Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×

files48514koordinasi karhutla2016.ppt

Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 58 Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Aktuellste (20)

Anzeige

files48514koordinasi karhutla2016.ppt

  1. 1. 1 KOORDINASI PENANGANAN PB KARHUTLA HOTEL ASTON, 24 MEI 2016
  2. 2. PENDAHULUAN  Latar Belakang  Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai berbagai fungsi/manfaat secara ekonomis, ekologis dan estetika.  Secara ekonomis hutan merupakan sumber daya alam yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan merupakan salah satu modal pembangunan.  Secara ekologis hutan sangat berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan berpengaruh terhadap iklim global.  Secara estetika hutan merupakan keindahan alam yang sangat menakjubkan.
  3. 3. a) Kebakaran hutan dan lahan akan selalu berulang terjadi ketika datang musim kemarau. b) Perilaku manusia, kondisi lahan gambut yang cukup luas dipacu kemarau panjang yang kering merupakan faktor utama meningkatnya kerawanan kebakaran. c) Kesiapsiagaan lebih awal dan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, masyarakat dan sektor swasta diperlukan agar pengendalian kebakaran dapat berdaya guna dan berhasil guna. d) Startegi dan upaya pengendalian kebakaran secara efektif perlu dipikirkan dan dilakukan secara bersama–sama.
  4. 4. 1. UU 24 TAHUN 2007 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA 2. PERATURAN PEMERINTAH 21 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA. 3. PERATURAN MENDAGRI 46 TAHUN 08 TENTANG TATA KERJA BPBD 4. PERDA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN
  5. 5. SUB BAG UMUM & KEPEGAWAIAN SUB BAG PROGRAM SEKRETARIS KEPALA SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN KEPALA PELAKSANA BPBD PENGARAH - INSTANSI - PROFESIONAL/AHLI SESKI REKONSTRUKSI SEKSI PENCEGAHAN SEKSI REHABILITASI SEKSI KESIAPSIAGAAN BIDANG REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI BIDANG PENCEGAHAN DAN KESIAPSIAGAAN BIDANG PENANGANAN DARURAT SEKSI TANGGAP DARURAT SEKSI PENANGANAN PENGUNGSI SUB BAG KEUANGAN JABATAN FUNSIONAL
  6. 6. VISI : ˝Sumatera Selatan Pro – Disaster Risk Reduction 2018˝ Pro – Disaster Reduction merupakan perubahan paradigma penanggulangan bencana yang tidak lagi sekedar fokus pada tanggap darurat, akan tetapi pada pengurangan resiko bencana atau langkah preventif sebelum terjadinya bencana.
  7. 7. MISI : 1. Mengurangi faktor – faktor bencana yang mendasar. 2. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana. 3. Membangun sistem penanggulangan bencana daerah yang handal yang terintegrasi dengan budaya keselamatan dan ketahanan di semua level masyarakat melalui penerapan inovasi. 4. Melakukan identifikasi, kajian dan monitoring resiko bencana yang terintegrasi dalam sistem peringatan dini ( early warning system). 5. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh. 6. Meningkatkan kuantitas dan kualitas pemulihan pasca bencana.
  8. 8. Sumatera Selatan secara geografis, terletak antara 1º – 4º Lintang Selatan dan 102º - 108º Lintang Utara dengan luas 87.017 KM2, berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa tersebar di 17 Kabupaten/Kota, (13 Kab/4 Kota, 217 Kecamatan 371 Kelurahan 2.747 Desa Sumatera Selatan memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh dua musim disepanjang tahun, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi dari sekitar bulan Oktober s/d April dan musim kemarau sekitar bulan Mei s/d Oktober.
  9. 9. Kondisi geografis Sumatera Selatan dengan dataran tinggi (Pegunungan) dibagian Barat seperti Pagaralam, Empat Lawang, Lahat, Muara Enim dan OKU Selatan, berpotensi terjadinya peristiwa alam seperti gunung meletus, gas beracun/belerang (Gunung) yang merupakan gunung api aktif, tanah longsor, banjir bandang, Sementara di bagian timur yang merupakan dataran rendah dan perairan seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Palembang, mempunyai potensi terjadinya banjir akibat luapan air sungai dan menimbulkan genangan yang dipengaruhi oleh musim hujan, selain itu juga pada daerah yang lebih terbuka dapat terjadi angin puting beliung.
