Kegawatan kebidanan

1.349 Aufrufe

Veröffentlicht am

1 Kommentar
0 Gefällt mir
Statistik
Notizen
  • Gehören Sie zu den Ersten, denen das gefällt!

Keine Downloads
Aufrufe
Aufrufe insgesamt
1.349
Auf SlideShare
0
Aus Einbettungen
0
Anzahl an Einbettungen
145
Aktionen
Geteilt
0
Downloads
36
Kommentare
1
Gefällt mir
0
Einbettungen 0
Keine Einbettungen

Keine Notizen für die Folie
  • PPGD RSMS. 2008
  • PPGD RSMS. 2008
  • PPGD RSMS. 2008
  • Kegawatan kebidanan

    1. 1. CV Paulus A Gozali Bandar Lampung 10 Nov 1959 FK UGM Lulus 1987 S2 Biomedik FK UNDIP 2008 Puskesmas Saparua Maluku Tengah 1988-1991 Dokter Lepas pantai Pertamina 1988 Diklat PTRM,Bogor 2010 RS Margono S 1992-sekarang
    2. 2. KEGAWAT DARURATAN OBSTETRI - GINEKOLOGI Paulus A Gozali SMF DOKTER UMUM RSUD PROF. MARGONO SOEKARJO/ FK UNSOED Senin, 20 Oktober 2014 2
    3. 3. MATERI 1. PERDARAHAN GINEKOLOGIK (KEHAMILAN EKTOPIK, ABORTUS DAN MOLA HIDATIDOSA). 2. PERDARAHAN OBSTETRIK (PERDARAHAN ANTEPARTUM DAN PERDARAHAN POSTPARTUM). 3. PRE-EKLAMSIA/ EKLAMSIA. Senin, 20 Oktober 2014 3
    4. 4. TUJUAN UMUM DAN KHUSUS 1. PESERTA DAPAT MEMAHAMI DAN MELAKUKAN PENATALAKSANAAN SECARA UMUM KEGAWAT DARURATAN OBSTETRI-GINEKOLOGI 2. PESERTA DAPAT MEMAHAMI DAN MELAKUKAN PENATALAKSANAAN AWAL DAN MELAKUKAN RUJUKAN KASUS-KASUS: • KEHAMILAN EKTOPIK, ABORTUS DAN MOLA HIDATIDOSA. • PERDARAHAN ANTEPARTUM DAN PERDARAHAN POSTPARTUM . • PRE-EKLAMSIA/ EKLAMSIA. Senin, 20 Oktober 2014 4
    5. 5. Senin, 20 Oktober 2014 5
    6. 6. KEHAMILAN EKTOPIK (KE). BATASAN : KEHAMILAN EKTOPIK IALAH KEHAMILAN DIMANA SETELAH FERTILISASI, IMPLANTASI TERJADI DI LUAR ENDOMETRIUM KAVUM UTERI. HAMPIR 90 % KEHAMILAN EKTOPIK TERJADI DI TUBA UTERINA. MASALAH : PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA DISERTAI SYOK DAN ANEMIA YANG TIDAK SEBANDING DENGAN JUMLAH PERDARAHAN YANG KELUAR. UPAYA DIAGNOSIS SANGAT TERGANTUNG DARI BELUM ATAU SUDAH TERGANGGUNYA KEHAMILAN EKTOPIK. SETELAH EPISODE MIRIP GEJALA ABORTUS IMMINENS, TERJADI GANGGUAN MENDADAK DIIKUTI MEMBURUKNYA KONDISI PASIEN SECARA CEPAT. Senin, 20 Oktober 2014 6
    7. 7. KEHAMILAN EKTOPIK (KE) DIAGNOSIS KLINIK : 1. TRIAS KLASIK (TERDAPAT KURANG DARI 50% PASIEN).  RIWAYAT TERLAMBAT HAID DILANJUTKAN DENGAN PERDARAHAN ABNORMAL VAGINA, ABNORMALITAS ATAU NYERI PELVIK, DAN MASSA ADEXA YANG LEMBUT.  NYERI (TERDAPAT 95% PASIEN DENGAN RUPTUR KE). UMUMNYA PERUT BAGIAN BAWAH, TETAPI DAPAT PADA SELURUH PERMUKAAN. NYERI GOYANG PORSIO TERJADI PADA 75% PASIEN DENGAN RUPTUR KE.  VAGINAL SPOTTING (60% - 80% PASIEN). SEDIKIT, JARANG, COKLAT GELAP, KADANG INTERMITEN ATAU KONTINU. Senin, 20 Oktober 2014 7
