Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ........................................................................ 1
BAB I...
Halaman 1
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
ART Antiretroviral Therapy = terapi antiretroviral
ARV Obat Antiretroviral
BTA
BPPM...
Halaman 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia termasuk negara dengan beban tinggi Tuberkulosis (TB), dengan
insi...
Halaman 3
sebesar 2,3 per 100 pasien per tahun dibandingkan tanpa PP INH sebesar 3,6 per 100
pasien per tahun [11].
Penggu...
Halaman 4
BAB II TUGAS DAN FUNGSI PELAKSANA PENGOBATAN
PENCEGAHAN DENGAN INH PADA ODHA
A. Persiapan Pelaksanaan PP INH
Kri...
Halaman 5
C. Tugas dan Fungsi Pelaksana PP INH
No. Instansi Tugas & Fungsi
1. Pusat  Melakukan perencanaan terkait perlua...
Halaman 6
No. Instansi Tugas & Fungsi
3. Mencatat dan melengkapi formulir Ikhtisar Keperawatan,
Kartu Pasien, register ART...
Halaman 7
No. Instansi Tugas & Fungsi
Laboratorium Rujukan GeneXpert ( Bila tersedia )
Pelaksana pada tingkat laboratorium...
Halaman 8
BAB III TATALAKSANA PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN
INH PADA ODHA
A. Prinsip pengobatan pencegahan dengan Isoniazid...
Halaman 9
D. Algoritma IPT
Gambar 1. Algoritma Pemberian IPT pada ODHA di Layanan HIV
Halaman 10
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Pasien akan diberikan informasi mengenai keuntungan dan risiko pemberian
pro...
Halaman 11
*Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”:
Jika seorang pasien dalam PP INH mulai...
Halaman 12
Lama putus
berobat
Tindakan
< 1 bulan Lakukan skrining gejala TB.
Bila ada gejala, rujuk untuk menegakkan diagn...
Halaman 13
K. Manajemen Logistik
Manajemen logistik adalah serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan
kebutuhan, penga...
Halaman 14
BAB IV MONITORING DAN EVALUASI
Bab ini menjelaskan tentang formulir pencatatan dan pelaporan, waktu pelaporan,
...
Halaman 15
C. Variabel dan Definisi Operasional Pelaksanaan Pemberian PP INH pada ODHA
Indikator 1
Proporsi ODHA yang mend...
Halaman 16
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO Global TB Report 2013. http://www.who.int/tb/en/.
2. WHO Factsheet No. 14, Updated Okt 20...
Nächste SlideShare
Wird geladen in …5
×

PETUNJUK TEKNIS PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN ISONIAZID UNTUK ODHA DI INDONESIA

10.286 Aufrufe

Veröffentlicht am

PETUNJUK TEKNIS
PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN
ISONIAZID UNTUK ODHA
DI INDONESIA

Veröffentlicht in: Gesundheitswesen
  • Sex in your area is here: ❤❤❤ http://bit.ly/369VOVb ❤❤❤
       Antworten 
    Sind Sie sicher, dass Sie …  Ja  Nein
    Ihre Nachricht erscheint hier
  • Follow the link, new dating source: ❤❤❤ http://bit.ly/369VOVb ❤❤❤
       Antworten 
    Sind Sie sicher, dass Sie …  Ja  Nein
    Ihre Nachricht erscheint hier

PETUNJUK TEKNIS PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN ISONIAZID UNTUK ODHA DI INDONESIA

  1. 1. 1 DAFTAR ISI DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ........................................................................ 1 BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 2 1.1 Latar Belakang............................................................................................................ 2 1.2 Tujuan......................................................................................................................... 3 1.3 Sasaran....................................................................................................................... 3 1.4 Ruang Lingkup............................................................................................................ 3 BAB II TUGAS DAN FUNGSI PELAKSANA IPT/PP INH........................................... 4 2.1 Persiapan Pelaksanaan IPT/PP INH ........................................................................... 