  10. 10. 1. BANJIR 2. KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 3. KEBAKARAN RUMAH PENDUDUK 4. TANAH LONGSOR 5. BANJIR BANDANG 6. ANGIN PUTING BELIUNG 7. GUNUNG MELETUS BENCANA DI SUMATERA SELATAN
  11. 11. DATA KEJADIAN BENCANA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2014 DAN TAHUN 2015 NO. JENIS BENCANA TAHUN 2014 TAHUN 2015 PER OKTOBER 1 KEBAKARAN 114 Kejadian 92 Kejadian 2 BANJIR 24 Kejadian 22 Kejadian 3 PUTING BELIUNG 22 Kejadian 5 Kejadian 4 TANAH LONGSOR 12 Kejadian 19 Kejadian 5 BANJIR BANDANG 6 Kejadian 2 Kejadian 6 KECELAKAAN 7 Kejadian 3 Kejadian 7 KARHUTLA 1 Periode : 7.234 Hotspot 1 Periode : 23.022 Hotspot JUMLAH 186 Kejadian 144 Kejadian
  12. 12. Dilaksanakan melalui koordinasi dengan SKPD lainnya di daerah, instansi vertikal yang ada di daerah, lembaga usaha, dan/atau pihak lain yang diperlukan pada tahap pra bencana dan pasca bencana (UU NOMOR 24/2007)
  13. 13. Dilaksanakan melalui pengerahan SDM, peralatan, logistik dari SKPD lainnya, instansi vertikal yang ada di daerah serta langkah-langkah lainnya yang diperlukan dalam rangka penanganan darurat bencana
  14. 14. Dilaksanakan secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan SKPD lainnya, instansi vertikal yang ada di daerah dengan memperhatikan kebijakan penyelenggaraan PB dan ketentuan per UU yang berlaku
  15. 15. PETA RAWAN BANJIR
  16. 16. PETA LOKASI DAERAH RAWAN BENCANA BANJIR DI PROVINSI SUMATERA SELATAN KETERANGAN RAWAN BANJIR Martapura Km.235+860 Km.176 Base Camp PPK 01 Km.84 Base Camp PPK 02 Km.145 Base Camp PPK 06 Km.252+600 Base Camp PPK 07 Musi Banyuasin - Sanga Desa - Babat Toman - Lais - Tungkal Jaya, Peninggalan 1 Peninggalan 2 - Bayung Lencir, Pangkalan Bayat,Bayat Ilir - Batang Hari Leko - Keluang, Dawas, Tanjung Dalam - Sungai Keruh, Kerta Jaya - Lawang Wetan - Babat Supat, SP 2, SP 3, SP 4, SP 5 Lahat - Tanjung Sakti Pumi -Lahat Pasar Bawah, Kota Baru Pasar Lama, Kota Negara, Bandar Jaya, Talang Jaya Selatan Palembang SU I, SU II, Gandus Kemuning, Kertapati, IB I, IB II. Kalidoni, Plaju Musi Rawas Muara Lakitan Muara Beliti Karang Dapo Muara Kelingi Rawas Ulu Megang Sakti OKU Timur Bangsa Raja Madang Suku Pali Tanah Abang Penukal Muara Enim -Sungai Rotan(Danau Tampang, Suka Merindu, Sungai Rotan, Muara Lematang Tanding Marga) -Lawang Kidul -Ujan Mas (Tanjung Raman, Muara Gula Lama Ujan Mas Lama, Guci) -Gunung (Megang(Ulak Bandung, Gunung Megang Dalam, Gunung Megang Luar) -Belimbing (Tanjung, Belimbing, Dalam, Berugo, Bulang, Teluk Lubuk, Pagar Jati) -Benakat(Pagar Jati) -Rambang Dangku(Banyuayu, Kuripan,) -Benakat (Kuripan Selatan, Baturaja Dangku, Siku Pangkalan Babat) -Muara Belida (Tanjung Baru, Kayu) -Benakat(Ara Batu, Patra Tani, Gedung Buruk, Harapan Mulia) Ogan Ilir - Pemulutan - Inderalaya Utara - Rambutan - Muara Kuang - Rantau Alai - Inderalaya - Lubuk Keliat - Rantau Panjang - Kandis OKI - SP. Padang - Kayuagung - Lempuing - Lempuing Jaya - Jejawi - Pampangan Banyuasin - Rantau Bayur - Pulau Rimau Tabuan Asri, Dana Mulya, Sumber Mulya, Suber Rezeki, Rawa Bada, Wana Mukti, Teluk Betung
  17. 17. PETA RAWAN LONGSOR