    8. 8. KEHAMILAN EKTOPIK (KE) DIAGNOSIS KLINIK : 2. PEMERIKSAAN FISIK DIDAPATKAN ABDOMEN DAN PELVIS KAKU PADA PALPASI (45%), LOKASI BILATERAL KUADRAN BAWAH (25%), ATAU UNILATERAL (30%). MASSA ADNEXA DI CAVUM DOUGLASSI (40%). NYERI BAHU (15%) DAN DEMAM DERAJAT RENDAH (10%). Senin, 20 Oktober 2014 Daliman. Pelatihan PPGD RSMS 8
    9. 9. KEHAMILAN EKTOPIK (KE) KATA KUNCI: 1. TIDAK ADA KOMBINASI ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK YANG DAPAT MENYINGKIRKAN KE. 2. HANYA KURANG DARI 50% DITANDAI DENGAN TRIAS AMENOREA, NYERI ABDOMEN DAN PERADARAHAN PERVAGINAM. 3. HANYA 50% DENGAN RISIKO KE. 4. 10% HASIL PEMERIKSAAN PELVIS NORMAL, DAN 20% USG NORMAL. 5. PENYEBAB UTAMA KEMATIAN IBU PADA KEHAMILAN TRIMESTER I. Senin, 20 Oktober 2014 9
    10. 10. Senin, 20 Oktober 2014 10
    11. 11. PENANGANAN UMUM 1. KEHAMILAN MUDA, DISERTAI GEJALA AKUT ABDOMEN DAN ANEMIA, PIKIRKAN KEMUNGKINAN KEHAMILAN EKTOPIK. 2. UPAYA MENEGAKKAN DIAGNOSIS TIDAK MUDAH, KARENA GEJALA KEHAMILAN EKTOPIK SANGAT VARIATIF. 3. KEHAMILAN EKTOPIK PERLU PENANGANAN SEGERA. 4. PERDARAHAN YANG TERJADI DAPAT MENCAPAI JUMLAH BANYAK, SEHINGGA PERLU TRANSFUSI. 5. JENIS TINDAKAN PADA TEMPAT IMPLANTASI TERGANTUNG DARI UPAYA PENYELAMATAN JIWA DAN KONSERVASI ORGAN REPRODUKSI. Senin, 20 Oktober 2014 11
    12. 12. PENILAIAN KLINIK DIAGNOSIS KE SANGAT DITENTUKAN KONDISI SBB.: 1. KEHAMILAN EKTOPIK YANG BELUM TERGANGGU. DISAMPING GEJALA UMUM PADA KEHAMILAN MUDA ATAU ABORTUS IMMINENS, TERDAPAT MASSA LUNAK DI ADNEKSA DAN NYERI GOYANG PORSIO. 2. KEHAMILAN EKTOPIK YANG TERGANGGU (KET). PADA UMUMNYA DITEMUI KONDISI GAWAT DARURAT DAN ABDOMEN AKUT (PUCAT, ANEMIS, KESADARAN MENURUN, SYOK HIPOVOLEMIK, PERUT CEMBUNG, NYERI TEKAN, DAN NYERI MAKIN HEBAT JIKA TUBUH DIGERAKKAN). 3. DIAGNOSIS BANDING. ABORTUS IMMINENS, PENYAKIT RADANG PANGGUL DAN TORSI KISTOMA OVARII, SALPINGITIS, APPENDICITIS, PERDARAHAN KORPUS LUTEUM, PUD, GE, UTI, ENDOMETRIOSI DLL. Senin, 20 Oktober 2014 12
