Diese Präsentation wurde erfolgreich gemeldet.
Wir verwenden Ihre LinkedIn Profilangaben und Informationen zu Ihren Aktivitäten, um Anzeigen zu personalisieren und Ihnen relevantere Inhalte anzuzeigen. Sie können Ihre Anzeigeneinstellungen jederzeit ändern.

Game theory

  • Loggen Sie sich ein, um Kommentare anzuzeigen.

Game theory

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hubungan Internasional atau hubungan kerjasama yang terjadi diantara dua negara atau lebih yang didasari kepentingan yang tidak seimbang seringkali menimbulkan konflik dalam pelaksanaannya, bahkan sering terjadi perang yang merugikan sebelah pihak maupun keduanya. Diplomasi adalah salah satu cara untuk melakukan kerjasama tanpa kekerasan yang sangat banyak digunakan negara-negara di dunia karena dinilai sangat efektif untuk menghindari terjadinya konflik yang berkepanjangan. Dalam Teori Diplomasi, terdapat banyak strategi yang dapat digunakan setiap untuk menjalankan politik luar sebuah dan terdapat teori-teori yang selalu digunakan negara-negara dalam mempertahankan keputusan yang telah diambil sebagai kebijakan luar negerinya, baik dalam urusan kerjasama yang bersifat ekonomi, sosial, budaya, biologi dan lain sebagainya. Karena hasil sebuah peperangan sering tidak bisa diramalkan, sarana-sarana diplomatik dapat digunakan sebagai perlindungan untuk menghindari malapetaka semacam itu sejauh mungkin meskipun hal tersebut tidak merugikan kepentingan nasional. Tujuan-tujuan politik sebuah negara terlebih dahulu harus sesuai dengan sumber daya dan kekuatan (power) baik ekonomi maupun militer karena keefektifan diplomasi suatu negara bergantung pada sejauh mana kekuatan yang dimilikinya. Salah satu strategi yang dapat digunakan negara-negara dalam mempertahankan kekuatan negaranya saat terjadinya konfik adalah Game Theory (Teori Permainan) yang di dalamnya terdapat cara dan bagaimana proses penalaran berlangsung dalam pembuatan keputusan. Untuk menjelaskan Game Theory secara lebih lengkap akan kita bahas pada Bab II yang merupakan pembahasan tentang Game Theory yang dijelaskan berdasarkan pendapat para pemikir dan penulis ahli dalam kajian diplomasi yang menggunakan strategi Game Theory ini, diantaranya: Mohtar Mas’oed, T.A Couloumbis dan J.H. Wolfe, A.C. Isaak, Garvin McCain, Erwin Segal dan Robert J. Lieber. 1
  2. 2. 1.2 Metode Penulisan Metode penulisan yang saya gunakan adalah metode literatur yaitu metode yang bersumber dari buku dan teknologi yang tersedia. 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan tugas ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulisan maupun pembaca; 2. Untuk memperlancar proses belajar mengajar; dan 3. Untuk memperdalam pemahaman dalam mata kuliah Teori Diplomasi terutama dalam bahasan Game Theory. 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan tugas ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu; 2. Lebih memahami pokok bahasan tentang Game Theory. 1.5 Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan tugas ini adalah sebagai berikut : 1. Kata Pengantar ; 2. Daftar Isi ; 3. Bab I yang merupakan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, metode penulisan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan ; 4. Bab II yang merupakan pembahasan, yang terdiri dari Pengertian Teori, Konseptualisasi, Kontekstualisasi dan Dinamika Permainan. 5. Simpulan ; dan 6. Daftar Pustaka. 2
