Manajemen bandara bab 3

1.452 Aufrufe

Veröffentlicht am

Veröffentlicht in: Bildung
0 Kommentare
3 Gefällt mir
Statistik
Notizen
  • Als Erste(r) kommentieren

Keine Downloads
Aufrufe
Aufrufe insgesamt
1.452
Auf SlideShare
0
Aus Einbettungen
0
Anzahl an Einbettungen
42
Aktionen
Geteilt
0
Downloads
95
Kommentare
0
Gefällt mir
3
Einbettungen 0
Keine Einbettungen

Keine Notizen für die Folie

Manajemen bandara bab 3

  1. 1. BAB III PELAYANAN LALU LINTAS UDARA
  2. 2. PELAYANAN METEOROLOGI PELAYANAN METEOROLOGI ATAU CUACA DALAM DUNIA PENERBANGAN DISEDIAKAN BAGI KEPERLUAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESELAMATAN DAN KELANCARAN PENERBANGAN. 1. KETERANGAN CUACA YANG PERLU DISAMPAIKAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN OPERASI PENERBANGAN ADALAH KETERANGAN CUACA UNTUK KEPERLUAN : A. RENCANA OPERASI PENDAHULUAN, MELIPUTI : 1. KEADAAN SYPNOTIC (RINGKAS) UNTUK KEPERLUAN ROUTE PESAWAT UDARA. 2. KEADAAN METEOROLOGI DI BANDARA YANG BERSANGKUTAN 3. ANGIN LAPISAN ATAS SEPANJANG PENERBANGAN 4. SUHU LAPISAN ATAS SEPANJANG ROUTE PENERBANGAN
  3. 3. B. RENCANA SEBELUM TERBANG, MELIPUTI : 1. PERUBAHAN-PERUBAHAN KEADAAN SYPNOTIC UNTUK ROUTE- ROUTE PENERBANGAN TERTENTU. 2. RAMALAN CUACA DI BANDARA YANG BERSANGKUTAN 3. ANGIN DAN SUHU LAPISAN ATAS 4. DOKUMEN-DOKUMEN CUACA UNTUK PENERBANGAN 5. PERUBAHAN RAMALAN CUACA UNTUK PENERBANGAN DAN BANDARA YANG PERLU DIBERIKAN SEBELUM PESAWAT UDARA BERANGKAT 6. QAM, ATAU KODE Q (Q CODE) UNTUK DATA HASIL PENGAMATAN CUACA DI BANDARA PADA SETIAP 30 MENIT.
  4. 4. C. OPERASI PADA WAKTU TERBANG, MELIPUTI : 1. LAPORAN-LAPORAN RUTIN ATAU KHUSUS, RAMALAN CUACA DI BANDARA DAN CUACA PADA WAKTU PENDARATAN. 2. SIGNIFICANT METEROLOGICAL (SIGMET), YAITU KETERANGAN CUACA YANG MENUNJUKKAN ADANYA GEJALA-GEJALA THUNDERSTROM, BADAI BERPUTAR, HUJAN ES, GELOMBANG UDARA PEGUNUNGAN, BADAI PASIR. 3. CUACA LAPISAN ATAS D. PESAWAT UDARA YANG SEDANG PARKIR, MELIPUTI : 1. ADANYA BADAI, TORNADO, DLL 2. SIGNIFICANT METEROLOGICAL (SIGMET)
  5. 5. 2. LAPORAN DAN RAMALAN CUACA. PELAYANAN METEOROLOGI ATAU CUACA DALAM DUNIA PENERBANGAN DIBAGI MENJADI DUA YAITU LAPORAN KEADAAN CUACA DAN RAMALAN CUACA. A. LAPORAN KEADAAN CUACA PESAWAT UDARA YANG AKAN TINGGAL LANDAS MAUPUN MENDARAT MEMERLUKAN LAPORAN KEADAAN CUACA PADA SAAT ITU DI BANDARA YANG BERSANGKUTAN YANG TERDIRI DARI : 1. ARAH DAN KECEPATAN ANGIN, JARAK PENGLIHATAN (VISIBILITY) 2. KEADAAN CUACA (HUJAN,BERKABUT,BERAWAN, DSB) 3. JENIS BANYAK AWAN SERTA KETINGGIANNYA, TEKANAN UDARA. 4. TEMPERATUR DAN TITIK EMBUN, GEJALA-GEJALA METEOROLOGI LAINNYA YANG DIANGGAP PERLU DATA TERSEBUT ADALAH DATA 30 MENIT SEKALI, DAN DILAPORKAN KEPADA ATC TOWER UNTUK DISAMPAIKAN KEPADA PENERBANG YANG MEMERLUKANNYA