    13. 13. PENANGANAN 1. SETELAH DIAGNOSIS DITEGAKKAN, SEGERA SIAPKAN TINDAKAN OPERATIF DARURAT/ DIRUJUK. 2. UPAYA STABILISASI DILAKUKAN SEGERA UNTUK MERESTORASI CAIRAN TUBUH DENGAN LARUTAN KRISTALOID NS ATAU RL (500 CC DALAM 15 MENIT PERTAMA) ATAU 2 L DALAM 2 JAM. 3. AUTO TRANSFUSI (?). 4. TINDAKAN PADA TUBA, BERUPA PARSIAL SALPINGEKTOMI ATAU SALPINGOSTOMI. 5. MENGINGAT KEHAMILAN EKTOPIK BERKAITAN DENGAN INFEKSI, SEBAIKNYA PASIEN DIBERIKAN ANTIBIOTIKA KOMBINASI ATAU TUNGGAL DENGAN SPEKTRUM LUAS (AMPISILIN DAN METRONIDAZOL, ATAU TETRASIKLIN DAN KLINDAMISIN). Senin, 20 Oktober 2014 13
    14. 14. PENANGANAN ATASI ANEMI DENGAN TABLET BESI (SF) 600 mg PER HARI KONSELING PASCATINDAKAN : • KELANJUTAN FUNGSI REPRODUKSI. • RISIKO HAMIL EKTOPIK ULANGAN. • KONTRASEPSI YANG SESUAI. • ASUHAN MANDIRI SELAMA DI RUMAH. • JADWAL KUNJUNGAN ULANGAN. Senin, 20 Oktober 2014 14
    15. 15. MOLA HIDATIDOSA 15
    16. 16. MOLA HIDATIDOSA DASAR DIAGNOSIS  DITANDAI DENGAN PERDARAHAN PADA KEHAMILAN PARUH WAKTU PERTAMA.  BANYAK DIJUMPAI DI ASIA.  DIJUMPAI PADA KEHAMILAN PERTAMA PADA UMUR IBU < 15 DAN > 35.  INSIDENSI 1 : 1000 (ASIA 1 %).  TERBAGI DALAM PARSIAL DAN KOMPLIT MOLA.  TFU LEBIH TINGGI DARI UMUR KEHAMILAN (50%), LEBIH RENDAH (25%) ATAU SESUAI.  MUAL DAN MUNTAH BERLEBIHAN. Senin, 20 Oktober 2014 16
    17. 17. MOLA HIDATIDOSA DASAR DIAGNOSIS  PREEKLAMSIA PADA KEHAMILAN KURANG DARI 20 MINGGU.  TIDAK DIJUMPAI TANDA KEHAMILAN PASTI.  DIAGNOSIS PASTI DENGAN USG ATAU MELIHAT GELEBUNG MOLA (EKSPULSI). Senin, 20 Oktober 2014 17
    18. 18. MOLA HIDATIDOSA TERAPI 1. ANTIPASI KOMPLIKASI (PERDARAHAN HEBAT ATAU PERFORASI UTERUS). 2. KURETASE (SUCTION) 2 KALI, ATAU 3. HISTEREKTOMI SEBAGAI PENGGANTI KURETASE KEDUA. 4. PENGAMATAN LANJUT HINGGA MINIMAL 1 TAHUN PASCAEVAKUASI (WASPADA KEMUNGKINAN TERJADI KHORIO Ca), ANJURKAN KONTRASEPSI HORMONAL ATAU MOW. 5. ANEMIA SEDANG DIBERI SF (600 mg), JIKA BERAT TRANSFUSI. Senin, 20 Oktober 2014 18
    19. 19. PERDARAHAN ANTEPARTUM Senin, 20 Oktober 2014 19
    20. 20. PERDARAHAN ANTEPARTUM DEFINISI, PERDARAHAN PERVAGINAM ANTARA USIA KEHAMILAN 20 MINGGU DAN KELAHIRAN BAYI. INSIDENSI 2% - 5% DARI SELURUH KEHAMILAN. PENYEBAB, SOLUSIO PLASENTA (40%), PLASENTA PREVIA (20%), LESI SALURAN GENITAL BAWAH, DAN TIDAK TERKLASIFIKASI (35%). PROSEDUR DIAGNOSIS, ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN, USG, MONITOR ELEKTRONIK JANIN, DAN INSPEKULO. LABORATORIUM, DARAH LENGKAP, GOLONGAN DARAH, Rh, COOMBS, STATUS KOAGULASI, TERSEDIA 2-4 KANTONG (500-1000 CC) DARAH YANG TELAH DI CROSS MATCHED. Senin, 20 Oktober 2014 20