4 2.2 Pelaksana IPT............................................................................................................. 4 2.3 Tugas dan Fungsi Pelaksana IPT................................................................................ 5 BAB III TATALAKSANA IPT....................................................................................... 8 3.1 Prinsip pengobatan pencegahan dengan Isoniazid ..................................................... 8 3.2 . Skrining gejala dan tanda TB..................................................................................... 8 3.3. Penilaian Kriteria pemberian IPT pada ODHA............................................................ 8 3.4 Algoritma IPT .............................................................................................................. 9 3.5 Paduan Pengobatan.................................................................................................. 10 3.6 Pemantauan Pengobatan.......................................................................................... 10 3.7 Penanganan Efek Samping....................................................................................... 10 3.8 Hasil akhir pengobatan.............................................................................................. 11 3.9 Tatalaksana pada kasus lost to follow up .................................................................. 11 3.9.1 Pelacakan Pasien Mangkir ................................................................................. 12 3.10 Manajemen Logistik ................................................................................................ 13 BAB IV MONITORING DAN EVALUASI .................................................................. 14 4.1. Formulir Pencatatan dan Pelaporan ........................................................................ 14 4.2. Waktu Pelaporan..................................................................................................... 14 4.3. Variabel dan Definisi Operasional Pelaksanaan Pemberian Profilaksis INH pada ODHA ............................................................................................................................. 15 4.4. Bimbingan teknis dan supervisi ................................................................................ 15 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 16
  2. 2. Halaman 1 DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ART Antiretroviral Therapy = terapi antiretroviral ARV Obat Antiretroviral BTA BPPM Basil Tahan Asam Bina Pelayanan Penunjang Medik DOTS Directly Observed TreatmentShortcourse Fasyankes Fasilitas Pelayanan Kesehatan HAART Highly Active Antiretroviral Therapy (ART) HIV Human Immunodeficiency Virus = virus penyebab AIDS IDU Injecting Drug User (pengguna NAPZA suntik) IMS Infeksi Menular Seksual IO Infeksi Oportunistik IPT Isoniazid Preventive Therapy(Pengobatan Pencegahan dengan INH) JEMM Joint External Monitoring Mission TB KDS Kelompok Dukungan Sebaya KTS Konseling dan Tes HIV Sukarela KIE Komunikasi, Informasi dan Edukasi KGB Kelenjar Getah Bening Kepatuhan merupakan terjemahan adherence yaitu kepatuhan dan kesinambungan berobat yang melibatkan peran pasien, dokter atau petugas kesehatan, pendamping dan ketersediaan obat Lapas Lembaga Pemasyarakatan LSM Lembaga Swadaya Masyarakat LJSS Layanan Jarum Suntik Steril OAT Obat Anti Tuberkulosis ODHA Orang Dengan HIV AIDS PPK Pengobatan Pencegahan dengan Kotrimoksasol PDP Perawatan Dukungan dan Pengobatan PMO Pengawasan Minum Obat RS Rumah Sakit Rutan Sarkes Rumah Tahanan Sarana Kesehatan SDK SGOT Sumber Daya Kesehatan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase SOP Standar Operational Procedure SGPT Serum Glutamic Pyruvate Transaminase TB Tuberkulosis VCT Voluntary Counseling and Testing (tes HIV secara sukarela disertai dengan konseling) WHO World Health Organization
