Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.

Masa kejayaan peradaban dinasti abbasiayah

  • Als Erste(r) kommentieren

Masa kejayaan peradaban dinasti abbasiayah

  1. 1. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita waktu dan kesempatan sehingga kami khususnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “DINASTI ABBASIYAH” ini sesuai dengan kemampuan kami. Selawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam yang penuh dengan kebodohan kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami khususnya kepada bapak sebagai dosen, teman dan rekan-rekan sekalian dalam penyusunan tugas ini, serta kritik dan saran dari semua pihak yang membaca sangat kami butuhkan demi terciptanya suatu perbaikan sebuah tugas. Walaupun apa yang kami tulis dan muatkan di dalam makalah ini hanya sedikit dari apa yang kita harapkan, semoga ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Aamiin. Wassalam Mataram , 14 Oktober 2014 Penulis
  2. 2. DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .......................................................................................................... DAFTAR ISI......................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................... A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah .................................................................. B. Kejayaan Dinasti Abbasiyah ................................................................................... C. Penyebab Kemunduran Dinasti Abbasiyah .......................................................... D. Karakteristik Dinasti Abbasiyah ............................................................................ BAB III PENUTUP .............................................................................................................. A. Kesimpulan ............................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN Pada saat sekarang banyak sekali guru yang tidak memahami tentang sejarah-sejarah peradaban Islam. Jadi sebagai seorang calon guru Pendidikan Matematika hendaklah kita memahami mengenai Sejarah Peradaban Islam tersebut. Tidak hanya guru baca para pembaca juga dan mahasiswa yang ikut dalam mata kuliah SEJARAH PERADABAN ISLAM perlu untuk mempelajari bagaimana sejarah peradaban islam pada abad sebelumnya. Dan menjadi catatan penting bagi kita semua yang ada dimasa sekarang pada abad ke-21 ini agar tidak melupakan masa-masa islam jaya dan merupakan hal yang penting untuk dijadikan titik acuan untuk yang sekarang perbandingan islam yang dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Makalah ini akan membahas tentang “Peradaban Islam pada Masa Abbasiyah” dengan rincian: 1. Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah 2. Kejayaan dinasti Abbasiyah 3. Penyebab kemunduran Dinasti Abbasiyah 4. Karakteristik Dinasti Abbasiyah
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN A. BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Dinasti Umayyah. Nama dinasti Abbasiyah diambil dari salah seorang dari paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Al-Abbas Ibn Abd Al-Muthalib Ibn Hasyim. Orang Abbasiyah merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan Islam, karena mereka adalah cabang dari Bani Hasyim yang secara nasab keturunan yang lebih dekat dengan Nabi. Menurut mereka, orang Umayyah secara paksa menguasai khalifah melalui tragedi perang Siffin. Oleh karena itu, untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah mereka mengadakan pemberontakan terhadap Dinasti Umayyah. Telah dijelaskan, bahwa saat kekhalifahan Umayyah dipegang Umar II, gerakan bawah tanah yang merupakan ritual politiknya menyusun kekuatan. Salah satu kekuatan politik yang kontra dengan kebijakan “Machiavellian”model Umayyah adalah para pengikut Nabi yang merupakan keturunan Bani Abbas . Tetapi, sebagai keluarga Abbas, tetapi menggunakan jargon dan simbol Bani Hasyim. Dengan demikian mereka dapat merangkul baik kelompok Syi’ahtu Ali maupun Syi’ahtu Abbas. Kedua kelompok inilah yang pada akhirnya melandasi berdirinya Dinasti Abbasiyah. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang , yaitu dario tahun 132 H/750 M sampai 656 H/1258 M1 Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode: 1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. 2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama. 1 Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hal. 143.
  5. 5. 3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al- Kubra/Seljuk agung). 5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. B. MASA KEJAYAAN PERADABAN DINASTI ABBASIAYAH Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan. Secara politis para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik sekaligus agama. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Peradaban dan kebudayaan islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa abbasiyah. Hal tersebut dikeranekan Dinasti Abbasiyah pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Disini letak perbedaan pokok antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Puncak kejayaan dinasti abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-makmun (813-833 M). ketika Ar-Rasyid memerintah,
