Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.

Odontologi Forensik

7.663 Aufrufe

Veröffentlicht am

1. Apa yang dimaksud Forensik ?
2. Apa yang dimaksud dengan Odontologi Forensik ?
3. Apa peran dokter gigi dalam odontologi Forensik ?

Veröffentlicht in: Gesundheit & Medizin
  • Als Erste(r) kommentieren

Odontologi Forensik

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN Bencana merupakan suatu merupakan suatu kejadian mendadak, tak terduga,terjadi pada siapaa saja, dimana saja, kapan saja serta mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta benda, korban manusia yang relatif besar baik mati maupun cidera. Bertitik tolak pada pengalaman kasus tenggelamnya kapal Tampomas, kasus Tanjung Priok maka bisa merupakan acuan bagaimana pelaksanaan identifikasi korban selama ini, sehingga dari kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam penanganan bencana tersbut dapat diantisipasi perbaikan-perbaikan yang perlu dimasa mendatang. Identifikasi korban bencana massal merupakan NO MAN ISLAND (daerah tak bertuan) yang perlu tatanan serta memerlukan dana, sarana, dan prasarana yang cukup mahal, sehingga sampai saat ini belum ada satu instansi yang mau menangani dengan serius dan benar. Dari pengalaman berupa bencana-becana massal ini ternyata dokter gigi memiliki peranan yang cukup penting dalam proses identifikasi ini. Sampai saat ini belum ada kesepakatan diantara dokter-dokter gigi Indonesia (PDGI) mengenai formulir apa yang digunakan, kriteria-kriteria penulisan odontogram, sistem penulisan dan lain-lain. Dalam makalah ini akan dibahas penatalaksanaan Identifikasi korban bencana massal yang mati. Mengapa Identifikasi perlu? Identifikasi penting sekai karena akan menetukan secara hukum masih hidup atau sudah matinya seseoranag. Hal ini merupakan salah satu wujud dari hak azazi manusia , sebab identifikasi pada akhirnya berkaitan dengan bidang santunan, warisan, asuransi jiwa pensiun, kemungkinan untuk menikah lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, serta perwujudan penghormatan terhadap orang yang mati yaitu: mengenal, merawat, mendo’akan, mengubburkan sesuai dengan agama/keyakinan, adat istiadat, dan menyeahkan kepada keluarganya.
  2. 2. 2 1.2 RUMUSAN MASALAH 1.2.1 Apa yang dimaksud Forensik ? 1.2.2 Apa yang dimaksud dengan Odontologi Forensik ? 1.2.3 Apa peran dokter gigi dalam odontologi Forensik ? 1.3 TUJUN MASALAH 1.3.1 Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Forensik 1.3.2 Mengetahui Apa yang di maksud dngan Odontologi Forensik 1.3.3 Mengetahui tindakan dokter gigi dalam
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1. FORENSIK Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan peradilan. 2.2 ODONTOLOGI FORENSIK Odontologi Forensik didasarkan atas gigi, perbaikan gigi (dental restoration), dental protese (penggantian gigi yang rusak), struktur rongga rahang atas “sinus maxillaris”, rahang, struktur tulang palatal (langit-langit keras di atas lidah), pola dari tulang trabekula, pola penumpukan krak gigi, tengkuk, keriput pada bibir, bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi muka adalah stabil atau konstan pada setiap individu 2.3 PERAN DOKTER GIGI DALAM IDENTIFIKASI FORENSIK Peran dokter gigi sangat besar sekali dalam identifikasi baik untuk korban yang tidak dikenal maupun yang bisa dikenali. Untuk korrban yang bisa dikenali secara visual bagaimanakah sebenarnya peran dokter gigi. Misalnya ada kejahatan yang meninggalkan bekas gigitan maka dituntut untuk bisa membantu mengungkapkan pelaku baik itu karena gigitan manusia atau bukan. Pada kasus-kasus korban sulit dikenali peran dokter gigi sangat nyata. Misalnya pada kasus bom Bali sampai minggu ketiga sudah teridentifikasi 120 jenazah dari 184 korban yang mayoritas (80%) teridentifikasi melalui data gigi yang lengkap. Mereka diantaranya dari Swedia lima korban, Denmark tiga korban, Australia 40 korban, Jerman empat korban, Amerika empat korban, Inggris sepuluh korban, Belanda satu korban, Perancis dua korban, dan Jepang dua korban. Sedangkan kasus berikutnya adalah kecelakaan bis di Paiton Probolinggo yang menewaskan 54 orang, dimana dapat dilakukan identifikasi melalui gigi sebanyak 33 orang yaitu sekitar 33%.
  4. 4. 4 Meskipun sebagai sarana identifikasi yang penting gigi juga memiliki kelemahan. Misalnya mayoritas masyarakat Indonesia jarang berobat ke dokter gigi. Dokter gigi pun belum tentu melakukan pencatatan data gigi bahkan penyimpanan yanag tertata baik. Akibatanya, ketika diperlukan sebagai data pembanding jika terjadi sesuatu musibah, tidak dapat diperoleh data gigi yang tepat. Salah satu contoh adalah pada kasus kecelakaan pesawat terbang Silk Air di perairan Sungai Musi Palembang pada tanggal 19 Desember 1997 dimana dalam waktu lima hari data ante mortem medis dan gigi hampir seluruh penumpang dapat diperoleh dan diolah, sedangkan dari 23 penumpang Indonesia hanya satu data gigi penumpang yang dikirim oleh seorang dokter gigi dari Jakarta 1. IDENTIFIKASI ILMU KEDOKTERAN GIGI FORENSIK Yang dimaksud dengan identifkasi ilmu kedokteran gigi forensik adalah semua aplikasi dari disiplin ilmu kedokteran gigi yang terkait dalam suatu penyidikan dalam memperoleh data-data postmortem, berguna untuk menentukan otentitas dan identitas korban maupun pelaku demi kepentingan hukum dalam suatu proses peradilan dan menegakkan kebenaran. Ada beberapa jenis identifikasi melalui gigi – geligi dan rongga mulut yang dapat dilakukan dalam terapan semua disiplin ilmu kedokteran gigi yang terkait pada penyidikan demi kepentingan umum dan peradilan serta dalam membuat surat keterangan ahli. Identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik terdapat beberapa macam antara lain : 1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi geligi dan antropologi ragawi 2. Identifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi-geligi dan tulang rahang serta antrolopogi ragawi 3. Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi 4. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara 5. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran 6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap 7. Identifikasi korban melaluikebiasaan menggunakan gigi 8. Identifikasi korban dari pekerjaan menggunakan gigi 9. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi 10. Identifikasi golongan darah korban melalui air liur 11. Identifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan dari sel dalam rongga mulut
  5. 5. 5 12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya 13. Identifikasi wajah korban dari rekontruksi tulang rahang dan tulang facial 14. Identifikasi wajah korban 15. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku 16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban massal 17. Radiologi ilmu kedokteran gigi forensik 18. Fotografi ilmu kedokteran gigi forensik 19. Victim Identification Form A. Identifikasi secara umum Identifikasi secara umum antara lain : 1. Dokumen yang terdapat pada busana korban berupa : KTP, SIM, kredit card, kartu sekolah, kartu mahasiswa, kartu karyawan, dan Name Tag dari instansi korban. Adakalanya mayat tanpa sepucuk surat identifikasi pun pada tubuhnya, sehingga perlu dilakukan identifikasi terhadap mayat tersebut. 2. Pakaian atau busana 3. Perhiasan yang biasanya dapat diidentifikasi adalah bentuk perhiasan tersebut, terbuat dari apa perhiasan tersebut, inkripsi, dan merek perhiasan tersebut 4. Tubuh korban sendiri Ciri-ciri umum :  Tinggi/berat badan  Jenis Kelamin  Umur  Warna Kulit  Rambut, kepala, kumis, jenggot  Mata, hidung, mulut, gigi-geligi, dsb Ciri-ciri khusus :  Tahi lalat  Tompel  Bekas hamil, dsb Ciri-ciri tambahan :
  6. 6. 6  Tindik  Rajah Cacat :  Sumbing  Patah tulang, dsb 5. Urutan identifikasi umum pada tubuh mayat o HEAD o TORSO o RIGHT UPPER ARM o RIGHT FOREARM o RIGHT HAND o LEFT UPPERARM o LEFT FOREARM o LEFT HAND o RIGHT UPPER LEG o RIGHT LOWER LEG o RIGHT FOOT o LEFT UPPER LEG o LEFT LOWER LEG o LEFT FOOT 2 IDENTIFIKASI RAS KORBAN MAUPUN PELAKU DARI GIGI-GELIGI DAN ANTROPOLOGI RAGAWI A. Ras secara umum Ras didunia ini dahulu kala terdapat 3 ras besar yaitu ras caucasoid, mongoloid, dan ras negroid. Kini oleh karena dahulu kala terjadinya peperangan antar negara (perang dunia I dan perang dunia II) disertai dengan jaman penjajahan dari ras caucasoid maupun ras mongoloid serta ras negroid maka terjadilah kawin campur akibatnya terdapat ras khusus dan ras australoid yaitu ras amborigin dan ras-ras kecil dikepulauan pasifik.