  6. 6. B. RAMALAN CUACA PENERBANG TIDAK HANYA MEMERLUKAN KEADAAN CUACA PADA SAAT ITU SAJA, TETAPI JUGA MEMBUTUHKAN RAMALAN CUACA DI TENGAH PENERBANGAN DI BANDARA TUJUAN MAUPUN BANDARA ALTERNATIF. RAMALAN INI SANGAT PENTING UNTUK MENETAPKAN RENCANA PENERBANGAN . RAMALAN CUACA DI BANDARA TUJUAN DIPERLUKAN UNTUK MENGETAHUI KEADAAN CUACA YANG MUNGKIN AKAN DIHADAPI SEHINGGA PERENCANAAN YANG LEBIH SEMPURNA DAPAT DISIAPKAN, ANTARA LAIN MENGENAI PEMILIHAN BANDARA ALTERNATIF. RAMALAN CUACA DIBUAT OLEH PETUGAS PERAMAL CUACA (METEOROLOGICAL FORECASTER) DENGAN CARA MENGUMPULKAN DATA LAPORAN CUACA DARI SETIAP STASIUN-STASIUN METEROLOGI DI SELURUH DAERAH PENGAWASANNYA SEHINGGA DIHASILKAN PETA RAMALAN CUACA SECARA MENYELURUH DAN SELANJUTNYA DIBUAT RAMALAN UNTUK SEKTOR-SEKTOR TERTENTU.
  7. 7. 3. CARA PENYAMPAIAN BERITA METEOROLOGI, BAIK YANG BERUPA LAPORAN CUACA MAUPUN RAMALAN CUACA DISAMPAIKAN KEPADA PARA PENERBANG YANG MEMERLUKAN DENGAN BEBERAPA CARA, YAITU : A. LANGSUNG KEPADA PENERBANG/PERWAKILAN PERUSAHAAN PENERBANGAN SECARA TERTULIS ATAU SECARA LISAN B. MELALUI SIARAN TETAP (BROADCAST) C. MELALUI UNIT-UNIT AIR TRAFFIC SERVICES (ATS). UNTUK MENYEMPURNAKAN LAPORAN KEADAAN CUACA DAN UNTUK MENGETAHUI KETEPATAN RAMALAN CUACA, MAKA PENERBANG DIWAJIBKAN MENYAMPAIKAN LAPORAN KEADAAN CUACA KEPADA STASIUN INDUK METEROLOGI PADA POSISI-POSISI TERTENTU. HAL INI PENTING UNTUK DITERUSKAN KEPADA PENERBANG LAIN YANG AKAN MELALUI POSISI ITU.
  8. 8. PELAYANAN PENERANGAN AERONAUTIKA (AIS) PENERBANG SANGAT MEMERLUKAN INFORMASI YANG BERGUNA BAGI KESELAMATAN DAN EFISIENSI PENERBANGAN. INFORMASI ITU ANTARA LAIN MENGENAI KEADAAN BANDARA PEMBERANGKATAN, BANDARA TUJUAN, BANDARA ALTERNATIF, PERALATAN PEMBANTU NAVIGASI DISEPANJANG ROUTE YANG DILEWATI SERTA KEGIATAN UDARA YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENERBANGANNYA. 1. NOTAM (NOTICE TO AIRMEN) KEADAAN FASILITAS BANDARA DAN FASILITAS PENERBANGAN LAINNYA, BAIK BERUPA PERALATAN MAUPUN JASA (SERVICES) YANG MENYIMPANG DARI BIASANYA DIBERITAHUKAN DENGAN CEPAT KEPADA SEMUA ORANG YANG BERSANGKUTAN DENGAN PENERBANGAN. PEMBERITAHUAN INI DISEBUT NOTAM. NOTAM DIKUMPULKAN, DISUSUN DAN DISEBARLUASKAN DENGAN ATURAN TERTENTU. KEGIATAN PENGUMPULAN, PENYUSUNAN DAN PENYEBARLUASAN NOTAM DILAKUKAN OLEH UNIT KERJA YANG BERNAMA NOTAM OFFICE (NOTOF).
  9. 9. NOTAM TERDIRI DARI : 1. CLASS 1 NOTAM PEMBERITAHUAN YANG PADA UMUMNYA BERSIFAT SEMENTARA, ISINYA SINGKAT, PENYEBARANNYA MELALUI AFTN (AERONAUTICAL FIXED TELECOMMUNICATION NETWORK) 2. CLASS 2 NOTAM PEMBERITAHUAN YANG PADA UMUMNYA BERSIFAT PERMANEN, KADANG-KADANG DILENGKAPI DENGAN GAMBAR-GAMBAR, PENYEBARANNYA MELALUI POS ATAU CARA LAIN, TETAPI TIDAK MELALUI AFTN. AERONAUTICAL INFORMATION PUBLICATION (AIP) ADALAH BUKU YANG DITERBITKAN OLEH TIAP NEGARA YANG BERISI SEGALA INFORMASI YANG BERSIFAT PERMANEN MENGENAI FASILITAS BANDARA DAN FASILITAS PENERBANGAN LAINNYA YANG ADA DI NEGARA TERSEBUT.