  3. 3. Halaman 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk negara dengan beban tinggi Tuberkulosis (TB), dengan insidensi 187/100.000 penduduk dan prevalensi 281/100.000 penduduk pada tahun 2011 [1]. Koinfeksi TB sering terjadi pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Orang dengan HIV mempunyai kemungkinan sekitar 30 kali lebih berisiko untuk sakit TB dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Lebih dari 25% kematian pada ODHA disebabkan oleh TB. Di tahun 2012, sekitar 320,000 orang meninggal karena HIV terkait dengan TB [2]. Sebagai respons terdapatnya epidemi ganda HIV dan TB, World Health Organization (WHO) merekomendasikan 12 aktivitas kolaborasi TB/HIV yang salah satu diantaranya adalah profilaksis dengan Isoniazid (INH preventive therapy/IPT) [3]. Pemberian ARV akan mengurangi insiden TB pada ODHA karena efek proteksinya terhadap TB. Meta analisis yang dilakukan Lawn, dkk tahun 2010 pada beberapa penelitian kohort di negara maju dan negara dengan sumber daya terbatas menunjukkan ART dapat mengurangi insiden TB sebanyak 67% (IK 95% 61-73)[4]. Hal yang sama juga dilaporkan pada review sistematik dan meta analisis yang dilakukan oleh Suthar, dkk tahun 2012 yaitu mempunyai efek proteksi 65% (IK 95% 0,56-0,72), tergantung dari jumlah CD4nya [5]. ODHA dalam terapi ARV tetap mempunyai risiko lebih tinggi terkena TB dibandingkan dengan populasi non HIV. Berdasarkan penelitian oleh Gupta, dkk menunjukkan bahkan pada ODHA CD4 > 700 sel/ul kejadian TB 4,4 kali lebih tinggi [6]. Isoniazid preventive therapy (IPT)/ Pengobatan Pencegahan Dengan INH (PP INH) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang penting untuk pencegahan TB pada orang dengan HIV, dan telah direkomendasikan di dalam Policy Statement on Preventive Therapy against TB in PLHIV, sejak 1998 oleh WHO dan the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS). Meskipun demikian, implementasinya belum dilaksanakan secara meluas. Hambatan utama adalah kekhawatiran akan sulitnya menyingkirkan diagnosis TB, kurangnya akses terhadap INH dan kekhawatiran akan terjadinya resistensi INH. Beberapa pertemuan internasional seperti WHO 3Is meeting [7] dan From Mekong to Bali: The Scale up of TB-HIV Collaboration Activities [8], sudah dilakukan untuk memperbarui kebijakan ini, hingga pada tahun 2011 WHO mengeluarkan Guidelines for Intensified TB Case-Finding and IPT for PLHIV in Resource Constrained Settings. Berdasarkan hasil 12 uji klinis acak yang digunakan di dalam the Cochrane review , pada ODHA obat profilaksis TB menurunkan risiko menjadi TB aktif sebesar 32% (IK 95% 0,15-0,46), dan bagi mereka yang TST positif, risiko menurun hingga 62% (IK 95% 0,43-0,75) [9]. Pada penelitian yang dilakukan di Brazil oleh Golub, dkk, diketahui bahwa insiden TB dengan pengobatan pencegahan dengan INH (PP INH) pada ODHA dengan ART sebesar 0,8 per 100 pasien per tahun. Ini lebih rendah dibandingkan dengan hanya pemberian ARV sebesar 1,9 per 100 pasien per tahun [10]. Pada penelitian RCT oleh Rangaka MX di Afrika Selatan diketahui bahwa insiden TB dengan pengobatan pencegahan dengan INH (PP INH) pada ODHA dengan ART
  4. 4. Halaman 3 sebesar 2,3 per 100 pasien per tahun dibandingkan tanpa PP INH sebesar 3,6 per 100 pasien per tahun [11]. Penggunaan bersama INH dan ARV pada pasien HIV berasosiasi secara signifikan dalam menurunkan insiden TB. Dengan perluasan akses ART penggunaan PP INH pada ODHA akan meningkatkan kontrol TB di negara dengan beban TB tinggi. Menindaklanjuti rekomendasi WHO mengenai pemberian PP INH pada ODHA tersebut maka Kementerian Kesehatan Republik Indonesia cq. Direktorat PPML telah melakukan uji pendahuluan PP INH di 4 Rumah Sakit di 2 Provinsi ( RS Ciptomangunkusumo, RS Persahabatan, RS Hasan Sadikin, RS Dr.H.Marzoeki Mahdi) yang selanjutnya akan dikembangkan secara bertahap di Rumah Sakit lainnya di Indonesia. B. Tujuan Sebagai panduan teknis bagi pelaksana IPT/PP INH, melengkapi buku Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV dan buku Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa. C. Sasaran Sasaran Petunjuk Teknis IPT/PP INH ditujukan kepada pelaksana kegiatan kolaborasi TB-HIV baik yang ada di fasyankes, dinas kesehatan dan institusi terkait lainnya. D. Ruang Lingkup Buku Petunjuk Teknis IPT/PP INH ini membahas mengenai aspek manajemen dan teknis pelaksanaan IPT/PP INH. Ruang lingkup pembahasan meliputi manajemen pelaksanaan, tugas dan fungsi pelaksana, serta monitoring dan evaluasi.
