Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.
VALUASI EKONOMI LAHAN HUTAN YANG BERPOTENSI UNTUK KONVERSI
MENJADI KAWASAN INDUSTRI KARIANGAU BALIKPAPAPAN
KALIMANTAN TIMU...
2
dan barang produksi. Hal tersebut memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan
perdagangan dan usaha-usaha lain yang signifi...
3
barat dan timur, tepatnya di Kecamatan Balikpapan Barat, Utara dan Kecamatan
Balikpapan Timur.
Pembangunan Kawasan Indus...
4
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Barat
Ba...
5
Tabel 1. Bobot Nilai Jawaban Responden
No Jawaban Responden Skor
1 Sangat Baik 5
2 Baik 4
3 Cukup baik 3
4 Kurang Baik 2...
6
Analisis Deskriptif
Anaisis deskriptif digunakan ungtuk menggambarkan persepsi masyarakat
Kelurahan Kariangau. Persepsi ...
7
WTP Warisan = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + β5LnX5 + μi
Keterangan :
WTP : Keinginan membayar masyarakat atas...
8
No Uraian Jumlah Nilai (Rp/Tahun)
1 Konsumsi air per kapita/tahun
(m3
)
51,71
2 Harga air untuk masyarakat
(rupiah)
7.01...
9
hutan rakyat dalam menyerap karbon dihitung berdasarkan penelitian Syarir Yusuf (2010)
satu hektar hutan sekunder dapat ...
10
Tabel 6. Hasil Regresi Berganda WTP Keberadaan
Predictor Coef SE Coef T P Keterangan
Constant -0.6342 0.7892 -0.80 0.42...
11
Tabel 7. Distribusi Nilai WTP Keberadaan Hutan Kariangau
No WTP (RP) Jumlah Responden
(Orang)
Persentase
(%)
WTP X Juml...
12
Pada model diketahui bahwa variabel-variabel penjelas yang mempengaruhi WTP
responden Kelurahan Kariangau adalah variab...
13
Tabel 10. Nilai Ekonomi Lahan Hutan Kariangau
No Keterangan Nilai yang Hilang
1 Nilai air masyarakat 1.242.243.291,70
2...
14
Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah dijelaskan
sebelumnya, saran yang dapat disampaikan dalam ...
Nächste SlideShare
Wird geladen in …5
×

von

ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 1 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 2 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 3 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 4 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 5 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 6 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 7 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 8 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 9 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 10 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 11 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 12 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 13 ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Slide 14
Nächste SlideShare
Blog Informatica
Weiter
Herunterladen, um offline zu lesen und im Vollbildmodus anzuzeigen.

0 Gefällt mir

Teilen

Herunterladen, um offline zu lesen

ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN

Herunterladen, um offline zu lesen

This paper is the final thesis summary in IPB program of study Resources and Environmental Economic in 2013. This papaer is about the valuation of forest land in Kariangau, Balikpapan East Kalimantan.

Full thesis can be downloaded here http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64717

Ähnliche Bücher

Kostenlos mit einer 30-tägigen Testversion von Scribd

Alle anzeigen
  • Gehören Sie zu den Ersten, denen das gefällt!

ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN

  1. 1. VALUASI EKONOMI LAHAN HUTAN YANG BERPOTENSI UNTUK KONVERSI MENJADI KAWASAN INDUSTRI KARIANGAU BALIKPAPAPAN KALIMANTAN TIMUR ECONOMIC VALUATION OF FOREST LAND POTENTIAL FOR CONVERSION INTO KARIANGAU INDUSTRIAL AREA BALIKPAPAPAN EAST KALIMANTAN Albarqoni, Firdaus dan Nindyantoro1) 1) Dosen, Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Gelar: Ir, MSP Abstract The economic value of forest products either directly value or indirect values (environmental services) has value to current and future. Lack of knowledge and understanding of the values of forest resources, forest resources management is not optimal so that forests tend to be converted to other land. In this case forest resources are converted to industrial are. Economic valuation of forest resources is an effort that can be done to improve the understanding of the entire stakeholder and community of tangible and intangible benefits of forests. Economic valuation of forest resources in the study done by quantifying the economic benefits of the goods and services produced by forests that have high economic value, and declared value in the value of money. Results of this study demonstrate the total value of Kariangau forest area is 183 917 161 880 rupiah. Key word: economic value, forest, conversion, industrial area PENDAHULUAN Sumberdaya hutan Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan dan manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi sumberdaya hutan yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat sumberdaya hutan secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari sumberdaya hutan tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan sumberdaya hutan ini. Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia. Kota Balikpapan sebagai salah satu kota terbesar di Propinsi Kalimantan Timur mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tahun 2013 pertumbuhan ekonomi dengan migas mencapai 6,7 persen, sementara pertumbuhan ekonomi tanpa migas sebesar 9,0 persen. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan pertambangan, pengelolaan industri minyak atau gas bumi serta pelayanan jasa yang menghasilkan barang industri 1
  2. 2. 2 dan barang produksi. Hal tersebut memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan perdagangan dan usaha-usaha lain yang signifikam di Kota Balikpapan dengan menimbulkan dampak berupa peningkatan jumlah penduduk. Selain itu Kota Balikpapan menjadi titik transit dan transportasi jalur perhubungan udara dan laut berkaitan dengan letak goegrafis yang berada di selat Makassar dan didukung oleh sarana dan prasarana transportasi udara dan laut yang baik. Faktor-faktor tersebut di atas sangat mempengaruhi terhadap fungsi utama Kota Balikpapan sebagai kota jasa yang akan dikembangkan ke depan, baik dalam bentuk pemantapan terhadap fungsi yang sudah ada maupun penempatan fungsi baru yang akan dikembangkan. Kota Balikpapan berdasarkan RTRW Nasional tahun 2006 diarahkan sebagai Pusat Pelayanan Orde I, yaitu pusat yang melayani seluruh wilayah Propinsi Kalimantan Timur dan Wilayah Nasional/ internasional yang lebih luas. Pusat ini diwakili oleh kota Balikpapan yang diarahkan sebagai kota utama di Propinsi Kalimantan Timur. Fungsi utama Kota Balikpapan secara detail adalah sebagai pusat pelayanan orde I antara lain sebagai pusat perdagangan dan jasa regional; pusat distribusi dan kolektor barang dan jasa regional; pusat pelayanan jasa transportasi laut, udara, sungai dan darat; pusat industri pengolahan; pusat pelayanan jasa pariwisata. Berdasarkan RTRW Provinsi Kalimantan Timur tahun 2006, kawasan Balikpapan, ditetapkan sebagai kawasan strategis dengan fungsi penggerak pertumbuhan. Penetapan kota Balikpapan sebagai salah satu kawasan strategis didasarkan pada potensi sumber daya alam yang dimiliki, seperti kehutanan, pertambangan dan industri. Kawasan tersebut merupakan kawasan utama pertumbuhan perekonomian wilayah yang secara geografis terletak dalam lintasan aliran perdagangan regional dan internasional, yaitu Segitiga Pertumbuhan ASEAN. Kawasan tersebut dekat dengan Negara Bagian