  7. 7. 7 Ras-ras tersebut mempunyai ciri-ciri sendiri yang dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Menurut Hoebel bahwa ciri-ciri ras yang berbeda tersebut disebabkan karena sebagai berikut : 1. Dari komponen masyarakat sekitarnya / setempat 2. Dari komponen perkawinan (pernikahan / garis keturunan) 3. Dari komponen genetik 4. Dari komponen ciri-ciri fisik, gigi dan mulut B. Identifikasi ras atau korban dari ciri-ciri gigi Identifikasi ras tersebut antara lain : 1. Ras Caucasoid dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Permukaan lingual rata pada gigi seri / insisive 1.21.1,2.1 2.2 b. Sering gigi-geligi -> crowded c. Gigi molar pertama bawah (3.6,4.6), lebih panjang, tapered d. Dalberg (1956) : buko-palatal < (P2, 1.5, 2.5), mesio-distal e. Sering cups carabeli pada 1.6,2.6 -> palatal f. Lengkung rahang sempit 2. Ras Mongoloid dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Menurut Herdlicka (1921) bahwa gigi insisive mempunyai perkembangan penuh pada permukaan palatal bahkan lingual sehingga shovel shaped insicor cungulum jelas dominan (pada gigi 1.1,1.2,2.1,2.2) b. Fissure-fissure gigi molar c. Bentuk gigi molar -> segiempat dominan 3. Ras Negroid dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Menurut R.Biggerstaf bahwa premolar akar premolar (1.4,1.5,2.4,2.5) cenderung membelah atau terdapat tiga akar -> trifurkasi b. Bahwa cenderung bimaxillary protrusion -> monyong c. Bahwa molar ke-4 sering ditemukan (banyak) d. Premolar pertama bawah (1.4,2.4) terdapat 2 atau 3 cups e. Gigi molar berbentuk segiempat membuat (mirip dmk) 4. Ras Australoid
  8. 8. 8 Yang termasuk dalam ras ini adalah : suku amborigin dan suku-suku dikepulauan kecil pacifik 5. Ras khusus a. Bushman Suku ini bermukim dinegara Spanyol b. Vedoid Yang termasuk suku ini bermukim di Afrika Tengah c. Polynesian Yang termasuk suku ini bermukim dipulau-pulau kecil di lautan Himdia dan dilautan Afrika. 3 IDENTIFIKASI SEX ATAU JENIS KELAMIN DARI GIGI-GELIGI,TULANG RAHANG DAN ANTROPOLOGI RAGAWI A. Identifikasijeniskelaminmelaluigigi-geligi Identifikasi jenis kelamin melalui gigi-geli gimenurut Cotton (1982) antara pria dan wanita dapat di buat table sebagai berikut: Gigi-geligi Wanita Pria Outline Bentukgigi RelatifLebih Kecil RelatifLebihBesar Lapisan Email dan Dentin RelatifLetih Tipis RelatifLebihTebal BentukLengkunggigi Cendrung Oval Tapered UkuranCervicoincisal distal caninusbawah Lebih Kecil LebihBesar Outline incisive pertamaatas LebihBulat Lebihpersegi Lengkunggigi RelatifLebih Kecil RelatifLebihBesar Identifikasi Jenis Kelamin Melalui Tulang Rahang
  9. 9. 9 Selain dengan pemeriksaan internal dan eksternal,perbedaaan pria dan wanita dapat dilihat daritulang-tulang yang ada.salah satu tulang yang dapat diidentifikasi untuk membedakan jenis kelamin tersebut adalah tulang rahang(Camerondan Sims,1974) 1. Identifikasi jenis kelamin melalui Lengkung Rahang atas Pada pria lengkung rahang lebih besar dari pada wanita karena relative gigi- geligi pria jarak mesio distal lebih panjang-di banding kan dengan wanita.sedangkan palatum pada wanita lebih kecil dan bentuk parabola.Dan pada pria palatum lebih luas serta bentuk huruf U. 2. Identifikasi jenis kelamin melalui Lengkung Rahang bawah Lengkyng rahang bawah pria lebih besar dari wanita karena gigi-geligi wanita jarak mesio distalnya lebih kecil daripada pria 3. Identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang Terdapat berbagai sudut pandang pada setiap region dan bentuk serta besar dari rahang pria maupun wanita yang sangat berbeda.Hal ini dapat digunakan sebagai sarana atau data identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang bawah. a. Identifikasi jenis kelamin melalui sudut gonion Sudut gonion pria lebih kecil dibandingkan sudut gonion wanita. b. Identifikasi jenis kelamin melalui tinggi Ramus Ascendens Ramus ascendens pria lebih tinggi dan lebih besar dari pada wanita c. Identifikasi jenis kelamin melalui Inter Processus Jarak prosessus Condyloideus dan ganprosessus Coronoideus pada pria lebih jauh di banding kan dengan wanitya. dengan kata lain pada pria mempunyai jarak lebih panjang di bandingkan dengan wanita d. Identifikasi jenis kelamin melalui Lebar Ramus Ascendens Identifikasi jenis kelamin melalui Ramus Ascendens pada pria mempunyai jarak yang lebih lebar di banding kan dengan wanita e. Identifikasi jenis kelamin melalui Tulang Menton (dagu)
  10. 10. 10 Identifikasi jenis kelamin melalui tulang Menton pria atau tulang dagu pria yang di maksut lebih ke anterior dan lebih besar. f. Identifikasi jenis kelamin melalui Pars Basalis Mandibula Pada pria parsbasalis mandibular lebih panjang dibandingkan dengan wanita dalam bidang horizontal. g. Identifikasi jenis kelamin melalui Processus Coronoideus Tinggi prosessus Coronoideus pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dalam bidang vertical. h. Identifikasi jenis kelamin melalui table tulang Menton Tulang menton pria dalam ukuran pabio lebih tebal dibanding kandenagn wanita,hal ini kemungkinan masa pertumbuhan dan perkembangan rahangp rialebih lama dibandingkan dengan wanita Ukuran ini sanganlah relative tergantung dari ras,subras dan hannya dibandingkan sesame etnik-etniksaja. i. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar dan tebal Prosessus Condyloideus Bentuk prosessus condyloideus bermacam-macam,baik pria maupunwanita. Tetapi mempunyai tebal dan lebar yang sama Pada pria ukuran diameter prosessusnya lebih besar di banding kandenagn wanita, hal ini karena ukuran anterior posterior dan Latero medio lebih besar di bandingkan dengan wanita Identifikasi Jenis Kelamin melalui Antropologi ragawi Identifikasi jenis kelamin melalui antropologi ragaw imenurut Schwartz (1980) dapat di buat tebel sebagai berikut: Tulang Facial dantulangTengkorak Pria Wanita Ukurankeseluruhan Besar Kecil Supra orbita Ridge Agak rata Menonjolkecilkesedang Proc.Mostoideus Sedangkebesar Kecil kesedang Region dan foramen occipitalis Kasardansedikitkasar Lebihhalusdankecil Eminentiafrontalis Kecil Besar Eminentiaparietalis Kecil Besar
  11. 11. 11 TulangOrbita Segiempatdengantepibulat Bundardengantepitajam Tulangubun-ubun Landaisedikitbulatkecil Bentuk vertical Tulang pip Teballengkungkelateral Halus,cekungkecil Identifikasi jenis kelamin melalui antropologi ragawi akan sangat akurat aoa bila mayat korban telah menjadi tengkorak.dalam hal ini korban ditemukant elah lama dari peristiwa kejadian (bertahun-tahun) pada identifikasi bongkar kubur ,sama halnya identifikasi jenis kelamin dengan tulang rahang dengan kata lain tidak terdapat jaringan ikat pada tulang tersebut Akan tetapi, identifikasi jenis kelamin melalui gigi-geligi dapat dilakukan berbagai kondis 4. IDENTIFIKASI UMUR KORBAN ( JANIN ) DARI BENIH GIGI A. Perkembangan janin dan benih gigi Identifikasi umur dari benih gigi haruslah melalui janin, menurut Perdanakusuma (1984), terdapat beberapa kemungkinan usia janin yaitu: 1. Dalam arti janin pada umurnya, yakni sejak berusia dua, tiga atau empat minggu sampai dengan 40 minggu. 2. Dalam arti embrio murni, yaitu sejak pembuahan sampai dengan akhir minggu ke-8 usia janin. 3. Dalam arti embrio lanjutan, yaitu sejak janin berusia 9 minggu sampai mendekati 16 minggu. 4. Dalam arti fetus murni, yaitu saat janin mulai berusia 16 minggu.  Pada bulan pertama kehidupan intra-uterin, diameter ovum masih sekitar 0,625 cm.  Akhir bulan ke-2, diameter ovum sekitar 1,875 cm,jari dan kepala bisa dikenali,bagian leher belum terbentuk.  Pada bulan ke-3, perkembangan janin sudah mulai lengkap dan panjangnya sekitar 7,5-10 cm, leher sudah terbentuk, anggota gerak sudah terbentuk, jari kaki dan tangan juga sudah terlihat.