  10. 10. 2. BRIEFING SEBELUM MELAKUKAN PENERBANGAN, PENERBANG PERLU MENGETAHUI SEGALA HAL YANG DAPAT MEMPENGARUHI KESELAMATAN DAN EFISIENSI PENERBANGANNYA, HAL INI DAPAT DILIHAT DALAM AIP-AIP YANG BERSANGKUTAN DAN NOTAM-NOTAM TERAKHIR YANG MASIH BERLAKU. UNTUK MELAYANI PENERBANG DALAM MENDAPATKAN INFORMASI ITU, DI SETIAP BANDARA DIBENTUK UNIT BRIEFING OFFICE YANG BERKEWAJIBAN MEMBERIKAN BRIEFING KEPADA PARA PENERBANG YANG MEMERLUKAN PERKEMBANGAN INFORMASI TERAKHIR DAN SEGALA INFORMASI PENERBANGAN LAINNYA. SETELAH MENDAPATKAN BRIEFING, PENERBANG KEMUDIAN MEMBUAT RENCANA PENERBANGAN (ATS FLIGHT PLAN) YANG BERISI DATA PESAWAT UDARA, RENCANA KEBERANGKATAN, KECEPATAN, KETINGGIAN, ROUTE PENERBANGAN, BANDARA TUJUAN, LAMANYA TERBANG, BANDARA ALTERNATIF, BANYAKNYA BAHAN BAKAR YANG DIBAWA, JUMLAH PENUMPANG, CREW, NAMA PENERBANG, PERALATAN YANG DIBAWA PESAWAT DAN INFORMASI LAIN YANG DIANGGAP PERLU UNTUK SELANJUTNYA DISEBARLUASKAN KE SEMUA UNIT ATS, BANDARA.
  11. 11. 3. PELAYANAN CARTOGRAPHY ADALAH PELAYANAN DALAM PEMBUATAN PETA-PETA UNTUK MENUJANG PELAYANAN LALULINTAS UDARA, KHUSUSNYA DALAM CARA PENGGUNAAN DAN PENAFSIRAN TANDA-TANDA AERONAUTIKA DARI PERMUKAAN BUMI.
  12. 12. PELAYANAN PENGATURAN LALU LINTAS UDARA SAAT INI AIR TRAFFIC SERVICES (ATS) MERUPAKAN KEGIATAN YANG SANGAT RU, IT DENGAN PERALATAN YANG RUMIT PULA. PENENTUAN KEBUTUHAN AKAN ATS DIPENGARUHI OLEH PERTIMBANGAN ANTARA LAIN TYPE (JENIS) AIR TRAFFIC YANG DILAYANI, KEPADATAN AIR TRAFFIC YANG DILAYANI, KEPADATAN AIR TRAFFIC, KONDISI METEOROLOGIS, DAN FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG ADA HUBUNGANNYA. 1. SASARAN (OBJECTIVES) AIR TRAFFIC SERVICES (ATS) A. MENCEGAH/MENGHINDARKAN TABRAKAN ANTAR PESAWAT UDARA YANG SATU DENGAN YANG LAIN. B. MENCEGAH/MENGHINDARKAN TERJADINYA TABRAKAN ANTARA PESAWAT UDARA DENGAN PENGHALANG (OBSTRUCTIONS) C. MEMBINA KELANCARA DAN KETERATURAN ARUS LALU LINTAS UDARA. D. MEMBERIKAN INFORMASI YANG BERGUNA BAGI KESELAMATAN DAN EFISIENSI PENERBANGAN. E. MEMBERITAHU ORGANISASI SAR APABILA ADA PESAWAT UDARA YANG MEMERLUKAN PENCARIAN DAN PERTOLONGAN SERTA MEMBANTU ORGANISASI SAR TERSEBUT APABILA DIPERLUKAN.
