Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Die SlideShare-Präsentation wird heruntergeladen. ×

PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH DIINDONESIA.docx

Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Anzeige
Wird geladen in …3
×

Hier ansehen

1 von 14 Anzeige

PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH DIINDONESIA.docx

Herunterladen, um offline zu lesen

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia. Penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) yang memfokuskan pada pengelolaan data secara kualitatif dengan metode analisis data yang menggunakan metode deskripsi-analisis. Penelitian ini membahas apa itu perbankan syariah? Apa saja sistem dari perbankan syariah? Bagaimana perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia? Konsep apa yang membedakan perbankan syariah dengan perbankan konvensional?. Hasil dari penelitian ini adalah perbankan Indonesia saat ini dimeriahkan dengan adanya bank syariah yang memasarkan produk keuangan dan investasi dengan cara yang berbeda dari bank konvensional. Perbankan syariah sendiri merupakan bank yang dalam menjalankan kegiatan usahanya memakai prinsip-prinsip syariah islam yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits serta tidak mengandalkan riba maupun bunga dalam transaksinya.

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia. Penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) yang memfokuskan pada pengelolaan data secara kualitatif dengan metode analisis data yang menggunakan metode deskripsi-analisis. Penelitian ini membahas apa itu perbankan syariah? Apa saja sistem dari perbankan syariah? Bagaimana perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia? Konsep apa yang membedakan perbankan syariah dengan perbankan konvensional?. Hasil dari penelitian ini adalah perbankan Indonesia saat ini dimeriahkan dengan adanya bank syariah yang memasarkan produk keuangan dan investasi dengan cara yang berbeda dari bank konvensional. Perbankan syariah sendiri merupakan bank yang dalam menjalankan kegiatan usahanya memakai prinsip-prinsip syariah islam yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits serta tidak mengandalkan riba maupun bunga dalam transaksinya.

Anzeige
Anzeige

Weitere Verwandte Inhalte

Aktuellste (20)