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Teori Teori merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yang artinya “melihat” atau “memperhatikan”.1 Berdasarkan pengertian tersebut bisa dikatakan bahwa teori adalah suatu pandangan atau persepsi tentang fenomena yang terjadi. Bisa juga dikatakan bahwa berteori adalah sebuah pekerjaan menonton yang berarti pekerjaan yang mencoba mendeskripsikan apa yang terjadi, menjelaskan mengapa itu terjadi dan mungkin juga sebuah pekerjaan meramal kemungkinan berulangnya kejadian itu di masa yang akan datang. Dalam kehidupan sehari-hari sering timbul perbedaan pengertian tentang arti teori itu. Bahkan selama ini selalu terdapat kekacauan dan kerancuan tentang penggunaan kata teori. Pertama, di dalam ilmu politik terdapat kekacauan antara pengertian teori politik dan filsafat politik. Kedua, dalam bahasa sehari-hari kita dibingungkan oleh pembedaan tentang arti teori dan praktek. Ketiga, kita juga punya kecenderungan untuk menyamakan antara teoti dengan dugaan.2 Dalam disiplin ilmu politik terdapat bidang studi yang disebut Teori Politik. Studi ini bersifat normatif, yaitu memusatkan pada pertanyaan yang bersifat das Sollen: Apa seharusnya tujuan politik internasional? Sistem internasional apakah yang paling baik digunakan? Bagaimana sebaiknya hubungan antar negara-negara kaya dan miskin di dunia? Karena itu yang dipelajari adalah hasil karya dari para tokoh pemikir besar, mulai dari Thucydides, Huga Grotius, Immanuel Kant, Niccolo Machiavelli, Thomas Hobbes, Karl Marx. Bidang yang seharusnya disebut sebagai filsafat politik itu di dalam kurikulum ilmu politik sampai sekarang disebut teori politik. Selain dari teori yang memiliki pertanyan yang bersifat das Sollen, ada juga teori yang mengandung 1 T.A Couloubis dan J.H. Wolfe, Introduction to International Relations (Prentice-Hall, 1986), hal. 29 2 A.C. Isaak, Scope and Methods of Political Science (Dorsey, 1981) hal. 168-169, Vernon van Dyke, Political Science (Stanforrd, 1965), Bab. 9. 3
  4. 4. pertanyaan yang bersifat das Sein, tentang hal yang senyatanya, seperti: Bagaimana sistem internasional berfungsi? Mengapa terjadi ketimpangan hubungan antara negara-negara Utara dan Selatan? Teori yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bersifat empirik. Selain dari Teori Politik, sering juga kita mendengarkan orang yang mengatakan “Teoritik memang begitu, tetapi bagaimana implementasinya?” dari pernyataan ini dapat dipandang bahwa seolah-olah teori itu tidak relistik. Pada dasarnya teori dan praktek merupakan senyawa yang tidak bisa dipisahkan. Teori yang baik adalah basis bagi pengembangan pengetahuan yang layak dipercaya dan berdasarkan realita kongktit. Selanjutnya kita juga sering mendengarkan orang berkata “ Menurut teori saya, pelaku kejahatan itu adalah si A. yang tersirat dalam pernyataan orang tersebut adalah dugaan tentang siapa pelaku kujahatan itu. Dan dalam pembicaraan sehari-hari memang saat banyak orang yang menggunakan kata teori, tetapi yang dimaksudkan sebenarnya adalah dugaan. Menurut buku yang ditulis Mohtar Mas’oed dengan menggabungkan beberapa pendapat para ahli teori adalah suatu bentuk pernyataan yang menjawab pertanyaan “mengapa”, yang artinya berteori adalah upaya memberkan makna pada sebuah fenomena yang terjadi. Pernyataan yang disebut teori ini berwujud sekumpulan generalisasi dan arena di dalam generalisasi itu terdapat konsep-konsep, bisa juga diartikan bahwa teori adalah pernyataan yang menghubungkan konsep-konsep secara logis.3 Namun, teori bukanlah sekedar generalisasi, tetapi teori adalah pernyataan yang menjelaskan generalisasi itu. Sebagai sarana eksplanasi, teori adalah yang paling efektif dan dalam proses eksplanasi itu, teori membantu kita untuk mengorganisasikan dan menata fakta yang kita teliti. Untuk memperdalam pemahaman tentang teori, McCain dan Segal secara spesifik mendefinisikan teori sebagai serangkaian statemen yang saling berkaitanyang terdiri dari kalimat-kalimat yang memperkenalkan istilah istilah yang merujuk pada konsep-konsep dasar teori itu; kalimat-kalimat yang menghubungkan konsep-konsep 3 Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin Ilmu dan Metodologi (Yogyakarta, LP3ES, 1990). Hal. 188. 4