Sabah-Malaysia dengan pusat pertumbuhan utamanya yaitu Kota Tawao. Kota Balikpapan telah berkembang sebagai pusat koleksi dan distribusi utama khususnya untuk komoditi ekspor sehingga merupakan lokasi terkonsentrasinya fasilitas dan prasarana penting dan merupakan konsentrasi penduduk. Melalui pengembangannya sebagai wilayah pembangunan ekonomi terpadu dapat membantu mengurangi kesenjangan wilayah. Secara umum kondisi tutupan lahan di Kota Balikpapan masih didominasi oleh lahan tidak terbangun dengan luas 44.813, 21 ha (89,04%) dari luas wilayah Kota Balikpapan. Sedangkan lahan terbangun mencapai luas 5.517,36 ha (10,96.%) dari luas wilayah. Lahan tidak terbangun di Kota Balikpapan berupa hutan dengan luas 20.295,86 ha (40,33%), semak dan belukar seluas 12.226,31 HA (24,29%), ladang/kebun seluas 5.100, 29 ha (10,13%), sawah 103,93 ha, tambak 694,59 ha, perkebunan 316,93 ha, ruang terbuka hijau berupa makam-makam, taman, lapangan seluas 393,46 ha. Lahan tidak terbangun ini pada umumnya masih mendominasi Kota Balikpapan bagian utara,
  3. 3. 3 barat dan timur, tepatnya di Kecamatan Balikpapan Barat, Utara dan Kecamatan Balikpapan Timur. Pembangunan Kawasan Industri Kariangau (KIK) direncanakan seluas 5.000 hektar yang berlokasi di Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Barat Kalimantan Timur. Tahap pengembangan pertama seluas 1.989,54 hektar sementara sisanya akan dikembangkan kemudian. Dalam pengembangan daerah ini, pemerintah daerah membagi dengan fungsi yang berbeda – beda seperti pelabuhan dengan luas 56,5 hektar, kawasan industri dengan luas 399.288 hektar dan sarana pendukung seluas 339.267 hektar. Kawasan yang direncanakan untuk Kawasan Industri Kariangau (KIK) berlokasi di daerah pesisir kota Balikpapan, karakteristik tersebut menjadi dasar prima perencanaan kawasan tersebut yaitu mengembangkan kawasan perkotaan yang kondusif terhadap keseimbangan lingkungan hidup pesisir dan sebagai pusat pertumbuhan baru dengan basis kegiatan industri. Area tersebut sudah masuk beberapa perusahaan, namun sebagian besar areanya masih berupa hutan belantara, alang – alang, rumput liar dan sejenisnya sehingga masyarakat sekitar tidak mendapatkan manfaatnya secara ekonomi karena mereka memanfaatkan lahan tersebut sebagai perladangan berpindah. Dengan lokasi yang strategis dan didukung oleh pemberlakuan Undang – Undang no. 32 dan 34 tahun 2004, pemerintah daerah bermaksud untuk mengembangkan daerah tersebut menjadi kawasan industri dengan nama Kawasan Industri Kariangau (KIK) untuk kesejahteraan rakyat. Valuasi ekonomi sumber daya hutan merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan seluruh stakholder terhadap manfaat tangible dan intangible hutan. Dengan adanya valuasi ekonomi, diharapkan masyarakat akan lebih mengetahui informasi dan nilai manfaat hutan dari sisi ekonomi dan ekologi, sehingga seluruh elemen masyarakat, stakeholder dan pengambil kebijakan akan lebih menghargai keberadaan hutan dan selalu ingin berperan aktif dalam upaya kelestarian lingkungan. Valuasi ekonomi sumber daya hutan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengkuantifikasikan secara ekonomi manfaat barang dan jasa yang dihasilkan oleh hutan yang sekiranya memiliki nilai ekonomi tinggi, dan menyatakan nilainya dalam nilai uang (money term). Hasil valuasi selanjutnya juga dapat digunakan sebagai acuan pengelolaan hutan di Kelurahan Kariangau.
  4. 4. 4 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Barat Balikpapan Kalimantan Timur. Pengambilan data sekunder dan data primer dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2012. Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian antara lain adalah jenis dan jumlah komoditas hasil hutan yang diambil atau dimanfaatkan oleh masyarakat, identitas, responden (nama, usia, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan jumlah tanggungan keluarga), persepsi masyarakat terhadap hutan, persepsi masyrakat terhadap perbaikan kualitas lingkungan hutan, besarnya Willingness to Pay (WTP) masyarakat terhadap manfaat keberadaan dan besarnya WTP masyarakat atas manfaat warisan hutan. Data primer ini diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, wawancara, dan pengisisan kuisioner terhadap responden. Data sekunder yang dibutuhkan meliputi kondisi geografis lokasi penelitian, keadaan demografis, dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Data sekunder ini diperoleh dari kantor Pemerintah Kota Balikpapan, Kantor Kecamatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Metode Pengambilan Contoh Metode pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan dengan random sampling di mana responden dipilih dari populasi dengan cara memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Responden dalam penelitian ini adalah warga Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Responden dalam penelitian ini berjumlah 40 orang dari 3.247 populasi. Pengambilam data dari responden bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa besar nilai yang hilang antara lain berupa nilai ekonomi berbasis pemanfataan atau penggunaan (use value) dan nilai ekonomi berbasis bukan pemanfataan atau penggunaan (non use value). Data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data mengenai persepsi masyarakat yang diperoleh melalui wawancara akan dianalisis secara kualitatif dan akan disajikan dalam bentuk uraian deskriptif, sedangkan data lainnya akan dianalisis secara kuantitatif (Tabel 1).
  5. 5. 5 Tabel 1. Bobot Nilai Jawaban Responden No Jawaban Responden Skor 1 Sangat Baik 5 2 Baik 4 3 Cukup baik 3 4 Kurang Baik 2 5 Tidak Baik 1 Skala pengukuran yang digunakan untuk menilai jawaban responden dalam kuisoner adalah skala Likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat atau persepsi seseorang terhadap variabel penelitian yang telah dijabarkan dalam poin- poin pernyataan. Skala Likert digunakan untuk mengukur suatu sikap dalam suatu penelitian, biasanya sikap dalam skala Likert diekspresikan mulai dari yang paling negatif, netral sampai ke yang paling positif (Sarwono, 2006). Kesimpulan akan diperoleh dengen menentukan terlebih dahulu skala untuk kriteria tidak baik sampai sangat baik, besarnya rentang skala akan diperoleh dengan rumus (Simamora, 2002) berikut : RS = (𝑚−𝑛) 𝑏 Keterangan : RS : Rentang skala m : Angka tertinggi dalam pengukuran (lima) n : Angka terendah dalam pengukuran (satu) b : Banyaknya kelas (kategori jawaban) Tabel 2. Nilai Skor Rataan Skor Rataan Penilaian Interpretasi Hasil Pelaksanaan 1,00 - 1,80 Tidak Baik Tidak Baik 1,81 - 2,60 Kurang Baik Kurang Baik 2,61 – 3,40 Cukup Baik Cukup Baik 3,41 – 4,20 Baik Baik 4,21 – 5,00 Sangat Baik Sangat Baik Bobot nilai pada setiap jawaban responden akan dihitung untuk mendapatkan nilai rataan. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Dalam penelitian ini proses pengolahan data menggunakan bantuan komputer dengan program Microsoft Excel 2007 dan Minitab 15.
  6. 6. 6 Analisis Deskriptif Anaisis deskriptif digunakan ungtuk menggambarkan persepsi masyarakat Kelurahan Kariangau. Persepsi masyarakat yang diinterpretasikan berupa persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan serta pemahaman masyarakat terhadap manfaat ekonomi dan ekologi hutan. Analisis deskriptif yang digunakan meliputi teknik analisis untuk menghitung frekuensi dan mentabulasikan dalam bentuk diagram. Metode Nilai Pasar Metode ini digunakan untuk menhitung manfaat atau hasil hutan yang memiliki harga pasar, dalam penelitian ini manfaat hasil hutan yang dihitung adalah nilai air. Persamaan yang digunakan adalah: 𝑁𝐷𝑈 = 𝐴𝐻 AH = C x N x P Keterangan: NDU : Nilai ekonomi manfaat langsung (Rupiah/ha/tahun) AH : Nilai air hutan (Rp/m 3 /tahun) C : Konsumsi air per kapita per tahun (m 3 /tahun) N : Jumlah populasi (jiwa) P : Harga air (Rp/m 3 ) Analisis WTP Regresi linear berganda digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel independen (umur, pendapatan, pendidikan, dan persepsi masyarakat terhadap keindahan) terhadap variabel dependen (WTP). Model regresi berganda untuk manfaat keberadaan adalah sebagai berikut: WTP Warisan = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + β5LnX5 + μi Keterangan: WTP : Keinginan membayar masyarakat atas manfaat keberadaan β0 : Intersep β0, β1,. βn : Koefisien regresi X1 : Umur (tahun) X2 : Jumlah tanggungan (orang) X3 : Pendidikan (tahun) X4 : Pendapatan (rupiah) X5 : Persepsi responden terhadap keindahan μi : Error (gangguan) Sedangkan model regresi untuk manfaat warisan adalah:
  7. 7. 7 WTP Warisan = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + β4LnX4 + β5LnX5 + μi Keterangan : WTP : Keinginan membayar masyarakat atas manfaat warisan β0 : Intersep β0, β1,. βn : Koefisien regresi X1 : Umur (tahun) X2 : Jumlah tanggungan (orang) X3 : Pendidikan (tahun) X4 : Pendapatan (rupiah) X5 : Persepsi responden terhadap keindahan hutan μi : Error (gangguan) HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi Masyarakt Terhadap Kondisi Hutan Analisis persepsi masyarakat mengenai keberadaan hutan saat ini dilakukan dengan metode skala pengukuran yaitu rataan skor. Nilai rataan skor tersebut menunjukan penilaian masyarakat terhadap keindahan, kenyamanan, kesejukan, keberlanjutan ekosistem, kemananan, dan ketersediaan air. Batasan menggunakan rumus batasan skala sebagai berikut : nilai 1,00-1,80 menunjukan penilaian tidak baik; 1,81-2,60 menunjukkan penilaian kurang baik; 2,61-3,40 menunjukkan penilaian cukup baik; 3,41-4,20 menunjukkan penilaian baik dan 4,21-5,00 menunjukkan nilai sangat baik (Tabel 3). Tabel 3. Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Hutan Kariangau No Indikator Penilaian Rataan Skor Keterangan 1 Keindahan 4,05 Baik 2 Kenyamanan 3,80 Baik 3 Kesejukan 4,00 Baik 4 Keberlanjutan Ekosistem 3,45 Baik 5 Keamanan 2,98 Cukup Baik 6 Ketersediaan Air 3,40 Baik Rataan Total 3,61 Baik Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Nilai Air Hutan Kariangau Hasil analisis data penggunaan air rumah tangga responden menunjukkan bahwa besarnya konsumsi air per kapita per tahun adalah 51,71 m 3 (Tabel 4). Tabel 4. Nilai Air yang Dikonsumsi Masyarakat Kariangau
  8. 8. 8 No Uraian Jumlah Nilai (Rp/Tahun) 1 Konsumsi air per kapita/tahun (m3 ) 51,71 2 Harga air untuk masyarakat (rupiah) 7.010 3 Populasi masyarakat (orang) 3.427 4 Total air yang dikonsumsi masyarakat (m3 ) 177,210.17 5 Nilai air yang dimanfaatkan (rupiah) 1.242.243.291,70 Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Berdasasarkan Tabel 4, harga air untuk masyarakat di Kelurahan Kariangau sebesar Rp 7.010. Jumlah populasi penduduk sebanyak 3.427 jiwa maka jumlah air yang digunakan seluruh masyarakat sebanyak 177,210.17m3 sehingga nilai manfaat air yang digunakan sebanyak Rp 1.242.243.291,70/tahun. Tabel 5. Nilai Air yang Dikonsumsi Perusahaan di Kelurahan Kariangau No Uraian Jumlah Nilai (Rp/Tahun) 1 Konusmsi air per karyawan/tahun (m 3 ) 1,08 2 Harga air (Rp/ m 3 ) 7.010 3 Jumlah tenaga kerja (orang) 2.362 4 Total air yang dikonsumsi karyawan (m3 ) 2,552.04 5 Nilai air yang dimanfaatkan 17,889,800.40 Sumber : Data Sekunder, Diolah (2012) Di samping konsusmi air masyarakat, adanya Kawasan Industri Balikpapapn (KIK) mengakibatkan adanya pertambahan penggunaan air. Kawasan Industri Kariangau (KIK) dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 2.362 orang. Setiap karyawan diasumsikan menggunakan air sebanyak 1,08 m3 per tahun. Jumlah air yang digunakan karyawan sebanyak 2.552,00 m3 sehingga total nilai air adalah 17.889.800,40/tahun (Tabel 5). Nilai Karbon Manfaat tidak langsung yang dihitung dalam penelitian ini adalah manfaat hutan dalam menyerap karbon dan nilai pilihan. Manfaat hutan dalam menyerap karbon dihitung menggunakan metode nilai relatif, sedangkan nilai ekonomi hutan dalam mencegah erosi dihitung berdasarkan biaya kerugian akibat adanya erosi. Nilai ekonomi