  6. 6. Negara dalam , keadaan makmur, kekeyaan melimpah, keamanan terjamin,walaupun ada juga pemberontakan dan luas wilayahnya mulai dari afrika utara hingga ke india. Pada masanya hidup pula para filusuf, pujangg, ahli baca al-qur’an dan para ulama dibidang agama. Didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, didalamnya orang dapat membaca , menulis, dan berdiskusi. Khalifah Harun Ar-Rasyid sebagai orang yang taat beragama, menunaikan ibadah haji setiap tahun diikuti oleh keluarga dan pejabat-pejabatnya serta para ulama, dan berderma kepada fakir miskin. Pada masanya berkembang ilmu pengetahuan agama, seperti ilmu Al-qur’an, qira’at , hadist, fiqh, ilmu kalam, bahasa dan sastara.. empat mazhab ilmu fiqih tumbuh dan berkembang pada masa dinasti Abbasiyah. Imam abu hanifah (meninggal dibagdad tahun 150/677 M) adalah pendiri mazhab hanafi. Imam malik bin Anas banyak menulis hadis dan pendiri mazhab Maliki (wafat dimadinah tahun 179/795 M). Muhammad bin idris Ash-syafi’i. ahmad bin hambal pendiri mazhab hanvbali (waft pada tahun 241 H/855 M). disamping itu berkembang pula ilmu filsafat ,logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, music, kedokteran, dan kimia. Ilmu-ilmu umum masuk kedalam islam melalui terjemahan dari bahasa yunani dan Persia kedalam bahasa arab, disaamping bahasa india. Pada masa pemerintahan Al- Makmun, pengaruh yunani sangatkuat. Diantara para penerjemah yang mashur saat itu adalah Hunain bin Ishak, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa yunani kebahasa arab. Ia menerjemahkan kitab republic dari plato, dan kitab kategori, metafisika, magna, moralia, dan aristoteles. Al-Khawarizmi (wafat 850 M) menyusun ringkasan astronomi berdasarkan ilmu yunani india. Lembaga pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan sangat pesat. Hal ini angat ditentukan oleh perkembangan bangsa arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak masa bani umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan tersebut paling tidak juga ditentukan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut. 1. Terjadinya asimilasi antara bahasa arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan . pada masa pemerintahan bani abbas, bangsa-bangsa non-arab banyak yang masuk islam. Asimilasi berlangsung
  7. 7. secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu member saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan sangat kuat dibidang pemerintahan. 2. Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama pada masa khalifah Al-Manshur hingga Hrun Ar-Rasyid pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat, dan kedokteran. Pada fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.2 Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan penguasa yang paling kuat didunia pada saat itu, tidak ada yang menyamainya dalam hal keluasan. Wilayah yang diperintahnya, dan kekuatan pemrintahannya serta ketinggian kebudayaan dan peradaban yang berkembang dinegaranya. Khalifah Harun Ar-Rasyid berada pada tingkat yang lebih tinggi peradabannya dan lebih besar kekuasaannya jika dibandingkan dengan Karel Agung di Eropa yang menjalin persahabantan dengannya karena motif saling memanfatnkan. Harun bersahabat dengan Karel untuk menghadapi Dinasti Umayyah di Andalusia. Sementara berkepentingan dengan khalifah yang tersohor itu untuk menghadapi Bizantium. Bagdhad sebagai ibu kota abbasiyah tidak ada bandingannya ketika itu. Walau dengan Constantinovel sebagai ibu kota Bizantuim sekalipun. Bagdad sebagai pusat peradaban islam, sejak awal berdirinya kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam islam. Itulah sebabnya Philip K. Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual, menurutnya Bagdad merupakan professor masyarakat islam.3 Kota bagdad sebagai pusat intelektual terdapat beberapa pusat aktivitas pengembangan ilmu, antara lain Baitul Hikmah, yaitu lemabaga ilmu pengetehuan sebagai 2 Dr.Badri yatim,M.A, sejarah peradaban islam, Jakarta:RajaGrafindo PRasido,1998,hal 55-56 3 Plilip K. Hitti, The Arab A. Short History dalam membahas tentang Bagdad