  5. 5. dasar itu satu sama lain dan kalimat-kalimat yang menghubungkan beberapa statemen teoritik itu dengan sekumpulan kemungkinan obyek pengamatan empirik (yaitu hipotesa).4 Ketika menjelaskan suatu fenomena, teori memerlukan pembuktian secara sistematik yang berarti, teori harus memalui proses pengujian dengan bukti- bukti yang sistematik dan teori yang baik adalah teori yang bisa didukung ataupun ditolak melalui analisa yang jelas dan penggunaan data secara sistematik. Agar dapat didukung atau ditolak, tentunya teori harus memuat konsep-konsep yang jelas. 2.2 Game Theory (Teori Permainan) Para ilmuan hubungan internasional telah menerapkan metafora permasinan atau game, hubungan antar negara yang bersifat kompetitif atau konfliktual digambarjan seolah-olah seperti orang yang sedang bermain catur. Model ini disebut dengan Game Theory yang menggambarkan bagaimana proses penalaran berlangsung dalam pembuatan sebuah keputusan.5Ada beberapa asumsi menarik yang berkenaan dengan Game Theory ini: pertama, yang melandasi model ini adalah bahwa para pemain berprilaku rasional yaitu memilih strategi atas dasar pertimbangan untung- rugi dalam pencapaian tujuan yang jelas. Kendati demikian, tidak semua perilaku para pembuat keputusan itu rasional seperti petimbangan-petimbangan moral, keyakinan dan hal-hal emosional. Implikasi dari asumsi ini adalah bahwa para aktor itu dianggap punya kemampuan untuk mengetahui semua kemungkinam situasi yang dihadapi, untuk menjabarka urutan-urutan prioritas tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan semua kemungkinan sumberdaya yang dimiliki. Asumsi kedua adalah bahwa para pemain yang berhadapan itu punya kepentingan yang bertentangan, walaupun hanya sebagian. Kalau mereka memiliki 4 Garvin McCain dan Erwin Segal, The Game of Science (Brook/Cole, 1973) hal. 99. 5 Anatol Rapoport, Fights, Games and Detabes(Univ of Michigan, 1960); anatol Rapoport, International Relations and Game Theory”, dalam Frank Barnaby dan Carlo Schaerf Eds.), Disarmament and Arms Control (Gordon and Breach, 1972); dan Robert J. Lieber, Theory and World Politics (Winthrop, 1972). 5
  6. 6. kepentingan selaras, maka seorang pemain akan bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri maupun lawannya. Berdasarkan kedua asumsi tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa Game Theory adalah suatu studi teoritik tentang cara berinteraksi diantara aktor-aktor yang rasional untuk menghasilkan keinginan atau keperluan dari para pelaku. Game Theory juga sering dijabarkan sebagai cabang dari ilmu matematika terapan dan ilmu ekonomi yang mempelajari tentang pengambilan keputusan dakam rangka untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Game Theory berkembang dan dipakai dalam ekonomi neo-klasik. Dalam kajian ilmu politik, Game Theory sangat efektif digunakan dalam menentukan strategi dan kebijakan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan dan kepentingan nasional suatu negara. Perkembangan aktor di dalam sistem internasional yang tidak hanya di domonasi oleh aktor negara bahkan bisa jadi aktor hubungan internasional di perankan oleh perusahaan bahkan individu, menjadikan Game Theory sebagai salah salah satu teori aplikatif dalam pengambilan kebijakan secara ekonomi dan politik oleh aktor-aktor hubungan internasional. Game Theory pertamakali ditemukan oleh Jhon Von Neumann seorang Pakar Ilmu Matematika dan Oskar Morgentstern Pakar Matematika Ekonomi menulis Game Of Theory and Economic Behaviour. Pusat kajian serius yang membahas Game Theory adalah perusahaan RAND