Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×

Revisi_Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi.pptx

Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 51 Anzeige
Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Aktuellste (20)

Anzeige

Revisi_Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi.pptx

  1. 1. Kartinah PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI 1 Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018
  2. 2. Tujuan Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 2 Setelah pembelajaran mhs diharpakan mampu mengetahui tentang : 1. konsep eliminasi sampah dan metabolisme tubuh 2. fisiologi proses eliminasi dalam tubuh 3. gangguan eliminasi urine dalam tubuh 4. masalah dalam eliminasi fecal 5. proses keperawatan pada pasien yang mengalami gangguan pada proses eliminasi.
  3. 3. PENDAHULUAN Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 3  Eliminasi pengeluaran, penghilangan, penyingkiran, penyisihan.  Bidang kesehatan Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses).  Gangguan eliminasi :retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung.  Mrpk kebutuhan esensial dan berperan menentukan kelangsungan hidup manusia dan dibutuhkan untuk mempertahankan homeostasis tubuh.
  4. 4. . A. KONSEP DASAR ELIMINASI URINE  Miksi (Berkemih) Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Proses ini terdiri dari dua langkah utama yaitu :  Kandung kemih terisirefleks syaraf/refleks miksi Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 4
  5. 5. Organ Eliminasi Urine Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 5 1. Ginjal 2. ureter 3. kandung kemih dan 4. uretra. https://www.youtube.com/watch?v=QIu Mvt-qBHE
  6. 6. Fungsi Organ perkemihan : 1. Ginjal 2. Ureter Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 6 a. Pengaturan volume cairan. b. Pengaturan jumlah elektrolit tubuh. c. Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. d. Ekskresi sisa-sisa metabolisme e. Reabsorpsi bahan yang bersifat vital untuk tubuh. f. Fungsi hormonal dan metabolisme.  Ureter adl tabung yg berasal dari ginjal dan bermuara di KK Panjang sekitar 25 cm dan diameternya 1,25 cm.  Bagian atas ureter berdilatasi dan melekat pada hilus ginjal,sedangkan bagian bawahnya memasuki kandung kemih pada sudut posterior dasar kandung kemih.  Urin di dorong melewati ureter dengan gelombang peristaltis yang terjadi sekitar 1-4 kali per menit.  Pada pertemuan antara ureter dan kandung kemih,terdapat lipatan membrane mukosa yg bertindak sebagai katup guna mencegah refluks urin kembali ke ureter sehingga mencegah penyebaran infeksi dari kandung kemih ke atas.
  7. 7. Fungsi Organ perkemihan lanjutan.... 3. kandung kemih (KK) 4. uretra Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 7  Kandung kemih (vesika Urinaria) adlh kantung muscular tempat urin bermuara dari ureter.  Ketika kosong atau setengah terisi,kandung kemih terletak di simfisis pubis.  Pada pria,kandung kemih terletak diantara kelenjar prostat dan rectum sedangkan pada wanita,kandung kemih terletak antara uterus dan vagina.  Dinding KK sangat elastis shg mampu menahan regangan yg sangat besar.  Saat penuh, KK bisa melebihi simfisis pubis bahkan bisa setinggi umbilicus.  Uretra membentang dari kandung kemih sampai meatus uretra.  Panjang uretra pada pria sekitar 20 cm dan membentang dari kandung kemih sampai ujung penis.  Uretra pria terdiri dari tiga bagian,yaitu uretra pars prostatika,uretra pars membranosa dan uretra pars spongiosa.  Pada wanita,panjang uretra sekitar 3 cm dan membentang dari kandung kemih sampai lubang diantara labia minora,2,5 cm di belakang klitoris.  Karena uretranya yang pendek,wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih.