  18. 18. PETA LOKASI RAWAN BENCANA LONGSOR PROVINSI SUMSEL KETERANGAN RAWAN LONGSOR Martapura Km.235+860 Km.176 Base Camp PPK 01 Km.84 Base Camp PPK 02 AMP Gading CG Km.113 Base Camp PPK 05 Km.252+600 Base Camp PPK 07 Km.52 Base Camp PPK 03 Empat Lawang -Tebing Tinggi Baturaja Baru - Sikap Dalam Kingiklan, Martapura, Rantau Danau, Tapak Batu, Karang Anyar, Trago Raso, - Ulu Musi, Tanjung Agung Pagar Alam - Pajar Bulan, Besemah Serasan - Dempo Selatan Atung Bungsu, Prahu Dipo, Penjalang, Meringang Lama - Dempo Utara, Jangkar Mas Lahat - Tanjung Sakti Tanjung Sakti Muara Enim -Semendo Barat Cahaya Alam -Muara Enim Tungkal -Lawang Kidul Lawang Kidul - Semendo Darat Ulu, Datar Lebar Oku Selatan - Sungai Are, Ujan Mas - Buay Sandang Aji, Madura, Bunga Mas, Lubuk Liku,Tanjung Iman - Warkuk Ranau Selatan, Tanjung Baru - Pulau Beringin, Anugerah Kemu - Kisam ilir, Simpang Campang - Muara Dua, Bumi Agung, Rengas - Buay Pemaca, Desa Karet Musi Banyuasin - Sekayu, Balai Agung - Lais, Epil -Sanga Desa -Babat Toman Ogan Komering Ilir - Tanjung Lubuk, Tanjung Merindu - Tanjung Lubuk, Serampek
  19. 19. KONDISI LAHAN DI SUMATERA SELATAN LUAS KAWASAN HUTAN : 3.478.468 HA LUAS PERKEBUNAN : 1.800.000 HA LUAS LAHAN PERTANIAN : 752.000 HA LUAS LAHAN LAINNYA : 1.564.320 HA LUAS LAHAN GAMBUT : 1.483.662 HA (TERSEBAR DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, MUSI BANYUASIN, BANYUASIN, MUARA ENIM, OGAN ILIR DAN MUSI RAWAS)
  20. 20. KONDISI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN WILAYAH SUMATERA SELATAN TAHUN 2015
  21. 21. GRAFIK HOTSPOT BULANAN DI SUMSEL TAHUN 2015 SUMBER DATA UPTD DISHUT SATELIT TERRA AQUA Jumlah hotspot pada Bulan Agustus meningkat signifikan dan memasuki bulan September terjadi tren peningkatan yang mengindikasikan telah memasuki musim kemarau yang berdampak meningkatnya kerawanan kebakaran hutan dan lahan 13 35 42 29 137 229 656 1800 10523 8729 829 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER Grafik Hotspot Bulanan di Sumsel Tahun 2015 SUMBER DATA : UPTD PKHL DISHUT (DATA MODIS) SATELIT TERRA & AQUA
  22. 22. 1. Periode Januari s/d Oktober 2015 hotspot terbanyak di Kabupaten OKI. Berdasarkan verikasi lapangan OKI seringkali tidak ditemukan kebakaran. Berikutnya MUBA. 2. Di Ogan Ilir sepanjang jalan palembang- Inderalaya sebagai wilayah Karhutla DATA HOTSPOT PER KABUPATEN DI SUMSEL TAHUN 2015 S/D TGL 11 NOV 2015 11 5 18 20 197 13256 356 254 289 647 4669 1404 112 230 809 553 192 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 Kota Palembang Kota Pagar Alam Kota Lubuk Linggau Kota Prabumulih Ogan Ilir OKI OKU OKU Timur OKU Selatan MuRa MuBa Banyuasin Empat Lawang Lahat Muara Enim MuraTara Pali
  23. 23. WILAYAH KECAMATAN YANG SERING TERJADI HOTSPOT BERDASARKAN HASIL PEMANTAUAN SATELIT NO KABUPATEN KECAMATAN 1 OKI Air Sugihan, Tulung Selapan, Cengal, Pampangan, Pangkalan Lampam, Pedamaran,Sungai Menang 2 Ogan Ilir Pemulutan Barat, Indralaya Utara Muara Kuang, Tanjung Batu 3 MUBA Bayung Lincir, Sungai Lilin Keluang, Lais, Babat Toman Batang Hari leko 4 Banyuasin Muara Telang, Pulau Rimau Talang Kelapa, Rantau Bayur Rambutan 5 Muara Enim Gelumbang, Rambang Lawang Kidul, Sungai Rotan Tanah Abang
