verbal information, attitudes, intellectual, skills, motor skills, dan cognitive strategies. Howard Kingleys (Sudjana, 1988) membagi tujuan menjadi tiga kategori, yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita. Sementara itu, yang dijadikan dasar perumusan tujuan dalam sistem pendidikan di Indonesia ialah klasifikasi yang dikemukakan oleh Benjamia S. Bloom, dkk. Dalam bukunya Taxonomy of Educational Objectives, Bloom membagi tujuan menjadi tiga domain, yaitu cognitive, affective, dan psychomotor. Dalam pelaksanaan kurikulum, ketiga domain tersebut saling berkaitan satu sama dengan lainnya. Pratt (Kaber, 1988) mengemukakan tujuh criteria yang harus dipenuhi dalam merumuskan tujuan kurikulum adalah seperti berikut. a. Tujuan kurikulum harus menunjukkan hasil belajar yang spesifik dan dapat diamati. b. Tujuan harus konsisten dengan tujuan kurikulum, artinya, tujuan-tujuan khusus itu dapat mewujudkan dan sejalan dengan tujuan yang lebih umum. c. Tujuan harus ditulis dengan tepat, bahasanya jelas sehingga dapat memberi gambaran yang jelas bagi para pelaksana kurikulum.
  11. 11. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 11 d. Tujuan harus memperlihatkan kelayakan, artinya bahwa tujuan itu bukanlah suatu standar yang mutlak, melainkan harus dapat disesuaikan dengan situasi. e. Tujuan harus fungsional, artinya, tujuan itu menunjukkan nilai guna bagi para peserta didik dan masyarakat. f. Tujuan harus signifikan dalam arti bahwa tujuan itu dipilih berdasarkan nilai yang diakui kepentingannya. g. Tujuan harus tepat dan serasi, terutama harus dilihat dari kepentingan dan kemampuan peserta didik, termasuk latar belakang, minat, dan tingkat perkembangannya. 2. Materi/Isi Komposisi kedua setelah tujuan adalah isi atau materi kurikulum. Pengkajian masalah isi kurikulum ini menempati posisi yang penting dan turut menentukan kualitas suatu kurikulum lembaga pendidikan. Isi kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat menunjang tercapainya tujuan kurikulum. Saylor dan Alexander (Zais, 1976) mengemukakan bahwa isi kurikulum meliputi fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaan, pemecahan masalah, yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk gagasan (ideas), konsep (concept), generalisasi (generalization), prinsip-prinsip (principles), dan pemecahan masalah (solution). Sementara itu, Hyman (Zais, 1976) mendefinisikan isi/konten kurikulum ke dalam tiga elemen, yaitu pengetahuan/knowledge (misalnya fakta-fakta, eksplanasi, prinsip-prinsip, definisi), keterampilan dan proses (misalnya membaca, menulis, menghitung, berpikir kritis, pengambilan keputusan, berkomunikasi), dan nilai/values (misalnya keyakinan tentang baik-buruk, benar-salah, indah-jelek).Sudjana (1988) mengungkapkan secara umum sifat bahan/isi ke dalam beberapa kategori, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan. Fakta adalah sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda, yang wujudnya dapat ditangkap oleh pancaindra manusia dan dapat dipelajari melalui informasi dalam bentuk lambing, kata-kata, istilah-istilah, dan sebagainya. Konsep atau pengertian adalah serangkaian perangsang yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Suatu konsep dibentuk melalui pola unsur bersama diantara anggota kumpulan atau rangkaian. Dengan demikian, hakikat konsep adalah klasifikasi dari pola yang bersamaan. Prinsip adalah pola antarhubungan fungsional di antara konsep. Dengan kata lain, prinsip merupakan
  12. 12. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 12 hubungan fungsional dari beberapa konsep. Keterampilan adalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Keterampilan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu keterampilan fisik dan keterampilan intelektual. Sebenarnya sangat banyak hal (pengetahuan, keterampilan, dan nilai) yang perlu diberikan kepada siswa, namun tidak mungkin semuanya dijadikan sebagai kurikulum. Oleh karena itu, perlu diadakan pilihan-pilihan (choices). Karena banyaknya pilihan materi kurikulum tersebut maka kurikulum pada hakikatnya adalah a matter of choices (Nasution, 1987). Untuk menentukan isi/bahan mana yang sangat esensial dijadikan sebagai isi kurikulum tersebut, diperlukan berbagai kriteria. Berikut ini diuraikan beberapa kriteria menurut tiga orang ahli kurikulum. Perhatikan dan cermati dengan saksama, kemudian coba Anda diskusikan dengan teman-teman mahasiswa lain. Zais (1976) menentukan empat kriteria dalam melakukan pemilihan isi/materi kurikulum, yaitu sebagai berikut. a. Isi kurikulum memiliki tingkat kebermaknaan yang tinggi (significance). b. Isi kurikulum bernilai guna bagi kehidupan (utility). c. Isi kurikulum sesuai dengan minat siswa (interest). d. Isi kurikulum harus sesuai dengan perkembangan individu (human development). Hilda Taba menetapkan kriteria sebagai berikut. a. Isi kurikulum harus valid (sahih) dan signifikan. b. Isi kurikulum berpegang kepada kenyataan-kenyataan sosial. c. Kedalaman dan keluasan isi kurikulum harus seimbang. d. Isi kurikulum menjangkau tujuan yang luas, meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. e. Isi kurikulum harus dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa. f. Isi kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat siswa.
  13. 13. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 13 Ronald C. Doll (1974) juga mengemukakan beberapa kriteria pemilihan isi kurikulum sebagai berikut. a. Validitas dan signifikansi bahan (subject matter) sebagai disiplin ilmu. b. Keseimbangan ruang lingkup bahan (scope) dan kedalamannya (depth). c. Kesesuaian dengan kebutuhan dan minat siswa. d. Daya tahan (durability) bahan. e. Hubungan logis bahan antara ide pokok (main ideas) dan konsep dasar (basic concept). f. Kemampuan siswa mempelajari bahan tersebut. g. Kemungkinan menjelaskan bahan itu dengan data dari disiplin ilmu lain. Dalam mengkaji isi atau materi kurikulum ini, kita sering dihadapkan pada masalah scope dan sequence. Scope atau ruang lingkup isi kurikulum dimaksudkan untuk menyatakan keluasan dan kedalaman bahan, sedangkan sequence menyangkut urutan (order) isi kurikulum. Menurut S. Nasution (1987), pengurutan bahan kurikulum tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Urutan secara kronologis, yaitu menurut terjadinya suatu peristiwa. b. Urutan secara logis yang dilakukan menurut logika. c. Urutan bahan dari sederhana menuju yang lebih kompleks. d. Urutan bahan dari mudah menuju yang lebih sulit. e. Urutan bahan dari spesifik menuju yang lebih umum. f. Urutan bahan berdasarkan psikologi unsur, yaitu dari bagian-bagian kepada keseluruhan. g. Urutan bahan berdasarkan Psikologi Gestalt, yaitu dari keseluruhan menuju bagian-bagian. Sejalan dengan pendapat tersebut Sukmadinata (1988), berdasarkan beberapa sumber, mengungkapkan beberapa cara menyusun sekuen bahan kurikulum sebagai berikut. a. Urutan kronologis, yaitu untuk mengurutkan bahan ajar yang mengandung urutan waktu, seperti peristiwa-peristiwa sejarah, penemuan-penemuan, dan sebagainya. b. Urutan kausal, yaitu urutan bahan ajar yang mengandung sebab-akibat.
  14. 14. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 14 c. Urutan structural, yaitu urutan bahan ajar yang disesuaikan dengan strukturnya. d. Urutan logis dan psikologis, yaitu urutan bahan ajar yang disusun dari yang sederhana kepada yang rumit/kompleks (logis) dan dari yang rumit/kompleks kepada yang sederhana (psikologis). e. Urutan spiral, yaitu urutan bahan ajar yang dipusatkan pada topik-topik tertentu, kemudian diperluas dan diperdalam. f. Urutan rangkaian ke belakang, yaitu urutan bahan ajar yang dimulai dari langkah terakhir, kemudian mundur ke belakang. g. Urutan berdasarkan hierarki belajar, yaitu urutan bahan yang menggambarkan urutan perilaku yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut sampai perilaku terakhir. Penetapan sekuen atau urutan nama yang akan dipilih tampaknya sangat tergantung pada sifat-sifat materi/isi kurikulum sebagaimana telah diungkapkan pada bagian terdahulu, juga harus memiliki konsistensi dengan tujuan yang telah dirumuskan. 3. Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran sangat penting dikaji dalam studi tentang kurikulum, baik secara makro maupun mikro. Strategi pembelajaran ini berkaitan dengan masalah cara atau sistem penyampaian isi kurikulum (delivery system) dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan. Pengertian strategi pembelajaran dalam hal ini meliputi pendekatan, prosedur, metode, model, dan teknik yang digunakan dalam menyajikan bahan/isi kurikulum. Sudjana (1988) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah tindakan nyata dari guru dalam melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien. Dengan kata lain, strategi berhubungan dengan siasat atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan kurikulum secara sistemik dan sistematik. Sistemik mengandung arti adanya saling keterkaitan di antara komponen kurikulum sehingga terorganisasikan secara terpadu dalam mencapai tujuan, sedangkan sistematik mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang dilakukan guru harus berurutan sehingga mendukung tercapainya tujuan.