  8. 8. Proses pembentukan urin. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 8
  9. 9. Obat-obatan yg mengubah warna urine : Urine kuning Vitamin B Piridium (dlm urine basa) Orange sampai warna karat Azo gantrisin, sulfonamid, piridium, warfarin natrium Merah muda sampai merah Tirazin, fenitoin (dilantin), cascara (dlm urin yg basa) Coklat sampai hitam Senyawa besi yg diinjeksikan, levodopa, nitrofurantoin, metronidazol Hijau sampai biru Amitriptilin, metilen biru, direnium Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 10
  10. 10. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kebutuhan Eliminasi Urine : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 11 1. Pertumbuhan dan perkembangan. 2. Asupan cairan dan makanan 3. Kebiasaan/gaya hidup 4. Faktor psikologis. 5. Aktivitas dn tonus otot. 6. Kondisi patologis. 7. Medikasi 8. Prosedur pembedahan. 9. Pemeriksaan fisik diagnostik
  11. 11. Perubahan Pola Eliminasi Urin : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 12 1. Frekuensi : meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat(cystitis, stres dan wanita hamil) 2. Urgency : perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang. 3. Dysuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih (ISK, trauma dan striktur uretra). 4. Polyuria (diuresis) : produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan intake cairan misalnya pada pasien DM. 5. Urinary suppression : keadaan di mana ginjal tidak memproduksi urine secara tiba-tiba. Anuria (urine kurang dari 100 ml/24 jam), olyguria (urine berkisar 100-500 ml/jam).
  12. 12. Masalah Eliminasi Urine : 1. Retensi urine 2. Inkontinensia urine 3. Enuresis 4. Perubahan pola eliminasi urine
  13. 13. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (1): 1. Retensi urine Penyebab: Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 14  penumpukan urine dalam KK akibat ketidakmampuan KK untuk mengosongkan diri  distensi VU (Max dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine.) Tanda klinis retensi: 1. ketidaknyamanan daerah pubis 2. distensi vesika urinaria 3. ketidak sanggupan untuk berkemih 4. sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine. ( 25-50 ml) 5. ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya 6. meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih 7. adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.  operasi pd daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria  trauma sumsum tulang blkg  tekanan uretra yg tinggi karena otot detrusor yg lemah  sphincter yg kuat  sumbatan (striktur uretra dan pembesaran keljr prostat)
  14. 14. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (2): 2. Inkontinensia Urine Kemungkinan penyebab : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 15  Mrpk ketidakmampuan otot sphincter eksternal sementara atau menetap utk mengontrol ekskresi urine.  Secara umum penyebabnya: proses penuaan, pembesaran kelenjar prostat, serta penuaaan, penggunaan obat narkotik. Inkotinensia terdiri atas: a. Inkotinensia Dorongan : Mrpk keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine tanpa sadar, tjd segera stl merasa dorongan yg kuat untuk berkemih.  Tanda-tanda inkotinensia dorongan:  Sering miksi (miksi lebih dari 2 jam sekali)  Sepasme kandung kemih  Penurunan kapasitas kandung kemih  Iritasi pada reseptor regangan kandung kemih yang menyebabkan sepasme  Minum alkohol atau caffeine  Peningkatan cairan  Peningkatan konsentrasi urine  Distensi kandung kemih yang berlebihan
  15. 15. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (3) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 16 b. Inkontinensia total: Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine yg terus- menerus dan tidak dpt diperkirakan. Tanda-tanda inkontinensial total:  Aliran konstant yg tjd pd saat tidak diperkirakan  Tidak ada distensi KK  Nocturia  Pengobatan inkontinensia tidak berhasil  Dispungsi neurologis  Kontraksi independent dan refleks detrusor karena pembedahan  Trauma atau penyakit yg mempengaruhi syaraf medula spinalis  Fistula  Neuropati Kemungkinan penyebab:
  16. 16. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (4): Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 17 C. Inkontinensia stress : Merupakan keadaan seseorang yang mengalami kehilangan urine kurang dari 50 ml, tjd dgn peningkatan tekanan abdomen. Kemungkinan penyebab:  Perubahan degeneratif pada otot pelfis dan struktur penunjang yang berhubungan dengan penuaan.  Tekanan intra abdominal tinggi (obesitas)  Distensi KK  Otot pelvis dan struktur penunjang lemah Tanda-tanda inkontensia setres:  Adanya urine menetes dgn peningkatan tekanan abdomen  Adanya dorongan berkemih  Sering miksi (lebih dari 2 jam sekali) D. Inkotinensia Refleks : Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urine yg tidak dirasakan (terjadi pada interval yang dapat diperkirakan bila volume KK mencapai jumlah tertentu.) Kemungkinan penyebab:  Kerusakan neurologis (lesi medula spinalis) Tanda-tanda Inkontinensia refleks:  Tidak ada dorongan berkemih.  Merasa bahwa KK penuh.  Kontraksi atau spasme KK tidak di hambat pada interval teratur.