  13. 13. 2. JENIS-JENIS PELAYANAN LALU LINTAS UDARA A. AERODROME CONTROL SERVICES (ADC-TOWER) MENGATUR LALU LINTAS UDARA DI BANDARA DAN SEKITARNYA SESUAI DENGAN SEMUA SASARAN AIR TRAFFIC SERVICES (ATS) B. APPROACH CONTROL SERVICES (APP) MENGATUR LALU LINTAS UDARA YANG BERANGKAT MENINGGALKAN BANDARA DAN DATANG MENDEKATI BANDARA SESUAI DENGAN JADWAL SASARAN AIR TRAFFIC SERVICES (ATS) DILUAR WILAYAH ADC. C. AREA CONTROL SERVICES (ACC) MENGATUR LALU LINTAS UDARA YANG SEDANG TERBANG DI WILAYAH/AREA TERTENTU DENGAN SASARAN ATS DILUAR WILAYAH APP.
  14. 14. D. FLIGHT INFORMATION SERVICES MELAYANI LALU LINTAS UDARA DI WILAYAHNYA DENGAN SASARAN MEMBERIKAN INFORMASI TENTANG AREA CONTROL SERVICES DAN MEMBERITAHUKAN ORGANISASI SAR. DALAM HAL INI PENRERBANGLAH YANG BERTANGGUNG JAWAB PEBUH TERHADAP KESELAMATAN PESAWAT UDARANYA. E. ALERTING SERVICE PELAYANAN PENYAMPAIAN BERITA TENTANG PESAWAT UDARA YANG MEMERLUKAN BANTUAN SEARCH AND RSCUE (SAR) KEPADA ORGANISASI-ORGANISASI YANG BERKEPENTINGAN SERTA MEMBERIKAN BANTUAN SESUAI KEBUTUHAN.
  15. 15. 3. PEMBAGIAN RUANG UDARA (AIRSPACE ORGANIZATION) MENGINGAT ADANYA BEBERAPA JENIS PELAYANAN LALU LINTAS UDARA ITU, MAKA RUANG UDARA PERLU DIBAGI DAN DIATUR SESUAI DENGAN JENIS PELAYANAN YANG DIBERIKAN. A. CONTROLLED AIRSPACE ADALAH SUATU WILAYAH UDARA YANG DIAWASI DAN MENGARAH KE ATAS, DIUKUR DARI BATAS-BATAS TERTENTU DIATAS BUMI, DIMANA DIBERIKAN AIR TRAFFIC CONTROL SERVICE UNTUK PENERBANGAN- PENERBANGAN YANG TERIKAT DALAM INSTRUMENT FLIGHT RULES (IFR) ATAU VISUAL FLIGHT RULES (VFR) PENERBANGAN VISUAL FLIGHT RULES (VFR) DIDASARKAN PADA KONDISI MINIMUM DARI JARAK PENGLIHATAN DAN JARAK DARI GUMPALAN AWAN YANG HARUS DIPENUHI, MANAKALA KONDISI MINIMUM TERSEBUT TIDAK TERPENUHI, MAKA PENERBANGAN BERDASARKAN INSTRUMENT FLIGHT RULES (IFR) AIRSPACE (RUANG UDARA) ADALAH : ADALAH KAWASAN UDARA DIATAS BANDAR UDARA DENGAN DIMENSI TERTENTU YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI PENGERAHAN PESAWAT UDARA YANG SEDANG TERBANG, SEDANG MENDARAT ATAU LEPAS LANDAS, DI DALAM KAWASAN WILAYAH UDARA TERSEBUT
  16. 16. CONTROLLED AIRSPACE TERDIRI DARI : 1. AERODROME TRAFFIC ZONE DAERAH DI SEKITAR BANDARA, PELAYANAN YANG DIBERIKAN DI DAERAH INI ADALAH AERODROME CONTROL SERVICE (PELAYANAN PENGAWASAN LALU LINTAS BANDARA), AERODROME CONTROL SERING DISINGKAT ADC, TERDAPAT PADA BANDARA-BANDARA YANG BESAR. 2. CONTROL ZONE AREA SUATU AIRSPACE DIMULAI DARI KETINGGIAN TERTENTU KE ATAS, MELIPUTI DAERAH DENGAN RADIUS MINIMUM 5 MIL DARI ARAH PENDARATAN PESAWAT UDARA KE SUATU BANDARA DAN DIDALAM DAERAH INI DIBERIKAN APPROACH CONTROL SERVICES UNTUK PENERBANGAN IFR.