  5. 5. Halaman 4 BAB II TUGAS DAN FUNGSI PELAKSANA PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN INH PADA ODHA A. Persiapan Pelaksanaan PP INH Kriteria Rumah Sakit yang dapat melaksanakan kegiatan PP INH adalah : 1. Rumah sakit rujukan ARV yang memiliki layanan testing, konseling HIV dan PDP 2. Memiliki komitmen yang baik 3. Sudah menjalankan kolaborasi TB-HIV 4. Memiliki layanan/jejaring DOTS 5. Memiliki fasilitas/jejaring Rapid Test B. Pelaksana PP INH 1. Pusat: Subdit AIDS dan PMS, Subdit TB, Subdit Mikrobiologi dan Imunologi (BPPM dan Sarkes), Direktorat Bina Upaya Kesehatan (BUK) rujukan, dan institusi terkait lainnya 2. Provinsi: Dinas Kesehatan Bidang PL dan PP/PMKes, Bidang Yankes dan Bidang SDK (sumber daya kesehatan 3. Kabupaten/Kota: Dinas Kesehatan/Suku Dinas Kesehatan dan instansi terkait lainnya 4. Fasilitas pelayanan kesehatan: Dokter, perawat dan petugas pencatatan dan pelaporan di layanan HIV dan Unit DOTS, petugas laboratorium, konselor HIV, petugas farmasi
  6. 6. Halaman 5 C. Tugas dan Fungsi Pelaksana PP INH No. Instansi Tugas & Fungsi 1. Pusat  Melakukan perencanaan terkait perluasan kegiatan PP INH dan ketersediaan logistik  Memobilisasi sumber daya dan dana serta peningkatan kapasitas  Memonitor dan mengevaluasi kegiatan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan 2. Provinsi  Menyusun rencana kerja  Melakukan perencanaan untuk kebutuhan logistik  Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait kegiatan PP INH  Melakukan analisis kebutuhan dan peningkatan kapasitas SDM  Memonitor dan mengevaluasi kegiatan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan 3. Kabupaten/ Kota  Menyusun rencana kerja  Melakukan perencanaan untuk kebutuhan logistik  Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait kegiatan PP INH  Melakukan analisis kebutuhan dan peningkatan kapasitas SDM  Menindaklanjuti pasien yang mangkir  Memonitor dan mengevaluasi kegiatan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan 4. Fasilitas Pelayanan Kesehatan A. Layanan HIV Dokter 1. Melakukan penilaian kriteria dan menentukan keputusan klinis pemberian PP INH 2. Memberikan informasi mengenai manfaat dan efek samping yang mungkin timbul pada pemberian PP INH 3. Meresepkan INH dan vitamin B6 4. Melakukan pemantauan secara rutin baik selama pemberian maupun setelah pemberian profilaksis dengan INH 5. Memberikan penatalaksanaan jika terjadi efek samping pada pemberian profilaksis dengan INH 6. Melakukan rujukan jika diperlukan Konselor 1. Memberikan informasi mengenai PP INH 2. Menilai kesiapan pasien untuk ikut serta dalam pengobatan pencegahan INH. 3. Memberikan konseling kepatuhan sebelum dan selama pemberian profilaksis dengan INH 4. Melibatkan keluarga pasien dalam menjamin kepatuhan minum obat Perawat 1. Memberikan informasi mengenai PP INH 2. Melakukan skrining TB pada ODHA dengan menggunakan formulir skrining TB dan penilaian kriteria pemberian PP INH
  7. 7. Halaman 6 No. Instansi Tugas & Fungsi 3. Mencatat dan melengkapi formulir Ikhtisar Keperawatan, Kartu Pasien, register ART dan pra ART 4. Membuat laporan bulanan Perawatan HIV dan ART (bekerjsama dengan petugas RR bila di layanan terdapat petugas RR), dan mengirimkan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota 5. Mencatat waktu kunjungan pada kartu pasien dan menjadwalkan waktu kunjungan berikutnya. 