  17. 17. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (5): Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 18 e. Inkontinensial fugsional Merupakan keadaan seseorang yg mengalami pengeluaran urine secara tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan. Kemungkinan penyebab:  Kerusakan neurologis(lesi medula sepinalis) Tanda-tanda inkontinensial fungsional:  Adanya dorongan untuk berkemih  Kontraksi KK cukup kuat untuk mengeluarkan
  18. 18. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin (6): Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 19 3. Enuresis merupakan ketidaksanggupan menahan kemih yg diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksternal. Biasanya, enuresis tjd pada anak atau lansia dan terjadi pada malam hari. Faktor penyebab:  Kapasitas VU lebih besar dari normal  VU peka ransang, dan seterusnya tidak dpt menampung urine dlm jumlah besar  Suasana emosional yg tdk menyenangkan di rumah  Infeksi saluran kemih, perubahan fisik, atau neorologis sistem perkemihan  Makanan yg banyak mengandung garam dan mineral  Anak yg takut jalan gelap utk ke kamar mandi.
  19. 19. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urin: Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 20 4. Perubahan Pola Eliminasi Urine  Merupakan keadaan seseorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola eliminasi terdiri atas: a. Frekuensi : Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah cairan yang masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu tekanan asupan cairan dapat disebabkan oleh sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan juga pada keadaan stres atau hamil. b. Urgensi : perasaan seseorang yang takut mengalami inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya, anak kecil memiliki kemampuan yang buruk dalam mengontrol sphincter eksternal. Biasanya, perasaan segera ingin berkemih terjadi pada anak karena kurangnya pengontrolan pada sphincter. c. Disuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan striktur uretra. d. Poliuria : merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Biasanya, hal ini dapat ditemukan pada penyakit diabetes mellitus dan penyakit ginjal kronis. e. Urinaria Supresi : berhentinya produksi urine secara mendadak. Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60 – 120 ml/jam secara terus – menerus.
  20. 20. PROSES KEPERAWATAN Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 21 A. Pengkajian keperawatan (Anamnesa fokus tiap masalah kebutuhan, pemeriksaan fisik fokus tiap masalah kebutuhan,prosedur diagnostik/data penunjang tiap masalah kebutuhan), B. Masalah-masalah pada kebutuhan eliminasi urine, Etiologi (patofisiologi) tiap msl C. Perencanaan keperawatan tiap DP D. Tindakan keperawatan tiap DP (cara menolong BAK dengan pispot/urinal,menggunakan kondom kateter,memasang kateter urine pada wanita dan laki-laki), E. evaluasi keperawatan tiap DP
  21. 21. A. Pengkajian Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 22 1. Kebiasaan berkemih 2. Pola berkemih • frekuensi berkemih, urgensi, disuria, poliuria, urinaria supresi 3. Volume urine jumlah urine yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam. 4. faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih 5. Keadaan urine : warna, bau, berat jeis, kejerihan, pH, protei, darah, glukosa. 6. Tanda klinis gangguan elimiasi urine seperti retensi urine, inkontinensia uirne
  22. 22. B. Diagnosa Keperawatan .... (1) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 23 1. Perubahan pola eliminasi urine b/d Ketidakmampuan saluran kemih akibat anomali saluran urinaria, Penurunan kapsitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit, Kerusakan pada saluran kemih, Efek pembedahan pada saluran kemih 2. Inkontinensia fungsional b/d penurunan isyarat kandung kemih dan kerusakan kemampuan untuk mengenl isyarat akibat cedera atau kerusakan k. Kemih, kerusakan mobilitas, kehilangan kemampuan motoris dan sensoris 3. Inkontinensia refleks b/d Gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan arkus refleks akibat cedera pd m. Spinalis 4. Inkontinensia stress b/d Tingginya tek. Intra abdominal dan lemahnya otor pelviks akibat kehamilan, Penurunan tonus otot
  23. 23. 5. Inkontinensia total b/d Defisit komnikasi atau persepsi 6. Inkontinensia dorongan b/d Penurunan kapasitas KK akibat penyakit infeksi, trauma, tindakan pembedahan, faktor penuaan 7. Retesi urine b/d adanya hambatan pada sfingter akibat penyakit striktur, BPH 8. Perubahan body image b/d inkontinensia dan enuresis 9. Rresiko terjadinya infeksi saluran kemih b/d pemasangan kateter , kebersihan perineum yg kurang 10. resiko perubahan keseimbangan cairan dan Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 24 B. Diagnosa Keperawatan .... (2)