  8. 8. pusat pengkajian berbagai ilmu. Bagdad juga sebagai pusat penerjemahan buku-buku dari berbagai cabang ilmu yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab. Sebagai ibu kota, bagdad mencapai puncaknya pada masa Harun Ar-Rasyid walaupun kota tersebut belum lima puluh tahun dibangun. Kemegahan dan kemakmarun tercermin dalam istana Khalifah yang luasnya sepertiga dari kota bagdad yang berbentuk bundar itu degan dilengkapi beberapa bangunan sayap dan ruang audiensi yang dipenuhi berbagai perlengkapan yang terindah. Kemewahan istana itu muncul terutama dalam upacar-upacara penobatan khalifah, perkawinan, keberangkatan Haji, dan jamuan untuk para duta negara asing. Beberapa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai berikut : a. Bidang Agama 1) Fiqih 2) Ilmu tafsir 3) Ilmu hadist 4) Ilmu kalam 5) Ilmu bahasa b. Bidang Umum 1) Filsafat 2) Ilmu kedokteran 3) Matematika 4) Farmasi 5) Ilmu Astronomi 6) Geografi 7) Sejarah 8) Sastra
  9. 9. C. Faktor-Faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasty Abbasiyah Kebesaran, keagungan, kemegahan, dan gemerlapnya Bagdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah seolah-olah hanyut dibawa sungai Tigris, setelah kota itu dibumi hanguskan oleh tentara Mongol dibawah Hulugu Khan pada tahun 1258 M. semua bangunan kota termasuk istana emas tersebut dihancurkan pasukan Mongol, meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu, dan membakar buku-buku yang ada didalamnya. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur lenk, dan pada tahun 1508 M oleh tentara Kerajaan Safawi. Menurut W.Montgomery Watt,4 bahwa beberapa factor yang menyebabkan kemunduran pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut : 1. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya dikalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. 2. Dengan perofesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. 3. Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun , Khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Bagdad. Sedangkan menurut Dr. Badri Yamin, M.A.,5 diantara hal yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut : 1. Persaingan antara bangsa Khalifah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilator belakangi oleh dengan persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah Dinasti Abbasiyah berdiri, Bani Abbasiyah tetap mempertahankan persrekkutuan itu. Pada masa ini persaingan antar bangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa. Kecendrungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. 2. Kemerosotan Ekonomi 4 W.Montgomery Watt, kejayaan islam: kajian krisis dari tokoh Orientalis, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1990, cetakan pertama, hal: 165-166 5 Dr. Badri Yamin, M.A, Sejarah Peradaban Islam,hal 80-85
  10. 10. Khilafah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dibidang politik. Pada periode pertama, Bani Abbasiyah merupakan pemrintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar daripada yang keluar, sehingga Baitul Mall penuh dengan harta. Setelah Khilafah mengalami periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, dan dengan demikian terjadi kemerosotan dalam bidang ekonomi. 3. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan terkait erat dengan persoalan kebangsaan. Pada periode Abbasiyah, konflik keagamaannya muncul menjadi isu sentra sehingga mengakibatkan terjadinya perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Si’ah, Ahlusunnah dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagia paham keagamaan yang ada. 4. Perang salib Perang salib merupakan sebab dari eksternal umat islam. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan. 5. Serangan bangsa Mongol (1258 M) Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan islam menyebabkan kekuatan islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan mongol yang biadab menyebabkan kekuatan abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya menyerah kepada kekuatan mongol.
  11. 11. D. Karakteristik Dinasti Abbasiyah Seperti halnya Dinasti Umayah, setelah berdiri Dinasti Abbasiyah, terdapat karakter dan cirri khas yang istimewa, diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Pemerintahan orang Abbasiyah dinyatakan sebagai Daulah (era baru). Khalifah pertama, Saffah, karena tidak percaya dengan orang-orang Kufah yang pernah berkhianat kepada cucu Nabi SAW, Husein bin Ali, maka ia menggunakan Hammam ‘Ain sebagai tempat tinggal dan ibu kota Abbasiyah, tidak lama kemudian pindah ke Hira, selanjutnya pindah lagi ke gedung Hasyimiyah. Setelah ia wafat, adiknya, al- Mansur membangun kota baru di desa Baghdad. Sejak itu kota tersebut menjadi ibu kota resmi Dinasti Abbasiyah. Dengan demikian peranan dan pengaruh Arab melalui Damaskus (Syam) sebagai pusat pemerintahan Islam berangsur-angsur berkurang dan beralih ke Baghdad yang oleh Bani Umayah sudah dibangun lebih dari seratus tahun (sejak Muawiyah periode Umar I). 2. Dengan berdirinya Abbasiyah, maka berangsur-angsur pengaruh kekuasaan Arab menurun dan dikuasai/dipengaruhi mawali, serta diskriminasi Arab atas mawali hilang. Dengan demikian, Islam muncul dalam citra internasional. Orang Persia dan Khurasan yang berperang untuk menumbangkan kekuasaan Umayah, mulai menduduki jabatan-jabatan tinggi dan penting dalam pemerintahan, juga corak pemerintahannya diambil dari sistem pemerintahan Persia. 