  17. 17. B. UNCONTROLLED AIRSPACE CONTROLLED AIRSPACE TERDIRI DARI : 1. FLIGHT INFORMATION REGION (FIR) SUATU AIRSPACE DENGAN UKURAN TERTENTU, YAITU SECARA VERTIKAL BERBATASAN DARI PERMUKAAN BUMI (GROUND LEVEL) KE ATAS HINGGA 20.000 FEET DIMANA FLIGHT INFORMATION SERVICE DIBERIKAN. 2. UPPER FLIGHT INFORMATION REGION (UIR) SUATU UIR MULAI DARI KETINGGIAN 24.500 FEET KEATAS, UNTUK KEBUTUHAN OPERASI JET AIRCRAFT DAN DI DALAM DAERAH INI DIBERIKAN FLIGHT INFORMATION SERVICE. WILAYAH UDARA INDONESIA TERBAGI MENJADI 2 BAGIAN, YAITU : A. UIR JAKARTA UNTUK WILAYAH BARAT (JAATS) B. UIR MAKASSAR UNTUK WILAYAH TIMUR (MAATS)
  18. 18. UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA FIR/UIR JAKARTA UPPER BALIKPAPAN (U-BPN) UPPER SURABAYA (U-SBY) UPPER DENPASAR (U-DPS) UPPER KUPANG (U-KPG) UPPER MAKASSAR (U-MKS) UPPER AMBON (U-AMN) UPPER BIAK (U-BIK) UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA FIR/UIR JAKARTA INDONESIAN FIR FIR/UIR UJUNG PANDANG BALI FIR BIAK FIR
  19. 19. UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA FIR/UIR JAKARTA UPPER BALIKPAPAN (U-BPN) UPPER SURABAYA (U-SBY) UPPER DENPASAR (U-DPS) UPPER KUPANG (U-KPG) UPPER MAKASSAR (U-MKS) UPPER AMBON (U-AMN) UPPER BIAK (U-BIK) UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA UJUNG PANDANG UPPER CONTROL AREA FIR/UIR JAKARTA NEW FLIGHT INFORMATION REGION (FIR) IN INDONESIA FIR/UIR UJUNG PANDANG
  20. 20. 4. ROUTE-ROUTE PENERBANGAN UNTUK TERBANG DARI SUATU BANDARA KE BANADARA LAIN, PENERBANG HARUS MENGIKUTI ROUTE PENERBANGAN TERTENTU. ADA 2 JENIS ROUTE PENERBANGAN YAITU ROUTE DOMESTIK DAN ROUTE INTERNASIONAL. ROUTE DOMESTIK , MENGHUBUNGKAN BANDARA-BANDARA DI DALAM WILAYAH INDOENSIA DI DALAM WILAYAH INDONESIA, DIBERI NAMA DAN NOMOR, MISALNYA “WHITE-12”, SEDANGKAN ROUTE INTERNASIONAL MENGHUBUNGKAN BANDARA-BANDARA ANTAR NEGARA, DIBERI NAMA BLUE, GREEN, AMBER ATAU RED DAN NOMOR, MISALNYA “ GREEN-79” DAN KADANG-KADANG SEBAGIAN DARI ROUTE DOMESTIK BERIMPIT DENGAN ROUTE INTERNASIONAL. UNTUK MEMUDAHKAN PENGATURAN LALU LINTAS UDARA, ROUTE-ROUTE YANG RAMAI DITETAPKAN SEBAGAI SATU JURUSAN (SEPERTI ROUTE SATU ARAH PADA JALAN RAYA), MISALNYA ROUTE JAKARTA KE SINGAPORE YANG RAMAI DIBUAT SATU JURUSAN, GREEN-79 KE UTARA DAN GREEN-70 KE SELATAN, DEMIKIAN PULA ROUTE JAKARTA KE SURABAYA, WHITE-16 KE TIMUR DAN WHITE-18 KE BARAT.