  24. 24. C. Perencanaan Keperawatan Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 25 Tujuan : 1. memahami arti eliminasi urine 2. membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh 3. mencegah infeksi 4. mempertahankan integritas kulit 5. memberikan rasa nyaman 6. mengembalikan fungsi kandung kemih 7. memberikan asupan secara tepat 8. mencegah kerusakan kulit 9. memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional
  25. 25. D. Rencanakan Tindakan : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 26 Perubahan pola eliminasi urine b/d 1. monitor/obervasi perubahan faktor, tanda dan gejala terhadap masalah perubahan eliminasi urine, retensi dan urgensia 2. kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah 3. monitor terus perubahan retensi urine 4. lakukan kateterisasi urine Inkontinensia dorongan : 1. pertahankan hidrasi secara optimal 2. ajarkan untuk meningkatkan kapasitas KK 3. ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi KK yang tidak biasa) 4. anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan, latihan fisik, mandi 6. lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi kandung kemih
  26. 26. D. Rencanakan Tindakan : lanjutan .......... Inkontinensia total Inkontinensia stress Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 27 1. pertahankan jumlah cairan dan berkemih 2. rencanakan program kateterisasi intermiten apabila ada indikasi 3. apabila terjadi kegagalan pada latihan kandung kemih pertimbangan untuk pemasangan kateter indweeling kurangi faktor penyebab seperti : 1. kehilangan jaringan atau tonus otot, dg cara : • ajarkan untuk mengidentifikasi otot dasar pelviks dan kekuatan dan kelemahannya saat melakukan latihan • untuk otot dasar pelviks anterior bayangkan anda mencoba menghentikan aliran urine, kencangkan otot-otot belakang dan depan dalam waktu 10 detik, kemudian lepaskan atau rileks, ulangi hingga 10 kalidan lakukan 4 kali sehari 2. meningkatkan tekanan abdomen dgn cara : • latih utk menghindari duduk lama • latih utk sering berkemih sedikitnya tiap 2 jam.
  27. 27. D. Rencanakan Tindakan : lanjutan ....... Inkontinensia fungsional Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 28 Ajarkan teknik merangsang redleks berkemih, dengan berkemih seperti : mekanisme supra pubis kutaneus 1. ketuk supra pubis secara dalam, tajam dan berulang 2. anjurkan pasien untuk • posisi setengah duduk • mengetuk kandung kemih secara langsung dg rata-rata 7 – 8 kali seiap detik • gunakan sarung tangan • pindahkan sisi rangsangan di atas kandung kemih untuk menentukan posisi saling berhasil • lakukan hingga aliran baik • tunggu kurang lebih 1 menit dan ulangi hingga kandung kemih kosong • apabila rangsangan dua kali lebih dan tidak ada respon, berarti sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan.  3. apabila belum berhasil, lakukan hal berikut ini selama 2- 3 menit dan berikan jeda waktu 1 menit di antara setiap kegiatan • tekan gland penis • pukul perut di atas ligamen inguinalis • tekan paha bagian dalam  4. catat jumlah asupan dan pengeluaran  5. jadwalkan program kateterisasi pada saat tertentu
  28. 28. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 29  Inkontinensia Fungsional 1. tingkatkan faktor yg berperan dalam kontinen, spt : a. Pertahakan hidrasi optimal dengan cara b. Pertahankan nutrisi yang adekuat c. Tingkatkan intergritas diri dan berikan motivasi kemampuan mengontrol KK, dgn cara menghindari penggunaan bedpan (pispot). d. Tingkatkan integritas kulit dengan cara e. Tingkatkan higiene perseorangan dgn cara 2. jelaskan cara mengenali perubahan urine yang abnormal seperti adanya peningkatan mukosa, darah dala urine dan perubahan warna 3. ajarkan cara memantau adanya tanda ISK, seperti peningkatan suhu, perubahan
  29. 29. KONSEP ELIMINASI FEKAL Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 30  Kebutuhan eliminasi fekal adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme berupa feses.  Susunan feses terdiri dari : a. Bakteri yang umumnya sudah mati b. Lepasan epitelium dari usus c. Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus) d. Garam terutama kalsium fosfat e. Sedikit zat besi dari selulosa f. Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml)
  30. 30. Faktor-faktor yg mempengaruhi eliminasi fecal : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 31 1. Usia dan perkembangan : 2. Diet 3. Pemasukan cairan (normalnya : 2000 – 3000 ml/hari ) 4. Aktifitas fisik : Merangsang peristaltik usus, 5. Faktor psikologik 6. Kebiasaan 7. Posisi 8. Nyeri 9. Kehamilan : menekan rectum 10. Operasi & anestesi 11. Obat-obatan 12. Test diagnostik : Barium enema dapat menyebabkan konstipasi 13. Kondisi patologis 14. Iritan