  12. 12. 12  Pada akhir bulan ke-4 panjang ubun ubun sampai pantat kira kira 10 cm, wajah melebar.  Akhir bulan ke-5 panjang ubub ubun kira kira 13 cm, panjang janin sekitar 22,8 cm, berat janin kurang dari 500 gram.  Pada bulan ke-6, ukuran janin sekitar 25-27,5 cm.  Pada bulan ke-7 ukuran janin sekitar 35 cm, pusta penulangan terlihat pada tulang talus, kelopak mata tidak lagi berlekatan.  Pada bulan ke-8 ukuran janin sekitar 40 cm, bagian paling akhir dari tulang sacrum telah menunjukan adanya pusat penulangan, bulu bulu pada seluruh tubuh, vulva telah terbuka, kuku telah muncul.  Pada bulan ke-9 kepala mempunyai lingkaran yang terbesar dari semua bagian tubuh, ukuran janin kira kira 50 cm, berat janin 3000-3500 gram. Peride periode pertumbuhan gigi: 1. Periode proliferasi. Periode ini terjadi kira kira 6 minggu sebelum lahir, untuk gigi susu sampai dengan 3 atau 4 bulan. 2. Periode formasi benih gigi Dimulai dari puncak cusp dan insisal edge.formasi ini terus berkembang sesuai dengan periode proliferasi kea rah cervical, ke arah akar, berakhir di foramen periapikal. 3. Periode klasifikasi Mula mula terlihat pada pembentukan crypt terus berlanjut hingga periode erupsi berakhir pada gigi desidui. B. Interpretasi benih gigi pada janin Teknik roentgen foto harus dilakukan demi memperoleh roentgenogram rahang janin ( fetus ) yaitu dengan proyeksi true oclusal proyeksi dengan menggunakan film oclusal tetapi kekuatan sinarnya separuh dari kekuatan sinar dalam memproyeksi gigi sementara atau balita.
  13. 13. 13 5. IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI SEMENTARA (DECIDUI) Identifikasi umur korban melalui gigi sementara , dengan interpretasi roentgenogram yang berdasarkan atas periode-periode pertumbuhan gigi antara lain periode proliferasi, periode kalsifikasi, periode formasi, dan periode erupsi gigi. a. Periode erupsi Pada identifikasi perkiraan umur seseorang yang berdasarkan periode-periode pertumbuhan gigi hendaknya mengingat beberapa faktor penunjang berikut ini: 1. Nolla tahun 1958, telah membagi periode-periode pertumbuhan gigi menjadi sepuluh stadium, stadium-stadium ini dibuat berdasarkan pengamatan mula-mula terbentuknya benih gigi sampai dengan penutupan foramen apical gigi. 2. Schour dan Massler tahun 1941, telah membuat diagram gambar perkiraan usia waktu erupsi gigi – geligi yang berdasarkan terjadinya proses klasifikasi gigi susu dan gigi tetap, formasi pembentukan mahkota gigi susu dan gigi tetap serta formasi pembentukan akar gigi susu dan gigi tetap. 3. Menurut Logan dan Kronfeld, bahwa permulaan erupsi gigi sampai dengan umur 8 tahun. Pada periode erupsi harus mengingat order of eruption. Periode erupsi ini sangat bervariasi, tergantung dari berbagai faktor, yaitu 1. Faktor pertumbuhan memanjang dari gigi 2. Faktor multiplikasi dari jaringan pulpa 3. Faktor deposisi dari lapisan baru jaringan semen 4. Faktor pertumbuhan jaringan tulang rahang b. Penentuan usia penentuan umur korban dari gigi sementara melalui interpretasi roentgenogram periapikal dan topografi oclusal. 1. Untuk penentuan usia balita /bayi berumur 5-6 bulan yaitu a. Interpretasi roentgenogram topografik oclusal anterior rahang atas balita 5- 6 bulan memperlihatkan mulai erupsi gigi insisivus sentral kiri dan kanan
  14. 14. 14 dan memperlihatkan formasi mahkota semua gigi decidui serta kalsifikasi seluruh gigi. b. Interpretasi roentgenogram topografik oclusal anterior rahang bawah balita 5-6 bulan memperlihatkan mulai erupsi gigi insisivus sentral kiri dan kanan dan memperlihatkan formasi mahkota semua gigi decidui serta kalsifikasi seluruh gigi 2. Untuk penentuan usia bayi berumur 12 bulan yaitu: a. Interpretasi roentgenogram periapikal rahang atas balita umur 12 bulan memperlihatkan erupsi gigi cebtral lateran bahkan gigi kaninus atas. b. Interpretasi roentgenogram periapikal rahang bawah balita umur 12 bulan memperlihatkan erupsi gigi cebtral lateran bahkan gigi kaninus bawah Perkiraan umur dari jaringan gigi, terdapat suatu diagram yang dapat dipakai untuk panduan perkiraan umur dari: 1. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang ditandai dengan terbentuknya formasi cups dan mahkota 2. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang ditandai dengan terbentuknya akar gigi dalam formasi dari cervical kea rah apek 3. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang dimaksud dengan penutupan foramen apical gigi. Ketiga hal tersebut dituangkan dalam suatu diagram yang disebut dengan Incremental Line. 6. IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI CAMPURAN Pembentukangigitetap di mulaipadausiabalita 10bulan sampai 12 bulanyaitupembentukan ncrypt dari gigi tetap molar pertama dan incicivecentral.bila pada belita umur 12 bulan dimulailah pembentukan crypgigi tetap molar kedua,dan klasifikasi formasi cusp gigi molar pertama. Apabila belita berumur 12 bulan maka telah terjadi erupsigigi molar pertama dicidui atas dan bawah kemudian telah terjadi formasi gigi tetap mahkota gigi incicive dan lateral rahang atas maupun rahang bawah 7 IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI TETAP
  15. 15. 15 Identifikasi ini dimulai pada umur 13 tahun sampai dengan 21 tahun menurut periode erupsi, tetapi ada metode lain. a. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut periode erupsi Identifikasi ini dengan menggunakan interpretasi roentgenogram mengenai formasi, kalsifikasi, erupsi serta penutupan foramen apical gigi. 1. Interpretasi roentgenogram periapikal pada umur 13 tahun sebagai berikut: a. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang atas anak umur 13 tahun memperlihatkan penutupan periapikal gigi yang telah erupsi, gigi depan telah sempurna dengan gigi belakang hamper sempurna. Gigi molar ketiga formasi mencapai cervical sedangkan pada rontgenogram proximal memperlihatkan interdigitasi gigitan antara cusp gigi atas dengan cusp gigi bawah telah terbentuk. b. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang bawah anak umur 13 tahun memperlihatkan kalsifikasi akar seluruh gigi telah sempurna sehingga formasi akar telah sempurna pula dengan penutupan foramen apical telah sempurna. 2. Interpretasi roentgenogram periapikal gigi pada dewasa berumur 21 tahun a. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang atas pada dewasa umur 21 tahun memperlihatkan bahwa telah erupsi semua gigi hanya gigi molar ketiga tetap penutupan foramen belum sempurna. Sedangkan interpretasi roentgenogram proximal gigi belakang tetap memperlihatkan interdigitasi seluruh gigi rahang atas dan bawah tetapi gigi molar ketiga kiri atas hanya oclusal mahkota bagian mesial saja. b. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut metode Gusstafson Menurut Gusstafson (1996), identifikasi umur dari gigi tetap terdapat 6 kriteria yang disebut sebagai “six change of the physiological age process in teeth” dengan perkataan lain terdapat 6 kriteria dari perubahan jaringan gigi akibat penggunaan gigi sesuai dengan usia, yaitu sebagai berikut: 1. The degress of attrition 2. Alteration in the level of the gingival attachment 3. The amount of secondary dentine 4. The thickness of cementum around the root 5. Transluecency of the roor