    21. 21. PRINSIP • TEGAKKAN DIAGNOSIS SECARA CEPAT. • KENALI SUBERDAYA DAN KEMAMPUAN UNTUK KOMPENSASI. • RESUSITASI AKTIF PADA PERDARAHAN MASIF. • IDENTIFIKASI PENEYEBAB DASAR. • MENGATASI PENYEBAB. Senin, 20 Oktober 2014 Daliman. Pelatihan PPGD RSMS 21
    22. 22. RESUSITASI HEMODINAMIK • RESUSITASI DINI SECARA AGRESIF UNTUK MELINDUNGI JANIN DAN ORGAN MATERNAL DARI HIPOPERFUSI DAN UNTUK MENCEGAH DIC. • STABILISASI TANDA VITAL. • INFUS KRISTALOID DENGAN KATETER VENA UKURAN BESAR ( 16 ). • HEMOGLOBIN SERIAL DAN STATUS KOAGULASI. • OKSIGEN KONSUMSI MENINGKAT SAMPAI DENGAN 20% PADA KEHAMILAN. Senin, 20 Oktober 2014 22
    23. 23. SOLUSIO PLASENTA Senin, 20 Oktober 2014 23
    24. 24. PENANGANAN SOLUSIO PLASENTA  JANIN MATI  PERSALINAN (HATI-HATI DIC)  JANIN HIDUP  NILAI MATURITAS JANIN.  MATUR  PERSALINAN PER VAGINAM ATAU SC.  IMMATUR  STEROID DAN EKSPEKTATIF  TRANSFUSI ? DAN RUJUK? Senin, 20 Oktober 2014 24
    25. 25. PLASENTA PREVIA Senin, 20 Oktober 2014 25
    26. 26. PENANGANAN PLASENTA PREVIA JANIN HIDUP  NILAI MATURITAS JANIN.  MATUR  PERSALINAN DENGAN SC (HATI-HATI AKRETA) DAPAT DICOBA PERVAGINAM JIKA MARGINAL ?.  IMMATUR  STEROID DAN EKSPEKTATIF  TRANSFUSI ? DAN RUJUK? Senin, 20 Oktober 2014 26
    27. 27. PERDARAHAN POSTPARTUM • DEFINISI TRADISIONAL, KEHILANGAN DARAH >500 CC PADA PERSALINAN PER VAGINAM, ATAU >1000 CC PADA SEKSIO CAESARIA. • DEFINISI FUNGSIONAL, KEHILANGAN DARAH YANG POTENSIAL MENGAKIBATKAN KETIDAKSTABILAN HEMODINAMIK (TERGANTUNG KONDISI PASIEN, BIASANYA LEBIH DARI 1000 CC). • INSIDENSI 5% DARI SELURUH KEHAMILAN. • 17% KEMATIAN IBU DISEBABKAN OLEH PERDARAHAN OBSTETRIK, 1/2-1/3 OLEH KARENA PERDARAHAN POSTPARTUM. Senin, 20 Oktober 2014 27
    28. 28. PERDARAHAN POSTPARTUM • PENYEBAB TERSERING PPH ADALAH ATONIA UTERI. FAKTOR RISIKO ATONIA UTERI ADALAH OVER DISTENSI UTERUS (JANIN BESAR, GEMELI, POLIHIDRAMNION), KELELAHAN UTERUS (AUGMENTASI OKSITOSIN, PARTUS LAMA, AMNIONITIS), DAN OBSTRUCTED UTERUS (RETENSI PLASENTA ATAU BAGIAN JANIN, PLASENTA AKRETA). • ETIOLOGI, TONUS (ATONIA UTERI), JARINGAN (SISA JARINGAN), TRAUMA (LASERASI, RUPTUR, INVERSI), TROMBIN (KOAGULASI). • PENCEGAHAN, WASPADA, DAN MANAJEMEN AKTIF KALA III. Senin, 20 Oktober 2014 28
    29. 29. PERDARAHAN POSTPARTUM MANAJEMEN AKTIF KALA III : 1. PENJEPITAN DAN PEMOTONGAN TALI PUSAT DINI (< 2 MENIT). 2. OKSITOSIN PROFILAKSIS  10 IU IM ATAU 20 IU/ L NS/ RL TETESAN CEPAT. 3. PENEGANGAN TALI PUSAT TERKENDALI (PTT) DENGAN PENEKANAN SUPRAPUBIK ARAH BERLAWANAN. DILANJUTKAN DENGAN MASASE UTERUS. Senin, 20 Oktober 2014 29