  9. 9. 9 hutan rakyat dalam menyerap karbon dihitung berdasarkan penelitian Syarir Yusuf (2010) satu hektar hutan sekunder dapat menyimpan 95 ton karbon dan satu hektar hutan primer menyimpan 263 ton karbon dengan nilai karbon saat ini $10 ( $1 = Rp 9.650,00). Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut maka nilai serapan karbon hutan kariangau yang hilang dapat dihitung sebagai berikut: Hutan primer Kariangau = 3.010,46 x 263 x 10 x 9.650 = 176.932.169.070 Dari hasil perhitungan di atas dapat dilihat bahwa nilai karbon hutan primer Kariangau adalah Rp 176.932.169.070. Nilai Pilihan Manfaat pilihan hutan dalam penelitian ini dihitung berdasarkan nilai manfaat kenakeragaman hayati. Berdasarkan keanekargaman ilmiah hutan ini dibagi menjadi hutan primer dan hutan sekunder. Nilai manfaat keanekaragaman hayati hutan primer sebesar 3.11 US$/Ha/Tahun (www.dephut.go.id) dan nilai keanekargaman hayati hutan sekunder sebesar 5.65 US$/Ha/Tahun (www.dephut.go.id). Apabila keadaan hutan tersebut secara secara ekologis penting dan tetap terpelihara relatif alami maka nilai ekonomi manfaat pilihan diperoleh dengan mengalikan nilai manfaat keanekaragaman hayati per hektar per tahun dengan seluruh luasan hutan yang ada menggunakan nilai kurs 1US$ = Rp 9.650 maka diperoleh nilai ekonomi manfaat pilihan hutan primer Kariangau sebesar Rp 2.092.239.717,90. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP Keberadaan Faktor-faktor yang mempengaruhi WTP Keberadaan masyarakat Kelurahan Kariangau dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan menduga lima valraiabel penjelas (independent) seperti variabel usia, jumlah tanggungan, pendidikan, pendapatan serta persepsi masyarakat mengenai keindahan hutan. Berdasarkan hasi regresi berganda tersebut diketahui nilai RSq(adj) sebesar 94.6 persen. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa keragaman nilai WTP responden dapat dijelaskan oleh variabel dalam model sebesar 94.6 persen sedangkan sisanya sisanya 5.4 persen dijelaskan oleh variabel di luar model. Nilai Fhitung sebesar 138.81 dengan nilai P sebesar 0.000 menunjukkan variabel-variabel penjelas dalam model secara bersama- sama berpengaruh nyata terhadap nilai WTP responden pada taraf (α) 5 persen (Tabel 6).
  10. 10. 10 Tabel 6. Hasil Regresi Berganda WTP Keberadaan Predictor Coef SE Coef T P Keterangan Constant -0.6342 0.7892 -0.80 0.427 Tidak Berpengaruh Nyata Umur 0.02547 0.08618 0.30 0.769 Tidak Berpengaruh Nyata Jumlah tanggugan 0.01818 0.03956 0.46 0.649 Tidak Berpengaruh Nyata Pendidikan 0.3498 0.1524 2.30 0.028 Berpengaruh Nyata Pendapatan 0.64779 0.07800 8.30 0.000 Berpengaruh Nyata Persepsi -0.05772 0.09473 -0.61 0.546 Tidak Berpengaruh nyata RSq(adj) 94.6% - - - - F-Stat 138.81 - - 0.000 DW 1.52188 - - - - Sumber : Data Primer, Diolah (2012) Model yang dihasilkan telah diuji multikoleniaritas, heteroskedestisitas dan normalitasnya, berdasarkan hasil uji tersebut diketahui bahwa model tidak mengalami pelanggaran asumsi OLS. Adapun model yang dihasilkan adalah sebagai berikut : LnWTP = - 0.634+0.0255LnX1+0.0182LnX2+0.350LnX3+0.648LnX4-0.0577 LnX5 Pada model diketahui bahwa variabel-variabel penjelas yang mempengaruhi WTP responden Kelurahan Kariangau adalah variabel pendidikan dan pendapatan. Variabel pendidikan memiliki nilai P sebesar 0.028 menunjukkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh secara nyata terhadap nilai WTP responden Kelurahan Kariangau pada taraf kepercayaan (α) 5 persen. Nilai koefisien yang bertanda positif (+) dengan nilai 0.350 berarti bahwa setiap kenaikan tingkat pendidikan responden sebesar satu tahun maka nilai WTP yang diberikan akan meningkat sebesar Rp 0,350. Hal tersebut dikarenakan pendidikan yang tinggi akan pemahaman yang lebih mengenai pentingnya lingkungan. Nilai P sebesar 0.000 pada variabel pendapatan menunjukan bahwa variabel ini berpengaruh secara nyata terhadap nilai WTP responden Kelurahan Kariangau pada taraf (α) 5 persen. Sedangkan nilai koefisien pada variabel pendapatan bertanda positif (+) dengan nilai sebesar 0.648 memiliki arti bahwa peningkatan pendapatan sebesar satu rupiah akan meningkatkan WTP responden sebesar Rp 0.648. Pendapatan yang tinggi akan membuat responden memiliki dana lebih untuk membayar dalam pelestarian lingkungan. Memperikrakan Rataan WTP Keberadaan Dugaan nilai rata-rata WTP keberadaan responden Kelurahan Kariangau diperoleh berdasarkan rasio jumlah nilai WTP yang diberikan responden dengan jmlah total reponden yang bersedia membayar (Tabel 7).