  16. 16. 16 6. Root resoption Identifikasi umur menurut Gusstafson, bahwa 6 kriteria perubahan fisiologis dari gigi merupakan perubahan – perubahan karena faktor alamiah. Identifikasi umur berdasarkan faktor-faktor alamiah khususnya malalui atrisi serta faktor-faktor yang menyebabkan menyempitnya rongga pulpa disebabkan karena proses ausnya atau atrisi lapisan email dan dentin disertai dengan proses terbentuknya sekunder dentin yang memerlukan waktu demi waktu. Hal ini dapat diperkirakan usia dari korban apabila ia mengalami kesulitan c. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut metode Johanson Atas dasar penelitian dari Gusstafson dan Koch, Johanson membuat diagram pada tahun 1971 yang disimpulkan sebagai Triangle One yaitu: empat landmark dari formasi gigi, stadium mineralisasi gigi, tahap formasi akar, dan penutupan foramen apical gigi. d. Penelusuran secara kronologis tumbuh dan perkembangan gigi tetap Identifikasi umur mulai dari janin sampai dengan gigi dewasa, penelusuran waktu ke waktu bahkan tahun ke tahun mempunyai derajat pertumbuhan dan perkembangan bila janin secara roentgenografis, gigi decidue dan campuran secara roentgenografis pula, tetapi untuk gigi tetap menurut metode Gustafson bahwa derajat identifikasi umur akibat proses psikologis menurut penelitiannya tahap demi tahap kerusakan jaringan ia memberikan kode 8 IDENTIFIKASI KORBAN MELALUI GIGI BERDASARKAN KEBIASAAN MENGGUNAKAN GIGI A. Bagi perokok, dengan menggunakan pipa dalam menghisap tembakau, maka akan menyebabkan ausnya gigi yang digunakan untuk menggigit pipa. Dengan demikian bertahun tahun akan terlihat open bite diantara gigi. B. Bagi mereka yang kebiasaannya brezism yaitu menggerakan aclusi aktif pada waktu tidur maka akan terlihat atrisi di sekitar gigi atas dan bawah sesuai dengan interdigitasi antara gigi atas dan bawah.
  17. 17. 17 C. Bagi mereka yang mempunyai kebiasaan Brezism yang terbesar tekanan oclusi pada gigi molar atau geraham maka permukaan kunyah gigi tersebutlah akan terlihat atrisi derajat keparahan. D. Bagi mereka yang mempunyai gigitan open bite satu maupun beberapa gigi maka gigi tersebut tidak akan terlihat adanya atrisi, sedangkan gigi yang mempunyai kontak oclusi gigi atas dengan gigi bawah akan terjadi atrisi 9 IDENTIFIKASI KORBAN MELALUI GIGI BERDASARKAN PEKERJAAAN MENGGUNAKAN GIGI Bagi mereka yang mempunyai pekerjaan dengan menggunakan gigi antara lain tukang jahit, piñata rambut/pegawai salon, tukang kayu, maka akan terlihat atrisi permukaan aclusi sesuai dengan benda keras yang digunakan dalam pekerjaannya. a. Misalnya tukang jahit akan menggigit jarum baik diameter kecil sampai diameter besar Pada tukang jahit, ujung gigi seri yang dekok ini karena terlalu sering menggigit jarum pentul, pada tukang sol sepatu karena menggigit jarum jahit dan memotong benang jahit dengan giginya dan pada tukang kayu karena menggigit paku pada waktu dia sedang bekerja. Kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari bertahun-tahun sehingga terjadilah efek ujung gigi seri yang bergoyang dangdut ini. b. Bagi penata rambut atau yang biasa disebut caster maka akan terlihat pada gigi incicive central khususnya, umumnya gigi incicive centra lateral, suatu atrisi pada gigi atas dan bawah yang berbentuk ronggga sesuai dengan jepit rambut karena ia sebelum
  18. 18. 18 menata rambut tamunya ia menggigit jepit rambut beberapa buah pada gigi insisivusnya, rongga tersebut sesuai dengan jepit rambut yang besar maupun yang besar. c. Bagi pekerja bangunan khususnya yang dianggap sebagai tukang kayu maka ia dalam melakukan pekerjaannya sebelum memaku kayu atau papan ia menggigit paku pada gigi depannya. Maka gigi depannya tersebut akan atrisi berbentuk bulat sesuai dengan paku yang digunakan, derajat atrisi bias kecil sampai dengan besar sesuai dengan diameter paku. Tukang kayu ini biasanya memaku kayu dengan menggunakan tang pada bangunan tingkat satu atau lebih sehingga ia membawa paku pada saku celana kiri dan kanan mungkin seberat satu kg atau lebih dan kemudian ia mengambil beberapa paku untuk digigit sebelum digunakan untuk memaku papan atau kayu. Data-data ini dicatat ke dalam odontogram yang terdapat kolom-kolom catatan untuk rongga mulut sehingga tim identifikasi akan segera mengetahui bahwa ia mempunyai pekerjaan sesuai dengan bentuk atrisi pada gigi atas dan bawah. 10. IDENTIFIKASI GOLONGAN DARAH KORBAN DAN PELAKU MELALUI AIR LIUR ATAU SALIVA Identifikasi golongan darah korban melalui air liur atau saliva haruslah dibuat sedian ulas pada TKP maupun pada korban yang masih terdapat air liur baik masih basah maupun sudah kering. Identifikasi golongan darah ini haruslah di cross check atau pemeriksaan silang dengan keluarga yang sedarah semenda yaitu saudara kandung, ayah, dan ibu. Identifikasi ini disebut pula sebagai Pembuktian dari tracing air liur atau Salivary Trace Evidence.
  19. 19. 19 Analisa air liur ini bila pada korban, dapat dibuat sediaan ulas di TKP dan pada pelaku disekitar gigitan pada korban atau bekas gigitan pada makanan yang dimakan pelaku terutama buah apel atau sejenisnya yang menampakkan pola gigitan pada permukaan bukalis. Identifikasi golongan dari air liur yang disebut juga sebagai saliva washing atau analisa air liur maka sediaan ulas yang tim identifikasi buat haruslah dikirim ke laboratorium serologis, apabila air liur atau saliva tersebut sekretormaka dapat diketahui golongan darah dari air liur tersebut. Sedangkan apabila air liur tersebut non secretor maka sulit ditentukan golongan darah karena terlampau banyak kemungkinan yang mempengaruhinya. Menurut penelitian laboratorium kedokteran kepolisian di Jakarta bahwaanggota kepolisisan yang diteliti 75% adalah secretor. Sedangkan menurut buku acuan yang digunakan bahwa manusia di dunia ini 85% adalah secretor. Dalam penentuan golongan darah dari air liur haruslah diingat teori paternalis yaitu suatu teori yang menentukan garis keturunan dengan kata lain apabila korban maupun pelaku diketahui sedarah semenda-nya maka sedarah semenda-nyasalah seorang haruslah diambil saliva nyauntuk kepastian golongan darahnya. A. Table Golongan Darah Dari Keturunan (Paternalis) Menurut Musa perdanakusuma tahun 1984 bahwa table golongan darah dari keturunan (paternalis) sebagai berikut : Table 5. Golongan Darah Ibu Anak ayah O O O O O,B B Ibu Anak ayah O O.A A
  20. 20. 20 O A,B AB A O.A A A O,A,B B A A,B,AB AB B O,B B B A,B,AB AB AB A,B,AB AB Bila pada hasil pemeriksaan serologis seseorang mempunyai relasi golongan darah ganda misalnya golongan darah O dengan B,O dengan A, atau A dan B maka hanya empat kepastian kemungkinan. B. Sejarah Golongan Darah Secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut mula-mula ditemukan 1 jenis golongan darah oleh Landsteiner pada tahun 1900 kemudian ditemukan 3 jenis golongan darah dan akhirnya ditemukan 4 jenis golongan darah oleh Von Dungem yang diberi nama sebagai berikut : 1. Golongan darah A 2. Golongan darah B 3. Golongan darah AB 4. Golongan darah O Jenis golongan darah ini masih tetap ada sampai akhir hayatnya. Bila menjadi korban masih dapat diidentifikasi apabila belum terjadi pembusukan. C. Yang Harus Diingat Beberapa Teori Dalam Penentuan Golongan Darah 1. menurut Lendsteiner, ia menemukan suatu hetero-aglutinin yaitu N dan NM 2. menurut Levine dan Philip dalam suatu percobaannya, ditemukan 86% aglutinasi positif dan 14% aglutinasi negative. Hal ini dipengaruhi oleh rhesus factor.