    30. 30. DIAGNOSIS – APAKAH PENYEBABNYA ? • LAKUKAN PEMERIKSAAN FUNDUS UTERI. • EKSPLORASI CAVUM UTERI  SISA PLASENTA, RUPTURA UTERI, INVERSIO UTERI, ATAU LASERASI JALAN LAHIR. • INSPEKSI/ INSPEKULO TRAKTUS GENITALIS BAWAH LASERASI JALA LAHIR. • LAKUKAN PEMERIKSAAN KOAGULASI Senin, 20 Oktober 2014 30
    31. 31. TATALAKSANA ATONIA UTERI DAN INVERSIO UTERI • ABC. • NILAI FUNDUS. • EKSPLORASI MANUAL. • KOMPRESI BIMANUAL. • OKSITOSIN. • REPOSISI UTERUS INVERSIO. • UTEROTONIKA TAMBAHAN. MASING-MASING TATALAKSANA DILAKUKAN SECARA SIMULTAN Senin, 20 Oktober 2014 31
    32. 32. TATALAKSANA – PERDARAHAN DENGAN KONTRAKSI UTERUS BAIK (LASERASI JALAN LAHIR?) • EKSPLORASI TRAKTUS GENITALIS BAWAH. • DIBUTUHKAN – ANALGESIA YANG SESUAI, EKSPOSUR YANG BAIK DAN LAMPU. • PERBAIKAN SURGIKAL YANG TEPAT – DAPAT DITAMPON SEMENTARA DENGAN BALON FOLLEY ATAU KASA. Senin, 20 Oktober 2014 32
    33. 33. TATALAKSANA – PERDARAHAN UTERUS BERLANJUT. • KEMUNGKINAN KOAGULOPATI – PTT, WAKTU PEMBEKUAN, FIBRINOGEN. • BILA KOAGULOPATI ABNORMAL – KOREKSI DENGAN FAKTOR PEMBEKUAN, PLATELET. • BILA KOAGULASI NORMAL – SIAPKAN KAMAR OPERASI, SINGKIRKAN RUPTURA UTERI, MUNGKIN PERLU REPARASI, PERTIMBANGKAN LIGASI A. UTERINA/ HIPOGASTRIKA, ATAU HISTEREKTOMI. Senin, 20 Oktober 2014 33
    34. 34. SIMPULAN WASPADA, PRAKTIK PENCEGAHAN, NILAI KEHILANGAN DARAH, NILAI STATUS MATERNAL, RESUSITASI AKTIF, DIAGNOSIS PENYEBAB, DAN TATALAKSANA PENYEBAB. PASTIKAN BAHWA ANDA SIAP UNTUK MELAKUKAN RESUSITASI !!! Senin, 20 Oktober 2014 34
    35. 35. PRE-EKLAMSIA/ EKLAMSIA Senin, 20 Oktober 2014 35
    36. 36. PRE-EKLAMSIA/ EKLAMSIA MERUPAKAN BAGIAN DARI HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN (HDK)  hipertensi gestasional, hipertensi kronis, superimpossed preeklamsia, preeklamsia (PE) ringan dan berat, dan eklamsia (E). • DEFINISI PRE-EKLAMSIA – HIPERTENSI >/= 140/90, DAN PROTEINURIA (+1 - ). • HIPERTENSI YANG SUDAH ADA SEBELUMNYA, HIPERTENSI GESTASIONAL, HIPERTENSI SEBELUMNYA DENGAN SUPERIMPOSED, ATAU SAAT ANTENATAL TIDAK TERKLASIFIKASI. • HIPERTENSI GESTASIONAL DENGAN KOMPLIKASI. Senin, 20 Oktober 2014 36
    37. 37. HIPERTENSI GESTASIONAL DENGAN KOMPLIKASI. MANISFESTASI KEPARAHAN : 1. TEKANAN DARAH DIASTOLIK >110 mmHg. 2. BUKTI LABORATORIUM – TROMBOSITOPENI (< 100.000), PENINGKATAN LFT’s, DAN PENINGKATAN ASAM URAT(>5 mg/dl) dan kretainin (normal turun pada kehamilan). 3. EFEK RENAL – PROTEINURIA >3 g/d, OLIGURIA. 4. EFEK SSP – KEJANG, SAKIT KEPALA, GANGGUAN PENGLIHATAN. 5. KETERLIBATAN ORGAN LAIN  PARU-PARU, HATI, HEMATOLOGI. 6. GANGGUAN JANIN. Senin, 20 Oktober 2014 37