yang digunakan untuk meneliti strategi nuklir. Dalam ilmu sosial, Game Theory memiliki peran yang sangat penting dan Game Theory yang sering digunakan di dalam ilmu-ilmu sosial dan etika adalah, prisoner”s dilemma, traveler’s dilemma, coordination game, chicken, volunteers’s dilemma, dollar aution, stag hunt, ultimatum game, minority, rock, paper, scissors, pirate game, dictator game, public good game, mutual defense, barbarians at the gate, battle of the network, caveat emptor, conscription, coordination, escape and evasion, frog call for mates, hawk versus dove, mutually assured destruction, majority rule, market niche, subsidized small business, tragedy of the commons, ultimatum, bankruptcy, nash bargaining game,blotto games. 6
  7. 7. Selain memiliki peran yang penting didalam ilmu sosial dan etika, Game Theory juga memiliki beberapa model, seperti symmetric game, perfect information, dynamic game, repeated game, signaling game, cheap talk, Zero-Sum Game, non- Zero Sum Game, mechanism design, stochastic game, nontransitive game. Penggunaan Game Theory dalam prosedur dan organisasi yang nyata sering disebut dengan Gaming The System. Ilmu-ilmu sosial juga telah banyak menggunakan Game Theory baik Zero Sum Game maupun Non-Zero Sum Game terutama didalam pengambilan keputusan, pemilihan strategi, kerjasama dan konflik. 2.3 Dinamika Permainan B a2 b2 a1 b1 A c2 d2 c1 d1 Keempat hasil kemungkinan permainan itu diwujudkan dalam empat pasang angka yang menunjukkan hasil yang akna diperoleh masing-masing pemain. Penggunaan angka-angka hanya menunjukkan derajat perolehan nilai, misalnya angka positif yang paling besar adalah tujuan perolehan utama dari setiap pemain. Sedangkan angka negatif terbesar merupakan pilihan yang akan dihindari oleh setiap pemain. Logika matematika yang dipakai tidak mencakup logika matematik secara mendalam, namun lebih kepada unsur penyederhanaan untuk membantu memudahkan analisa. 7
  8. 8. Perolehan angka tersebut dalam lambang-lambang yang diwakili oleh a1, a2, b1, c1, c2, d1, d2. Angka-angka yang berada disebelah kiri bawah pada kotak sel ialah pemain A dan angka-angka yang berada disebelah kanan atas ialah pemain B. Game Theory mengklasifikasikan permainan 2x2 dalam tiga kategori, masing-masing digambarkan sebagai berikut: 1. Trivial B +10 +7 +10 -7 A -3 +5 +3 -5 Kategori 1 (Trivial) Permainan kategori I tidak menunjukkan danya konflik kepentingan yang nyata. Kepentingan A dan B bukan identik, yaitu mengarah kepilihan A1B1 yang menurut keduanya jauh lebih menguntungkan daripada pilihan-pilihan lain dan permainan ini disebut trivial, bukan benar-benar permainan. Karena itu, kategori ini tidak terlalu diperhatikan dari segi konflik karena tidak relevan dengan konflik internasional. Pada saat terjadinya konflik, kedua belah pihak memilih pilihan yang sama-sama besar keuntungannya yaitu masing-masing mendapatkan +10 , dengan demikian mereka akan cenderung mamilih a1b1: +10. 8
  9. 9. 2. Zero Sum Game B +10 -7 -10 +7 A -3 +5 +3 -5 Kategori 2 (Zero sum Game) Dalam kategori II kepentingan kedeua pemain benar-benar secara diametrik bertentangan. Semakin banyak kemenangan yang diperoleh satu pemain, maka semakin besar kurugian yang diderita oleh pemain lain dan menggambarkan sebuah konflik yang tidak akan terselesaikan.permainan rasional dalam permainan yang seperti ini akan berusaha memperoleh keuntungan sebanyak mungkindengan cara merugikan lawannya sebanyak mungkin. Bagi kedua pemain yang berada dikategori ini, kompromi tidak akan menguntungkan, karena itu tidak akan mungkin terjadinya kerjasama. Permainan yang disebut zero sum game(kalau satu pemain menang berarti +1 dan yang kalah -1, maka jumlahnya = 0) ini tidak akan menggambarkan jenis konflik yang umumnya terjadi dalam kehidupan internasional, dank arena itu tidak akan dibahas lebih jauh. 3. Non-Zero Sum Game B 9