Anzeige

PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH DIINDONESIA.docx

  1. 1. PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Aditya Dwi Saputra ¹ , Afriza Leonita ² Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Email : adityak.a132@gmail.com ¹ , afrizaleonitaafriza@gmail.com ² Abstract This study aims to determine the development of the Islamic banking system in Indonesia. This research is library research which focuses on qualitative data management with data analysis method using description-analysis method. This study discusses what is Islamic banking? What are the systems of Islamic banking? How is the development of the Islamic banking system in Indonesia? What concept distinguishes Islamic banking from conventional banking? The result of this study is that Indonesian banking is currently enlivened by the existence of Islamic banks that market financial and investment products in a different way from conventional banks. Islamic banking itself is a bank that in carrying out its business activities uses Islamic sharia principles based on the Al-Quran and Al-Hadith and does not rely on usury or interest in its transactions. Keywords : Islamic Banking, Development of the Islamic Banking System in Indonesia, Conventional Banks Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia. Penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) yang memfokuskan pada pengelolaan data secara kualitatif dengan metode analisis data yang menggunakan metode deskripsi-analisis. Penelitian ini membahas apa itu perbankan syariah? Apa saja sistem dari perbankan syariah? Bagaimana perkembangan sistem perbankan syariah di Indonesia? Konsep apa yang membedakan perbankan syariah dengan perbankan konvensional?. Hasil dari penelitian ini adalah perbankan Indonesia saat ini dimeriahkan dengan adanya bank syariah yang memasarkan produk keuangan dan investasi dengan cara yang berbeda dari bank konvensional. Perbankan syariah sendiri merupakan bank yang dalam menjalankan kegiatan usahanya memakai prinsip-prinsip syariah islam yang berdasarkan Al- Quran dan Al-Hadits serta tidak mengandalkan riba maupun bunga dalam transaksinya. Kata Kunci : Perbankan Syariah, Perkembangan Sistem Perbankan Syariah di Indonesia, Bank Konvensional
  2. 2. DASAR PEMIKIRAN 1. Latar Belakang Kegiatan ekonomi sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Selama berlangsungnya kegiatan ekonomi tersebut banyak sekali terdapat pro dan kontra sehingga para ahli pemikir ekonomi mulai memikirkan bagaimana mengubah seni ekonomi menjadi ilmu ekonomi yang ada seperti sekarang ini. Di zaman Nabi SAW memang belum ada institusi bank, namun ajaran Islam sudah memberikan prinsip-prinsip dan filosofi dasar yang dijadikan pedoman dalam aktivitas perdagangan dan perekonomian. Karena itu, saat menghadapi masalah muamalah kontemporer yang harus dilakukan hanya lah mengidentifikasi prinsip-prinsip dan filosofi dasar dari ajaran Islam dalam bidang ekonomi itu sendiri, dan kemudian mengidentifikasi semua hal yang dilarang oleh Agama Islam. Sehingga ketika kedua hal ini telah dilakukan, maka kita dapat melakukan inovasi dan kreativitas (ijtihad) sebanyak-banyaknya untuk memecahkan segala persoalan muamalah kontemporer, termasuk yakni persoalan perbankan. Bank memiliki usaha pokok berupa menghimpun dana dari pihak yang mempunyai dana lebih untuk kemudian disalurkan kembali ke masyarakat yang kekurangan dana dalam jangka waktu tertentu. Hadirnya Bank Syariah merupakan salah satu solusi untuk menambah kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan perbankan khususnya di Indonesia. Bank Syariah adalah salah satu produk perbankan yang berlandaskan sistem perekonomian Islam, Sistem ekonomi Islam atau syariah sekarang ini sedang menjadi perbincangan di Indonesia. Banyak masyarakat yang meminta agar pemerintah Indonesia segera menerapkan sistem ekonomi Islam dalam sistem perekonomian Indonesia. Bank Syariah pada mulanya dikembangkan sebagai salah suatu respons dari kelompok ekonomi dan praktisi perbankan muslim yang berupaya mengakomodasikan desakan dari berbagai pihak yang menginginkan agar tersedianya jasa transaksi keuangan yang dilakukan berdasarkan nilai moral dan prinsip-prinsip syariah Islam. Umat Islam diharapkan dapat memahami perkembangan bank syariah dan mengembangkannya apabila dalam posisi sebagai pengelola bank syariah dengan secara cermat mengenali dan mengidentifikasi semua mitra kerja yang telah ada maupun yang potensial untuk pengembangan bank syariah. 2. Tinjauan Pustaka