    38. 38. TATALAKSANA PENGURANGAN STRES. 1. PENILAIAN KEADAAN IBU DAN JANIN. 2. TERAPI TEKANAN DARAH – JIKA DIASTOLIK >110 mmHg. 3. TERAPI MUAL DAN MUNTAH. 4. TERAPI NYERI EPIGASTRIK, PERTIMBANGKAN PROPILAKSIS KEJANG. 5. PERTIMBANGKAN WAKTU/ CARA PERSALINAN. Senin, 20 Oktober 2014 38
    39. 39. PENILAIAN KEADAAN IBU - KLINIS TEKANAN DARAH. • PENILAIAN DERAJAT KEPARAHAN, KONSISTENSI DALAM PENGUKURAN, HUBUNGAN TD TINGGI DENGAN CVA BUKAN KEJANG. SISTEM SARAF PUSAT. • KEBERADAAN DAN KEPARAHAN SAKIT KEPALA, GANGGUAN PENGLIHATAN – BUTA KORTIKAL, KABUR – , TREMOR, IRITABILITAS, HIPERREFLEKSI, SOMNOLEN, MUAL DAN MUNTAH. HEMATOLOGI – EDEMA, PERDARAHAN, PETEKIAE. HEPATIK – NYERI KUADRAN KANAN ATAS DAN EPIGASTRIK, MUAL DAN MUNTAH. GINJAL – OUTPUT DAN WARNA URIN. Senin, 20 Oktober 2014 39
    40. 40. PENILAIAN KEADAAN IBU - LABORATORIUM HEMATOLOGI • HEMOGLOBIN, PLATELET, APUSAN DARAH. • PTT, INR, FIBRINOGEN, FDP. • LDH, ASAM URAT, BILIRUBUN. HEPATIK • SGOT-SGPT, LDH. • GLUKOSA, AMONIA TERHADAP R/O AFLP. GINJAL • PROTEINURIA. • KREATININ UREA, ASAM URAT. Senin, 20 Oktober 2014 40
    41. 41. PENILAIAN KEADAAN JANIN. • GERAKAN JANIN. • PENILAIAN DENYUT JANTUNG JANIN (DJJ). • ULTRASONOGRAFI UNTUK PERKEMBANGAN. • PROFIL BIOFISIK. • INDEKS CAIRAN AMNION. • PEMERIKSAAN DOPPLER ARUS DARAH, TALI PUSAT, A. CEREBRI MEDIA. Senin, 20 Oktober 2014 41
    42. 42. TERAPI • MUAL DAN MUNTAH (ANTIEMETIK PILIHAN). • NYERI SUBHEPATIK – EPIGASTRIK (MORFIN, ANTASID, MINIMALKAN PALPASI). • OBAT ANTI-HIPERTENSI AKUT ( HIDRALAZIN, KLONIDIN, ATENOLOL, LABETALOL, NIFEDIPIN, ISDN ). • OBAT ANTI-HIPERTENSI RUMATAN ( METILDOPA, ATENOLOL, LABETALOL, NIFEDIPIN ). ACE INHIBITOR KONTRAINDIKASI PADA KEHAMILAN. Senin, 20 Oktober 2014 42
    43. 43. PROPILAKSIS KEJANG • SULIT DIPREDIKSI SIAPA YANG AKAN MENGALAMI KEJANG – TIDAK ADA HUBUNGAN LANGSUNG DENGAN DERAJAT HIPERTENSI ATAU PROTEINURIA. • JUMLAH YANG HARUS DITERAPI BANYAK UNTUK MENCEGAH KEJANG. • AGEN TIDAK MEMILIKI BERBAHAYA ATAU SANGAT EFEKTIF. • MgSO4 MERUPAKAN AGEN PILIHAN BILA PROPILAKSIS KEJANG DIINDIKASIKAN. PERTIMBANGKAN RUJUKAN JIKA SUMBER DAYA TERBATAS DAN KONDISI IBU DAN JANIN MEMUNGKINKAN. Senin, 20 Oktober 2014 43