  11. 11. 11 Tabel 7. Distribusi Nilai WTP Keberadaan Hutan Kariangau No WTP (RP) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) WTP X Jumlah Responden (RP) A B C A x B 1 5.000,00 7,00 17,00 35.000,00 2 10.000,00 18,00 45,00 180.000,00 3 15.000,00 3,00 7,00 45.000,00 4 20.000,00 3,00 8,00 60.000,00 5 25.000,00 9,00 23,00 225.000,00 Total 40,00 100,00 545.000,00 Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Berdasarkan data pada Tabel 7 diperoleh nilai rata-rata WTP keberadaan hutan sebesar Rp 13.625. Nilia rataan WTP ini dikalikan dengan sseluruh populasi Kelurahan Kariangau yaitu sebanyak 3.427 jiwa. Hasil dari perkalian antara rataan WTP dengan jumlah populasi Kelurahan Kariangau merupakan nilai keberadaan hutan di Kelurahan Kariangau yakni sebersar Rp 1.867.715.000. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi WTP Warisan faktor-faktor yang mempengaruhi WTP warisan masyarakat Kelurahan Kariangau dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan menduga lima valraiabel penjelas (independent) seperti variabel usia, jumlah tanggungan, pendidikan, pendapatan serta persepsi masyarakat mengenai keindahan hutan (Tabel 8). Tabel 8. Hasil Regresi Berganda WTP Warisan Hutan Kariangau Predictor Coef SE Coef T P Keterangan Constant 2.147 1.580 1.36 0.183 Tidak Berpengaruh Nyata Umur 0.1517 0.1726 0.88 0.386 Tidak Berpengaruh Nyata Jumlah tanggugan 0.02859 0.07921 0.36 0.720 Tidak Berpengaruh Nyata Pendidikan 0.6943 0.3052 2.27 0.029 Berpengaruh Nyata Pendapatan 0.3514 0.1562 2.25 0.031 Berpengaruh Nyata Persepsi -0.0077 0.1897 -0.04 0.968 Tidak Berpengaruh nyata RSq(adj) 75.2% - - - - F-Stat 24.65 - - - - DW 1.70370 - - - - Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Model yang dihasilkan telah diuji multikoleniaritas, heteroskedestisitas dan normalitasnya, berdasarkan hasil uji tersebut diketahui bahwa model tidak mengalami pelanggaran asumsi OLS. Adapun model yang dihasilkan adalah sebagai berikut : LnWTP = 2.15+0.152LnX1+0.0286LnX2+0.694LnX3+0.351LnX4-0.008Lnx5
  12. 12. 12 Pada model diketahui bahwa variabel-variabel penjelas yang mempengaruhi WTP responden Kelurahan Kariangau adalah variabel pendidikan dan pendapatan. Variabel pendidikan memiliki nilai P sebesar 0.029 menunjukkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh secara nyata terhadap nilai WTP responden Kelurahan Kariangau pada taraf kepercayaan (α) 5 persen. Nilai koefisien yang bertanda positif (+) dengan nilai 0.694 berarti bahwa setiap kenaikan tingkat pendidikan responden sebesar satu tahun maka nilai WTP yang diberikan akan meningkat sebesar Rp 0.694. Hal tersebut dikarenakan pendidikan yang tinggi akan pemahaman yang lebih mengenai pentingnya lingkungan. Nilai P sebesar 0.031 pada variabel pendapatan menunjukan bahwa variabel ini berpengaruh secara nyata terhadap nilai WTP responden Kelurahan Kariangau pada taraf (α) 5 persen. Sedangkan nilai koefisien pada variabel pendapatan bertanda positif (+) dengan nilai sebesar 0.351 memiliki arti bahwa peningkatan pendapatan sebesar satu rupiah akan meningkatkan WTP responden sebesar Rp 0.351. Pendapatan yang tinggi akan membuat responden memiliki dana lebih untuk membayar dalam pelestarian lingkungan. Memperkirakan WTP Warisan Berdasarkan data pada Tabel 9 diperoleh nilai rata-rata WTP warisan hutan sebesar Rp 12.875. Nilai rataan WTP ini dikalikan dengan jumlah populasi di Kelurahan Kariangau yaitu sebanyak 3.427 jiwa. Hasil dari perkalian antara rataan WTP dengan jumlah populasi kelurahan kariangau merupakan nilai warisan hutan yakni sebesar Rp 1.764.905.000. Tabel 9. Distribusi Nilai WTP Warisan Hutan Kariangau No WTP (RP) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) WTP X Jumlah Responden (RP) A B C A x B 1 5.000,00 7,00 17,00 35.000,00 2 10.000,00 18,00 45,00 180.000,00 3 15.000,00 6,00 15,00 90.000,00 4 20.000,00 3,00 8,00 60.000,00 5 25.000,00 6,00 15,00 150.000,00 Total 40,00 100,00 515000,00 Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Berdasarkan Tabel 10 nilai ekonomi lahan Hutan Kariangau yang hilang adalah nilai air masyarakat, nilai air industri, nilai karbon, nilai pilihan, nilai keberadaan dan nilai warisan. Total nilai ekonomi lahan Hutan Kariangau adalah sebesar Rp 183.917.161.880.