  3. 3. Penelitian yang berjudul Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia Oleh: NOFINAWATI. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Padangsidimpuan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam bahwa perkembangan perbankan di Indonesia yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pertumbuhannya aset, DPK, PYD yang 45% lebih tinggi dari tahun 2000 hingga 2014. Namun demikian diharapkan juga harus mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk menghadapi tantangan di masa depan. Penelitian yang berjudul Analisis Peran Perbankan Syariah dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat (Studi Kasus Bank Syariah Mandiri Sibuhuan) Oleh: AIDUL MUHAMMAD DAULAY. Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Bank Syariah Mandiri dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambatnya, dan untuk mengetahui bagaimana pandangan ekonomi Islam terhadap peranan bank syariah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Sibuhuan. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah masyarakat yang menjadi nasabah bank syariah mandiri cabang Sibuhuan yang berjumlah kurang lebih nasabah dan sampel dalam penelitian ini yaitu 3 karyawan bank syariah mandiri dan 100 responden dengan menggunakan metodologi purposive sampling, wawancara, angket dan kepustakaan. Sedangkan teknik analisa data digunakan metode deskriptif analitik yaitu setelah semua data berhasil dikumpulkan, maka penulis menjelaskan secara rinci dan sistematis sehingga dapat tergambar secara utuh dan dapat dipahami kesimpulannya secara jelas. Dalam penelitian ini Bank Syariah Mandiri cabang Sibuhuan belum sepenuhnya memberikan perannya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat yang berpenghasilan rendah. Walaupun beda kenyataannya bank syariah melalui produk pembiayaan syariahnya telah memberikan layanannya kepada masyarakat, namun rata-rata yang menerima pembiayaan itu adalah mereka yang bisa dikatakan telah berpenghasilan cukup tinggi. PEMBAHASAN Pengertian Perbankan Syariah Dalam Undang-undang No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang menjelaskan bahwa Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank
  4. 4. Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya menggunakan prinsip-prinsip syariah. Bank sendiri diartikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Menurut Trisadini P. dan Abd. Shomad (2013: 3), Bank syariah adalah salah satu aplikasi dari sistem ekonomi syariah Islam yang merupakan bagian dari nilai-nilai ajaran Islam mengatur bidang perekonomian umat dan tidak terpisahkan dari aspek-aspek lain ajaran Islam yang komprehensif serta universal. Muhammad (2005:13) berpendapat bahwa Bank Syariah merupakan lembaga keuangan yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya sesuai dengan prinsip syariat islam. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Bank Syariah adalah sebuah lembaga bank yang dimana proses menjalankan kegiatan usahanya menggunakan prinsip-prinsip syariah islam yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadits serta dalam transaksinya tidak mengandalkan riba atau bunga. Prinsip Perbankan Syariah Konsep manfaat dalam sistem ekonomi syariah mencangkup berbagai kegiatan ekonomi yang lebih luas, hal ini bukan hanya yang berkaitan dengan manfaat di setiap akhir kegiatan saja, tetapi juga berkaitan dengan setiap proses transaksi yang ada. Dari kegiatan proses transaksi tersebut harus selalu mengacu kepada konsep maslahat dan menjunjung tinggi asas-asas keadilan. Selain itu, prinsip yang dimaksud menekankan bahwa para pelaku ekonomi untuk selalu menjunjung tinggi etika dan norma hukum dalam kegiatan ekonomi. Realisasi dari konsep syariah, pada dasarnya sistem ekonomi / perbankan syariah memiliki tiga ciri yang mendasar, yakni sebagai berikut : 1. Prinsip Keadilan 2. Memperhatikan aspek kemanfaatan 3. Menghindari kegiatan yang dilarang
  5. 5. Ketiga ciri sistem yang demikian ini, tidak hanya memfokuskan untuk menghindari praktik bunga saja, tetapi juga suatu kebutuhan untuk menerapkan semua prinsip syariah dalam sistem ekonomi dengan seimbang. Oleh karena itu, keseimbangan untuk memaksimalkan keuntungan serta pemenuhan prinsip syariah menjadi hal yang mendasar bagi kegiatan operasional bank syariah. Perbedaan bank syariah sendiri dengan bank konvensional terletak pada prinsip pelaksanaannya. Prinsip perbankan konvensional pada umumnya mengacu kepada peraturan nasional dan internasional yakni berdasarkan hukum yang berlaku. Sedangkan, prinsip perbankan syariah mengacu kepada hukum Islam, yakni Al-Qur’an dan hadist, serta fatwa ulama. Dengan begitu, seluruh aktivitas keuangan perbankan syariah menganut prinsip yang islami. Ciri-ciri Bank Syariah Bank syariah dalam mekanisme operasionalnya jauh berbeda dengan bank konvensional, karena bank syariah sendiri mempunyai ciri atau karakteristik tersendiri, antara lain: 1. Berdimensi Keadilan dan Pemerataan, berdimensi keadilan sendiri dalam bank syariah contohnya adalah dengan adanya sistem bagi hasil. 2. Bersifat Mandiri, maksudnya prinsip operasional bank syariah tidak menggunakan sistem bunga, maka secara otomatis akan terlepas dari gejolak moneter, baik dalam negara maupun luar negara. 3. Persaingan Secara Sehat, bentuk persaingan yang berlaku di antara bank syariah adalah masing-masing berlomba untuk lebih tinggi dari yang lain dalam memberikan keuntungan bagi hasil kepada nasabah dan bukan untuk saling mencari kelemahan dan mematikan serta memburuk-burukkan yang lain. 4. Adanya Dewan Pengawas Syariah, berfungsi sebagai pengawas, penasihat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syariah, dan pimpinan cabang syariah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan aspek syariah. 5. Beban biaya yang disepakati bersama saat akad perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal, yang nilainya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan tawar-menawar dalam batas yang dibenarkan.
