Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.

Indikator makroekonomi indonesia

10.323 Aufrufe

Veröffentlicht am

  • Als Erste(r) kommentieren

Indikator makroekonomi indonesia

  1. 1. INDIKATOR MAKRO EKONOMI DI INDONESIA I. GROSS NATIONAL PRODUCT (GDP/ PDB) PDB (Produk Domestik Bruto) merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar. PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu: 1. Menurut Pendekatan Produksi PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu: i. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan ii. Pertambangan dan Penggalian iii. Industri Pengolahan iv. Listrik, Gas dan Air Bersih v. Konstruksi vi. Perdagangan, Hotel dan Restoran vii. Pengangkutan dan Komunikasi viii. Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan ix. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor. 2. Menurut Pendekatan Pendapatan PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, Yuca Siahaan
  2. 2. bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi). 3. Menurut Pendekatan Pengeluaran PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari : i. pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba ii. pengeluaran konsumsi pemerintah iii. pembentukan modal tetap domestik bruto iv. perubahan inventori, dan v. ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor). Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. GDP (Current US$) Indonesia, 2002-2011 YEAR GDP (US$) 2002 195.660.611.034 2003 234.772.458.818 2004 256.836.883.305 2005 285.868.610.017 2006 364.570.525.997 2007 432.216.737.775 2008 510.244.548.960 2009 539.355.489.060 2010 706.558.240.892 2011 807.906.678.994* Sumber : Website World Bank Yuca Siahaan
  3. 3. II. INFLASI Inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi. Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi, yaitu: i. ii. iii. Indeks Harga Konsumen (IHK). Indikator ini adalah yang paling sering digunakan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan. INFLATION Consumer Price (% annual) Indonesia 2002-2011 YEAR Inflation (%) 2002 11,9 2003 6,6 2004 6,2 2005 10,5 2006 13,1 2007 6,4 2008 9,8 2009 4,8 2010 5,1 2011 Sumber : Website World Bank Yuca Siahaan
  4. 4. III. PENGANGGURAN Pengangguran yaitu pada bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja tetapi tidak tersedia dan sedang mencari pekerjaan. Definisi angkatan kerja dan pengangguran ini berbeda menurut negara. Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. (di Indonesia) Unemployment, total (% of total labour force) Indonesia, 2002-2011 YEAR UNEMPLOYMENT (% of total labour force) 2002 9,1 2003 9,5 2004 9,9 2005 11,2 2006 10,3 2007 9,1 2008 8,4 2009 7,9 2010 2011 Sumber data: World Bank Yuca Siahaan
  5. 5. IV. KEMISKINAN Penduduk Miskin Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor. Garis Kemiskinan (GK) Yaitu penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin. - - Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll) Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan. GK = GKM + GKNM Dimana: GK= Garis Kemiskinan GKM= Garis Kemiskinan Makanan GKNM= Garis Kemiskinan Non Makan a. Rumus Penghitungan GKM Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah : Dimana : GKMj = Gris Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori). Pjk = Harga komoditi k di daerah j. Qjk = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j. Vjk = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j. j = Daerah (perkotaan atau pedesaan) Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga : Yuca Siahaan
  6. 6. Dimana : Kjk = Kalori dari komoditi k di daerah j HKj = Harga rata-rata kalori di daerah j Dimana : Fj = Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang menghasilkan energi setara dengan 2100 kilokalori/kapita/hari. b. Rumus Penghitungan GKNM : Dimana: NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non makanan daerah p (GKNMp). Vi = Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan daerah p (dari Susenas modul konsumsi). ri = Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan menurut daerah (hasil SPPKD 2004). i = Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p. p = Daerah (perkotaan atau pedesaan). - Persentase Penduduk Miskin / Head Count Index (HCI-P0), adalah persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan (GK). Rumus Penghitungan : Dimana : α=0 z = garis kemiskinan. yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. n = jumlah penduduk. - Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran peduduk dari garis kemiskinan. Rumus Penghitungan : Yuca Siahaan
  7. 7. Dimana : α=1 z = garis kemiskinan. yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. n = jumlah penduduk. - Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) yaitu gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Rumus Penghitungan : Dimana : α=2 z = garis kemiskinan. yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. n = jumlah penduduk. Poverty gap at national poverty line (%) (Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional) Indonesia, 2002-2011 Poverty gap at national poverty line YEAR (%) 2002 2003 3,1 2004 3,0 2005 2,9 2006 3,7 2007 5,1 2008 2,8 2009 2,5 2010 2,2 2011 Sumber data: World Bank Poverty gap at national poverty line (batas garis kemiskinan nasional) => kekurangan dari garis kemiskinan (kekurangan nol dihitung sebagai tidak miskin ) sebagai persentase dari garis kemiskinan. Ukuran ini mencerminkan dalamnya kemiskinan serta insidennya. Yuca Siahaan
  8. 8. Referensi: Website World Bank http://data.worldbank.org/ Diakses 18 Maret 2012 Website Badan Pusat Statistik http://www.bps.go.id Diakses 19 Maret 2012 Website Bank Indonesia http://www.bi.go.id Diakses 19 Maret 2012 Yuca Siahaan

×