  24. 24. 439 90 112 87 229 478 281 277 447 141 241 419 211 151 311 307 212 256 412 181 381 268 191 139 477 160 189 121 342 132 97 0 100 200 300 400 500 600 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 NILAI STANDAR PENCEMAR UDARA ISPU BULAN OKTOBER 2015
  25. 25. 116 93 108 91 131 116 89 159 74 75 73 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 NILAI STANDAR PENCEMAR UDARA ISPU BULAN NOVEMBER 2015
  26. 26. GRAFIK ISPA TAHUN 2014 - 2015 S/D BULAN NOVEMBER NOVEMBER 2015 (Sumber Data: Dinkes Prov.SS)
  27. 27. RENCANA AKSI NASIONAL PENGURANGAN RISIKO BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN BERDASARKAN : INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PENINGKATAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN MENGINSTRUKSIKAN KEPADA BUPATI / WALIKOTA, DIANTARANYA ADALAH 1. MENYUSUN PERATURAN BUPATI / WALIKOTA TENTANG SISTEM PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN. 2. MENGOPTIMALKAN PERAN DAN FUNGSI BPBD SEBAGAI KOORDINATOR DALAM PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, BAGI KABUPATEN / KOTA YANG BELUM MEMILIKI BPBD SEBAGAI KOORDINATOR ADALAH INSTANSI YANG MEMBIDANGI PEMADAMAN KEBAKARAN. 3. MELAKSANAKAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI WILAYAH KERJANYA. 4. MENGALOKASIKAN BIAYA PELAKSANAAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DALAM APBD KABUPATEN/KOTA 5. MEWAJIBKAN PELAKU USAHA PERTANIAN, UNTUK MEMILIKI SUMBER DAYA MANUSIA, SARANA DAN PRASARANANYA SERTA MELAKSANAKAN PENGENDALIAN KEBAKARAN PADA LAHAN YANG MENJADI TANGGUNG JAWABNYA. 6. MEMBERIKAN SANKSI TEGAS KEPADA PELAKU USAHA YANG TIDAK MELAKSANAKAN PENGENDALIAN KEBAKARAN YANG MENJADI TANGGUNG JAWABNYA 7. MELAPORKAN HASIL PELAKSANAAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI WILAYAHNYA KEPADA GUBERNUR.
  28. 28. KEGIATAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN . Pencegahan Kegiatan pencegahan merupakan usaha untuk menekan secara dini kesempatan terjadinya kebakaran hutan dan lahan 1. Optimalisasi sistem peringatan dini - Sistem peringatan dini bahaya kebakaran sangat terkait dengan unsur-unsur iklim dan cuaca yang mempengaruhi tingkat rawan kebakaran. - Kebakaran dapat diantisipasi lebih awal dengan menerapkan instrumen sistem peringatan dini yang selalu dipantau dan hasilnya diinformasikan kepada pihak- pihak terkait untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam pencegahan kebakaran. 2. Peningkatan Peran Masyarakat Peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka melakukan strategi pengendalian kebakaran berbasis masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara aktif pada upaya-upaya pengendalian kebakaran. Peningkatan peran masyarakat dapat diupayakan melalui: - Kampanye peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran dan penegakan melalui dialog langsung dan atau melalui media penyuluhan. - Peningkatan kemampuan masyarakat melalui pelatihan dan bimbingan teknis . - Pemberian insentif atas partisipasi aktif dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan berupa bantuan pengembangan ekonomi mandiri. - Memasukkan komponen anggaran pengendalian kebakaran hutan dan lahan dalam alokasi anggaran desa.