  6. 6. 6. Penggunaan persentase dalam kewajiban mengembalikan utang harus dihindari, karena persentase bersifat tetap pada sisa utang meskipun batas masa perjanjian telah habis. 7. Dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang tetap (fixed return). 8. Dianggap sebagai penyertaan modal dalam pengerahan dana masyarakat yang berbentuk deposito atau tabungan penyimpan , dan kemudian ditempatkan oleh bank pada berbagai proyek yang dibiayainya dan beroperasi sesuai dengan asas syariah, sehingga kepada penyimpan tersebut tidak dijanjikannya imbalan yang tetap (fixed return). 9. Terdapatnya produk khusus yaitu kredit tanpa beban (murni bersifat sosial). Sejarah Bank Syariah di Indonesia Pada awalnya pertumbuhan keuangan Islam terjadi ketika bertepatan dengan surplus neraca pembayaran yang sangat tinggi pada beberapa negara muslim pengekspor minyak, yang dikenal sebagai “oil booming” pada dekade 70-an (Azis, 2006: 3-5). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keinginan perubahan terhadap sistem sosio-politik dan ekonomi yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam serta kepribadian Islam yang lebih kuat. Dan sebagai upaya dalam pembaruan makro ekonomi dan struktural dalam sistem keuangan negara-negara muslim (Zamir Iqbal, lihat juga Azis, 2006: 2). Sebagaimana perkembangan pemikiran perbankan syariah di dunia, Indonesia juga ikut berimbas dari tuntutan pemikiran para cendekia muslim Indonesia. Di Indonesia sendiri terjadi sepanjang awal abad ke-20, sistem keuangan syariah sekedar menjadi bahan retorika dan diskusi semata. Sehingga belum ada langkah nyata dan rasional dalam mengimplementasikan gagasan-gagasan tersebut. Padahal, sebelumnya telah muncul kesadaran bahwa perbankan syariah adalah solusi masalah ekonomi untuk kesejahteraan sosial di negara-negara Islam. Indonesia merupakan negara mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia, pada tahun 1974 muncul dan dimulainya pemikiran tentang pentingnya menerapkan perbankan berbasis syariah. Dengan hadirnya gagasan pemikiran perbankan berbasis syariah di sebuah seminar Hubungan Indonesia-Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan (LSIK). Seiring munculnya kesadaran baru kaum intelektual dan cendekiawan muslim dalam memberdayakan ekonomi masyarakat Indonesia tentang pentingnya perbankan syariah.
  7. 7. Sebelumnya hal ini memang sempat terjadi perdebatan yang melelahkan mengenai hukum bunga Bank serta hukum zakat dan pajak di kalangan cendekiawan, para ulama, dan intelektual muslim. Perbedaan pandangan para ulama tersebut salah satunya mengenai bunga yang secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok yakni; kelompok yang menghalalkan, kelompok yang mengatakan syubhat dan kelompok yang mengharamkan. Inilah yang menentukan respon masyarakat terhadap bank syariah. Salah seorang ulama NU (Nahdatul Ulama) yakni Umar Syihab sebagai representasi ulama berpendapat bahwa bunga bank adalah halal, hal ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, jumlah bunga uang yang diambil dan diberikan oleh bank kepada nasabah jauh lebih kecil dibandingkan dengan riba yang terjadi pada zaman jahiliyah. Kedua, pemungut bunga bank tidak membuat bank itu sendiri dan nasabahnya mendapatkan keuntungan besar atau sebaliknya tidak akan merasa dirugikan dengan pemberian bunga. Ketiga, tujuan pengambilan kredit dari debitur pada zaman jahiliyah ialah untuk konsumsi, sementara pada saat ini bertujuan untuk produktif. Keempat, adanya kerelaan antara kedua belah pihak yang bertransaksi sebagaimana halnya kebolehan dalam jual-beli dengan asas kerelaan atau suka sama suka. Selanjutnya Majelis Tarjih Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar kedua di Indonesia memberikan pendapat bahwa bunga bank yang diberikan oleh bank milik negara kepada nasabahnya, ataupun sebaliknya selama berlaku termasuk ke dalam perkara yang syubhat. Namun hal tersebut, hanya menyinggung bunga bank yang diberikan oleh bank negara, dengan mengatakan bahwa bunga yang diberikan oleh negara diperbolehkan, karena bunga yang diberikan masih tergolong rendah dibandingkan dengan bunga pada bank swasta. Sebagai organisasi islam terbesar di Indonesia organisasi Nahdatul Ulama memberikan pendapat, di samping Muhammadiyah, yaitu memutuskan masalah bunga bank tersebut dengan beberapa kali sidang, hingga terjadinya polarisasi pendapat pada tiga kelompok yaitu, halal, haram, dan syubhat. Namun, Lajnah Bahsul Masa’il memutuskan bahwa yang lebih berhati- hati ialah pendapat yang pertama, yakni bunga bank itu hukumnya haram. Dengan adanya perbedaan di kalangan umat Islam tidak mengurungkan munculnya perbankan syariah di Indonesia, gagasan praktik perbankan Islam di Indonesia dimulai pada awal periode 1980-an, yang dimulai dengan diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Adapun tokoh-tokoh yang terlibat dalam pengkajian tersebut di antaranya adalah M. Dawam Rahardjo, Karnaen A Perwataatmadja, M Amien Azis dan AM Saefuddin. Sebagai uji coba, gagasan perbankan Islam ini dipraktikkan dengan skala yang relatif terbatas