  15. 15. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 15 Tinggi rendahnya kadar aktivitas belajar siswa banyak dipengaruhi oleh strategi atau pendekatan mengajar yang digunakan. Banyak pendapat mengenai berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam penyampaian bahan/isi kurikulum ini. Richard Anderson (Sudjana, 1990) mengajukan dua pendekatan, yaitu pendekatan yang berorientasi pada guru, di mana aktivitas guru dalam suatu proses pembelajaran lebih dominan dibandingkan siswa. Pendekatan ini bersifat teacher centered. Pendekatan kedua lebih berorientasi pada siswa. Pendekatan ini bersifat student centered yang merupakan kebalikan dari pendekatan pertama, di mana aktivitas siswa dalam proses pembelajaran lebih dominan dibandingkan guru. Pendekatan pertama disebut pula tipe otokratis dan pendekatan kedua disebut tipe demokratis. Massialas (Sudjana, 1990) mengajukan dua pendekatan, yaitu pendekatan ekspositori dan pendekatan inkuiri. Sementara itu, studi yang dilakukan oleh Sudjana (1990) menghasilkan lima macam model berkadar CBSA, yaitu model delikan (dengar-lihat-kerjakan), model pemecahan masalah, model induktif, model dediktif, dan model deduktif-induktif. Bruce Joyce dan Marsha Weil (1980) dalam bukunya yang terkenal (Models of Teaching), mengemukakan empat kelompok atau rumpun model, yaitu model pemrosesan informasi (information processing models), model personal, model interaksi sosial, dan model tingkah laku (behavioral models). Setiap rumpun model tersebut mengandung enam komponen umum, yaitu orientasi, sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem bantuan (support system), dan efek instruksional. Apabila ditelaah lebih jauh, hakikat dan isi dari setiap strstegi/pendekatan/model yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua kutub strategi yang ekstrem, yaitu strategi yang berorientasi kepada guru dan strategi yang berorientasi kepada siswa. Strategi pertama maksudnya bahwa titik berat kegiatan banyak berpusat pada guru (biasa disebut model ekspositori atau model informasi). Sedangkan pada strategi kedua, titik berat aktivitas pembelajaran ada pada para siswa sehingga mereka lebih aktif melakukan kegiatan belajar (biasa disebut model inkuiri atau problem solving). Strategi mana yang digunakan atau dipilih biasanya diserahkan sepenuhnya kepada guru dengan mempertimbangkan hakikat tujuan, sifat bahan/isi, dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
  16. 16. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 16 4. Evaluasi Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan, serta menilai proses implementasi kurikulum secara keseluruhan, termasuk juga menilai kegiatan evaluasi itu sendiri. Hasil dari kegiatan evaluasi dapat dijadikan sebagai umpan balik (feedback) untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan pengembangan komponen-komponen kurikulum. Pada akhirnya hasil evaluasi ini dapat berperan sebagai masukan bagi penentuan kebijakan-kebijakan dalam pengambilan keputusan kurikulum khususnya, dan pendidikan pada umumnya, baik bagi para pengembang kurikilum dan para pemegang kebijakan pendidikan, maupun bagi para pelaksana kurikulum pada tingkat lembaga pendidikan (seperti guru dan kepala sekolah). Pada awal perkembangannya, konsep evaluasi banyak sekali dipengaruhi secara dominan oleh konsep pengukuran (measurement). Salah satunya adalah konsep yang dikemukakan oleh Ralph W. Tyler (1975). Ia mengungkapakn bahwa proses evaluasi merupakan proses yang sangat esensial guna mengetahui apakah tujuan (objectives) secara nyata telah terealisasikan. Sementara itu, Hilda Taba (1962) juga berpendapat bahwa secara prinsipil yang menjadi fokus dari evaluasi adalah tingkatan di mana siswa mencapai tujuan. Pengertian-pengertian evaluasi tersebut lebih diarahkan atau berorientasi kepada perubahan perilaku, dan lebih mementingkan hasil atau produk belajar, kurang memperhatikan proses dan kondisi-kondisi belajar yang mempengaruhi hasil belajar. Menurut Hasan (1988), pengertian evaluasi seperti itu sudah dianggap tidak lagi memenuhi makan evaluasi yang sesungguhnya. Apa yang dikemukakan Tyler mengenai perubahan tingkah laku siswa hanyalah merupakan salah satu aspek kajian evaluasi, baik evaluasi pendidikan maupun evaluasi kurikulum. Perkembangan selanjutnya dari konsep evaluasi ini, menurut Hasan (1988), berpegang pada satu konsep dasar, yaitu adanya pertimbangan (judgement). Dengan pertimbangan inilah ditentukan nilai (worth/merit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan bukanlah suatu kegiatan evalusi. Dengan demikian, pengertian evaluasi harus diarahkan pada suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti dari sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan tersebut bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau suatu kesatuan tertentu. Pemberian pertimbangan tersebut haruslah berdasarkan kriteria tertentu, baik dari penilai itu sendiri maupun
  17. 17. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 17 dari luar penilai. Dari pengertian tersebut, evaluasi lebih dianggap sebagai suatu proses, bukan suatu hasil (produk). Apabila diperhatikan, tampaknya konsep evaluasi sebagai suatu proses pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti ini dalam pelaksanaannya masih belum terealisasikan sebagaimana mestinya. Kegiatan evaluasi yang dilaksanakan, terutama di Indonesia, masih menekankan pada evaluasi terhadap hasil (produk). Hal ini sejalan dengan pendapat Zais (1976) bahwa dewasa ini penekanan evaluasi selalu dipusatkan pada evaluasi hasil (product evaluation) yang dicapai oleh siswa. Menurutnya, hal tersebut didasarkan pada model teknik (technical model) dalam pengembangan kurikulum, di mana siswa dianggap sebagai raw material. Konsep evaluasi kurikulum dapat dipandang secara luas, yaitu mencakup evaluasi terhadap seluruh komponen dan kegiatan pendidikan, tetapi dapat pula dibatasi secara sempit yang hanya ditekankan pada hasil-hasil atau perilaku yang dicapai siswa. Luas atau sempitnya suatu evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuannya. Jadi, dalam hal ini yang menjadi penentu adalah faktor tujuan yang diharapkan.Hal ini sejalan dengan pendapat Ronald C.Doll (1974) yang menyatakan bahwa orientasi terhadap tujuan merupakan salah satu syarat atau karakteristik dari evaluasi. Karakteristik lainnya,yaitu:dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai (values and valuing), mencakup keseluruhan (comprehensiveness), berkelanjutan (continuity), memiliki nilai diagnostic dan kesahihan (diagnostic worth and validity) dan evaluasi tersebut harus terintegrasi atau utuh, bukan sesuatu yang lepas-lepas (integration). Pada bagian lainnya, Doll mengemukakan dua dimensi yang harus ada dalam evaluasi kurikulum, yaitu dimensi kuantitas (the dimension of quantity) dan dimensi kualitas (the dimension of quality). Dimensi pertama berhubungan dengan berapa banyak program-program yang dievaluasi, sedangkan dimensi kedua berhubungan dengan tujuan-tujuan apa saja yang disoroti dan evaluasi dan bagaimana kualitas dari pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Kemudian, di dalam proses evaluasinya Doll mengungkapkan tiga variabel, yaitu variabel input (karakteristik siswa), variabel output(apa yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran), dan variabel treatment (metode mengajar, materi pelajaran, ukuran kelas, karakreristik siswa, dan karakteristik guru), ketiga kelompok variabel tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lainnya
  18. 18. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 18 Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kualitas suatu kurikulum yang dievaluasi,terdapat beberapa komponen atau dimensi yang perlu dijadikan sasaran atau ruang lingkup evaluasi.Sudjana dan Ibrahim (1989) dalam hal ini mengemukakan tiga komponen, yaitu komponen program pendidikan, komponen proses pelaksanaan, dan komponen hasil-hasil yang dicapai.Suatu program pendidikan dinilai dari tujuan yang ingin dicapai, isi program yang disajikan, strategi pembelajaran yang diterapkan ,serta bahan–bahan ajar yang digunakan .Proses pelaksanaan yang dijadikan sasaran penilaian/ evaluasi terutama proses pembelajaran yang berlangsung di lapangan. Sedangkan hasil- hasil yang dicapai mengacu pada pencapaian tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latiahan berikut! Coba Anda kumpulkan berbagai pengertian kurikulum dari literature lain selain yang telah dikemukakan, kemudian tuliskan dengan rapi dalam sebuah buku. Kumpulan pengertian tersebut apabila Anda telaah dengan teliti maka bisa menjadi bahan kajian yang cukup menarik .Sampai saat ini, tampaknya belum banyak secara sengaja mengumpulkan berbagai pengertian kurikulum tersebut dan mengkajianya dengan teliti hingga ditemukan semacam peta perkembangan pengertian kurikulum yang lebih luas lagi. Jadi, Anda masih memilki kesempatan untuk itu.  RANGKUMAN 1. Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Ada 4 bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Ke 4 bagian/komponen penting kurikulum ini saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan / dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional. 2. Tujuan yang jelas akan member petunjuk yang jelas pula dalam memilih isI/materi yang harus dikuasai. Strategi yang akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur ketercapaian kurikulum. 3. Hierarki perumusan, tujuan kurikulum dimulai dari tujuan umum pendidikan, kemudian tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