  29. 29. 3. Menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning) baik oleh pemegang ijin maupun masyarakat. 4. Mengatur tata kelola lahan gambut Lahan gambut yang belum rusak agar dikonservasi, lahan gambut yang sudah dimanfaatkan untuk usaha perkebunan dan HTI harus diatur secara ketat water managementnya dengan sekat kanal sehingga pada musim kemarau lahan gambut tetap basah. 5. Peningkatan kesiapsiagaan - Pembentukan Posko Siaga secara terpadu - Patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan - Monitoring kesiapsiagaan pada perusahaan perkebunan dan HTI - Menyiapkan regu dan peralatan pemadam kebakaran
  30. 30. B. Pemadaman Ketika upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak berhasil sehingga terjadi kebakaran maka langkah selanjutnya melakukan pemadaman: 1. Pemadaman darat dengan mengerahkan regu-regu/satgas dan pasukan yang ada. 2. Pemadaman Udara dengan melakukan water bombing dan TMC/Hujan Buatan. C. Penanganan dampak kebakaran 1. Kegiatan kesehatan selama gangguan kabut asap • Mengadakan pelayanan kesehatan gratis pada daerah-daerah lokasi hotspot/kebakaran. • Membentuk posko-posko pelayanan kesehatan akibat gangguan asap. • Membagikan masker kepada masyarakat dan pelajar untuk menghindari dampak asap. • Pelayanan puskesmas /pustu siaga melayani pasien akibat asap/ispa terutama di daerah rawan. • Pembagian masker kepada masyarakat khususnya pelajar dan pengendara kendaraan roda dua. • Pelayanan kesehatan kepada petugas pemadaman darat dilapangan.
  31. 31. UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN PENCEGAHAN KARHUTLA DI SUMSEL 1. Penetapan Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan lahan melalui SK Gubernur Sumsel No. 171/KPTS/BPBDSS/2016, tgl 1 Maret 2016 2. Sosialisasi pencegahan kebakaran secara terpadu di wilayah OKI, OI, Banyuasin, Muba, Pali, Muara Enim, 3. Menyebarluaskan Maklumat Kapolda Sumsel No Mak/03/IV/2015 tentang Larangan Pembakaran hutan, lahan atau ilalang/semak belukar kepada Bupati, BPBD Kabupaten dan lintas sektor terkait. 4. Kampanye pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui media massa (koran dan televisi) 5. Pembinaan dan pengawasan kepatuhan perusahaan HTI dalam menyediakan sarana prasarana dan SDM nya. 6. Pemantauan hotspot harian dan meminta perusahaan HTI untuk melakukan ground check 7. Menginstruksikan kepada perusahaan perkebunan dan HTI di SUMSEL untuk menyiagakan sumber dayanya untuk melakukan pengendalian kebakaran serta pembuatan sekat kanal (Canal Blocking) untuk menjaga lahan gambut tetap dalam kondisi basah pada saat musim kemarau. 8. Patroli darat dan udara pada wilayah rawan kebakaran secara mandiri dan bersama Tim lainnya serta mengaktifkan Posko terpadu. 9. Surat Edaran Gubernur tentang Gerakan Pemadaman Karhutla 10. Gerakan Sholat Istisqo/Sholat Minta Hujan
  32. 32. UPAYA PENANGGULANGAN KARHUTLA YANG TELAH DILAKUKAN DI SUMSEL 1. Pembentukan Satuan Tugas Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan lahan melalui SK Gubernur Sumsel tgl 1 April 2016 No. 241/KPTS/BPBD-SS/2016 yang terdiri dari : a. Danrem 044 Gapo sebagai Dansatgas. b. Kasi Ops Korem 044 Gapo sebagai Dansubsatgas Operasi Darat. c. Dan Lanud Palembang sebagai Dansubsatgas Operasi Udara. d. Dir Reskrimsus Polda Sumsel sebagai Dansubsatgas Penegakan Hukum. e. BPBD Provinsi dan Kab/Kota sebagai Subsatgas Sosialisasi Pencegahan Karhutla. f. Trauma Center dan Pelayanan Kesehatan sebagai Subsatgas Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
  33. 33. 2. Menyampaikan materi tentang Pelarangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar kepada petugas SKPD Provinsi Sumatera Selatan yang bertugas di wilayah Kabupaten yang rawan kebakaran hutan dan lahan seperti penyuluh pertanian, perkebunan, perikanan, kesehatan (Bidan Desa) serta permintaan penyampaian materi kepada pada penceramah/mubalik melalui Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, agar dapat disampaikan kepada masyarakat.