    44. 44. TATALAKSANA PERI – DAN POSTPARTUM. • JANGAN TURUNKAN TD TERLALU RENDAH KARENA BERISIKO GAWAT JANIN. • JANGAN BERIKAN CAIRAN BERLEBIH 1500 – 2000 Ml/ h. • ANALGESI EPIDURAL LEBIH DIPILIH BILA TIDAK ADA KOAGULOPATI ATAU JUMLAH PLATELET YANG RENDAH. • PENDEKATAN MULTISPESIALIS. • POSTPARTUM PASIEN HARUS DIMONITOR. Senin, 20 Oktober 2014 44
    45. 45. RUJUKAN. • PERTIMBANGKAN RUJUKAN HANYA JIKA SUMBERDAYA TERBATAS DAN KONDISI IBU DAN JANIN MEMUNGKINKAN. 1. TD DAN IBU STABIL. 2. STATUS JANIN MEYAKINKAN. 3. PEMBERIAN AGEN ANTI HIPERTENSI YANG SESUAI DIMULAI. 4. MgSO4 DIBERIKAN JIKA TEPAT. DISKUSIKAN DENGAN PASIEN ATAU KELUARGA. 5. MgSO4 DAN ANTI HIPERTENSI BERPOTENSI JIKA OVERDOSIS. Senin, 20 Oktober 2014 45
    46. 46. PERSALINAN • PERSALINAN DI SAAT TEPAT MEMINIMALKAN MORBIDITAS IBU DAN MORBIDITAS SERTA MORTALITAS NEONATAL  MISALKAN 35 MINGGU. • MENGOPTIMLAKAN STATUS IBU SEBELUM INTERVENSI PERSALINAN. • TUNDA PERSALINAN UNTUK MATURITAS JANIN DAN LAKUKAN RUJUKAN JIKA KONDISI IBU DAN JANIN MEMUNGKINKAN. • HIPERTENSI GESTASIONAL MERUPAKAN PENYAKIT PROGRESIF, MANAJEMEN KONSERVATIF POTENSIAL BERBAHAYA BILA ADA PENYAKIT BERAT ATAU DUGAAN GAWAT JANIN. Senin, 20 Oktober 2014 46
    47. 47. Buku acuan. Christopher B-Lynch, et.al., 2006. A Textbook of Postpartum Hemorrhage, 1st ed. Sapiens Publishing. Printed and bound by Tien Wah Press Pte. Ltd., Singapore. Cunningham FG., et. al., 2005. William Obstetrics, 22nd ed, McGraw- Hill Medical publishing Division. Fortner, KB., et.al., 2007. The Jonhs Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics, 3rd ed, Wolters Kluwer/ Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia USA. Hariadi, R,2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal, Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Surabaya. Pearlman MD., et. al., 2004. Obstetrics & gynecologic Emergencies: Diagnosis and Management, The McGraw-Hill Compenies, Inc. Saifuddin AB., dkk., 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPKKR-POGI bekerjasama dengan YBP Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. Senin, 20 Oktober 2014 47
    48. 48. Buku acuan. Wikjosastro H., dkk., 2005. Ilmu Kebidanan, ed. Ketujuh, YBP SARWONO PRAWIROHARJO, Jakarta. Wikjosastro GH. dan Affandi B., 2002. Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED): Buku Acuan, Departemen Kesehatan RI. Senin, 20 Oktober 2014 48
    49. 49. Ciptakan Generasi Bebas HIV

    ×