  19. 19. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 19 4. Materi/isi kurikulum menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data, persepsi, pengindraan, pemecahan masalah yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamanya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan pemecahan masalah. 5. Stategi pembelajaran berkaitan dengan bagaimana menyampaikan isi/kurikulum agar tujuan tercapai dan komponen evaluasi kurikulum adalah untuk menilai apakah tujuan kurikulum telah tercapai. Hasil dari evaluasi kurikulum adalah berupa umpan balik apakah kurikulum ini akan direvisi atau tidak. TES FORMATIF 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Secara sederhana,kurikulum diartikan sebagai berikut…… A. seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran B. seluruh aktivitas yang harus dilaksanakan siswa di sekolah C. sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh siswa D. pengalaman belajar selama siswa berada di sekolah 2) Dalam UU Nomor 2 Tahun 1989,pengertian kurikulum ditekankan pada…. A. Jumlah mata pelajaran yang disediakan oleh pihak sekolah dan wajib ditempuh oleh seluruh siswa tanpa terkecuali B. Rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar C. Semua aktivitas belajar yang dilakukan siswa sepanjang masih dalam pengawasan dan tanggung jawab pihak sekolah D. Seperangkat bahan ajar dan pengalaman siswa yang diatur sedemikian rupa oleh pihak sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan 3) kurikulum pada dimensi sebagai realita pada dasarnya sama dengan…….. A. Rencana tertulis B. Ide atau gagasan C. Hasil belajar yang diminati D. Implementasi kurikulum 4) Garis-garis besar program pengajaran(GBPP)merupakan kurikulum….. A. Ideal(ideal curriculum)
  20. 20. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 20 B. Actual(actual curriculum) C. Nyata(real curriculum) D. Tersembunyi(hidden curriculum) 5) peranan kurikulum yang menekankan pada sarana untuk mentransmisikan nilai- nilai warisan budaya masa lalu merupakan peranan…….. A. Evaluatif B. Kritis C. Konservatif D. Kreatif 6) kurikulum harus aktif berpartisipasi sebagai control atau filter sosial menunjukkan peranan ….. A. Konservatif B. Kritis C. Evaluatif D. Dinamis 7) sebagai pedoman untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum di sekolah merupakan fungsi kurikulum bagi…… A. Guru B. Kepala sekolah C. Orang tua D. Ketua dewan sekolah 8) kurikulum harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya termasuk fungsi…… A. Diferensiasi B. Integrasi C. Seleksi D. Diagnostic 9) istilah sequence dalam kajian mengenai isi/materi kurikulum mengacu pada…… A. Urutan isi/materi kurikulum B. Ruang lingkup isi kurikulum C. Luas dan dalamnya isi kurikulum D. Nilai guna atau kebermaknaan isi kurikulum KEGIATAN BELAJAR 2
  21. 21. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 21 PENGEMBANGAN KURIKULUM A. HUBUNGAN ANTARA KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah apa yang akan diajarkan, sedangkan pembelajaran (instruction) adalah bagaiman menyampaikan apa yang diajarkan itu. Dengan perkataan lain, kurikulum adalah suatu program, rencana dan isi pelajaran, sedangkan pembelajaran dapat dicirikan sebagai metode, tindakan belajar-mengajar, dan presentasi. Johnson (1967.P.138) mendefenisikan pembelajaran sebagai interaksi anatara pengaar dengan satu atau lebih indivdu untuk belajar. Selanjutnya McDonald dan Leepar (1965,P.5-6) menguraikan bahwa yang termasuk kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan pelaksanaan rencana tersebut. Jadi, perencanaan kurikulum mendahului proses pembelajaran. Ahli lain, Popham dan Baker ( 1970,p.48 ) mengusulkan bahwa kurikulum adalah tujuan akhir dari program pembelajaran yang direncanakan oleh sekolah, sedangkan pembelajaran adalah cara mencapai tujuan tersebut. Dalam merancang kurikulum, para perencana akan menyatakan tujuan akhir atau objektif ini dalam bentuk yang operasional sebagai perilaku yang dapat diamati dan diukur, yang dapat diperlihatkan oleh siswa setelah menjalani program pembelajaran. Dengan menggunakan definisi Popham dan Baker ini maka banyak professional bidang pendidikan yang berpendapat bahwa tujuan kurikulum yang dinyatakan dalam bentuk yang operasional itu adalah tujuan instruksional, atau tujuan pembelajaran. Jadi, kombinasi dar tuuan instruksional, program, atau kegiatan sekolah atau institusi pendidikan akan merupakan kurikulum dari sekolah atau institusi pendidikan tersebut. Dalam pelaksanaannya, perencanaan kurikulum maupun perencanaan instruksional, selalu dikaitkan dengan berbagai rencana atau program studi sehingga sifatnya sangat pragmatis; sebaliknya keputusan mengenai pembelajaran atau implementasi dari kurikulum itu sifatnya metodologis. Tetapi yang harus diingat adalah baik kurikulum maupun pembelajaran pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu system yang lebih besar, yaitu sistem persekolahan atau system pendidikan. Ada berbagai model untuk menggambarkan dan menerangkan hubungan antara kurikulum dan pembelajaran ( Oliva, 1992, pp.10-13 ). Yang akan diuraikan dalam tulisan ini adalah model siklus. Model siklus adalah suatu model yang menampilkan siklus hubungan antara kurikulum dan pembelajaran, yang
  22. 22. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 22 disederhanakan dan menekankan pada pentingnya peranan umpan balik antara kurikulum dan pembelajaran. Gambar 1.3 Model Siklus Kurikulum dan pembelajaran adalah dua system yang berbeda, namun saling terkait satu sama lain secara terus menerus dalam suatu siklus. Dengan kata lain kurikulum dapat mempengaruhi pembelaaran atau sebaliknya. Dari model di atas keputusan mengenai kurikulum dilakukan terlebih dahulu. Kemudian keputusan ini akan dimodifikasi setelah keputusan mengenai pembelajaran diterapkan dan dievaluasi. Prosedur ini akan berlangsung berulang-ulang tanpa akhir. Olive ( 1992 ) menganjurkan agar dalam menafsirkan model hubungan siklus antara kurikulum dan pembelajaran perlu diingat hal-hal sebagai berikut. 1. Antara kurikulum dan pembelajaran terdapat hubungan yang sangat erat, tetapi masing-masing merupakan subsistem yang yang berbeda. 2. Sifat kurikulum dan pembelajaran adalah interlocking dan interdependent. 3. Kurikulum dan pembelaaran mungkin saja dianalisis dan diteliti sebagai dua hal yang terpisah, tatapi masing-masing tidak dapat berfungsi sendiri. B. HAKEKAT PEMBELAJARAN Gagne dan Briggs (1979: 3), mengartikan pembelajaran sebagai suatu system yang bertujuan membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar di dalam diri siswa. Belajar mungkin dapat terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh suatu pembelajaran pada belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah diamati. Sementara itu Gredler mengemukakan bahwa proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa pada dasarnya terjadi dalam satu lingkungan buatan dan sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami. Oleh karenanya agar proses belajar siswa dapat berlangsung optimum perlu diciptakan lingkungan belajar yang mendukung Subsist subsistem kurikulum Ssubsis subsistem pembelajaran
  23. 23. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 23 pengalaman belajar siswa. Proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa ini disebut pembelajaran. Dari pendapat kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tidak berlangsung secara alami atau terjadi begitu saja, tetapi melalui proses menciptakan lingkungan belajar berupa kegiatan merancang dan menyusun serangkaian peristiwa untuk mempengaruhi dan mendukung proses belajar dalam diri siswa. Sebagai guru, andalah yang bertugas menciptakan lingkungan belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. Dengan kata lain pembelajaran diciptakan oleh guru dengna tujuan membantu siswa belajar. C. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN Sesuai dengan hakekat pembelajaran yang telah anda pelajari, ada sejumlah prinsip yang harus anda perhatikan ketika mengelola kegiatan pembelajaran, diantaranya sebagai berikut. 1. Berpusat kepada siswa Prinsip ini mengandung makna bahwa dalam proses pembelajaran siswa menempati posisi sentral sebagai subjek belajar. Keberhasilan proses pembelajaran tidak diukur dari sejauh mana materi pelajaran telah disampaikan guru, akan tetapi sejauh mana siswa telah berhasil menguasai materi pelajaran. Lebih baik lagi apabila materi pembelajaran dikuasai siswa dengan cara beraktivitas mencari dan menemukan sendiri pengetahuan yang ingin dikuasainya. Inilah makna pembelajaran yang menekankan pada proses (process oriented). 2. Belajar dengan melakukan Prinsip ini mengandung makna bahwa belajar adalah berbuat (learning by doing) dan bukan hanya sekedar mendengarkan, mencatat sambil duduk di Bangku. Dengan kata lain belajar adalah proses beraktivitas. Siswa bukan hanya di tuntut untuk menguasai sejumlah informasi dengan cara menghafal, akan tetapi memperoleh informasi secara mandiri dan kreatif melalui aktivitas mencari dan menemukan. Melalui cara inilah pengetahuan yang diperoleh siswa lebih bermakna sebab didapatkan melalui proses pengalaman belajar, bukan hasil pemberitahuan oleh orang lain. 3. Mengembangkan Kemampuan Sosial Manusia adalah makhluk sosial. Sejak lahir sampai akhir hayat, manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan komunikasi dan bantuan orang