6. Menilai kepatuhan pasien 7. Membantu Dokter di layanan HIV dalam hal melakukan pemantauan secara rutin pada ODHA yang diberikan PP INH baik selama pemberian maupun setelah pemberian PP INH. 8. Membantu melacak keberadaan pasien bila ada pasien yang mangkir setelah mendapat informasi dari petugas farmasi Farmasi 1. Memastikan ketersediaan obat INH dan B6 dalam bentuk paket perorang 2. Menyiapkan dan membagikan INH dan B6 3. Mengidentifikasi pasien mangkir 4. Membuat laporan jumlah penerimaan dan pemakaian obat per bulan 5. Menghitung dan menjamin ketersediaan buffer stock untuk 3 bulan kedepan. B. Layanan TB Dokter 1. Menerima rujukan pasien yang di diagnosis TB baik selama pemberian maupun setelah PP INH (selama masa pemantauan) dan melakukan penatalaksanaan TB. 2. Merujuk kembali pasien yang sudah mendapat pengobatan TB ke layanan HIV untuk mendapatkan profilaksis sekunder C. Laboratorium RS Petugas laboratorium 1.Memberikan edukasi cara mengeluarkan dahak yang benar 2.Mengambil dahak pada ODHA untuk pemeriksaan mikroskopis BTA berdasarkan permintaan petugas kesehatan. 3.Memastikan bahwa dahak yang diterima memenuhi syarat untuk diperiksa. 4.Melakukan pemeriksaan mikroskopois BTA 5.Mencatat hasil pemeriksaan dahak (TB04) dan Mengirimkan hasil pemeriksaan permintaan dahak (TB05)
  8. 8. Halaman 7 No. Instansi Tugas & Fungsi Laboratorium Rujukan GeneXpert ( Bila tersedia ) Pelaksana pada tingkat laboratorium rujukan GeneXpert adalah petugas laboratorium yang sudah terlatih. Tugas pokok dan fungsinya adalah sebagai berikut: 1. Menerima dan melakukan pemeriksaan spesimen dahak pagi hari dari Fasyankes dilengkapi dengan TB 05 GeneXpert. 2. Mengisi hasil pemeriksaan pada formulir TB 05 GeneXpert (bagian bawah) dan merekap hasil pemeriksaan pada formulir TB 04 GeneXpert. 3. Mengirimkan kembali hasil pemeriksaan (formulir TB 05 GeneXpert) ke Fasyankes yang merujuk.
  9. 9. Halaman 8 BAB III TATALAKSANA PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN INH PADA ODHA A. Prinsip pengobatan pencegahan dengan Isoniazid Pengobatan pencegahan dengan isoniazid (IPT/PP INH) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang penting untuk mencegah ODHA menderita sakit TB. Tujuan pemberian PP INH adalah untuk menurunkan beban TB pada ODHA dengan sasaran para ODHA baik baru maupun sudah lama yang berkunjung ke fasyankes yang memiliki layanan HIV dan tidak memiliki kontraindikasi dalam pemberian PP INH B. Skrining gejala dan tanda TB Skrining gejala dan tanda TB di antara ODHA bertujuan untuk menentukan apakah seorang ODHA mempunyai gejala dan tanda TB. Skrining ini dilakukan karena TB merupakan salah satu penyakit penyerta yang terbanyak pada ODHA. Untuk memudahkan, pelaksanaan skrining TB harus dilakukan dengan menggunakan alat skrining yang sederhana terhadap tanda dan gejala TB yaitu : (Formulir Skrining TB pada ODHA dan Penilaian Kriteria Pemberian PP INH). Pertanyaan yang terdapat pada formulir tersebut meliputi : 1. Apakah ada batuk? 2. Apakah ada demam? 3. Apakah ada berkeringat malam tanpa aktivitas? 4. Apakah terjadi penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas? 5. Apakah ada gejala TB ekstraparu? Pada ODHA yang mempunyai gejala dan tanda TB maka dilanjutkan dengan penegakkan diagnosis dan pengobatan TB sesuai dengan Pedoman Nasional TB. Tetapi jika pada ODHA tidak ditemukan gejala dan tanda TB, dilanjutkan dengan penilaian kriteria pemberian PP INH C. Penilaian Kriteria pemberian PP INH pada ODHA Kriteria pemberian IPT adalah : 1. Tidak sakit TB 2. Tidak ada kontraindikasi yaitu :  Gangguan fungsi hati (SGOT/SGPT >3x batas atas normal/ikterus),  Neuropati perifer berat (mengganggu aktivitas),  Riwayat alergi INH,  Ketergantungan terhadap alkohol,  Riwayat resisten INH ODHA dengan riwayat diagnosa resisten INH (monoresisten/poliresisten/TB MDR)
  10. 10. Halaman 9 D. Algoritma IPT Gambar 1. Algoritma Pemberian IPT pada ODHA di Layanan HIV