  21. 21. ATS ROUTES
  22. 22. 5. CARA PELAKSANAAN TUGAS LALU LINTAS UDARA DALAM MEMBERIKAN ATC SERVICE, MAKA SASARAN MENCEGAH TERJADINYA TABRAKAN, BAIK PESAWAT MAUPU ANTARA PESAWAT DENGAN OBSTRUCTIONS DAN MEMBINA KELANCARAN DAN KETERATURAN LALU LINTAS UDARA YANG HARUS SELALU TERCAPAI, MAKA UNTUK ITU SEMUA PENERBANGAN HARUS SELALU DIATUR OLEH PETUGAS-PETUGAS ATC (AIR TRAFFIC CONTROL). UNTUK MENCEGAH TABRAKAN, PESAWAT UDARA HARUS DIPISAHKAN SATU SAMA LAIN, DAN PEMISAHAN (SEPARATION) TERBAGI ATAS 2 JENIS, YAITU : A. PEMISAHAN VERTICAL (PEMISAHAN ATAS BAWAH), YAITU PENENTUAN BEBERAPA LEVEL/KETINGGIAN SECARA VERTIKAL MENURUT PEDOMAN YANG BERLAKU. B. PEMISAHAN HORIZONTAL 1) PEMISAHAN LONGITUDINAL, YAITU ADANYA INTERVAL ANTARA PESAWAT SATU SAMA LAIN DINYATAKAN DALAM WAKTU DAN JARAK. 2) PEMISALAHAN LATERAL, YAITU PEMISAHAN MELALUI ROUTE-ROUTE YANG BERBEDA ATAU DALAM DAERAH GEOGRAFIS YANG BERBEDA
  23. 23. 6. PENDARATAN DALAM KEADAAN CUACA BURUK PADA BANDARA YANG DIHARAPKAN DAPAT DIDARATI PADA CUACA BURUK HARUSLAH DILENGKAPI DENGAN ALAT BANTU NAVIGASI YANG DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN ATAU MELAKUKAN PENDARATAN DALAM KEADAAN CUACA BURUK, BAHKAN SEBALIKNYA DILENGKAPI DENGAN ALAT KHUSUS UNTUK MEMBANTU PENDARATAN INSTRUMENT LANDING SYSTEM (ILS). UNTUK KEPERLUAN PENDARATAN DALAM CUACA BURUK, DITJEN PERHUBUNGAN UDARA MENSAHKAN PROSEDUR YANG DISEBUT INSTRUMENT APPROACH PROCEDURE. PETUGAS ATC MENGATUR GILIRAN PESAWAT UDARA YANG MELAKUKAN INSTRUMENT APPROACH PROCEDURE DAN MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI KEADAAN CUACA PADA SAAT ITU. DALAM HAL INI PENERBANGLAH YANG BERKEWAJIBAN UNTUK MENGAMBIL KEPUTUSAN APAKAH DIA HARUS MENDARAT ATAU MEMBATALKAN PENDARATAN DAN KEPUTUSANNYA HARUS SEGERA DIBERITAHUKAN KEPADA PETUGAS ATC.
  24. 24. 5. CARA PELAKSANAAN TUGAS LALU LINTAS UDARA DALAM MEMBERIKAN ATC SERVICE, MAKA SASARAN MENCEGAH TERJADINYA TABRAKAN, BAIK PESAWAT MAUPU ANTARA PESAWAT DENGAN OBSTRUCTIONS DAN MEMBINA KELANCARAN DAN KETERATURAN LALU LINTAS UDARA YANG HARUS SELALU TERCAPAI, MAKA UNTUK ITU SEMUA PENERBANGAN HARUS SELALU DIATUR OLEH PETUGAS-PETUGAS ATC (AIR TRAFFIC CONTROL). UNTUK MENCEGAH TABRAKAN, PESAWAT UDARA HARUS DIPISAHKAN SATU SAMA LAIN, DAN PEMISAHAN (SEPARATION) TERBAGI ATAS 2 JENIS, YAITU : A. PEMISAHAN VERTICAL (PEMISAHAN ATAS BAWAH), YAITU PENENTUAN BEBERAPA LEVEL/KETINGGIAN SECARA VERTIKAL MENURUT PEDOMAN YANG BERLAKU. B. PEMISAHAN HORIZONTAL 1) PEMISAHAN LONGITUDINAL, YAITU ADANYA INTERVAL ANTARA PESAWAT SATU SAMA LAIN DINYATAKAN DALAM WAKTU DAN JARAK. 2) PEMISALAHAN LATERAL, YAITU PEMISAHAN MELALUI ROUTE-ROUTE YANG BERBEDA ATAU DALAM DAERAH GEOGRAFIS YANG BERBEDA
  25. 25. 6. KOORDINASI PELAYANAN LALU LINTAS UDARA MERUPAKAN HASIL KERJASAMA YANG BAIK DARI BERBAGAI KEGIATAN DAN UNIT KERJA. KOORDINASI YANG BAIK MERUPAKAN SYARAT MUTLAK UNTUK MENCAPAI SASARAN ATS SEHINGGA PERLU MENDAPAT PERHATIAN KHUSUS. KOORDINASI SUDAH HARUS DIMULAI DALAM SATU UNIT KERJA, KOORDINASI ITU DITERUSKAN ANTAR UNIT ATC, DITETAPKAN DALAM SUATU PROSEDUR KOORDINASI ANTARA ADC, APP,ACC. KOORDINASI KEMUDIAN MELUAS KE UNIT-UNIT ATS DI LUAR WILAYAH KERJA, MISALNYA UNIT METEOROLOGI DAN UNIT KOMUNIKASI. KOORDINASI JUGA DIADAKAN DENGAN UNIT-UNIT ATS DILUAR WILAYAH KERJA, ANTARA JAKARTA DAN MAKASSAR ATAU BISA JUGA DILAKUKAN DI LUAR INDONESIA ANTARA AUSTRALIA DAN SINGAPURA.