  24. 24. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 24 lain. Berdasarkan kenyataan tersebut maka proses pembelajaran bukan mengembangkan kemampuan intelektual akan tetapi kemampuan sosial. Perkembangan intelektual tidak akan sempurna apabila tidak diimbangi dengan kemampuan sosial. Proses pembelajaran harus mengembangkan dua sisi kemampuan ini secara seimbang. 4. Mengembangkan keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Siswa Rasa keingintahuan adalah salah satu fitrah yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Perkembangan kebudayaan manusia yang menakjubkan seperti sekarang ini, didorong oleh fitrah dan keingintahuan manusia. Oleh karena itulah proses pembelajaran harus mampu melatih kepekaan dan keingintahuan setiap individu terhadap segala sesuatu yang terjadi. Proses pembelajaran yang dimulai dan didorong oleh rasa ingin tahu, akan lebih bermakna dan bertenaga, dibandingkan dengan proses pembelajaran yang berangkat dari keterpaksaan. 5. Mengembangkan keterampilan Memecahkan Masalah Kehidupan manusia tidak terlepas dari permasalahan yang harus diselesaikan. Oleh sebab itu pengetahuan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran harus dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Dalam pembelajaran dengan konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), siswa diharapkan menjadi manusia kritis yang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, bukan sebagai siswa yang hanya menerima informasi begitu saja tanpa memahami manfaat informasi yang diperolehnya. 6. Mengembangkan Kreativitas Siswa Salah satu tujuan KBK adalah membentuk manusia yang kreatif dan inovatif. Selama ini kurikulum yang berlaku dianggap kurang mengembangkan aspek kreativitas siswa. Kurikulum cenderung hanya mengembangkan kemampuan sisi akademik, melalui proses pembelajaran yang mendorong siswa hanya terfokus pada pengetahuan yang diajarkan. Sedangkan KBK mengharapkan kemampuan penguasaan pengetahuan dapat dijadikan alat untuk mendorong kreativitas siswa. Oleh sebab itu, penguasaan bahan ajar bukan sebagai tujuan akhir dari proses pembelajaran, akan tetapi hanya sebagai tujuan antara saja. 7. Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Ilmu dan Teknologi Dalam kehidupan globalisasi sekarang ini teknologi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Ketergantungan manusia terhadap
  25. 25. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 25 hasil-hasil teknologi begitu tinggi, dari mulai teknologi sederhana sampai penggunaan alat-alat transportasi dan komunikasi. Semua ini harus menjadi pertimbangan dalam pengelolaan pendidikan. Pendidikan dituntut membekali setiap individu agar mampu memanfaatan hasil-hasil teknologi. Oleh sebab itu, pengenalan dan kemampuan memanfaatkan hasil-hasil teknologi harus menjadi bagian daam proses pembelajaran melalui KBK. 8. Menumbuhkan Kesadaran Sebagai Warga Negara yang Baik Selama ini salah satu kelemahan pendidikan seperti dikemukakan oleh para ahli adalah kelemahan dalam menciptakan para lulusan yang memiliki kesadaran terhadap aturan dan norma kemasyarakatan. Pendidikan dianggap gagal membentuk manusia yang memiliki kesadaran moral yang tinggi. Oleh sebab itu, muncul berbagai pendapat yang mengemukakan perlunya pendidikn moral dan budi pekerti secara tersendiri. Dalam konteks KBK, pembentukan moral merupakan tanggung jawab semua mata pelajaran. Setiap guru mata pelajaran memiliki tanggung jawab alam mengembangkan manusia yang sadar dan penuh tanggung jawab sebagai seorang warga negara. 9. Belajar Sepanjang Hayat Kehidupan manusia selalu berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa yang dipelajari dewasa ini belum tentu relevan dengan keadaan masa yang akan datang. Oleh karena itu, belajar mestinya tidak terbatas pada waktu sekolah saja. Setiap manusia harus terus belajar mengikuti irama perkembangan zaman, agar mampu beradaptsi dalam setiap perubahan. Pelajaran dalam KBK bukanlah pembelajaran sesaat, yang harus dilupakan setelah selesai menamatkan suatu jenjang pendidikan. Pembelajaran dalam KBK harus memberikan peluang agar siswa tidak bosan belajar dan belajar. Semua prinsip yang telah diuraikan harus memayungi proses pembelajaran sehingga proses tersebut sesuai dengan tujuan KBK. Sesuai dengan prinsip tersebut, terapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran agar berlangsung secara efektif yaitu sebagai berikut. a. Proses pembelajaran harus memberikan peuang kepada siswa agar mereka secara langsung dapat berpartisipasi daam proses pembelajaran. Dengan demikian guru
  26. 26. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 26 harus bertindak sebagai pengelola proses belajar, bukan bertindak sebagai sumber belajar. b. Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang telah dilakukannya. Dengan demikian pembelajaran bukan hanya mendorong siswa untuk melakukan tindakan saja, akan tetapi menghayati berbagai tindakan yang telah dilakukannya. Hal ini sangat penting baik untu pembentukan sikap, maupun untuk mencermati berbagai kelamahan dan kekurangan atas segala tindakannya. c. Proses pembelajaran harus mempertimbangkan perbedaan individu. Hal ini didasarkan pada pada suatu asumsi bahwa tidak ada manusia yang sama baik dalam minat, bakat maupun kemampuannya. Pembelajaran harus memberikan kesempatan agar siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Dengan demikian siswa yang lambat tidak merasa tergusur oeh siswa yang cepat; sebaliknya yang cepat tidak merasa terhambat oleh yang lambat belajar. d. proses pembelajaran harus dapat memupuk kemandirian disamping kerja sama. Artinya guru dituntut mampu menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa dapat mandiri dan bekerja sama dengan orang lain. e. Proses pembeajaran harus terjadi daam iklim yang kondusif, baik iklim sosial maupun iklim psikologis. Siswa akan belajar dengan baik manakala terbebas dari berbagai tekanan, baik tekanan sosial maupun tekanan psikologis. Melalui iklim belajar yang demikian diharapkan siswa akan berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliinya. f. Proses pembelajaran yang dikelola guru harus dapat mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu. Hal ini hanya mingkin terjadi manakala guru tidak menempatkan posisi siswa sebagai objek belajar, akan tetapi sebagai subjek belajar. Untuk itulah guru harus mendorong agar siswa aktif untuk belajar melalui proses mencari dan mengobservasi.
  27. 27. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 27 D. PENGEMBANGAN KURIKULUM Pengembangan kurikulum adalah suatu istilah yang ada dalam studi kurikulum. Istilah pengembangan kurikulum banyak digunakan untuk ahli pendidikan berhubungan dengan proses implementasi dari kurikulum yang berlaku pada saat itu. sementara itu Caswell menyatakan bahwa mengembangkan kurikulum merupakan alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dari program pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai bukan semata-mata memproduksi bahan pembelajaran melainkan lebih untuk bagaimana mengimplementasikan kurikulum atau agar dapat meningkatkan kualitas siswa dan kualitas pendidikan pada umumnya. Proses pengembangan kurikulum selalu dikaitkan dengan pertanyaan- pertanyaan berikut. a. Siapa yang terlibat dalam proses penyusunan kurikulum? Guru administrator, orang tua atau siswa? b. Bagaimana prosesnya dan apa tujuannya? c. Langkah-langkah apa yang akan digunakan dalam penyusunan kurikulum? d. Jika komite yang akan bekerja dalam pengembangan kurikulum, bagaimana oarang-orang yang terlibat tersebut akan diorganisasikan? 1. Mengapa Perlu Pengembangan Kurikulum? Keputusan tentang perlunya pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan proses belajar siswa dan perubahan- perubahan yang selalu mengikutinya. Boyd (1984) menyatakan Bahwa pengembangan kurikulum diperlukan untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan- keadaan berikut. 1. Merespon perkembangan ilmu dan teknologi. 2. Merespon perubahan sosial di luar sistem pendidikan. 3. Memenuhi kebutuhan siswa. 4. Merespon kemajuan-kemajuan dalam penddikan. 5. Merespon perubahan sistem pendidikan itu sendiri. Mulyani Sumantri (1988) menyatakan bahwa pengembangan kurikulum harus dilakukan berdasarkan teori yang telah dikonseptualisasikan secara teliti dan terhindar dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik, seperti paham-paham yang tidak mendukung
  28. 28. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 28 pembaharuan dan kebutuhan masa depan. Agar kurikulum yang dihasilkan sesuai dengan harapan dan kebutuhan maka proses pengembangan kurikulum ini tidak saja harus melibatkan ahli pendidikan, ahli kurikulum, guru, dan siswa, namun perlu juga melibatkan ahli-ahli lain di luar bidang pendidikan, orang-orang yang berminat, serta pemakai lulusan (dari dunia kerja). Unsur-unsur apa saja yang ada dalam kurikulum, tergantung pada pengertian kurikulum yang akan dikembangkan. Bila kurikulum di pandang sebagai segala sesuatu yang akan dijalani siswa di sekolah maka kegiatan menentukan tujuan, materi, strategi pembelajaran dan hal-hal yang akan diaktualisasikan di sekolah merupakan kegiatan pengembangan kurikulum. Bila kurikulum dipandang sebagai suatu dokumen maka proses pembuatan rencana kurikulum, garis-garis besar program pembelajaran, perangkat dan buku-buku yang diperlukan dalam proses pembelajaran merupakan unsur yang harus dikembangkan. Di samping itu, proses pengembangan kurikulum ini juga harus memperhatikan prinsip-prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, efektivitas, efisiensi dan praktis, serta landasan yang kuat. Zais menuturkan bahwa landasan yang kuat dalam pengembangan kurikulum terdiri atas filsafat, sosial dan budaya, siswa dan teori belajar. Pada umumnya para ahli kurikulum memandang bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan merupakan suatu siklus meliputi komponen tujuan, bahan kegiatan, dan evaluasi, sehingga dapat dilukiskan sebagai berikut. Dari Gambar 1.4 di atas pengembangan kurikulum merupakan konsep yang komprehensif meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi (Oliva, 1988, 26). Miller dan Seller menambahkan unsur yang penting dalam pengembangan kurikulum yaitu apa yang disebutnya orientasi. Kerangka pengembangan kurikulum berdasarkan pandangan Miller dan Seller dapat dilukiskan sebagai berikut.