  31. 31. Anatomi Fisiologi Sal. Pencernaan Secara normal Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 32
  32. 32. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 33
  33. 33. Anatomi fisiologi saluran pencernaan terdiri dari : Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 34 a. Mulut Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan pada awal proses pencernaan. Mengunyah dengan baik dapat mencegah terjadinya luka parut pada permukaan saluran pencernaan. Setelah dikunyah lidah mendorong gumpalan makanan ke dalam faring, dimana makanan bergerak ke esofagus bagian atas dan kemudian kebawah ke dalam lambung. b. Esofagus Esofagus adl sebuah tube yg panjang. Sepertiga bagian atas adalah terdiri dari otot yg bertulang dan sisanya adalah otot yang licin. Permukaannya diliputi selaput mukosa yang mengeluarkan sekret mukoid yg berguna untuk perlindungan
  34. 34. c. Lambung : Gumpalan makanan memasuki lambung, dengan bagian porsi terbesar dari saluran pencernaan. Pergerakan makanan melalui lambung dan usus dimungkinkan dengan adanya peristaltik, yaitu gerakan konstraksi dan relaksasi secara bergantian dari otot yang mendorong substansi makanan dalam gerakan menyerupai gelombang. Pada saat makanan bergerak ke arah spingter pylorus pada ujung distla lambung, gelombang peristaltik meningkat. Kini Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 35
  35. 35. d.Usus kecil Usus kecil (halus) mempunyai tiga bagian Duodenum, yang berhubungan langsung dengan lambung Jejenum atau bagian tengah dan Ileum e. Usus besar (kolon) Kolon orang dewasa, panjangnya ± 125 – 150 cm atau 50 –60 inch, terdir dari : 1)Sekum, yang berhubungan langsung dengan usus kecil, 2)Kolon, terdiri dari kolon asenden, transversum, desenden dan sigmoid. 3)Rektum, 10 – 15 cm / 4 – 6 inch. Fisiologi usus besar yaitu bahwa usus besar Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 36
  36. 36. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 37  Fungsi utama usus besar (kolon) adalah : 1. Menerima chyme dari lambung dan mengantarkannya ke arah bagian selanjutnya untuk mengadakan absorpsi / penyerapan baik air, nutrien, elektrolit dan garam empedu. 2. Mengeluarkan mukus yang berfungsi sebagai protektif sehingga akan melindungi dinding usus dari aktifitas bakteri dan trauma asam yang dihasilkan feses. 3. Sebagai tempat penyimpanan sebelum feses dibuang.
  37. 37. f. Anus / anal / orifisium eksternal Panjangnya ± 2,5 – 5 cm atau 1 – 2 inch, mempunyai dua spinkter yaitu internal (involunter) dan eksternal (volunter) Fisiologi Defekasi Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 38
  38. 38. Proses Defekasi Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 39
  39. 39. Masalah Defekasi a. Konstipasi b. Impaksi c. Diare d. Inkontinesia e. Flatulen f. Hemoroid
  40. 40. Masalah Defekasi.... (1) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 41 a. Konstipasi  Merupakan gejala bukan penyakit . konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi, yang diikuti pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dalam konstipasi. Apabila motilitas usus halus melambat , masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses diabsorbsi. Penyebab kontipasi : 1. Kebiasaan defikasi yang tidak teratur 2. Diet rendah serat 3. Tirah baring yang panjang 4. Obat penenang 5. Lansia 6. Kondisi neurologi yang menghambat impuls syaraf ke kolon
  41. 41. Masalah Defekasi.... (2) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 42 b. Impaksi  Impaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yg tidak diatasi . impaksi adalah kumpulan feses yg mengeras , mengendap didalam rectum, yg tidak dapat dikeluarkan.  Pada kasus impaksi berat ,masa dapat lebih jauh masuk ke dlm kolon sigmoid. Klien yang menderita kelemahan, kebingungan, atau tidak sadar adalah klien yg mepunyai resiko impaksi. Mereka
  42. 42. Masalah Defekasi.... (3) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 43 c. Diare  Diare adl peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yg cair yg tidak terbentuk..  Diare adalah gejala gangguan yg mempengaruhi proses pencernaan, absorbsi, dan sekresi dalam saluran GI.  Isi usus terlalu cepat keluar melalui usus halus dan kolon shg absorbsi yg biasa tidak bisa berlangsung.  Iritasi didalam kolon dapat menyebabkan peningkatan sekresi lender.  Akibatnya feses menjadi encer shg klien mjd lebih encer shg klien tidak mampu mengontrol defekasi.