  21. 21. 21 Apabila golongan darah aglutinasi positif maka rhesus nya positif sedangkan aglutinasi negative maka rhesus faktornya negative. 3. dipengaruhi oleh hokum genetika yaitu hokum Mendel. Hukum Mendel ini hanya menelaah tentang sifat dan perilaku yang diturunkan oleh orangtuanya. Adapun hal tersebut ialah seorang anak mempunyai sifat dan perilaku setengah dariayah dan setengah dari ibu. 4. Identifikasi golongan darah tersebut dipengaruhi oleh Mutatis-Mutandis. Teori ini sangat mempengaruhi untuk golongan darah B dengan keterangan sebagai berikut : Wanita B-BB dengan pria B-BB maka anak : B-BB Dapat pula kemungkinan : Wanita B-B dengan pria B-BB maka anak : B-BB,B-B, O D. Bahan-Bahan Yang Dibutuhkan Untuk Memperoleh Saliva Atau Air Liur Dalam Membuat Sediaan Ulas Bahan-bahan tersebut menurut Michael Bower dan Gary Bell pada tahun 1995 antara lain : 1. Kapas/papir 2. Pinset 3. Botol kecil kurang lebih 10 cc 4. Saline solution 5. Kuas 6. Sikat halus 7. Sarung tangan 8. Masker 9. Obat tetes mata 10. Cairan pembersih alat kerja 11. Freezer 12. Cairan buffer / ph7 13. Cairan pembilas
  22. 22. 22 14. Fissure burs + table enginee 15. Chisel 16. Pipet 17. Disk plat / cawan glass Untuk kapas,papir, dan pinset dapat digantikan dengan cotton bud E. Cara Membuat Sediaan Ulas Dari Saliva / Air Liur Cara membuat sediaan tersebut sebagai berikut : 1. Kapas steril kering / cotton bud dibasahi dengan aqua desilata 2. Kemudian dicelupkankedalam saline solution 3. Saline solution yang digunakan Nacl 0,9% digunakan untuk infuse atau larutan isotonic 4. Membuat sediaan ulasan kapas tersebutdiulas setengah rotasi bolak baliksi sekitar gigitan atau saliva yang terdapat di TKP setelah dilakukan pembersihan dengan kuas halus dari debuyang melekat. 5. Sediaan ulas ini dibuat 2 kali sehingga terdapat 2 sediaan ulas yang masing-masing 2 atau 3 kali diputar di sekitar saliva 6. Masukkan sediaan tersebut kedalam test tube dengan ditengah penutup tabung tanpa kontaminasi dengan dinding tabung 7. Tangkai sediaan ulas tersebut dicekatkan dengan penutup tabung kemudian dimasukkan ke dalam kotak kardus kecil atau yang disebut amplop khusus 8. Lalu dikirim ke laboratorium serologis terdekat 9. Kemudia pada kotak amplop tersebut dituliskan data-data berikut : a. Tanggal pembuatan sediaan ulas b. Tempat pembuatan sediaan ulas atau TKP c. Kode sediaan ulas dengan urutan tim identifikasi d. Nama anggota tm identifikasi yang membuat sediaan ulas 10. Komunikasi dengan lab serologis untuk memperoleh hasilnya 11. Maka akan diketahui golongan darah dari analisa saliva tersebut.
  23. 23. 23 F. Saliva Washing Pada Pelaku Apabila pelaku menggigit korabn sebelum terjadi pembunuhan atau terjadinya aksi lidah dan bibir pada korban ataupun bermesraan sebelum terjadi pembunuhan maka dengan mudah di sekitar tersebut pada korban dibuat sediaan ulas denganprosedur seperti diatas. Apabila pelaku ataupun tersangka tetangkap maka untuk membuat sediaan ulas liurnya harus seijin dari pelaku tersebut dan pabila sedarah semendanya untuk dibuat sediaan ulas dari liur harus membuat ijin dengan surat ijin dari pelaku dengan formulir yang baku internasional dengan catatan pemeriksaan ini tidaklah memberatkan pelaku. Sediaan ulas yang diperoleh dari pelaku kemudian dikirimkan ke lab serologis maka akan ditemukan golongan darah pelaku untuk pemeriksaan silang haruslah diambil sediaan ulas sedarah semendanya dari pelaku. G. Hasil Analisa Negative Apabila hasil analisa dari air liur dalam identifikasi golongan darah diperoleh hasil yang tidak diharapkan maka terdapat beberapa kemungkinan yaitu : 1. Liur atau saliva dari pelaku bukan golongan secretor 2. Apabila saliva telah mongering mungkin sediaan ulas kurang mengandung liur 3. Liur atau saliva tercemar oleh cairan lain sebelum dibuatkan sediaan ulas 4. Sediaan ulas atau cotton swab terkontaminasi sebelum dilakukan analisa laboratories 5. Kegagalan dari proses serologis dilaboratorium kemungkinan reagennya sudah rusak atau sudah kadaluarsa dengan konsentrasinya berubah. 6. Kemungkinan kegagalan semua proses laboratories Menurut Michael Bowers dan Gary Bell pada tahun 1995, saliva atau air liurmengandung protein dan antibody dan bila proses pengambilan sediaan ulas dari sekitar bibir, lidah, mukosa mulut, maka kemungkinan sediaan ulas tersebut mengandung sel epitel dari jaringan tersebut, leucocytes, bahkan cairan gingiva
  24. 24. 24 11 Identifikasi Golongan Darah Korban Melalui Pulpa Gigi Menurut James dan Standison pada tahun 1982, ideentifikasi golongan darah dapat dibuat dari sediaan yang diambil dari bagian tubuh sebagai berikut : akar rambut, jaringan tulang, jaringan kuku, jaringan ikat, air mata, saliva dan cairan darah sendiri. Akan tetapi dalam ilmu Kedokteran gigi forensik, identifikasi golongan darah dapat diketahui dari analisa jaringan pulpa gigi. Menurut Alfonsius dan penelitian Ladokpol pada tahun 1992 dan Forum Ilmiah Internasiomnal FKG Usakti tahun 1993, bahwa analisa golongan darah dari pulpa gigi merupakan identifikasi golongan darah untuk pelaku maupun korbabn adalah dengan cara Absorbsi – Ellusi. Sejarah Absorpsi – Ellusi dari jaringan pulpa gigi Analisa laboratoris dengan metode absorbsi – ellusi dari jaringan pulpa gigi dibuat sebgai berikut : 1. Gigi yang masih terdapat jaringan pulpa diambil sebagai bahan 2. Gigi ditumbuk kedalam lubang besi sehingga hancur menjadi bubuk 3. Bubuk gigi tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi yang terbagi menjadi 3 tabung 4. Kemudian ke dalam masing-masing tabung dimasukkan Antisera : Alfa ke tabung I, Beta ke tabuing II , Gamma ke tabung III 5. Ketiga tabung tersebut dimasukkan / disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 5 derajat celcius selama 24 jam sehari – semalam 6. Kemudian dicuci dengan Saline Solution sebanyak 7 kali 7. Larutan Saline dibuang dari tabung tetapi endapan tidak terbuang 8. Ketiga tabung diteteskan aquades sebanyak 2 tetes dengan pipet. 9. Kemudian ketiga tabung tersebut dipanaskan dengan suhu 56 derajat celcius selama 12 menit. 10. Tabung-tabung tersebut kemudian diangkat dari tungku pemanas 11. Kemudian ke dalam ketiga tabung tersebut dimasukkan sel indikator :
  25. 25. 25 A,B dan O dengan konsentrasi 3% - 5% 12. Kemudian ketiga tabung tersenut disentrifugasi dengan alat pemutar agar terjadi penggumpalan (agulutinasi) 13. Dan akhirny dilihat pada tabung mana yang menjadi penggumpalan (aglutinasi) Pada tabung yang terlihat penggumpalan merupakan identifikasi goglongan darah dari hasil analisa laboratorium tersebut. Apabila hasil tersebut sebagai beritkut : 1. Dikatakan positif adalah jelas terlihat dengan visual terjadinya aglutinasi 2. Apabila hasilnya meragukan maka penggumpalan tidak jelas 3. Hasilnya dikatakan negatif bila tidak terjadi aglutinasi Reaksi Negatif Reaksi negativ atau terjadi aglutinasi dipengaruhi oleh bebrapa faktor yaitu : 1. Tidak cukupnya Antisera yang diberikan ke dalam tabugn dibandingkan dengan antigen yang ada dalam bubuk gigi pada tabung 2. Pengaruh suhu atau pemansan yang tidak tepat baik waktu maupun derjat kepanasanyya 3. Pengaruh kelembapan udara dalam reaksi Antigen dengan Antisera selama penyimpanan 4. Pengenceran yang salah di dalam tiap tabung 5. Kurang tepat atau kurang teliti secara visual adanya aglutinasi 6. Apabila bubuk gigi tidak terdapat anti H atau anti H-nya negatif maka gigi tersebut tidak terdapat antigen dengan demikian tidak terjasi reaksi antaea antigen dengan antisera 7. Eritrosit dapat diperiksa atau diketahui dengan sediaan pulpa gigi hanya 131 hari sejak kematian Seseorang dikatakan sekretor ialah mereka didalam sediaan jaringan tubuhnya terdapat antigen dan antibodi maka dapat diketahui identifikasi golongan darahnya Apabila mereka atau orang tersebut non sekretor (tidak terdapat antigen pada pulpa gigi atau sediaan tubuh lainnya) maka dala analisa laboratoris sangat sulit teridentifikasi golongan darahnya karena tidak terdapat reaksi antara antigen dan antidera. Kemungkinan hasilnya sangat subyektif dan sangat banyak kemungkinannya.