  8. 8. yaitu di antaranya di Jakarta (Koperasi Ridho Gusti) dan di Bandung (Bait At-Tamwil Salman ITB). Sebagai gambaran, M. Dawam Rahardjo dalam tulisannya pernah memberikan rekomendasi Bank Syariat Islam sebagai suatu konsep alternatif untuk menghindari larangan riba, sekaligus menjawab tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat. Dan jalan keluarnya secara sekilas disebutkan dengan transaksi pembiayaan berdasarkan tiga model, yakni murabahah , mudarabah, dan musyarakah. Pendirian bank Islam di Indonesia baru dilakukan tahun 1990. Pada tanggal 18 – 20 Agustus tahun tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan lokakarya bunga bank perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil dari lokakarya tersebut kemudian ditelaah lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta pada tanggal 22 – 25 Agustus tahun 1990, yang menghasilkan amanat untuk penyusunan kelompok kerja dalam pendirian bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja yang dimaksud adalahTim Perbankan MUI yang diberi tugas untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait. Hasil dari kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah dengan berdirinya PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang berdiri pada tanggal 1 November 1991. Dan sejak tanggal 1 Mei 1992, BMI resmi beroperasi dengan modal awal sebesar Rp. 106.126.382.000,. Pada bulan September 1999, BMI telah memiliki lebih dari 45 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bank syariah pertama di Indonesia muncul pada tahun 1992 yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI). Pendirian lembaga ini merupakan gagasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah (Harun Nasution (ed), 1988:555). Setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) diikuti pula dengan berdirinya BPRS-BPRS lainnya dan menjadi bukti bahwa perbankan syariah tidak terkena imbas dari krisis moneter pada tahun 1998 hingga akhirnya diikuti pula oleh berdirinya perbankan- perbankan umum yang membangun perbankan berbasis syariah. Selanjutnya, landasan normatif yang secara lebih sederhana mengatur perbankan syariah ialah Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Undang-undang ini merupakan peraturan yang mengatur secara keseluruhan memuat tentang sistem dan operasional perbankan syariah secara mandiri, dengan demikian bahwa regulasi perbankan syariah dan konvensional diatur dalam undang-undang yang terpisah (Abdul Mujib,2009:1-5). Sejak berlakunya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998, bank syariah secara resmi diperkenalkan kepada masyarakat dan dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang
  9. 9. terbit tanggal 16 Juli 2008, maka dalam pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi (Muhammad, 2004: 58). Sistem perbankan Islam merupakan sarana pendukung dalam mewujudkan tujuan dari sistem sosial dan ekonomi Islam. Beberapa tujuan dan fungsi penting yang diharapkan dari sistem perbankan Islam adalah: (M. Umer Capra, 2000: 2) 1. (Economic well-being with full employment and optimum rate of economic growth), Meluasnya kemakmuran ekonomi dengan tingkat kerja yang penuh dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum; 2. (Socio-economic justice and equitable distribution of income and wealth), Keadilan sosial-ekonomi dan distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata; 3. (Stability in the value of money), Stabilitas nilai uang untuk memungkinkan alat tukar tersebut menjadikannya suatu unit perhitungan yang terpercaya, standar pembayaran yang adil dan nilai simpan yang stabil; 4. (Mobilisation of savings), Mobilisasi dan investasi tabungan bagi pembangunan ekonomi melalui cara-cara tertentu yang menjamin bahwa pihak-pihak yang berkepentingan mendapatkan bagian pengembalian yang adil; 5. (Effective other services), Pelayanan efektif pada semua jasa-jasa yang biasanya diharapkan dari sistem perbankan. Tujuan-tujuan perbankan dalam islam merupakan suatu bagian tak terpisahkan dari ideologi dan kepercayaan Islam. Hal tersebut adalah suatu input penting karena sebagai bagian dari suatu output tertentu. Tujuan-tujuan tersebut membawa kemurnian dalam hal yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah, tujuan-tujuan tersebut bukanlah semata-mata sebagai alat tawar politik dan kebijaksanaan. Namun, sebagai strategi yang sangat penting bagi terwujudnya suatu tujuan yang mempunyai suatu keunikan yang dapat disumbangkan oleh Islam. Sistem perbankan Islam ditegakkan atas kemutlakan larangan dari penerimaan ataupun pembayaran setiap yang ditentukan (predetermined) atas pinjaman atau kredit. Dengan demikian konsep bunga (interest) dalam hutang secara tegas dilarang. Sistem perbankan Islam lebih memfokuskan pada upaya untuk mendorong penerapan sharing resiko, melemahkan perilaku spekulatif, mempromosikan kewirausahaan (entrepreneurship), dan menekankan kesucian akad. Saluran modal yang mungkin dapat digunakan untuk masyarakat Islam dalam membuka usaha adalah; perusahaan perorangan (sole