3. Pemerintahan Abbasiyah adalah pemerintahan non-Arab, sedang jaman Umayyah adalah Arab murni yang sangat peka terhadap suku Arab (Quraisy), sedangkan pada periode Abbasiyah di samping orang Quraisy, orang Khurasan, dan dari daerah-daerah lain elit tentara sangat menonjol dalam kebijakan pemerintahan. Para khalifah beranggapan, bahwa sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW, yang punya hak sacral dan hubungan ini membawa mereka untuk memerintah dan mempengaruhi dunia Islam dan merekalah yang menundukkan kembali Islam dalam posisi yang benar. 4. Corak pemerintahan yang mengalami perubahan drastis sejak Khalifah Mansur yang menyandang gelar Khalifah Allah, dari pada “wakil khalifah” dan mereka tidak tergantung sumpah setia dan pengakuan dari rakyat sebagai legitimasi kekuasaan. 5. Islam tersebar dengan ekspansi sejak sebelum Umayah dengan pesat dan cepat, sedang pada masa Abbasiyah satu sisi orang Islam (Arab) kehilangan atau menurun dalam hal
  12. 12. kehebatan kemiliteran. Di sisi lain, keutuhan kekhalifahan dan persatuan Islam terancam dan terkoyak, yakni lepasnya Andalusia (756 M) dari kekuasaan Abbasiyah dengan berdirinya (929 M) kekhalifahan Umayah II di Andalusia dan kekhalifahan Fatimiyah (909 M) di Afrika. Puncak kejayaan daulah ini terjadi pada masa Khalifah Harun dan puteranya, Ma’mun serta khalifah-khalifah sesudahnya hingga masa Mutawakkil. Pada masa Harun, kekayaan negara yang banyak, sebagian besarnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat seperti mendirikan rumah sakit, membiayai pendidikan kedokteran, farmasi, dan sebagainya. Sementara pada masa Ma’mun, ia gunakan untuk menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen, Sabi, dan bahkan penyembah binatang untuk menerjemahkan berbagai buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab, serta mendirikan Bait al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan dan akademi yang dilengkapi dengan perpustakaan. Di dalamnya diajarkan berbagai cabang ilmu seperti kedokteran, matematika, statistika, geografi, dan filsafat. Di samping itu, masjid-masjid juga merupakan sekolah, tempat untuk memepelajari berbagai macam disiplin ilmu dengan berbagai halaqah di dalamnya. Pada masanya, kota Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. (Karim, 2009: 179- 181)
  13. 13. BAB III PEBUTUP A. Kesimpulan Berdirinya Dinasti Abbasiyah didirikan atas dua strategi, yaitu: Pertama, dengan sistem mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia, ini sudah berlagsung sejak akhir abad pertengahan hijriah yang dipusat di Al-Hamimah. Kedua, dengan terang-terangan dan himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan dinasti Abbasiyah berlanjut dengan peperangan melawan dinasti Umayyah. Sistem pemerintahan dinasti Abbasiyah meniru cara Umayyah dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, Abu Ja’far Al-Mansur. Sistem politik Abbasiyah yang dijalankan antara lain: para khalifah tetap dari turunan Arab murni, kota Baghdad sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat kegiatan politik, ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, kebebasan berfikir sebagai HAM diakui penuh, dan para menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahannya. Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada masa kekhalifahan Harun Ar- Rasyid dimana masa masa itu ilmu pendidikan berkembang pesat, dengan dibangunnya Baitul Hikmah sebagai perpustakaan terbesar sekaligus tempat para pelajar dan masyarakatnya untuk belajar tentang ilmu-ilmu pengetahuan seperti filsafat, matematika, sastra, astronomi, ekonomi dan sebagainya. Baitul Hikmah juga dijadikan sebagai tempat diskusi dan perguruan tinggi. Daulah dinasti Abbasiyah, lebih menekankan pembinaan terhadap peradaban islam dan kebudayaan dari pada perluasan wiayah untuk nyebarkan agama islam. Berkembangnya ilmu pendidikan saat itu juga disediakan fasilitas bagi para mahasiswa seperti sekolah gratis, disediakan makanan untuk masing-masing mahasiswa dan beasiswa untuk setiap tahun ada.
  14. 14. DAFTAR PUSTAKA Karim,Abdul.2007.Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. W.Montgomery Watt. 1990. Kejayaan islam: kajian krisis dari tokoh Orientalis, Yogyakarta : Tiara Wacana, , cetakan pertama, Dr. Badri Yamin, M.A, Sejarah Peradaban Islam, Dr.Badri yatim,M.A, 1998.Sejarah peradaban islam, Jakarta:RajaGrafindo PRasido, AS-SUYUTHI, Imam; TARIKH KHULAFA`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006

    Als Erste(r) kommentieren

    Loggen Sie sich ein, um Kommentare anzuzeigen.

  • RizkyRevinda1

    Nov. 23, 2016
  • deliaarrr

    Nov. 27, 2019
  • FitriaLidini

    Dec. 11, 2019

Aufrufe

Aufrufe insgesamt

36.868

Auf Slideshare

0

Aus Einbettungen

0

Anzahl der Einbettungen

5

Befehle

Downloads

115

Geteilt

0

Kommentare

0

Likes

3

×