  26. 26. 26 Pada pengambilan sediaan untuk identifikasi golongan darah haruslah diketahui apakah sediaan darah tersebut darah manusia atau darah hewan. Dalam analisa penentuan gologngan darah dapat pula diketahui kadar alkohol didalam darah, kadar narkoba (berbagai jenis) di dalam darah dan bahan-bahan kimia atau bahan farmakologis yang dikonsumsi pelaku maupun korban dapat pula diketahui begitupun jenis obat tertentu yang dikonsumsi korban/ pelaku sebelum kematian. 12 IDENTIFIKASI DNA KORBAN DARI ANALISA AIR LIUR Tubuh manusia terdiri atas 100 triliun sel, yang kebanyakan berdiameter kurang dari sepersepuluh millimeter. Didalam tiap sel ada sebuah bintik atau gumpalan hitam yang disebut ini atau NUKLEUS. Di dalam inti ada perangkat lengkap (sepasang-sepasang) genom manusia (kucuali dalam sel- sel telur dan sel-sel sperma, yang masing-masing memiliki seperangkat atau sebelah pasangan, dan sel-sel darah merah yang tidak memilikinya sama sekali), seperangkat (sebelah) lainnya berasal dari ayah. Pada prinsipnya , tiap perangkat tadi terdiri dari 30.000 hingga 80.000 gen yang sama pada kedua puluh tiga KROMOSOM yang sama. Dalam kenyataannya, sering ada sedikit perbedaan antara versi gen asal ayah dan versi asal ibu, misalnya perbedaan yang terkait dengan mata biru atau mata cokelat. Ketika sepasang suami istri mempunya keturunan, mereka mewariskan satu perangkat yang lengkap, tetapi itu merupakan hasil saling tukar antara sebagian kromosom-kromosom ayah dan ibu dalam prosedur yang disebut REKOMBINASI Selain penentuan identifikasi DNA dalam suatu tindak pidana, kini telah berkembang pemeriksaan kromosom oleh para ilmuan mengenai gen-gen tertentu yang menyebabkan penyakit tertentu, gen-gen tertentu pula yang dapat ditempati oleh virus-virus tertentu dan lembaga AIKMAN dibawah bimbingan prof.sangkot Marzuki telah pula meneliti fosil. Analisa sediaan dalam identifikasi DNA yang berguna antara lain untuk :  Melakukan identifikasi korban
  27. 27. 27  Melakukan identifikasi pelaku  Menentukan sebab + korban  Menjelaskan DNA sebagai bukti tindak pidana Sesuai dengan IPTEK dalam penyidikan maka penyidikan meningkat pula pada baik kualitas maupun kuantitas akan tetapi tindak pidana di berbagai Negara juga meningkat baik kualitas maupun kuantitas dengan modus operandi yang cukup canggih, secara sketsa sebagai berikut : Pidana sipil dengan tusukan, pukulan, siksaan ,mutilasi,dll perangkat ABRI balistik tubuh hancur A.PENGERTIAN DAN SIFAT DNA DNA merupakan kepanjangan dari Deoxyribonucleic Acid yang merupakan suatu materi dari tubuh manapun yang terdapat dalam inti sel. Prof. Alec Jeffrey menemukan bahan DNA berbeda pada setiap individu, pada kembar identik sdk DNA dalam satu tidak sama, meskipun berasal dari berbagai tubuh manapun. Sifat DNA, dapat di manfaatkan sebagai materi identifikasi  DNA profiling  sebagai materi genetic intraselluler didalam tubuh manusia  terdapat sel-sel yang tidak terhitung banyaknya didalam inti setiap sel  terdapat materi genetic = kromosom  diurai lebih lanjut  merupakan pemadaran dari benang-benang DNA Setiap untai DNA terdapat untai gula phospat “sugar-phosphate back bone” Gula phosphate terdiri 4 macam basa terminal : - Adenine - Quinine - Thimine - Cytosine Setiap untai “DNA tdd atas jutaan basa terminal” diperkirakan terdapat jutaan 4 jenis basa tsb di atas. Untai pasangan DNA dengan urutan tertentu.
  28. 28. 28 DNA PROFILING Dicari “non coding area” dimana area khas ini di temukan lalu dianalisis untuk identitas. Mula-mula keluarkan DNA dari inti sel yang ditemukan melalui analisa DNA Proses analisa sample : 1. Isolasi 2. Restriksi 3. Elektroforesa 4. Palacakan = probing 5. Labeling Proses tersebut antara lain :
  29. 29. 29 1. Isoloasi ialah mengeluarkan dan memurnikan DNA dari dalam inti sel Inti sel terlindungi oleh bagian-bagian jaringan dan sel pemisahan jaringan pemisahan sel, pemecahan inti sel, pembersihan DNA dari sisa-sisa sel yang tidak di perlukan 2. Restriksi = memotong DNA yang telah di murnikan DNA yang dihasilkan dari langkah 1 sangat panjang karenanya harus dipotong-potong terlebih dahulu dengan enzim. Restriksi potongan pendek pemotongan harus tepat pada area lokasi yang dicari agar tidak di daerah yang di tengah lokasi untuk identifikasi. 3. Elektroforesa = mengelompokan hasil potongan DNA menurut panjang potongan tersebut. DNA yang dipotong dalam keadaan campur baur, harus dipisahkan agar dapat dicari  dengan elektroforesa  potongan DNA tertarik ke kutub  terpisah dari pot  potongan yang besar bergerak lambat sedang pot yang kecil bergerak cepat 4. Pelacakan = probing = menandai area khas yang di cari Pelacak adalah potongan DNA pada lokasi indent yang khas di tengah untai DNA. Jenis lokasi yang dilacak : a. Pelacak tunggal = single locus probe Hanya untuk mencari lokasi inden pada satu lokasi di seluruh DNA sehingga pada akhir proses hanya di peroleh 2 pita b. Pelacak ganda = multi locus probe Akan cari lokasi yang jumlah lebih dari satu untai DNA pada setiap orang posisi lokasi berbeda sehingga dengan cari panjang potongan dapat membedakan identitas seseorang. Potongan-potongan DNA dengan lokasi urutan basa terminal khas untuk identifikasi : ada berapa lokasi identifikasi berapa besar pect yang mengandung lokasi indent. Potongan pada lokasi yang dicari akan melekat hanya pada lokasi identifikasi dengan mencari dimana pelacak itu melekat, maka ditemukan lokasi identifikasi.