  10. 10. proprietorship), perusahaan perseroaan (joint stock company), dan perusahaan patungan (partnership) (termasuk mudharabah dan syirkah). Koperasi juga bisa memainkan peranan penting dalam perekonomian Islam selama tidak adanya transaksi- transaksi yang dilarang agama. Perkembangan Sistem Bank Syariah di Indonesia Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual- banking system atau sistem perbankan ganda dengan kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), guna menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional sangat mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas dalam meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional. Karakteristik sistem perbankan syariah sendiri, beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil guna memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menekankan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk dan layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariasi, perbankan syariah menjadi sebuah alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Dengan berlakunya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang diterbitkan pada tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin mempunyai landasan hukum yang memadai dan mendorong pertumbuhan perbankan syariah secara lebih cepat lagi. Dengan kemajuan perkembangannya yang impresif, yaitu mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% per tahun dalam lima tahun terakhir, dengan demikian diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan. Kebijakan dalam Perbankan Syariah di Indonesia Istilah “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2002. Dalam penyusunannya terdiri dari, berbagai aspek telah
  11. 11. dipertimbangkan secara komprehensif, yakni kondisi aktual industri perbankan syariah nasional serta perangkat-perangkat terkait, hingga trend perkembangan industri perbankan syariah di dunia internasional dan perkembangan sistem keuangan syariah nasional yang sudah mulai terlihat, hal ini tak luput dari kerangka sistem keuangan yang bersifat lebih makro seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI) maupun international best practices yang dirumuskan oleh lembaga-lembaga keuangan syariah internasional, yaitu: IIFM, AAOIFI dan IFSB (Islamic Financial Services Board). Pengembangan perbankan syariah bertujuan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi masyarakat dengan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu berfokus kepada rencana-rencana strategis lainnya, seperti Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), Arsitektur Perbankan Indonesia (API), serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan begitu upaya pengembangan perbankan syariah adalah bagian dari kegiatan yang mendukung pencapaian rencana strategis dalam skala yang lebih besar pada tingkat nasional. Dalam “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” memiliki visi, misi dan sasaran pengembangan perbankan syariah serta berbagai inisiatif strategis dengan memprioritaskan yang jelas untuk menjawab tantangan utama dan mencapai sasaran dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, adapun pencapaiannya yaitu pencapaian pangsa pasar perbankan syariah yang signifikan melalui penekanan peran perbankan syariah dalam aktivitas keuangan regional, nasional dan internasional, dengan kondisi mulai terbentuknya integrasi dan sektor keuangan syariah lainnya. Perbankan syariah nasional dalam jangkah pendek lebih ditekankan pada pelayanan pasar domestik yang potensinya masih sangat besar. Dengan kata lain, perbankan Syariah nasional harus mampu untuk menjadi pemain domestik yang memiliki kualitas layanan dan kinerja yang bertaraf internasional. Sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia ialah perbankan syariah yang modern, dimana perbankan tersebut bersifat universal, dan terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk- bentuk penerapan dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural dimana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya.