  11. 11. Halaman 10 Hal-hal yang perlu diperhatikan: - Pasien akan diberikan informasi mengenai keuntungan dan risiko pemberian profilaksis dengan INH serta edukasi mengenai efek samping. - Pasien harus diberikan konseling mengenai kepatuhan dalam hal minum INH melalui pendekatan 5M (mengkaji, Menyarankan, menyetujui , membantu, merencanakan). E. Paduan Pengobatan Isoniazid dosis 300 mg akan diberikan setiap hari selama 6 bulan (total 180 dosis). Vitamin B6 diberikan untuk mengurangi efek samping INH akan diberikan dengan dosis 25mg perhari atau 50mg selang sehari atau 2 hari sekali. F. Pemantauan Pengobatan Pemantauan PP INH ini dilakukan baik selama dan setelah pemberian PP INH. Tujuan pemantauan selama pengobatan adalah untuk memastikan agar pasien meminum obat secara teratur dan mengetahui efek samping secara dini. Pemantauan dilakukan setiap kunjungan selama 6 bulan pengobatan .Menurut WHO efek proteksi dari pemberian PP INH bertahan sampai dengan 5 tahun, sehingga pemberian PP INH ulang dapat dilakukan setelah 5 tahun. Hal-hal yang perlu dipantau selama pemberian PP INH adalah: - Gejala/keluhan yang mengarah pada sakit TB seperti batuk, demam, keringat malam dan berat badan menurun. - Efek samping INH:  Gatal – gatal, ruam  Gejala neuropati perifer antara lain baal dan kesemutan  Gejala hepatotoksik antara lain berupa mual dan muntah - Pemeriksaan fisik: berat badan, suhu tubuh, tanda ikterus dan pembesaran kelenjar getah bening. - Kepatuhan pasien dalam minum INH melalui pendekatan 5M ( menilai, menyarankan, menyetujui, menyepakati, dan merencanakan). Selama pemantauan bila ditemukan gejala seperti di atas maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan. Hal-hal yang perlu dipantau sesudah pemberian PP INH adalah: - Gejala/keluhan yang mengarah pada sakit TB seperti batuk, demam, keringat malam dan berat badan menurun. - Pemeriksaan fisik: berat badan, suhu tubuh, tanda ikterus dan pembesaran kelenjar getah bening. G. Penanganan Efek Samping Efek Samping Penanganan Gatal, kemerahan kulit *lihat penatalaksanaan di bawah Mual, muntah, tidak nafsu makan, INH diminum malam sebelum tidur Ikterus tanpa penyebab lain . Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang Baal, kesemutan Tambahkan dosis vitamin B6 sampai dengan 100mg
  12. 12. Halaman 11 *Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam PP INH mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin,sambil meneruskan PP INH dengan pengawasan ketat. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang, namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Bila keadaan seperti ini, hentikan PP INH.Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat, pasien perlu dirujuk. H. Hasil akhir pengobatan 1. Pengobatan lengkap Pasien yang telah menyelesaikan PP INH selama 6 bulan atau total 180 dosis 2. Lost to follow up ( putus berobat) Putus obat adalah pasien yang tidak minum obat INH selama 1 bulan secara berturut turut atau lebih. 3. Gagal selama pemberian PP INH Pasien yang selama waktu pemberian PP INH menjadi sakit TB, dibuktikan dengan hasil pemeriksaan sputum BTA positif atau geneXpert positif atau foto toraks menunjukkan gambaran TB. 4. Gagal setelah pemberian PP INH Pasien yang setelah pemberian lengkap PP INH menjadi sakit TB, dibuktikan dengan hasil pemeriksaan sputum BTA positif atau geneXpert positif atau foto toraks menunjukkan gambaran TB dalam masa pemantauan 3 tahun. 5. Pindah Pasien yang pindah dan melanjutkan pengobatan ke fasilitas pelayanan lain selama 6 bulan masa pemberian PP INH. 6. Meninggal Pasien yang meninggal sebelum menyelesaikan paduan PP INH selama 6 bulan atau 180 dosis dengan sebab apapun. 7. Efek samping berat Pasien yang tidak dapat melanjutkan PP INH karena mengalami efek samping berat. I. Tatalaksana pada kasus lost to follow up Pada pasien yang memiliki masalah kepatuhan (tidak minum obat lebih dari 1 bulan berturut-turut), berikan edukasi dan konseling kepatuhan. Penilaian ulang terhadap tanda dan gejala TB dilakukan pada semua pasien. Sambil menunggu hasil penilaian ulang, pemberian PP INH tetap diteruskan jika mangkir kurang dari 1 bulan, sedangkan untuk pasien yang mangkir lebih dari 1 bulan pemberian PP INH diulang dari awal.