  30. 30. 30 5. Labeling = memberikan zat yang memungkinkan untuk melihat lokasi dan jumlah area yang dicari DNA tidak dapat dilihat begitu saja maka harus di tempatkan “petanda” yang di lekatkan pada pelacak. Penanda tersebut ialah ehemilluminscence yang akan member warna. B.APLIKASI PELACAKAN DNA 1. Multi locus probe Contoh : Dengan multi locus probe pada identifikasi jenazah jika sudah amat rusak karena terpotong, mutilasi, korban pesawat udara, ledakan bom/granat dsb, ambil sampel jaringan kemudian keluarga korban keluarga korban diambil dari ayah dan ibu, setelah proses isolasi s/d labeling di peroleh , contoh sbb : K1 = korban-1 K2= korban -2 AA= ayah-1 IA = ibu -1 AB = ayah -2 IB = ibu-2 Hasil contoh : A ; k1 ialah anak AB dan IB karena semua pita cocok dengan AB dan B sedang k2 ialah anak AA dengan BA 2. Single locus probe pada pemerkosaan ganda Barang bukti = sperma 3. Polymerase chain reaction
  31. 31. 31 Sering di TKP terdapat barang bukti sdk kadang tetes darah yang telah mongering, maka untuk DNA profiling mesti dilakukan perbanyakan DNA tsb dengan teknik merase chain reaction. Pada setiap pola gigitan, kecupan, ataupun sarana yang digunakan untuk dimasukkan ke dalam mulut misalnya punting rokok, pangkal pipa, sendok, garpu,ujung sumpit sangat mungkin terdapat air liur, air liur ini dapat diambil sebagai sediaan untuk analisa DNA dari korban maupun oelaku yaitu dengan metode single probe analysis, apabila liur tersebut belum terjadi pencemaran maka proses analisanya akan terlaksana dengan baik sehingga dapat diketahui labeling dari DNA liur tersebut. Crosscheck untuk pemeriksaan ini haruslah dilakukan analisa liur dan yang sedarah semendah yaitu ayah, ibu, saudara kandung, kakak,adik, apabila terdapat sepotong label saja yang sesuai mereka adalah searah semendah dengan mudah secara akurat dapat diidentifikasi. Dalam memperoleh sediaan liur dari sedarah semendahnya haruslah dibuatkan suatu formulir persetujuan yang baku mutu nasional maupun internasional, surat persetujuan ini biasanya dijajaran kepolisian maupun Interpol sudah ada formulir tersendiri 13 Identifikasi korban melalui gigi palsu yang digunakannya A. Sejarah Identifikasi Gigi Palsu Sejarah identifikasi melalui gigi palsu dimulai pertama kali yaitu ketika Junker menemukan brige wrok gigi molar ke-2 dengan bahan dari kawat emas yang memegang 2 gigi molar. Protesa ini ditemukan di daerah Giza dan diperkirakan berumur kira-kira 2500 BC. Fosil berhasil diidentifikasi sekitar 900 tahun kemudian Sejarah berikutnya dengan adanya identifikasi dari gigi pada istri Nero dalam usia 66 tahun. Sejarah lainnya mengenai korban tentara yang brnama John Talbot yang meninggal pada saat peperangan tahun 1453 yang berumur 80 tahun, berhasil diidentifikasi oleh Earl of Screwbury. Ada juga peristiwa mengenai mayat yang tidak dapat dikenal yang kemudian diidentifikasi melalui gigi palsi pada tahun 1477 dan ternyata mayat tersebut adalah mayat dari Charles the Bold. Pada tahun 1835, identifikasi gigi emas pada peristiwa kebakaran di Hatfield House mengungkap kasus Countess of Salisbury yang tadinya tidak terungkap. Pada saat itu, beliau sedang beristirahat di villanya dan tiba-tiba ada perampokan.
  32. 32. 32 Perampok yang takut identitasnya diketahui kemudian membakar rumah kornan namun gigi palsunya tidak hancur sehingga dapat dilakukan identifikasi dan terbukti mayat tersebut adalah Countess of Salibury. Organisasi Dental Disaster Tean yang terbentuk pada tahun 1960 pertama kali membuktikan peristiwa pesawat yang jatuh di bandara Cincinnati, Booney County , kurang lebih 3,2 km dari Kentucky. Mereka juga membuktikan peristiwa peawat jatuh di New Heaven, Conncticut. Dengan gigi insisivus pertama, mereka dapat membuktikan ke-2 peristiwa di atas. 14 IDENTIFIKASI WAJAH KORBAN DARI REKONTRUKSI TULANG RAHANG DAN TULANG FACIAL Dalam identifikasi wajah korban haruslah dilakukan rekontruksi gigi ke dalam soket tulang rahang apabila giginya terlepas setelah semua lengkung gigi terekonstruksi barulah dilakukan rekonstruksi tulang rahang atas maupun rahang bawah terhadap tulang tengkorak terutama fiksasi rahang bawah terhadap rahang atas dan terhadap tulang kepala. Apabila prosesus condoloideus atau ramus ascenden mandibulanya patah dan tidak ditemukan maka harus dibuat dengan bahan yang keras atau acrilik sehingga prosesus codoloideus buatan tersebut dapat difiksasai ke tulang kepala Pertama pertama dilakukan rekontruksi gigi kedalam soket tulang alveolar,kemudian setalah semua gigi yang ditemui berhasil di rekontruksi maka tulang rahang yang tidak utuh atau patah patah direkontruksi pula. Setelah gigi dan tulang rahang direkontruksi maka baik rahang atas maupun rahang bawah dicekatkan pada tulang tengkorak pada rekontruksi ini harus diingat pula tulang tulang facial yang fraktur atau tulang tulang facial yang pecah tidak ditemui kemudian dilakukan rekontruksi tulang facial dengan menggunakan Wax, tetapi dikedokteran kepolisian digunakan bubur Koran bekas dicampur dengan air dilakukan finishing dengan menggunakan cutter maupun amplas A. Pengukuran pengukuran dalam melakukan rekontruksi
  33. 33. 33 Dalam melakukan rekontruksi tulang rahang maupun tulang facial harus dilakukan pengukuran pengukuran anatara lain lebar lengkung rahang , panjang lengkung rahang , lebar jarak intergonion , jarak interprosesus condyloideus maupun coronoidius dan tinggi muka bawah tengah dan muka bagian atas.tidak lupa pula harus di ukur lebar inter os zygomatikus , interpupil, jarak os nasalis ke tragus dan inter temporalis 15 IDENTIFIKSI WAJAH KORBAN Berbagai macam identifikasi wajah: 1. Shape Analytical Morfometri Menurut Helmer tahun 1993, bahwa metode ini digunakan cara mencocokan kepala jenazah dengan fotografi dari wajah korban semasa hidup dengan menggunakan 3 perangkat pendekatan yaitu: a. Sarana dan prasarana untuk memperoleh bayangan atau gambar dari tengkorak maupun dari foto wajah semasa hidup yang akan di superimpose dengan menggunakan alat-alat:video kamera digital, analog monitor, digital monitor, lampu pengontrol, fiksasi tulang tengkorak, alat pengontrol fiksasi tulang tengkorak jenazah,video parameter, video recorder. b. Standar prosedur Prosedur standar internasional dalam melakukan metode ini harus mempunyai suatu formalir yang baku mutu untuk meminta ijin dari keluarga korban serta ditugaskan dalam jajaran penyidikan dari kepolisian. c. Parameter Teknik tersebut di atas haruslah memperoleh suatu parameter dengan seluruh evaluasi dari landmark dalam 2 atau 3 dimensi sehingga menurut Helmer dan Rieger 1989, menghasilkan suatu bentuk grafik-grafik dari parameter tersebut. 2. Scanning Mixing Computerized
  34. 34. 34 Metode ini jauh lebih mudah dalam mengoperasikan identifikasi wajah dari foto korban semasa hidup (antemortem) dan garis-garis landmark dari kepala jenazah korban. Oleh karena sarana dari metode lebih canggih maka metode ini lebih mudah, lebih sederhana dalam penggunaan dan menghasilakan identifikasi gambar wajah dari hasil superimpose yang lebih akurat. Tehnik operasi sarana metode ini yaitu kepala jenazah korban dihubungkan dengan computer dari foto korban semasa hidup dapat dihubungkan dengan computer pula sehingga dengan panel control dapat dimanipulasi metode superimpose ini hasilnya akan timbul pada monitor. Pada metode ini digunakan alat sebagai berikut: a. Alat untuk menempatkan kepala jenazah Alat ini digunakan untuk fikasasi tulang kepala dan pada metode ini digerakkan secara otomatis oleh computer. b. Dua buah kamera berwarna yaitu: Kamera berwarna: digunakan untuk foto tulang tengkorak dan Kamera monokrom: digunakan untuk fotografi antemortem c. Unit pengabung elektronik d. Sebuah TV monitor Alat ini akan menghasilakan suatu gambar dari hasil tracing korban dan fotografi antemortem. e. control panel dapat mengatur outline dari setiap gambar tulang tengkorak 3. Metode Cermin menurut Prof.Hashimoto tahun 1983 Metode ini juga menggunakan foto antemortem dan kepala jenazah korban yang masing- masing dipantulakan dengan cermin dalam suatu layar lebar demi memperoleh kecocokan outline dari wajah.cermin tersebut ada dua macam yaitu cermin satu sisi dan cermin dua sisi menurut Sushige dan Mineo tahun 1987 bahwa mengoperasikan pantulan cermin ini snagat