  12. 12. Dengan cara seperti itu, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan selalu dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan di negeri ini. Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah Sebagai langkah yang konkret dalam upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank Indonesia telah membuat sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yang meliputi berbagai aspek strategis, yaitu diantaranya: Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pemerataan pasar secara lebih akurat, pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, peningkatan layanan, pengembangan produk yang lebih beragam, serta strategi komunikasi baru yang memberikan posisi perbankan syariah lebih dari sekedar bank. Berbagai program konkret yang telah dan akan dilaksanakan sebagai tahap implementasi dari Grand Strategi pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain yaitu sebagai berikut: Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008 tentang membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target aset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 yakni menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling bagus di ASEAN, dengan tercapainya target aset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industrinya sebesar 75%. Fase III tahun 2010 yaitu menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target aset sebesar Rp.124 triliun dengan pertumbuhan industri sebesar 81%. Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang terdiri dari aspek positioning, differentiation, serta branding. Positioning baru bank syariah yaitu sebagai perbankan yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak, aspek diferensiasi yakni dengan transparan, keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, kompeten dalam etika dan keuangan, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Dan aspek yang terakhir yaitu aspek branding dimana aspek ini berpendapat bahwa bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking.
  13. 13. Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat pada potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah yaitu sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat serta semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah. Keempat, program pengembangan produk yang difokuskan kepada variasi produk yang beragam dan didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan dukungan jaringan kantor yang sangat luas serta penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami. Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang bisa memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta bisa mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah tersebut kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memperhatikan prinsip syariah; dan Keenam, program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media elektronik, cetak, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manfaat dari produk serta jasa perbankan syariah yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. KESIMPULAN Bank Syariah adalah sebuah lembaga bank yang dimana proses menjalankan kegiatan usahanya menggunakan prinsip-prinsip syariah islam yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadits serta dalam transaksinya tidak mengandalkan riba atau bunga. Perkembangan praktik perbankan syariah di Indonesia dari berbagai aspeknya telah menunjukkan catatan pertumbuhan, baik dari sistem perbankan syariah itu sendiri, sisi jumlah Bank Umum Syariah, jumlah Unit Usaha Syariah, jumlah BPRS beserta dengan jaringan kantornya, jumlah DPK dan jumlah pembiayaan yang disalurkan, serta jumlah aset yang cukup menggembirakan. Namun perkembangan tersebut tidak luput dari berbagai faktor pendukung dan tantangan-tantangan yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa upaya dari seluruh stake holders industri keuangan syariah sangat dibutuhkan dalam mendukung perkembangan bank syariah di Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya keterpaduan langkah dari para praktisi, akademisi maupun asosiasi agar pengembangan menjadi lebih efektif. Untuk itu, peran semua pihak, baik pemerintah, ulama, IAEI, akademisi, dan masyarakat dalam memelopori dan mendorong keterpaduan langkah
  14. 14. untuk menjawab berbagai tantangan-tantangan yang ada sangat diperlukan sehingga industri keuangan syariah nasional semakin berkualitas, berkembang secara berkelanjutan hingga mampu bersaing dalam kancah persaingan global. DAFTAR PUSTAKA Syukri Iska, 2012. Sistem Perbankan Syariah Di Indonesia, Yogyakarta : Fajar Media Press Press. Amir Machmud dan Rukmana. 2010. Bank Syariah: Teori, Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia, Jakarta: Erlangga. Anshori, Abdul Ghofur. 2007. Perbankan Syariah di Indonsia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Antonio, Muhammad Syafi’i. 1999. Bank Syariah: Wacana Ulama dan Cendekiawan. Jakarta: Gema Insani Press. Karim, Adiwarman A. 2004. Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan. Edisi Dua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. http:// www.ojk.go.id, mengenal perbankan syariah tahun 2021. https:// manajemen.uma.ac.id, sejarah dan perkembangan bank syariah di Indonesia tahun 2021.

×