  10. 10. +5 +7 +5 -7 A -7 -10 +7 -10 Kategori Non-Zero Sum Game Selanjutnya, dalam kategori III, sebagian kepentingan kedua pemain bertentangan dan sebagiannya lagi bersesuiaian. Kedua pemain yang berada dalam kategori III ini lebih memilih strategi A1B1 daripada A2B2. Tetapi, A lebih suka memperoleh hasil A2B1, sedangkan B lebih suka A1B2. Permainan seperti ini dapat menggambarkan esensi potensi penyelesaian konflik dan esensi deterens (deterance). Permainan yang bersifat non-zero sum game, mixed-motive atau mixed-interest ini mendasari semua permainan yang mensimulasikan perlucutan senjata dan deterens nuklir. Dua bentuk dasar dari non-zero sum game ini adalah permainan yang disebut Prisoner”s Dilemma yang berarti permainan yang menggambarkan situasi jalan buntu (deadlock) dimana dua orang yang berpotensi sebagai rekan tidan bisa mengadakan kerjasama satu sama lian karena tidak memiliki sikap saling percaya, dan Chicken (Model “Si Pengecut”) yang di dalamnya berupa permainan yang terdapat dua pemain yang saling bermusuhan dan bermaksud menunjukkan kekuatan dan membuktikan siapa yang pemberani dan siapa yang pengecut. Permainan yang bisa dikatakan gila-gilaan ini dapat kita lihat dari contoh kasus berikut: Pertikaian yang terjadi antara dua negara super power, yaitu Amerika dan Uni Soviet pada waktu Krisis Kuba 1962. Pada saat itu Uni Soviet melakukan provokasi dengan menempatkan senjata-senjata nuklirnya di Kuba. Amerika menggertak dengan strategi deterens bahwa tantangan Uni Soviet tetap berkeras dengan penempatan peluru nuklirnya, maka mungkin hasilnya adalah perang yang mengerikan dan bisa mengakibatkan kehancuran keduanya. Tanggapan dari Uni 10
  11. 11. Soviet pada waktu itu dapat dikatakan cukup rasional, yaitu memilih untuk menarik kembali senjata-senjata nuklir yang tadinya ditempatkan di Kuba yang merupakan negara bagian dari Amerika Serikat. 11
  12. 12. BAB III SIMPULAN Model game atau yang lebih dikenal dengan Game Theory dikembangkan untuk memahami hubungan sosial dalam kondisi yang anarki, yaitu suatu kondisi tidak hanya organ otoritatif yang mengatasi para pelaku dalam hubungan itu. Hubungan internasional dipandang merupakan hubungan sosial yang seperti itu karena didasari oleh para pelakunya yang tidak tunduk pada suatu wewenang pemerintahan yang lebih tinggi. Dalam kondi seperti itu tentu saja kerjasama yang melintasi batas teritorial suatu negara sangat sulit dilakukan dan seringkali terjadi konflik yang bukan disebabkan oleh maksud-maksud agresif suatu negara, melainkan karena kondisi anarki itu. Walaupun politik dunia bersifat anarki, yaitu tidak ada penguasa yang mengatasi negara-negara, kenyataan yang sering kita tonton adalah bahwa kerjasama antar negara terus berlangsung karena adanya kepentingan yang harus dipenuhi sebuah negara demi kelangsungan negaranya. Untuk itu, model game ini dapat membantu kita dalam mengetahui kondisi-kondisi yang memungkinkan tumbuhnya sebuah kerjasama antar negara dalam suasana yang anarki. 12
  13. 13. DAFTAR PUSTAKA Barnaby, Frank & Carlo Schaerf Eds.), Disarmament and Arms Control (Gordon and Breach, 1972). Couloumbis, Theadore A & John H. Wolfe, Introduction to International Relations (Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, 1985), hal. 29 Isaak, alan C., Scope and Methods of Political Science (Homewood, III.: Dorsey, 1980). Lieber, Robert J., Theory and World Politics (Cambridge, Mass.: Winthrop, 1972). McCain, Garvin & Erwin Segal, The Game of Science (Brook/Cole, 1973). Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin Ilmu dan Metodologi (Yogyakarta, LP3ES, 1990). 13

×