  29. 29. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 29 Miller dan Seller melukiskan orientasi menyangkut tujuh aspek: perilaku, disiplin (mata pelajaran), masyarakat, pengembangan, proses kognitif, humanistik dan transpersonal. Orientasi menyangkut pula enam isu pokok sebagai berikut. a. Tujuan pendidikan menunjukkan arah kegiatan. b. Konsepsi tentang anak: pandangan mengenai anak apakah sebagai perilaku yang aktif atau pasif. c. Konsepsi tentang proses belajar: menyangkut aspek transpersonal, kehidupan batin anak dan perubahan tingkah laku. d. Konsepsi tentang lingkungan: pengaturan lingkungan untuk memperlancar belajar. e. Konsepsi tentang peranan guru: apakah lebih otoritatif, direktif, atau sebagai fasilitator. f. Bagaimana belajar dievaluasi: apakah mengaca pada tes, eksperimental atau bersifat terbuka. Dari uraian tersebut jelas bahwa tanggung jawab para pembina dan pengembang kurikulum sangat luas dan kompleks, mereka harus mencari cara dan usaha yang terus-menerus untuk meningkatkan kurikulum. Usaha dan tugas itu akan lebih lancer, baik dan dapat dipertanggungjawabkan jika mengikuti pedoman, landasan, dan prinsip-prinsip tertentu yang ada dalam pengembangn kurikulum. 2. Masalah dalam Pengembangan Kurikulum Proses pengembangan kurikulum sebagaimana proses pengembangan program lainnya tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut menurut Oliva (1992) berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan komponen pengembangan kurikulum sebagai berikut. a. Bagaimana memilih materi yang akan diajarkan? b. Apa yang akan dilakukan terhadap berbagai pandangan yang bertolak belakang dengan pandangan para pengembang?
  30. 30. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 30 c. Bagaimana secara meyakinkan dapat menerapkan kurikulum untuk setiap tingkat pendidikan/pembelajaran? d. Bagaimana merumuskan kurikulum yang bersifat fleksibel terhadap tuntutan perubahan yang terus-menerus? e. Seberapa jauh pengaruh pergantian pimpinan institusi pendidikan terhadap kurikulum yang dikembangkan? f. Insensif apa yang dapat memotivasi seseorang untuk menerapkan kurikulum yang penuh dengan pembaharuan? g. Bagaimana cara memperoleh informasi yang benar agar dapat membuat keputusan yang tepat atau optimal tentang rumusan kurikulum? h. Bagaimana cara yang baik untuk memanfaatkan sumber daya manusia maupun bahan (materials) untuk melaksanakan perbaikan kurikulum? Di samping hal-hal tersebut, Oliva juga menyatakan bahwa ada hal-hal lain yang harus diintegrasikan ke dalam kurikulum, yaitu masalah dinamika kelompok, hubungan interpersonal, keterampilan berkomunikasikan, serta menekankan pada unsur dan segi akademik suatu mata pelajaran, pengintegrasian pendidikan moral, budi pekerti dan agama ke dalam kurikulum dan bagaimana caranya mempersiapkan siswa agar terampil menerapkan ilmu pengetahuannya di masyarakat.  LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Jelaskan hubungan antara kurikulum dan pembelajaran ! 2) Jelaskan mengapa perlu pengembangan kurikulum ! Petunjuk jawaban latihan 1) Kurikulum dan pembelajaran adalah tugas dua system yang berbeda, namun saling terkait satu sama lain. Silahkan anda pelajari kembali uraian dari Popham dan Baker mengenai kurikulum dan pembelajaran, atau Oliva dan tuliskan dengan kata-kata Anda sendiri !
  31. 31. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 31 2) Pengembangan kurikulum diperlukan untuk merespon perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan social diluar system pendidikan, kebutuhan siswa, kemajuan dan perubahan dalam system pendidikan.  RANGKUMAN Kurikulum adalah apa yang akan diajarkan sedangkan pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan apa yang diajarkan. Menurut McDonald dan Leeper kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan melaksanakan rencana tersebut. Kurikulum dan pembelajaran pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu system yang lebih besar, yaitu system persekolahan. Kurikulum dan pembelajaran adalah dua system yang saling terkait satu sama lain secara terus-menerus dalam suatu siklus. Menurut Gagne dan Briggs pembelajaran adalah suatu system yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang direncana untuk mempengaruhi proses belajar dalam diri siswa. Menurut Gredler proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa pada dasarnya terjadi dalam satu lingkungan buatan dan sangat sedikit bergantung pada situasi alami, ini artinya agar proses belajar siswa berlangsung optimal maka guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Proses menciptakan lingkungan belajar yang kondusif ini disebut pembelajaran. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola kegiatan pembelajaran adalah : 1. Harus berpusat pada siswa yang belajar, 2. Belajar dengan melakukan, 3. Mengembangkan kemampuan sosial, 4. Mengembangkan keingintahuan, 5. Imajinasi dan fitrah anak, 6. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, 7. Mengembangkan kreatifitas siswa, 8. Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi, 9. Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik, dan 10. Belajar sepanjang hayat. Pengembangan kurikulum adalah suatu istilah yang ada dalam studi kurikulum, yaitu sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa.kegiatan pengembangan
  32. 32. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 32 kurikulum ini perlu dilakukan untuk menghadapi dan mengantisifasi keadaan berikut, yaitu merespons perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di luar system pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan- kemajuan dalam pendidikan. Masalah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum biasanya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana memilih materi yang diajarkan, apa yang harus dilakukan bila ada pandangan yang bertolak belakang dengan pengembangan dan bagaimana menerapkan kurikulum secara meyakinkan.  TES FORMATIF 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat ! 1) Perbedaan kurikulum dan pembelajaran menurut Popham dan Baker adalah…. A. Kurikulum adalah apa yang akan diajarkan dan pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan apa yang diajarkan B. Kurikulum adalah program dan isi pelajaran dan pembelajaran adalah suatu metode mempersentasikan C. Kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan dan pembelajaran adalah pelaksanaan rencana tersebut D. Kurikulum adalah tujuan akhir program pembelajaran yang direncanakan sekolah dan pembelajaran adalah cara mencapai tujuan tersebut. 2) Kurikulum dan pembelajaran merupakan subsistem dari system yang lebih besar, yaitu system…. A. Pengajaran B. Persekolahan C. Masyarakat D. Kurikulum 3) Kurikulum dan pembelajaran adalah dua system yang berbeda namun saling terkait secara terus-menerus dalam suatu…. A. Siklus B. Hubungan interaksi C. Hubungan umpan balik D. Lingkaran
  33. 33. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 33 4) Proses menciptakan lingkungan belajar yang kondusif disebut…. A. Pembelajaran B. Rencana pembelajaran C. Pendidikan D. Kegiatan belajar mengajar 5) Belajar adalah kegiatan mendengarkan dan mencatat materi pembelajaran, hal ini bertentangan dengan prinsip pembelajaran, yaitu…. A. Belajar harus berpusat pada siswa B. Mengembangkan keinginan siswa C. Belajar dengan melakukan D. Belajar sepanjang hayat 6) Untuk membentuk manusia yang memiliki kesadaran moral pendidikan yang tinggi memerlukan pendidikan… A. Moral dan budi pekerti B. Life skill C. Belajar sepanjang hayat D. Hak asasi manusia 7) Pengembangan kurikulum perlu dilakukan untuk merespons hal-hal berikut, kecuali… A. Perkembangan ilmu dan teknologi B. Kebutuhan siswa C. Perlunya peningkatan kualitas pendidikan D. Perubahan system pendidikan 8) Proses pengembangan kurikulum melibatkan banyak ahli dan pejabat, salah satu yang tidak terlibat adalah…. A. Kepala sekolah B. Ahli materi/guru C. Kepala dinas D. PGRI 9) Menurut Miller dan Seller pengembangan kurikulum merupakan konsep yang komprehensif meliputi… A. Tujuan, bahan, kegiatan, dan evaluasi B. Perencanaan, implementasi, dan evaluasi C. Pengembangan, perencanaan, dan implementasi D. Orientasi, pengembangan, implementasi, dan evaluasi 10) Tanggung jawab para Pembina dan pengembang kurikulum sangat luas dan kompleks dan berusaha untuk….
  34. 34. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 34 A. Meningkatkan kurikulum B. Membina kurikulum C. Merekayasa kurikulum D. Mengembangkan kurikulum Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 2 yang terdapat dibagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi kegiatan belajar 2. Tingkat penguasaan = jumlah jawaban yang benar jumlah soal X 100% Arti tingkat penguasaan : 90 – 100% = baik sekali 80 -89 % =baik 70 -79% = cukup <70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih dibawah 80%, anda harus mengulangi meteri kegiatan belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF Tes formatif 1 t 1. C 2. B 3. D 4. A 5. C 6. C 7. B 8. D 9. A 10. C Tes formatif 2 1. D 2. B 3. A 4. A 5. C 6. A 7. C 8. D 9. D 10. A
  35. 35. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 35 Daftar pustaka Alberty, Harold B. (1965). Reorganizing the High School Curriculum. New York: The Macmillan Company. Doll, Ronald C. (1974). Curriculum Improvement: Decision Making and Processs, (Third Edition). Boston-London-Sidney: Allyan and Bacon. Hamalik, O. (1990). Pengembangan Kurikulum: Dasar-Dasar dan Perkembangannya. Bandung: Mandar Maju. Hasan, S.H. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: P2LPTK. Joyce, Bruce and Marsha Weil. (1980). Models of Teaching. New York: Prentice-Hall Inc. Kaber, A. (1988). Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK. Mager, R.F. and K.M. Beach Jr. (1967). Developing Vocatianal Instruction. Belmont California: David. S. Lake Publisher. Nasution, S. (1987). Pengembangan Kurikulum. Bandung: Alumni. Saylor, J. Galen; Alexander, William M.; dan Lewis, Arthur J. (1974). Curriculum Planning For Better Teaching and Learning. New York: Holt Rinehart and Winston. Sudjana, N. (1990). Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana, N. dan Ibrahim, R. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru. Sudjana, N. (1988). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Sukmadinata, N.S. (1988). Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum . Jakarta: P2LTPK.