  34. 34. 3. Kegiatan di POSKO SIAGA KARHUTLA Pada rapat harian posko diinformasikan lokasi koordinat titik hotspot kepada SKPD terkait untuk segera dapat dikonfirmasi kepada stakeholder kehutanan, perkebunan atau pertanian yang dilokasinya terindikasi ada hotspot agar segera melakukan tindakan pemadaman jika dilokasi tersebut atau disekitarnya terjadi atau terdapat kebakaran.
  35. 35. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan Keberhasilan dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan sangat tergantung dari peran serta dan komitmen para pihak terkait, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah tanggung jawab semua pihak baik Pemerintah, Masyarakat, Maupun Swasta. Dengan terkendalinya kebakaran hutan dan lahan, maka permasalahan asap yang selalu terjadi pada musim kemarau akan dapat teratasi.
  36. 36. 4. Pelaksanaan Operasi Pemadaman Darat oleh Tim dari BPBD Provinsi Sumatera Selatan / BPBD Kabupaten, Manggala Agni, Tim Pemadam dari HTI dan Perkebunan bersama TNI dan POLRI dari Satuan Kewilayahan, yang dilaksanakan mulai 10 Juli 2015, dengan personil sebanyak 4.997 personil, dengan rincian : a. Satgas BPBD, 80 Orang. b. Manggala Agni, 240 Orang. c. SKPD/POL PP/Polhut, 30 Orang. d. Masyarakat Peduli Api, 45 Orang. e. RPK Perkebunan dan HTI, 600 Orang. f. TNI Kodam/Korem, 1.119 Orang. g. Mabes Polri/Polda, 1.515 Orang. h. TNI Mabes, 1.318 Orang. i. TNI AU, 50 Orang.
  37. 37. 5. Pelaksanaan Operasi Pemadaman Udara (Water Bombing) melalui Pesawat Helikopter : Tahun 2015 a. Helikopter MI-8, dengan kapasitas bombing 4.000 lt yang beroperasi dari tanggal 10 Juli s/d 21 Juli 2015, telah melakukan 15 kali penerbangan dengan total bombing sebanyak 283 kali. b. Helikopter M-171, dengan kapasitas bombing 4.000 lt yang beroperasi dari tanggal 25 Juli s/d 5 Agustus 2015, telah melakukan 20 kali penerbangan dengan total bombing sebanyak 575 kali. 6. Bantuan Pesawat Helikopter dari BNPB sebanyak 2 bh untuk patroli di kawasan lahan gambut. (2016)
  38. 38. Secara ekologis hutan/rawa gambut memiliki fungsi dan peran yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia, baik sebagai penghasil dan penyimpan karbon, fungsi hidrologi, konservasi keanekaragaman hayati, perikanan, dan pertanian . Sementara itu kerusakan yang terjadi pada kawasan lahan gambut saat ini sudah mengkhawatirkan, baik akibat kegiatan HPH, illegal logging hingga kebakaran hutan dan lahan. Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rawa gambut yang cukup luas tidak terlepas dari gangguan kebakaran hutan, yang menimbulkan terjadinya kabut asap.