  13. 13. Halaman 12 Lama putus berobat Tindakan < 1 bulan Lakukan skrining gejala TB. Bila ada gejala, rujuk untuk menegakkan diagnosis TB; kalau tidak ada TB aktif lanjutkan pengobatan sampai dosis lengkap (total 180 dosis) > 1 bulan Lakukan skrining gejala TB : Bila ada gejala, rujuk untuk menegakkan diagnosis TB; kalau tidak ada TB aktif, mulai PP INH dari awal. J. Pelacakan Pasien Mangkir Pasien mangkir adalah: pasien yang tidak datang maksimal 2 hari dari jadwal kunjungan untuk pemantauan. Langkah-langkah yang harus dilakukan jika pasien mangkir: 1. Tim pelaksana di RS menghubungi pasien atau PMO melalui telepon 2. Jika pasien atau PMO tidak dapat dihubungi melalui telepon, tim pelaksana datang mengunjungi ke rumah pasien tersebut. 3. Tanyakan alasan pasien mangkir dan bantu pasien untuk menghadapi masalah yang terkait dengan alasan mangkirnya. 4. Lakukan skrining gejala TB. Bila tidak ada gejala lanjutkan PP INH sampai dosis lengkap (180 dosis). Bila ada gejala TB, lakukan penegakan diagnosis sesuai alur. 5. Lakukan konseling adherence ulang Setelah selesai pemberian PP INH, manfaat proteksi dapat dipantau setiap tahun selama 3 tahun. Namun pada setiap kunjungan pasien tetap dilakukan pengkajian status TB. PP INH harus diulang setelah 3 tahun.
  14. 14. Halaman 13 K. Manajemen Logistik Manajemen logistik adalah serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi dalam menjamin ketersediaan logistik baik dalam jumlah maupun kualitas untuk mendukung operasional program. Penyediaan logistik untuk kebutuhan pelayanan TB-HIV secara umum dijelaskan dalam buku Manajemen Pelaksanaan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia, sedangkan logistik untuk kegiatan PP INH seperti berikut ini. Jenis logistik khusus yang dipersiapkan meliputi : 1. Isoniazid tablet 300 mg 2. Vitamin B6 50 mg Dalam kegiatan kolaborasi TB-HIV, pengelolaan logistik TB mengacu pada pedoman pengelolaan logistik Program TB demikian pula untuk pengelolaan logistik HIV/AIDS mengacu pada buku manajemen Program Pengendalian HIV/AIDS Supply Chain Management (SCM).
  15. 15. Halaman 14 BAB IV MONITORING DAN EVALUASI Bab ini menjelaskan tentang formulir pencatatan dan pelaporan, waktu pelaporan, indikator, bimbingan teknis dan supervisi untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan. A. Formulir Pencatatan dan Pelaporan Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pemberian profilaksis dengan INH dapat dilakukan dengan menganalisis hasil pencatatan atau pelaporan. Sistem pencatatan dan pelaporan dibuat sesuai mekanisme yang dijalankan oleh program HIV yang dilaksanakan oleh Subdit AIDS/PMS Kementerian Kesehatan. Data tersebut akan didapat melalui formulir: 1. Pencatatan: a) Formulir skrining gejala dan tanda TB, serta penilaian pemberian PP INH b) Formulir Ikhtisar perawatan c) Kartu pasien d) Register Pra ART dan ART 2. Pelaporan : Laporan bulanan Perawatan HIV dan ART Formulir pencatatan dan pelaporan serta petunjuk pengisian dijelaskan dalam lampiran 1. B. Waktu Pelaporan Pelaporan dilakukan oleh tim pelaksana kegiatan pemberian PP INH di Fasyankes ditutup setiap tanggal 25 setiap bulannya dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tanggal 30 setiap bulannya. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya. Dinas Kesehatan Provinsi melaporkan ke Pusat (Direktur PPML tembusan ke Subdit AIDS dan Subdit TB dan Direktorat BUK rujukan) paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya (gambar 2). Gambar 2. Alur dan waktu pelaporan