  36. 36. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 36 Taba, Hilda (1962). Curriculum Development: Theory and Practice. New York: Harcourt Brace and World, Inc. Tyler, Ralph W. (1975). Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago and London : The University of Chicago Press. Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Zais, Robert S. (1976). Curriculum, Principles and Foundations. New York: Harper and Row Publisher.
  37. 37. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 37 MODUL 2 LANDASAN, PRINSIP, DAN PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM Drs. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Drs. Rudi Susilana, M.Si.  PENDAHULUAN Dalam modul 1 anda telah mempelajari hakikat kurikulum, yang mencakup pengertian dan fungsi kurikulum serta komponen-komponen yang harus ada dalam pengembangan kurikulum di sekolah serta memahami hakikat pembelajaran dan pengembangan kurikulum.pemahaman anda mengenai hakikat kurikulum, pembelajaran dan pengembangan kurikulum tersebut akan memberikan dasar dalam memahami materi modul 2 yang mencakup landasan, prinsip, dan pendekatan dalam pengembangan kurikulum. Setiap kegiatan pengembangan kurikulum pada jenjang mana pun selalu membutuhkan landasan yang kuat dan didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam karena kurikulum menempati posisi atau kedudukan yang sangat strategis dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Kurikulum akan menjadi penentu bagi proses pelaksanaan dan hasil-hasil yang ingin dicapai oleh pendidikan. Dengan posisi yang penting itu maka penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak bias dilakukan secara sembarangan, tetapi harus didasarkan pada berbagai landasan yang kokoh dan kuat. Disamping itu, dalam kegiatan pengembangan kurikulum perlu juga dipahami pendekatan-pendekatan dan model-model pengembangan kurikulum yang bias diterapkan sesuai dengan kondisi di mana kurikulum dilaksanakan. Setelah mempelajari modul 2 ini anda diharapkan dapat menjelaskan berbagai landasan, prinsip, dan pendekatan pengembangan kurikulum, serta langkah-langkah pengembangan kurikulum. Secara lebih khusus anda diharapkan dapat : 1. Menjelaskan landasan-landasan yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum; 2. Mengidentifikasi prinsip-prinsip pengembangan kurikulum; 3. Mengindentifikasi berbagai pendekatan dalam pengembangan kurikulum; 4. Menjelaskan langkah-langkah pengembangan kurikulum.
  38. 38. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 38 Kemampuan-kemampuan tersebut sangat penting dikuasai oleh para pengembang dan pelaksanaan kurikulum dalam hal ini guru dimasa datang. Dengan diterapkan kebijakan otonomi pendidikan maka selain sebagai pelaksana kurikulum, guru juga akan berperan sebagai pengembang kurikulum, khususnya untuk mengembangkan mata pelajaran yang diajarkan di lingkungan sekolahnya. Oleh karena itu, seorang guru perlu memahami berbagai landasan, prinsip, dan pendekatan pengembangan kurikulum. Untuk membantu Anda mencapai kemampuan-kemampuan tersebut, dalam modul ini disajikan pembahasan disertai latihan dalam dua kegiatan belajar berikut. 1. Kegiatan belajar 1 : landasan pengembangan kurikulum, 2. Kegiatan belajar 2 : prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum. Agar anda berhasil dengan baik dalam mempelajari modul ini, berikut ini beberapa petunjuk belajar yang dapat anda ikuti. 1. Bacalah dengan cermat bagian penduhuluan modul in sampai anda memmahami secara tuntas tentang apa,untuk apa dan bagaimana mempelajari modul ini. 2. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi modul ini melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran dengan mahasiswa lain atau dengan tutor anda. 3. Jika pembahasan dalam modul ini masih dianggap kurang, upayakan mencari informasi tambahan dari sumber lain. 4. Mantapkan pemahaman anda melalui kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial dengan mahasiswa lainya atau teman sesame guru. 5. Kerjakan latihan dan tes formatif yang disediakan dalam modul ini dengan sungguh- sungguh. Selamat belajar, semoga berhasil!
  39. 39. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 39 KEGIATAN BELAJAR 1 LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebuah bagunan gedung yang tinggi tentu membutuhkan landasan atau fondasi yang kuat agar dapat berdiri tegak, kokoh, dan tahan lama. Apabila bagunan tersebut tidak memiliki fondasi yang kokoh maka akan cepat ambruk atau hancur. Hal ini juga berlaku dalam pengembangan kurikulum. Apabila landasan atau fondasi pendidikan/kurikulum lemah dan tidak kokoh maka yang ditaruhkan adalah manusianya ( peserta didik ). Landasan pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan factor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah. Menurut salah seorang ahli kurikulum yang bernama Robert S. Zais (1976), kurikulum suatu lembaga pendidikan didasarkan kepada lima landasan ( foundatioms ) yang digambarkan dalam suatu model yang disebut „ An Eclectie Model of the curriculum and its foundations‟ sebagai berikut. The curriculum Gambar 2.1 Model eklektik kurikulum dan landasan –landasannya ( sumber : zais, 1976) Aims, Goals, Objectives g Content Learning Activities Evaluation Epistemology (the nature of knowlegdge Society/ culture The individual Learing theory Philosophical assumptions
  40. 40. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 40 Jika anda perhatikan Gambar 2.1 maka terlihat dengan jelas bahwa suatu kurikulum yang komponen-komponennya terdiri atas tujuan (aims, goals, objectives), isi/bahan (content), aktivitas belajar (learning activities), dan evaluasi (evaluation) agar memiliki tingkat relevansi dan flesibilitas yang tinggi perlu ditopang oleh lima landasan. Landasan utama dari kurikulum tersebut adalah landasan filosofis (philosophical assumption), sedangkan landasan yang lainnya adalah hakikat ilmu pengetahuan (epistemology), masyarakat dan kebudayaan (society and culture), individu/peserta didik (the individual), dan teori-teori belajar (learning theory), Senada dengan pendapat Robert S. Zais, Ralph W. Tyler (dalam Ornstein & Hunkins, 1988) mengemukakan pandangan yang erat kaitannya dengan beberapa aspek yang melandasi suatu kurikulum (dalam hal inin disebut school purposes) melalui visualisasi sebagai berikut. Gambar 2.2 Landasan Kurikulum Menurut R.W. Tyler Dengan mmperhatikan kedua pandangan tersebut, secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum , yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosiologis. Suggestions from subject specialists SCHOOL Purposes Studies of Learners Studies of Contemporary life Use Of Philosophy Use of psychology of learning
  41. 41. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 41 Untuk lebih memperjelaskan pemahaman Anda, berikut ini diuaraikan ketiga aspek pokok yang menjadi landasan dalam pengembangan suatu kurikulum. Silakan Anda perhatikan dengan saksama, kemudian buatlah ringkasannya dalam buku catatan untuk mempermudah Anda mengingat maksud dari ketiga landasan kurikulum tersebut. A. LANDASAN FILOSOFIS Landasan filosofis mengacu pada pentingnya filsafat dalam melaksanakan, membina, dan mengembangkan kurikulum di sekolah. Dalam pengertiam umum, filsafat adalah cara berpikir yang radikal, menyeluruh, dan mendalam (Socrates) atau suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Plato menyebut filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Filsafat berupa mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapi manusia, termasuk masalah pendidikan. Filsafat pendidkan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. Menurut Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya, dan pendidikan di Indonesia pada khususnya. Ketiga sistem filsafat tersebut, yaitu idealisme , realisme, dan pragmatisme. Bidang telahaan filsafat pada awalnya mempersoalkan siapa manusia itu. Kajian terhadap persoalan ini menelusuri hakikat manusia sehingga muncul beberapa asumsi tentang manusia. Misalnya, manusia adalah makhluk religi, makhluk sosial, makhluk yang berbudaya, dan sebagainya. Dari telahaan tersebut filsafat mncoba menelaah tiga pokok persoalan, yaitu hakikat benar salah (logika), hakikat baik buruk (etika), dan hakikat indah jelek (estetika), pada dasarnya pandangan hidup manusia mencakup tiga aspek tersebut sehingga ketiga aspek tersebut sangat diperlukan dalam pendidikan, terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan arah kemana siswa akan dibawa. Filsafat merupakan perangkat niala-nilai yang melandasi dan membimbing kearah pencapaian tujuan pendidikan. Oleh sebab itu, filsafat yang di anut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau yang di anut oleh perorangan (dalam hal ini guru) akan sangat mempengaruhi tujuan pendidkan yang ingin dicapai. Filsafat yang dianut oleh suatu Negara bagaimana pun akan mewarnai tujuan pendidikan di Negara tersebut. Dengan demikian, tujuan pendidikan suatu Negara akan berbeda dengan Negara lainnya, disesuaikan dengan filsafat yang dianut oleh Negara-negara tersebut. Tujuan pendidikan pada dasarnya merupakan rumusan yang