  39. 39. Asap merupakan masalah Nasional yang mengancam setiap tahun, yang disebabkan oleh proses pembakaran baik lahan maupun hutan. Secara umum, tingkat kadar asap tergantung dari banyaknya titik api yang berpotensi membakar area hutan dan lahan, semakin banyak titik api disuatu wilayah yang rentan terbakar , maka semakin besar potensi kebakaran yang menimbulkan asap. Asap yang tebal dari aspek kesehatan akan berakibat pada kondisi kesehatan masyarakat, sedangkan dari aspek transportasi akan berdampak pada kelancaran transportasi terutama untuk penerbangan, dan akan berimplikasi kepada aspek lainnya yang lebih luas seperti sosial dan ekonomi.
  40. 40. Masyarakat terutama yang bermukim dipinggiran hutan/rawa gambut, menjadi unsur yang sangat penting untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, namun pada kenyataannya secara sosial ekonomi telah memaksa masyarakat untuk semaksimal mungkin memanfaatkan SDA disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, sehingga rawa gambut dipandang sebagai penyedia kebutuhan berupa kayu, rotan maupun pemanfaatan lahan sebagai areal pertanian dan perkebunan.
  41. 41. Membuka hutan dengan cara membakar adalah aktivitas dipinggiran hutan yang sulit dihindari, pola membuka lahan dengan cara membakar ini dianggap paling efektif, upaya pengalihan mata pencaharian agar tidak langsung berhubungan dengan rawa gambut masih merupakan pekerjaan yang memerlukan waktu cukup panjang, karena menyangkut masalah sosial ekonomi budaya yang masih sangat kental pada masyarakat.
  42. 42. Disamping itu juga harus ada penguatan kelembagaan formal maupun non formal bagi masyarakat yang selama ini telah memiliki aturan serta sangsi yang cukup memadai. Auran aturan adat/desa yang ada harus diupayakan untuk diberlakukan bahkan sangat penting untuk dilegalimitasi oleh Pemerintah, paling tidak pada tingkat Kabupaten.
  43. 43. Penguatan kelembagaan tersebut adalah sebagai manifestasi dari peran serta masyarakat, sehingga masyarakat merasa turut serta sebagai subyek dari pengelolaan rawa gambut. Antisipasi kebakaran hutan/rawa gambut harus menjadi satu gerakan yang mengakar hingga pada lapisan masyarakat yang langsung memiliki akses terhadap rawa gambut
  44. 44. PEMADAMAN UDARA 18 UNIT HELI/PSW : 2015 1. 7 HELI BNPB :  MI-8 UR-CMI/4 TON AIR  2 UNIT MI-171/ 4 TON AIR  BELL 214B P2-MBH/ 3 TON AIR  BOLCOW 105 PK-EAM/ 500 Ltr AIR  SUPER PUMA PK DAN/ 4 TON AIR  KAMOV/ 3 TON AIR 2. 3 UNIT AIR TRACTOR/3 TON (KEMENLH) / 1UNIT KEMBALI TMT 16 OKT 2015 3. 1 UNIT CASSA TMC (BPPT) 4. 7 UNIT PSW NEGARA SAHABAT:  CL 145/BOMBARDIER/6 TON (MAL) TMT 11 OKT 2015 SD 20 OKT 2015  AS 356 DOLPHIN/SPOTTER (MAL) TMT 11 OKT 2015 SD 16 OKT 2015  CH 47 CHINOOK/ 5 TON AIR (SING) TMT 11 OKT 2015 SD 24 OKT  TC 690 BIRD DOG/SPOTTER (AUS) TMT 14 OKT 2015 SD 19 OKT 2015  C-130 HERCULES/15 TON (AUS) TMT 14 OKT 2015 SD 19 OKT 2015  2 BE 200/12 TON (RUSIA) TMT 21 OKT 2015 SD SAAT INI KEGIATAN PEMADAMAN UDARA KEKUATAN UDARA