  35. 35. 35 sulit karena dibutuhkan suatu bidang datar yang luas untuk fiksasi cermin sedangkan pemantauan bayangan secara visual yang sulit pula untuk dilakukan. 16 IDENTIFIKASI KORBAN MELALUI POLA GIGITAN PELAKU A.Pengertian pola gigitan Menurut William Eckert pada tahun 1992 bahwa yang di maksud dengan pola gigitan adalah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu induksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban. B.Klasifikasi pola gigitan Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, terdapat 6 kelas yaitu : 1. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisive dan kaninus . 2. Kelas II : sama seperti kelas 1 tetapi terlihat pola gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp bukalis dan cusp lingualis tetapi derajat pola gigtannya masih sedikit. 3. Kelas III : pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari kelas II yaitu permukaan gigi incisive telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan II. 4. Kelas IV : pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitannya irregular. 5. Kelas V : pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisive , kaninus, dan premolar baik rahang atas maupun rahang bawah. 6. Kelas VI : pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan bawah dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut. C. Berbagai jenis pola gigitan pada manusia
  36. 36. 36 1. pola gigitan heteroseksual - pola gigitan dengan aksi lidah dan bibir - pola gigitan pada organ genital - pola gigitan pada sekitar organ genital - pola gigitan pada organ genital - pola gigitan pada mammae D. Pola gigitan pada penyiksaan anak pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di sekeliling tubuh anak-anak atau balita yang di lakukan oleh ibunya sendiri. Hal ini disebabkan oleh suatu aplikasi dari pelampiasan gangguan psikis dari ibunya oleh karena kenakalan anaknya atau kerewelan anaknya ataupun kebandelan dari anaknya. E. pola gigitan child abuse Pola gigitan ini terjadi akibat factor-faktor iri dan dengki dari teman ibunya ,atau ibu anak tetangganya oleh karena anak tersebut lebih pandai, lebih lincah, lebih komunikatif dari anaknya sendiri maka ia melakukan pelampiasan dengan menggunakan gigitannya dari anak tersebut. F.pola gigitan hewan Pola gigitan hewan umumnya terjadi sebagai akibat dari penyerangan hewan peliharaan kepada korban yang tidak di sukai dari hewan tersebut, yaitu : 1. Pola gigitan anjing 2. Pola gigitan hewan pesisir pantai 3. Pola gigitan hewan peliharaan
  37. 37. 37 G.pola gigitan homoseksual atau lesbian Pola gigitan ini terjadi sesame jenis pada waktu pelampiasan birahinya, biasanya pola gigitan ini disekitar organ genital yaitu paha, leher, dan lain-lain. H. luka pada tubuh korban yang ,mirip dengan luka pola gigitan Luka-luka ini terjadi pada mereka yang menderita depresi berat sehingga ia secara nekat melakukan bunuh diri, yang sebelumnya ia mengkonsumsi alcohol dalam jumlah over dosis. I.Analisa pola gigitan pada manusia Analisa pola gigitan dilakukan hanyalah korban terdapat pola gigitan manusia, karena pola gigitan oleh hewan dapat segera diketahui. 1. Bahan-bahan analisa Apabila dilakukan pencetakan pada pola gigitan manusia haruslah digunakan bahan cetak yang flow system antara lain alginate dan sejenisnya. 2. Cara mencetak pola gigitan Mencetakn pola gigitan terdapat berbagai cara antara lain dengan menggunakan mangkok cetak dari masker kain keras atau dengan menggunakan kain kasa sepanjang diameter pencetakan dan berlapis-lapis. Berikutnya diaduk bahan cetak yang flow system ditempatkan dan ditekan dengan getaran pada sekitar pola gigitan kemudian mangkok dicetak di isi setengah dari mangkok oleh bahan yang flow system kemudian dijadikan satu dengan bahan flow system sekitar pola gigitan. 3. Hasil cetakan Hasil cetakan dari pola gigitan menghasilkan suatu model dari gips yang telah di cor dari model negative kemudian di cekatkan pada okludator atau articulator apabila gigitannya tidak stabil. Hal ini dapat diketahui terdapat pola gigitan rahang atas maupun pola gigitan rahang bawah. 4. Kontrol pola gigitan Kontrol pola gigitan dilakukan melalui articulator dengan model cetakan pada selempeng wax atau keju sehingga akan menampak pola gigitan. J.analisa gigitan pada buah
  38. 38. 38 Analisa pola gigitan pada buah hanyalah buah tertentu saja misalnya pada apel yang dikenal dengan apel bite mark, dapat pula buah pada buah pear dan bengkuang. Pola gigitan ini adalah penapakan dari hasil gigitan yang putus akib at gigi atas yang beradu dengan gigi bawah. Sehingga terligat hasil dari gigitan bukalis dari gigi atas dengan gigi bawah. 17. IDENTIFIKASI KORBAN MELALUI EKSKLUSI PADA KORBAN MASSAL Yang dimaksud dengan identifikasi korban melalui ekslusi ialah apabila pada korban massal telah teridentifikasi hanya tertinggal satu jasad saja maka sesuai dengan daftar penumpang yang satu itu tidak perlu diidentifikasi oleh karena jasad yang satu itu adalah nama yang belum teridentifikasi pada daftar penumpang.
  39. 39. 39 18. RADIOLOGI ILMU KEDOKTERAN GIGI FORENSIK Setelah rekonstruksi gigi selesai dan tulang rahang selesai maka dicekatkan ke tulang tengkorak maka kemudian dilakukan pula rekonstruksi ruling tulang maka (tulang facial ) apabila terjdi pecahan pecahan atau patahan patahan yang tidak ditemukan dari tulang tersebut , begitu pula bentuk tulang tulang tengkorak laiinya , hal ini penting karena demi untuk identifikasi wajah dan tulang kepala membentuk sketsa korban lengkap, semanya itu harus dilakukan roentgenografi proyeksi posterior anterior,lateral tulang tengkorak, lateral tulang muka , serta panoramic 19. FOTOGRAFI ILMU KEDOKTERAN GIGI FORENSIK Fotografi dilakukan sebelum penyikikan lain dengna perkataan lain yang mula-mula dilakukan dari penyidik atau tim penyidik identifikasi adalah fotografi dari TKP, fotografi korban, fotografi temuan-temuan disekitar TKP, fotografi tapak ban, fotografi tapak sepatu dan sandal, fotogarfi bercak-bercak darah, fotografi bekas gigitan, fotografi cairan-cairan dari tubuh korban biarpun telah mengering misalnya pada sprei, pada bantal maupun pada lantai, ataupun permadani. Oleh karna banyak pembunuhan dengan mutilasi diatas permadani sehingga darah korban meresap dalam permadanidan pendapat dari pelaku mudah membuang bercak darah tersebut oleh karna dapat lansung dibuang atau dibakar permadani tersebut dalam menghilangny abarang bukti dan bercak darah yang dapat diidentifikasi golongan darah dan DNA korban 20 VICTIM IDENTIFICATION FORM Formulis identifikasi untuk korban hidup digunakan formulir dengan warna kuning sedangkan formulir identifikasi untuk korban mati digunakan formulir dengan warna merah. Di dalam baku mutu internasional tertulis Victim Identifikation Form For Missing Person dan di kop surat sebelah kiri tertulis ante mortem berarti korban masih hidup, dapat juga digunakan data-data semasa dia hidup tercatat diformulis tersebut. Untuk korban mati digunakan formulir baku mutu internasional dengan istilah Victim Identifivation Dead Body, sedangkan di kop surat sebelah kiri atas tertulis post mortem berarti korban telah meninggal dunia atau mati.
  40. 40. 40 Gambar : Formulir victim identification for life body dengan odontogram untuk mengisi data-data gigi dan rongga mulut disertai dengan kolom-kolom data-data lain

×