  16. 16. Halaman 15 C. Variabel dan Definisi Operasional Pelaksanaan Pemberian PP INH pada ODHA Indikator 1 Proporsi ODHA yang mendapatkan INH diantara jumlah ODHA yang memenuhi syarat PP INH Formula : Jumlah ODHA yang mendapatkan PP INH / Jumlah ODHA yang memenuhi syarat PP INH Sumber data: Laporan bulanan Indikator 2 Prosentase ODHA baru yang memulai pemberian PP INH (Laporan Tahunan GARPR)1 Formula : Jumlah ODHA (anak dan dewasa) yang baru masuk Perawatan HIV dan memulai PP INH / Jumlah ODHA (anak dan dewasa) yang baru masuk Perawatan HIV Sumber data : Laporan bulanan D. Bimbingan teknis dan supervisi Bimbingan teknis dan supervisi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kab/kota dan Provinsi bersama dengan tim ahli klinis yang ditunjuk untuk memastikan fasyankes melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan. Dalam kegiatan ini, ruang lingkup pembahasan meliputi tatalaksana pemberian PP INH sampai dengan pencatatan dan pelaporan, dan sekaligus memberikan masukan untuk peningkatan mutu pelaksanaan. Kegiatan ini dapat dilakukan bersamaan dengan bimbingan teknis TB-HIV, dan akan dilakukan dengan bantuan daftar tilik. 1 Global AIDS Response Progress Reporting (GARPR) yang dilaporkan setiap tahun oleh Kementerian Kesehatan melalui Subdit AIDS/PMS di bawah kordinasi UNAIDS
  17. 17. Halaman 16 DAFTAR PUSTAKA 1. WHO Global TB Report 2013. http://www.who.int/tb/en/. 2. WHO Factsheet No. 14, Updated Okt 2013 http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/ (di akses tanggal 18 Desember 2013) 3. WHO Policy on Collaborative TB/HIV Activities, Guideline for national programmes and other stakeholders, 2012 4. Lawn SD,Wood R, DeCock KM, Kranzer K, LewisJJ, Churchyard G J.Antiretrovirals and isoniazid preventive ther- apy in the prevention of HIV-associated tuberculosis in settings with limited health-care resources. Lancet Infect Dis 2010; 10: 489–498. 5. Suthar AB, Lawn SD, del Amo J, Getahun H, Dye C, et al. (2012) Antiretroviral Therapy for Prevention of Tuberculosis in Adults with HIV: A Systematic Review and Meta- Analysis. PLoS Med 9(7): e1001270. 6. Gupta A, Wood R, Kaplan R, Bekker L-G, Lawn SD (2012) Tuberculosis Incidence Rates during 8 Years of Follow-Up of an Antiretroviral Treatment Cohort in South Africa: Comparison with Rates in the Community. PLoS ONE 7(3): e34156. 7. WHO Three I’s for HIV/TB Meeting Report. Intensified case-finding (ICF), isoniazid preventive therapy (IPT) and TBinfection control (IC) for people living with HIV. Geneva, Switzerland, World Health Organization, 2008. 8. WHO. From Mekong to Bali: The scale-up of TB/HIV collaborative activities in Asia Pacific: 8-9 August, 2009, Bali, Indonesia 9. Akolo C, Adetifa I, Shepperd S, Volmink J. Treatment of latent tuberculosis infection in HIV infected persons. Cochrane Database of Systematic Reviews2010, Issue 1. 10. Golub JE; Saraceni V; Cavalcante SC; Pacheco AG; Moulton LH; King BS, et al. The impact of antiretroviral therapy and isoniazid preventive therapy on tuberculosis incidence in HIV-infected patients in Rio de Janeiro, Brazil. AIDS2007, 21:1441–1448 11. M.X. Rangaka, A. Boulle, R.J. Wilkinson, G. van Cutsem, E. Goemaere, R. Goliath, R. Titus, S. Mathee, G. Maartens. Randomized controlled trial of isoniazid preventive therapy in HIV-infected persons on antiretroviral therapy. Oral Presentation on International AIDS Conference 2012. http://pag.aids2012.org/Abstracts.aspx?AID=21471. PETUNJUK TEKNIS PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN ISONIAZID UNTUK ODHA DI INDONESIA 2014 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SUBDIT TB DAN SUBDIT AIDS 27/01/2014

×