  45. 45.  PELAKSANAAN PEMADAMAN UDARA  WATER BOMBING TMT 10 JULI 2015 TELAH DILAKS 12.065 KALI. PSWT BANTUAN LUAR NEGERI TMT 11 OKT 2015 S.D. 30 OKT TELAH MELAKS 375 KALI BOMBING. KEGIATAN TMC (TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA) TELAH DILAKS 92 SORTI DENGAN BAHAN SEMAI 81,2 TON  WATER BOMBING EFEKTIF DI TEMPAT YG TIDAK DAPAT DIJANGKAU PEMADAMAN DARAT, NAMUN SERING TERKENDALA CUACA / JARAK PANDANG SEHINGGA PESAWAT TIDAK DAPAT OPERASIONAL  PENGGUNAAN BAHAN KIMIA CUKUP EFEKTIF DALAM MEMBANTU PEMADAMAN
  46. 46. KONDISI KESEHATAN DAMPAK KABUT ASAP 1. MENGADAKAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS PADA DAERAH-DAERAH LOKASI HOTSPOT/KEBAKARAN. 2. MEMBENTUK POSKO-POSKO PELAYANAN KESEHATAN AKIBAT GANGGUAN ASAP. 3. MEMBAGIKAN MASKER KEPADA MASYARAKAT DAN PELAJAR UNTUK MENGHINDARI DAMPAK ASAP. 4. PELAYANAN PUSKESMAS /PUSTU SIAGA MELAYANI PASIEN AKIBAT ASAP/ISPA TERUTAMA DI DAERAH RAWAN. 5. PEMBAGIAN MASKER KEPADA MASYARAKAT KHUSUSNYA PELAJAR DAN PENGENDARA KENDARAAN RODA DUA. 6. PELAYANAN KESEHATAN KEPADA PETUGAS PEMADAMAN DARAT DILAPANGAN.
  47. 47. PELAYANAN KESEHATAN 1. PELAYANAN PUSKESMAS /PUSTU SIAGA MELAYANI PASIEN AKIBAT ASAP/ISPA TERUTAMA DI DAERAH RAWAN 2. PEMBAGIAN MASKER KEPADA MASYARAKAT KHUSUSNYA PELAJAR DAN PENGENDARA KENDARAAN RODA DUA 3. PELAYANAN KESEHATAN KEPADA PETUGAS PEMADAMAN DARAT DILAPANGAN 4. PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
  48. 48. KENDALA PEMADAMAN KARHUTLA 1. LOKASI KEBAKARAN YANG SULIT DIJANGKAU 2. KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT YANG SULIT DIPADAMKAN 3. LUASNYA LAHAN YANG TERBAKAR 4. ALAT PEMADAN/PERLENGKAPAN YANG TERBATAS 5. SULIT/TERBATASNYA SUMBER AIR DILAPANGAN 6. CUACA YANG PANAS DAN TIUPAN ANGIN YANG KENCANG 7. TIDAK ADANYA AWAN CB / COMULONIMBUS/AWAN HUJAN) 8. TINGKAT KEDASARAN MASYARAKAT/PRILAKU MASYARAKAT YANG MEMBUKA LAHAN DENGAN CARA MEMBAKAR 9. PEMBALAKAN LIAR DENGAN MENGHILANGKAN JEJAK DENGAN CARA PEMBAKARAN LAHAN
  49. 49. BERBUAT DENGAN SENGAJA atau KEALPAAN BERDAMPAK PADA HUKUMAN
  50. 50. Kendaraan Operasi Pemadaman Kebakaran Lahan dan Hutan
  51. 51. PERLENGKAPAN DAN PERALATAN BPBD PROV SUMSEL Mobil komunikasi Alat Pemadaman Kebakaran Perahu Amphibi Perahu karet Mobil Ambulance dan mobil lainnya Motor Resque
  52. 52. PERLENGKAPAN DAN PERALATAN BPBD PROV SUMSEL Mobil Truk serba guna Mobil Tangki Kapal Speed Water Treatment Perahu Peber Lampu Badai
  53. 53. BAHAN LOGISTIK BPBD PROV SUMSEL Peralatan Dapur Makanan siap saji Kompor serba guna Selimut Paket kidsware Paket Sandang
  54. 54. Indah Dan Nyaman
  55. 55. Dr. ROSDIANA,Mkes UPTB TRAUMA CENTER & PELAYANAN KESEHATAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH SUMATERA SELATAN

×