  43. 43. Masalah Defekasi.... (4) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 44 d. Inkontinensia • Adalah ketidak mampuan mengontrol keluarnya feses. • Kondisi fisik yg merusak fungsi atau control sfringter anus dpt menyebabkan inkontinensia. • Kondisi yg membuat seringya defekasi , feses encer, volumenya banyak, dan feses mengandung air juga mrk predisposisi individu untuk mengalami inkontinensia.
  44. 44. Masalah Defekasi.... (5) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 45 e. Flatulen  Saat gas terakumulasi di dalam lumen usus, dinding usus meregang dan berdistensi ( flatulen ). Flatulen adalah penyebab umum abdomen menjadi penuh, terasa nyeri, dan kram.  Dalam kondisi normal, gas dalam usus keluar melalui mulut (bersendawa ) atau melalui anus ( pengeluaran flatus ). Namun jika penurunan motilitas usus akibat penggunakan opiate, agens anastesi umum, bedah abdomen, atau imobilisasi, flatulen dapat menjadi cukup berat sehingga menyebabkan distensi abdomen dan menimbulkan nyeri terasa sangat menusuk.
  45. 45. Masalah Defekasi.... (6) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 46 f. Hemeroid  Hemeroid adalah vena – vena yg berdilatasi, membengkak dilapisan rectum. Ada jua jenis yakni hemeroid internal dan hemeroid eksternal.  Hemeroid internal terlihat jelas sebagai penonjolan .  Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun.  Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi inflamasi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Seringkali keinginan BAB diabaikan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi
  46. 46. Diversi Usus  Penyebab ttt menyebabkan kondisi yg mencegah pengeluaran feses scr normal dr rektum shg perlu dibuat stoma(lubang) sementara atau permanen. Paling sering dibuat di ileum (ileostomi) atau kolon (kolostomi)  Ada 2 : ostomi inkontinen (tdk dpt mengontrol) dan ostomi kontinen (dpt dikontrol) Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 47
  47. 47. Ostomi Inkontinen  Lokasi ostomi menentukan konsistensi feses  Ileostomi mrpk ln pintas feses shg lbh sering eluar dan lbh cair, jg pad kolostomi kolon asenden  Kolostomi pd kolon transversal umumnya feses lbh padat  Kolostomi sigmoid menghasilkan feses yg mendekati normal  Lokasi kolostomi ditentukan oleh msl medis dan kondisi umum klien Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 48
  48. 48. Ada 3 Ostomi Inkontinen  Loop colostomy biasa dilakukan utk kondisi kedaruratan medis yg nantinya akan ditutup/sementara. Biasanya stoma ukuran besar  End colostomy terdiri dr satu stoma yg dibentuk dr ujung proksimal usus dg bagian distal sal GI dpt dibuang atau dijahit tertutup dan dibiarkan dlm rongga abdomen. Tindakan ini biasa dilakukan pd kasus Ca kolorektal (rektum mgk dibuang), dan divertikulitis  Double barrel colostomy terdiri dr 2 stoma. Stoma proksimal dan distal Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 49
  49. 49. Ostomi Kontinen  Jg disebut diversi kontinen atau reservoar kontinen.  Kolon diangkat dan ileum dianastomosis/ disambung dgn sfingter anus yg utuh.  Klien tdk memerlukan kantung eksternal, kantung interna dibuat dr ileumnya  Klien dpt mempy ostomi yg bersifat sementara sampai kantung ileum yg dibentuk pulih.  Klien perlu latihan kegel utk menguatkan dasar panggul. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 50
  50. 50. Diagnosa Keperawatan  Gangguan body image berhubungan dengan pemasangan urinary diversi ostomy Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 51
  51. 51. Kartinah/KDM/S1 keperawatan 2018 52  https://www.youtube.com/watch?v=dfLidxZ tsrU  Sistem pencernaan animasi kartun : https://www.youtube.com/watch?v=- lTsO53rphs

×