  26. 26. 7. ALERTING SERVICE ALERTING SERVICE SEBAGAI SALAH SATU PELAYANAN LAU LINTAS UDARA DISEDIAKAN UNTUK : A. SEMUA PESAWAT UDARA YANG MENDAPAT PELAYANAN AIR TRAFFIC SERVICE B. SEDAPAT MUNGKIN, UNTUK SEMUA PESAWAT UDARA LAINNYA YANG TELAH MENYAMPAIKAN FLIGHT PLAN ATAU YANG DIKETAHUI AIR TRAFFIC SERVICE (ATS). FLIGHT INFORMATION CENTRE ATAU AREA CONTROL CENTRE MERUPAKAN TITIK PUSAT BAGI PENGUMPULAN SEMUA INFORMASI YANG BERSANGKUTAN DALAM KEADAAN EMERGENCY DARI SUATU PESAWAT UDARA YANG BEROPERASI SERTA MENGAJUKAN INFORMASI-INFORMASI TERSEBUT PADA RESCUE COORDINATION CENTRE YANG BERSANGKUTAN. DALAM KEADAAN EMERGENCY YANG TERJADI PADA SEBUAH PESAWAT UDARA YANG SEDANG BERADA DIBAWAH PENGAWASAN SUATU AERODROME CONTROL TOWER ATAU APPROACH CONTROL OFFICE ,MAKA HAL INI HARUS DIBERITAHUKAN OLEH UNIT TERSEBUT, PADA SAAT ITU JUGA, KEPADA FLIGHT INFORMATION CENTRE ATAU AREA CONTROL CENTRE YANG BERTANGGUNG JAWAB, DAN PADA GILIRANNYA AKAN MEMBERITAHUKAN KEPADA RESCUE COORDINATION CENTRE, KECUALI JIKA PEMBERITAHUAN TERSEBUT MENILIK PADA KEADAAN DARURAT TERSEBUT TIDAK PERLU DITERUSKAN.
  27. 27. 8. NOTIFICATION NOTIFICATION (PEMBERITAHUAN) KEPADA COORDINATION CENTRE DILAKUKAN DALAM 3 TAHAP YAITU : A. UNCERTAINTY PHASE (INCERFA) DISEBUT JUGA TAHAP KESANGSIAN DIBERITAHUKAN JIKA : 1. TIDAK DITERIMA KOMUNIKASI DARI PESAWAT DALAM JANGKA WAKTU 30 MENIT SESUDAH WAKTU YANG DIPERKIRAKAN UNTUK PENERIMAAN 2. 2. SEBUAH PESAWAT GAGAL UNTUK TIBA 30 MENIT DARI ESTIMATE TIME ARRIVAL (ETA), KECUALI BILA ADA KEANGSIAN MENGENAI KEAMANAN PESAWAT UDARA DAN PENUMPANGNYA. B. ALERT PHASE (ALERFA) DISEBUT JUGA TAHAP SIAGADIBERITAHUKAN JIKA : 1. SESUDAH INCERFA, USAHA-USAHA UNTUK MENGADAKAN HUBUNGAN DENGAN PESAWAT UDARA TELAH MENEMUI KEGAGALAN. 2. SUATU PESAWAT TELAH MENDAPAT CLEARANCE UNTUK MENDARAT DAN GAGAL UNTUK MELAKUKAN PENDARATAN DALAM WAKTU 5 MENIT, DAN HUBUNGAN TIDAK DAPAT DIULANGI. 3. INFORMASI YANG DITERIMA MENUNJUKKAN BAHWA OPERATING EFFICIENCY DARI PESAWAT UDARA MENGALAMI KEMUNDURAN, KECUALI BILA ADA PETUNJUK-PETUNJUK YANG DAPAT MENGURANGI KEKHAWATIRAN TENTANG KEAMANAN PESAWAT DAN PENUMPANGNYA.