  42. 42. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 42 komprehensif mengenai apa yang seharusnya dicapai. Tujuan ini memuat pernyataan- pernyataan (statements) mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa selaras dengan system nilai dan filsafat yang dianut. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara filsafat yang dianut dengan tujuan pendidikan yang dirumuskan. Berkaitan dengan tujuan pendidikan ini, terdapat beberapa pendapat yang bisa dijadikan bahan kaji banding. Herbert Spencer (dalam Nasution, 1982) mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan harus memuat hal-hal sebagai berikut. 1. Self- preservasion, mengacu pada kemampuan individu untuk dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan sehat, mencegah penyakit, hidup teratur, dan lain-lain. 2. Securing the necessities of life, mengacu pada kemampuan individu untuk sanggup mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dengan melakukan suatu pekerjaan. 3. Rearing of family, mengacu kemampuan menjadi orang tua yang sanggup bertanggung jawab atas pndidikan anaknya dan kesjahteraan keluarganya. 4. Maintaining proper social and political relationships, mengacu pada kemampuan individu sebagai makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyrakat dan Negara. 5. Enjoying leisure time, mengacu pada kemampuan individu untuk memamfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menambah kenikmatan dan kegaiahan hidup. The united states office of education pada tahun 1918 ( dalam nasition 1982 ) telah mencanangkan tujuan pendidikan melalui seven cardinal principles yang memuat hal-hal berikut. 1. Health, dalam hal ini sekolah diwajibkan mempertinggi taraf keshatan murid-murid. 2. Command of fundamental processes, yang mengacu pada penguasaan kecakapan pokok yang fundamental seperti; menulis, membaca, dan berhitung. 3. Worthy home membership; dalam hal ini sekolah dituntut untuk mendidik anak-anak menjadi anggota keluarga yang berharga sehinggga berguna bagi masyarakat. 4. Vocational efficiency; mengacu pada efisiensi dalam pekerjaan sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat dicapai hasil yang sebesar-besarnya. 5. Citizenship; dalam hal ini sekolah dituntut untuk melakukan usaha menggembleng bermacam-macam bangsayang ada dinegara itu menjdai bangsa yang kompak. 6. Worthy use of leisure; mengacu pada kemampuan memanfaatkan dengan baik waktu senggang yang senantiasa betambah panjang berhubung dengan industrialisasi yang lebih sempurna. 7. Satisfaction of religious needs; yaitu pemuasan kehidupan keagamaan. Tujuan-tujuan pendidikan yang diuraikan di atas adalah tujuan pendidikan yang dikembangkan di amerika serikat beberapa tahun yang silam. Tujuan
  43. 43. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 43 pendidikan nasioanl diindonesia bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia. Hal ini telah diwujudkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam undang – undang RI nomor 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan. Sebagai implikasi bagi para pelaksana pendidikan, terutama bagi guru dan kepala sekolah, dalam melaksanakan, membina, dan mengembangkan kurikulum di sekolah maka nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut harus menjadi acuan yang mendasar dalam mewujudkan praktik pendidikan di sekolah sehingga menghasilkan siswa yang beriman, berilmu dan beramal dalam kondisi serasi, selaras dan seimbang. Disinilah pentingnya filsafat sebagai pandangan hidup manusia dalam hubungannya dengan pendidikan. Bagaimana kaitan antara filsafat pendidikan dengan kurikulum? Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karna tujuan pendidikan itu sangat di warnai oleh falsafah/pandangan hidup yang dianut suatu bangsa maka kurikulum yang di kembangkan juga akan mencerminkan falsafah/pandangan hidup tersebut. Hal ini, sydah jelas menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu Negara dengan filsafat yang di anut. Bila suatu Negara mengalami perubahan dalam hal pandangan hidupnya maka hal ini juga secara langsung mempengaruhi kurikulum yang ada. Di Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kurikulum yang di anut sangat hidupnya maka hal ini juga secara langsung mempengaruhi kurikulum yang ada. Di Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kurikulum yang di anut sangat berorientasi kepada kepentingan politik kerajaan Belanda saat itu. Begitu pula pada saat penjajahan Jepang, kurikulum yang ada berpijak pada filsafat yang di anut Negara Matahari Terbit itu. Pada masa orde baru, garapan pendidikan nasional khususnya kurikulum pendidikan disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan serta filsafat yang dianut bangsa Indonesia, yaitu Pancasila
  44. 44. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 44 Pengembangan suatu kurikulum, walaupun pada tahap awal sangat diwarnai oleh filsafat dan ideologi Negara, namum menuntut untuk senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan disempurnakan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan karena kurikulum itu sifatnya hipotesis. Maksudnya, kurikulum menentukan manusia hari esok (masa depan) pada hari ini berdasarkan pengalaman masa lalu. B. LANDASAN PSIKOLOGIS Pendidikan berkaitan dengan perilaku manusia. Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungannya, baik lingkungan yang bersifat fisik, maupun lingkungan sosial. Melalui pendidikan yang diharapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual,moral maupun sosial. Namun demikian perlu juga di ingatkan bahwa tidak semua perubahan perilaku siswa mutlak sebagai akibat intervensi dari program pendidikan. Ada juga perubahan perilaku yang di pengaruhi oleh kematangan siswa sendiri atau pengaruh dari lingkungan diluar program pendidikan. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan/program pendidiak sudah pasti berkenaan dengan proses perubahan perilaku siswa tersebut . Melalui kurikulum diharapkan dapat terbentuk tingkah laku baru berupa kemampuan- kemampuan actual dan potensial dari para siswa serta kemampuan-kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. Psikologis adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, sedangkan kurikulum adalah upaya menentukan program pendidikan untuk mengubah perilaku manusia. Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh psikologis sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku itu harus dikembangkan. Siswa adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, seperti perkembangan fisik/jasmani, intelektual, sosial, emosional, moral, dab sebagainya. Tugas utama para guru adalah membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. Sebenarnya tanpa pendidikan pun anak tetap berkembang, tetapi dengan proses pendidikan diharapkan perkembangan anak tersebut akan lebih optimal. Apa yang di didikkan dan bagaimana cara mendidiknya harus disesuaikan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak. Karakteristik perilaku pada berbagai tingkatan perkembangan merupakan bahan kajian dari psikologis perkembangan. Perkembangan-perkembangan yang di
  45. 45. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 45 alami oleh anak pada umumnya di peroleh malalui proses belajar. Guru selalu mencari upaya untuk dapat membelajarkan para siswanya. Cara belajar dan mengajar yang bagaimana yang dapat member hasil optimal dan bagaimana proses pelaksanaannya membutuhkan kajian/studi yang sistematik dan mendalam. Studi tersebut merupakan bidang kajain dari psikologis belajar. Dari uraian tersbut tampak adanya dua cabang psikologis yang sangat penting diperhatikan didalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologis perkembangan dan psikologis belajar. Psikologis belajar berkenaan atau memberikan sumbangan bagi kurikulum dalam hal bagaimana kurikulum itu di berikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Hal ini berarti berkenaan dengan strategi kurikulum. Psikologis perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang di perlukan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalaman materi/bahan ajar sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Karena kedua hal tersebut sangat penting peranannya dalam rangka mengembangkan suatu kurikulum maka berikut ini diuraikan secara lebih lengkap lagi. 1. Perkembangan Siswa dan Kurikulum Anak sejak dilahirkan sudah memperhatikan keunikan-keunikan, seperti pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan atau gerakan-gerakan tertentu. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang. Bagi aliran yang sangat percaya dengan kondisi tersebut sering menggangap anak sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil. J.J. Rousseau, seorang ahli pendidikan bangsa perancis, termasuk yang fanatik berpandangan seperti itu, Dewasa dalam bentuk kecil mengandung makna bahwa anak itu belum mmiliki sepenuhnya potensi yang diperlukan bagi penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Ia masih memerlukan bantuan untuk berkembangan ke arah kedewasaan yang sempurna. Rousseau member tekanan kepada kebebasan berkembang secara mulus mnjadi orang dewasa yang diharapkan. Istilah yang dipakainya adalah kembali k alam, kembali ke kodrat atau pembawaan dari sejak lahir. Ia berpendapat bahwa sgala sesuatu itu adalah baik dari tangan Tuhan, akan tetapi menjadi rusak karna tangan manusia. Pendidikan
  46. 46. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 46 itu harus menghormati anak sbagai makhluk yang memiliki potensi alaamiah. Rousseau percaya bahwa anak harus belajar dari pengalaman langsung. Jadi dalam hal ini, intervensi atau campur tangan pendidikan oleh guru dan orang tua tidak terlalu mendominasi. Pendapat lain mengatakan bahwa perkembangan anak hasil dari pengaruh lingkungan. Anak dianggap sebagai kertas putih, dimana orang-orang disekelilingnya dapat bebas menulis kertas tersebut. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan Rousseau, dimana justru aspek-aspek diluar anak/lingkungannya yang lebih banyak mempengaruhi perkembangan anak menjadi individu yang dewasa. Pandangan ini sering disebut teori tabularasa dengan tokohnya, yaitu John Locke. Selain kedua pandangan tersebut, terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa perkembangan anak merupakan hasil perpaduan antara pembawaan dan lingkungannya. Aliran ini mengakui akan kodrat manusia yang memiliki potensi sejak lahir, namun potensi ini akan berkembang menjadi baik dan sempurna berkat pengaruh lingkungan. Aliran ini disebut aliran konvergensi dengan tokohnya, yaitu William Stern. Pandangan yang terakhir dikembangkan oleh Havighurst dengan teorinya tentang tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Tugas-tugas perkembangan yang di maksud adalah tugas yang secara nyata harus dipenuhi oleh setiap anak/individu sesuai dengan taraf/tingkat perkembangan yang dituntut oleh lingkungannya. Apabila tugas-tugas tidak terpenuhi maka pada taraf perkembangan berikutnya anak/individu tersebut akan mengalami masalah. Melalui tugas-tugas ini, anak akan berkembang dengan baik dan beroperasi secara kumulatif dari yang sederhana menuju kearah yang lebih kompleks. Namun demikian, objek penelitian yang dilakukan oleh Havighurst ini adalah anak-anak Amerika, jadi masih pelu kebenarannya diteliti dan dikaji dengan cermat untuk anak-anak Indonesia yang memiliki kondisi lingkungan yang berbeda. Pandangan tentang anak sebagai makhluk yang unik sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum pendidikan. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri, memiliki perbadaan disamping persamaanya. Implikasi dari hal tersebut terhadap pengembangan kurikulum yaitu sebagai berikut.