  13. 13. 13 Tabel 10. Nilai Ekonomi Lahan Hutan Kariangau No Keterangan Nilai yang Hilang 1 Nilai air masyarakat 1.242.243.291,70 2 Nilai air industri 17.889.800,40 3 Nilai karbon 94.643.077.520,00 4 Nilai Pilihan 141.993.894,30 5 Nilai Keberadaan 1.867.715.000,00 6 Nilai Warisan 1.764.905.000,00 7 Total 183.917.161.880,00 Sumber: Data Primer, Diolah (2012) Berdasarkan Tabel 10 nilai ekonomi lahan Hutan Kariangau yang hilang adalah nilai air masyarakat, nilai air industri, nilai karbon, nilai pilihan, nilai keberadaan dan nilai warisan. Total nilai ekonomi lahan Hutan Kariangau adalah sebesar Rp 183.917.161.880. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari permasalahan dalam penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat dirumuskan oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Nilai langsung (tangible) berupa air dari kawasan konservasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah sebesar Rp. 1.260.133.092,10/tahun. 2. Nilai jasa lingkungan (intangible) hutan Kariangau adalah sebesar Rp. 98.275.697.520/ tahun. Nilai jasa llingkungsn (intengile) terdiri dari : a. Nilai Hutan Kariangau sebagai penyerap karbon adalah sebesar Rp. 94.643.077.520. b. Nilai pilihan Hutan Kariangau yang menunjukan bahwa nilai pemeliharaan hutan Kariangau untuk kemungkinan dimanfaatkan di masa yang akan datang adalah sebesar Rp. 141.993.894,43. c. Nilai keberadaan yang menunjukkan pada nilai yang didasarkan pada terpeliharanya hutan Kariangau tanpa menghiraukan manfaat dari keberadaan hutan tersebut adalah sebesar Rp. 1.867.715.000 d. Nilai warisan yang menunjukan nilai yang diberikan generasi pada saat ini terhadap hutan Kariangau agar dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang adalah sebesar sebesar Rp. 1.764.905.000. 3. Nilai total yang dimiliki Hutan Kariangau adalah sebesar Rp 99,677,824,506.40.
  14. 14. 14 Saran Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah dijelaskan sebelumnya, saran yang dapat disampaikan dalam valusai kawasan hutan Kariangau adalah: 1. Pengelolaan kawasan konservasi secara ekonomi memberikan keuntungan yang tinggi kepada masyarakat, namun nilai hasil hutan juga perlu diperhitungkan untuk masa depan sehingga dapat terbentuk suatu keseimbangan. 2. Perlunya dilakukan sosialisasi nilai manfaat kawasan konservasi / kawasan lindung pada masyarakat, pengambil kebijakan. 3. Perlu adanya kebijakan pemerintah (Kementrian Kehutanan) berupa penambahan jumlah hutan kota dan ruang terbuka hijau yang kondusif dan dapat mendukung terlaksananya program-program pengelolaan kawasan konservasi. 4. Melihat besarnya nilai hutan yang hilang serta dampak yang ditimbulkan terhadap ekosistem sebaiknya proporsi luasan hutan Kariangau diperbesar. 5. Perlu adanya kompensasi kepada masyarakat berupa penambahan fasilitas umum karena hilangnya jasa lingkungan yang dihasilkan oleh hutan. DAFTA PUSTAKA Anonim. 2012. Persentase Nilai dan Jasa Hutan. www,dephut.go.id/information/intaq/pkn/makalah/persentase_nilai_dan_jasa_hut an.pdf. diakses pada 02 oktober 2012 Dijiono. 2002. Valuasi Ekonomi Menggunakan Metode Travel Cost Taman Wisata Hutan di Taman Wan Abdul Rachman, Propinsi Lampung. Makalah Pengantar Falsasah Saint Program Pasca Sarjana Intiut Pertanian Bogor, Bogor RTRW Balikpapan. 2006. BAPPEDA Balikpapan. Balikpapan. Kalimantan Timur Sanim, B. 2006. Valuasi Ekonomi (Economic Valuation) dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA), Bagi Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan [Bahan Kuliah; PSL-713 Ekonomi Lingkungan dan Analisis Kebijakan-Tidak Dipublikasi]. Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor. Sarwono, J. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu. Yogyakarta. Yusuf, S. 2010. Nilai Hasil Hutan yang Hilang Bila Terjadi Perubahan Fungsi Hutan Lindung. Agritek Vol. 18. FPUB. Balikpapan.

This paper is the final thesis summary in IPB program of study Resources and Environmental Economic in 2013. This papaer is about the valuation of forest land in Kariangau, Balikpapan East Kalimantan. Full thesis can be downloaded here http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64717

Aufrufe

Aufrufe insgesamt

289

Auf Slideshare

0

Aus Einbettungen

0

Anzahl der Einbettungen

4

Befehle

Downloads

5

Geteilt

0

Kommentare

0

Likes

0

×