  28. 28. C. DISTRESS PHASE (DISTRESFA) DISEBUT JUGA TAHAP GAWAT DARURAT DIBERITAHUKAN JIKA : 1. SESUDAH ALERT PHASE, USAHA SELANJUTNYA UNTUK MENGADAKAN HUBUNGAN DENGAN PESAWAT UDARA TIDAK BERHASIL DAN PERMINTAAN KETERANGAN SECARA MELUAS TIDAK BERHASIL, YANG MENUNJUKKAN KEMUNGKINAN BAHWA PESAWAT UDARA ITU DALAM KEADAAN GAWAT (DISTRESS) 2. BAHAN BAKAR PADA PESAWAT UDARA DIANGGAP TELAH HABIS TERPAKAI ATAU TIDAK CUKUP UNTUK MEMUNGKINKAN PESAWAT UDARA ITU MENCAPAI TINGKAT KEAMANAN (SAFETY) 3. INFORMASI YANG DITERIMA MENUNJUKKAN BAHWA OPERATING EFFICIENCY DARI PESAWAT UDARA MENGALAMI KEMUNDURAN,DAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MEMUNGKINKAN TERJADINYA SUATU FORCED LANDING. 4. INFORMASI YANG TELAH DITERIMA ATAU PATUT DIDUGA UNTUK KEPASTIAN BAHWA PESAWAT UDARA DIPERKIRAKAN SEDANG ATAU TELAH MENGADAKAN FORCED LANDING KECUALI JIKA ADA KEPASTIAN YANG PATUT DIDUGA BAHWA PESAWAT UDARA DAN PARA PENUMPANGNYA TIDAK DIANCAM OLEH BAHAYA DAN TIDAK MEMERLUKAN BANTUAN.
  29. 29. 8. URUTAN-URUTAN PEMBERITAHUAN NOTIFICATION (PEMBERITAHUAN) HARUS MEMUAT INFORMASI SEPERTI BERIKUT DAN YANG TERSEDIA MENURUT URUTAN : A. INCERFA, ALERFA ATAU DETRESFA, SESUAI DENGAN TAHAPAN EMERGENCYNYA. B. AGENCY DAN ORANG YANG MEMANGGIL. C. SIFAT DARI EMERGENCY D. INFORMASI-INFORMASI PENTING YANG BERASAL DARI FLIGHT PLAN E. UNIT YANG TELAH MENGADAKAN KONTAK TERAKHIR, WAKTU DAN FREKWENSI YANG DIPERGUNAKAN. F. LAPORAN POSISI TERAKHIR DAN BAGAIMANA DITENTUKANNYA G. WARNA DAN TANDA-TANDA PENGENAL PESAWAT UDARA H. SETIAP TINDAKAN YANG DIAMBIL OLEH KANTOR YANG MELAPOR (REPORTING OFFICE) I. LAIN-LAIN CATATAN (REMARKS) YANG BERHUBUNGAN DENGAN ITU. SELAIN NOTIFICATION DIATAS, RESCUE COORDINATION CENTRE HARUS TANPA PENGULURAN WAKTU, DILENGKAPI DENGAN SETIAP INFORMASI TAMBAHAN YANG BERGUNA, KHUSUSNYA MENGENAI PERKEMBANGAN DARI KEADAAN DARURAT MELALUI TAHAP-TAHAP YANG MENYUSUL ATAU INFORMASI BAHWA KEADAAN DARURAT TIDAK LAGI BERLANGSUNG.
  30. 30. 9. INFORMASI KEPADA OPERATOR A. BILAMANA AREA CONTROL CENTRE ATAU FLIGHT INFORMATION CENTRE MENETAPKAN INCERFA ATAU ALERFA BAGI SEBUAH PESAWAT UDARA, BILAMAN MEMUNGKINKAN , MAKA OPERATOR DARI PESAWAT TERSEBUT DIBERITAHUKAN LEBIH DAHULU SEBELUM DIBERITAHUKAN KEPADA RESCUE COORDINATION CENTRE. DALAM KEADAAN DETRESFA, MAKA RESCUE COORDINATION CENTRE HARUS SEGERA DIBERITAHUKAN. B. SEMUA INFORMASI YANG DIBERITAHUKAN KEPADA RESCUE COORDINATION CENTRE OLEH AREA CONTROL CENTRE ATAU FLIGHT INFORMATION CENTRE, BILAMANA MEMUNGKINKAN DISAMPAIKAN PULA TANPA PENGULURAN WAKTU KEPADA OPERATOR YANG BERSANGKUTAN. C. SELANJUTNYA DISAMPAIKAN INFORMASI SESEGERA MUNGKIN TENTANG SIFAT DARI EMERGENCY (SIFAT DARURAT) TERSEBUT KEPADA PESAWAT UDARA YANG BEROPERASI DI SEKITAR PESAWAT UDARA YANG BERADA DALAM KEADAAN DARURAT. SELAIN .
  31. 31. ATS PELAYANAN PEMANDUAN LALULINTAS PENERBANGAN PELAYANAN INFORMASI PENERBANGAN PELAYANAN KESIAGAAN (Alerting Services) ACC Service APP Service ADC Service RDARA MWARA/FSS S.A.R
  32. 32. AIR TRTAFFIC SERVICES A. Air Traffic Control Service B. Flight Information Service C.Alerting Service
  33. 33. SUASANA DI PUSAT PEMANDUAN LALU LINTAS UDARA

×