  47. 47. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 47 a. Setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhannya. b. Di samping menyediakan pelajaran yang sifatnya umum ( program inti ) yang wajib dipelajari setiap anak, sekolah mnyediiakan pula pelajaran-pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak. c. Kurikulum di samping menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan/keterampilan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. Anak-anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. d. Kurikulum memuat tujuan-tujuan yang mengandung pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin. Implikasi lain dari pengetahuan tentang anak/individu dalam proses pelaksanaan kurikulum (pembelajaran) dapat diuraikan sebagai berikut. a. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara operasional selalu berpusat kepada perubahan tingkah laku siswa. b. Bahan/materi pelajaran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, minat dan perhatian siswa dan bahan tersebut mudah dijangkau oleh siswa. c. Strategi pembelajaran atau cara menyampaikan bahan ajar disesuaikan dengan taraf perkembangan siswa. d. Media yang dipakai senantiasa dapat menarik perhatian dan minat siswa. e. System evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang menyeluruh dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap yang lainnya dan dijalankan secara terus-menerus. 2. Psikologi belajar dan kurikulum Psikologi belajar berkaitan dengan bagaimana individu/siswa belajar. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku yang terjadi melalui peengelaman. Segala perubahan perilaku, baik pada aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotor (keterampilan) yang terjadi karena proses pengelaman, dapat dikategorikan sebagai perilaku hasil belajar. Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi secara insting atau terjadi karena kematangan, atau perilaku yang terjadi ssecara kebetulan, tidak termasuk hasil belajar. Mengetahui dan memahami psikologi/teori belajar merupakan bekal bagi anda sebagai guru kimia SLTP/SMA/MA dalam tugas pokok membelajarkan siswa. Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga rumpun, yaitu : teori displin mental atau teori daya (faculty theory), teori behaviorisme, dan teori organismik atau cognitive gestalt
  48. 48. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 48 field. Menurut teori daya, dari kelahirannya anak/individu telah memiliki potensi-potensi atau daya-daya tertentu ( faculties) yang masing-masing memiliki fungsi tertentu , seperti daya mengingat, daya berpikir, daya mencurahkan pendapat, daya mengamati, daya memecahkan masalah, dan daya- daya lainnya. Daya-daya ini dapat dilatih agar dapat berfungsi dengan baik. Daya berpikir siswa sering dilatih dengan menghafalkan sesuatu. Daya-daya yang telah terlatih dapat dipindahakan kedalam pembentukan daya-daya lain. Pemindahan (transfer) ini mutlak dilakukan melalui latihan ( drill ). Oleh karena iitu, pengertian belajar menurut teori ini adalah melatih siswa dalam daya-daya terseebut. Cara mempelajarinya pada umumnya melalui hafalan dan latihan. Rumpun teori belajar yang kedua, yaitu teori behaviorisme. Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu teori koneksionisme atau asosiasi, teori kondisioning, dan teori penguatan ( reinforcement/operant conditioning). Rumpun teori behaviorisme ini berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Rumpun teori ini tidak mengakui sesuatu yang sifatnya mental. Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat dan diamati. Teori koneksionisme atau teori asosiasi adalah teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini kehidupan tunduk kepada hukum stimulusrespons atau aksi-reaksi. Belajar pada dasarnya merupakan hubungan antara stimulus dan respons (S-R). Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respons sebanyak- banyaknya. Tokoh utama dari toeri ini, yaitu Edward L. Thorndike yang memunculkan tiga hukum belajar (law of learning) yang sangat terkenal, yaitu law of readiness, law of exercise, dan law of effect. Menurut hukum kesiapan (readiness), hubungan antara stimulus dengan respons akan terbentuk atau mudah terbentuk apabila telah ada kesiapan pada syitem saraf individu. Hukum latihan atau pengulangan (exercise/repetition), menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang- ulang. Hukum akibat (effect), menyatakan bahwa hubungan stimulus dan respons akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan. Teori belajar yang ketiga, yaitu teori organismik atau gestalt. Teori ini mengacu pada pengertian bahwa keseluruhan lebih bermakna daripada bagian- bagian, tetapi keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Manusia
  49. 49. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 49 dianggap sebagai makhluk organisme yang melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan. Hubungan ini dijalin oleh stimulus dan respons. Menurut teori ini, stimulus yang hadir diseleksi menurut tujuannya, kemudian individu melakukan interaksi dengannya dan seterusnya sehingga terjadi perbuatan belajar. Bertentangan dengan teori koneksionisme/asosiasi, menurut teori gestalt, peran guru, yaitu sebagai pembimbing bukan penyampai pengetahuan, dan siswa berperan sebagai pengolah bahan pelajar. Belajar berlangsung berdasarkan pengalaman, yaitu kegiatan interaksi antara individu dengan lingkungannya. Belajar menurut teori ini bukanlah menghafal akan tetapi memecahkan masalah, dan metode belajar yang dipakai adalah metode ilmiah dengan cara siswa dihadapkan pada berbagai permasalahan, merumuskan hipotesis atau praduga, mengumpulkan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah, menguji hopotesis yang telah dirumuskan, dan pada akhirnya para siswa dibimbing untuk menarik kesimpula-kesimpulan. Teori ini banyak mempengaruhi praktik pelaksanaan kurikulum disekolah karena teori ini memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut. a. Belajar berdasarkan keseluruhan Dalam belajar siswa mempelajari bahan pelajaran secara kseluruhan. Bahan- bahan dirinci kedalam bagian-bagian untuk dipelajari secara keseluruhan, dan dihubungkan satu sama lain secara terpadu. Siswa mereaksi bahan yang dipelajari oleh pikirannya, perasaannya, mentalnya, spiritualnya dan oleh seluruh aspek tingkah lakunya. Pelajaran yang diberikan kepadanya bersumber pada suatu masalah atau pokok bahasan yang luas yang harus di pecahkan oleh siswa. Siswalah yang harus mengolah bahan pelajran itu. Siswa mereaksi seluruh pelajaran dengan keseluruhan jiwanya. b. Belajar adalah pembentukan kepribadian Siswa dipandang sebagai makhluk keseluruhan. Siswa dibimbing untuk memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara berimbang. Ia dibina untuk menjadi manusia seutuhnya , yaitu manusia yang memiliki keseimbangan lahir dan batin antara pengetahuan dengan sikapnya dan antara sikap dengan keterampilannya. Seluruh kepribadiannya diharapkan utuh melalui proses pengajaran yang terpadu.
  50. 50. TELAAH KURIKULUM ( kimia 2012 ) 50 c. Belajar berkar pemahaman Menurut teori ini belajar adalah proses pemahaman. Pemahaman mengandung makna penguasaan pengeatahuan yang diselaraskan dengan sikap dan keterampilan. Dapat pula diartikan bahwa pemahaman adalah kemudahan dalam menemukan suatu pemecahan masalah. Keterampilan menghubung- hubungkan bagian-bagian pengetahuan untuk diperoleh suatu kesimpulan merupakan salah satu wujud pemahaman. d. Belajar berdasarkan pengalaman Sebagaimana dikemukakan bahwa belajar adalah pengalaman. Proses belajar adalah bekerja, mereaksi, memahami, dan mengalami. Dalam belajar itu siswa aktif guru hanya membantu secara minimal sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa. Siswa mengolah bahan pelajaran melalui diskusi, Tanya jawab, kerja kelompok, demontrasi, survei lapangan, karyawisata, atau belajar diperpustakaan. e. Belajar adalah suatu proses perkembangan Dalam hubungan ini ada tiga hal yang perlu diketahui guru, yaitu: perkembangan siswa merupakan hasil dari pembawaan, perkembangan siswa merupakan hasil lingkungan., dan perkembangan siswa merupakan hasil keduanya. Perpaduan kedua pandangan itu melahirkan teori tugas perkembangan (developmental tasks) yang diciptakan oleh Havighurst. f. Belajar adalah proses berkesinambungan Belajar adalah proses sepanjang masa. Manusia tidak pernah berhenti belajar, walau sudah tua. Manusia selalu melakukan proses belajar. Hal itu dilakukan karena factor kebutuhan. Belajar adalah proses kegiatan interaksi antara dirinya dengan lingkungannya yang dilakukan darilahir sampai meninggal. Oleh karena itu, belajar merupakan proses berkesinambungan. Untuk mempertahankan prinsip ini maka kurikulum menganjurkan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang tidak terbatas pada kurikulum yang tersedia, tetapi juga kurikulum yang sifatnya ekstra untuk memenuhi kebutuhan para siswa.

×